
Suasana hati Agnia sedang bagus-bagusnya, tak terganggu oleh kehadiran Akmal yang tiba-tiba ataupun kehadiran Alisya yang tanpa diduga.
Ternyata, hanya setelah merasakan beberapa hari penuh tekanan seseorang akan sadar betapa indah hari-hari nya selama ini.
Shalat jum'at sepuluh menit lalu selesai, para jamaahnya bubar teratur. Suara Akbar sudah terdengar lagi di seisi rumah. Agnia bergegas mengambil wudhu dan shalat dzuhur.
Masih setengah jam menuju pukul satu. Tandanya masih ada waktu untuk bersantai sebelum pergi ke madrasah.
Agnia masih bersantai di atas ranjangnya, duduk selonjoran dengan selimut yang ia tarik hingga pinggang. Tangannya memegang ponsel, jarinya mengusap naik turun layar ponsel sedang matanya terpaku menatap benda kecil menyala itu.
Tak ada pesan khusus yang ia terima, sudah terhitung tiga tahun ini ponselnya cenderung sepi. Yang paling giat mengirim pesan hanya operator. Toh kontak yang biasa miliki pun terhitung jari.
Awalnya Agnia hanya ingin menghilang beberapa saat, tak bersosial media, tak menunjukan wajahnya. Namun semudah itu ternyata manusia melupakan. Jadilah ia tak lagi menggunakan media sosialnya sejak itu.
Namun hari ini, Agnia terheran kala ada satu pemberitahuan di sana. Alisnya terangkat, jujur saja kaget. Tangannya iseng membuka lagi akunnya itu. Terakhir kali, hanya pemberitahuan akun-akun kosmetik yang mengikuti. Sekarang pun pasti sama, pikirnya.
Tak disangka, kehadiran sebuah pesan dari seseorang yang tak terduga membuat Agnia terheran sendiri menatap layar ponselnya. Bom love pada postingan-postingan lamanya diiringi satu pesan. Pesan itu sudah sejak kemarin dikirimkan.
Jangan marah ya, Mbak.. Foto lamanya aku lihat. 😁
Agnia menghela napas pelan, terbayang wajah Akmal jika mengatakan kalimat itu secara langsung.
"Gak buat orang takut gak sempurna kayaknya.." ucap Agnia, seakan mengomeli ponselnya.
"Gak di telpon, instagram, muncul tiba-tiba.." Agnia mendengus kesal, dirinya jadi membenak hal bodoh. Segera melangkah menuju jendela, menarik gorden. Berpikir aneh tentang bagaimana jika bocah itu sedang memperhatikannya dari suatu tempat. Rasa takut terkadang memang menghasilkan pemikiran bodoh.
.
.
.
.
Satu buku modul berada di tangan Agnia, Aqidah Akhlaq. Agnia berjalan ke meja paling belakang, lalu kembali ke depan. Mendiktekan beberapa pokok pembahasan untuk ditulis anak-anak pada buku mereka masing-masing. Belum menjelaskan.
Anak-anak kelas enam yang ia pegang begitu tenang, mendengarkan dan tidak banyak bicara.
"Perhatikan semuanya!"
Agnia mengambil spidol, menuliskan satu ayat qur'an di papan tulis. Anak-anak itu segera menyalin nya ke buku mereka masing-masing, sedikit rusuh padahal gurunya belum selesai.
"Perhatikan harakatnya! Salah harakat bisa membuat artinya juga berbeda. Paham?"
"Paham, Bu.." anak-anak mengangguk kompak, suara beberapa anak laki-laki yang mulai pubertas kentara. Menciptakan gabungan suara yang khas.
Agnia mengambil waktunya sejenak, di saat murid-muridnya menyalin ayat qur'an itu. Memperhatikan enam belas anak didiknya satu-persatu, tersenyum.
Tak lama matanya beralih pada kerajinan dari origami yang tempo hari dibuat anak-anak bersama Akmal. Kertas origami yang dibuat bentuk burung itu digantung pada semua kusen jendela. Tanpa sadar senyum tersungging di bibirnya. Niat sekali memang, dan hal kecil itu mempermanis ruangan. Menciptakan suasana berbeda.
__ADS_1
"Bu Agni.."
"Ya?" Agnia ternyata tanpa sadar melamun, tersenyum. "Sudah?"
Mendapat anggukan, Agnia kembali melangkah menuju papan tulis. Saatnya menjelaskan. Sejenak matanya kembali melirik ke arah jendela. Entah mengapa hal kecil itu sekali lagi menarik matanya untuk kembali menoleh begitu saja.
.
.
.
.
"Hati-hati.. Gak boleh kejar-kejaran!" Agnia menarik kembali tangannya yang hendak dicium salah satu muridnya, memberi peringatan.
"Siap, Bu."
"Yaudah.."
Anak-anak sudah berlarian bubar setelah mencium tangan gurunya, tak sabaran untuk pulang. Agnia keluar paling belakang. Tersenyum melihat tawa bahagia mereka, tampak lepas tanpa beban. Dan sudah seharusnya begitu.
Cuaca cerah hari ini, entah mengapa bagi Agnia justru membangkitkan ingatan hari lalu, tentang betapa menakjubkannya takdir yang membawanya hingga hari ini. Agnia menghela napas pelan seiring langkahnya yang pasti.
Tiga tahun lalu, ketika yang tersisa hanya rasa malu, dirinya ragu tentang hari esok. Tak ada rencana, harapan, atau bayangan. Untuk bisa bertahan di hari itu saja sudah cukup luar biasa. Namun di hari ini, meski masih dengan ketakutan yang sama. Setidaknya Agnia memiliki satu dan dua hal yang membuatnya senang. Dan perasaan itu amat berharga.
Agnia memicing sejenak, lalu tersenyum kala mengenali si pemilik baju mencolok itu. Melangkah perlahan, sedang Nur yang datang dari arah berlawanan berjalan cepat. Menjingjing tas besar.
"Dari madrasah, ya?" tanya Nur setibanya di depan Agnia, sorot matanya tampak antusias. Kedua tangannya menahan tangan Agnia, seakan tahu jika Agnia akan cepat beralasa untuk menghindarinya.
Agnia mengangguk. "Iya, Mbak.."
"Mbak dari rumah kamu, lho.. Biasa urusan ibu-ibu.." ucap Nur, menjelaskan tanpa diminta.
Agnia mengangguk lagi. "Terus sekarang Mbak mau ke mana?"
"Emh.. Masih harus keliling sebenernya..." jawab Nur. "Oiya.. mbak ada satu pertanyaan buat kamu. "
"Apa, Mbak?"
"Kenapa kamu gak cerita? Mbak kesel tau, kamu sama sekali gak ngasih tau mbak..."
"Cerita?" Agnia mengernyit, merasa yang dimaksud Nur berbau tidak menyenangkan. Tersenyum canggung. "Cerita apa ya, Mbak?"
Nur tersenyum lebar, menepuk bahu Agnia. Yang ditepuk masih tak mengerti, Agnia tahu Nur memang berbeda, rempong dan aneh, tapi apa kali ini?
"Jangan malu-malu.." Nur menaik turunkan alisnya.
Agnia tersenyum dongkol. "Ya apa emangnya, Mbak?"
__ADS_1
Nur melengkungkan bibirnya ke bawah, kecewa. Sepertinya Agnia memang tak paham arah obrolannya.
"Itu... Beberapa hari ini mbak lihat kamu dibonceng sama cowo. Itu... calon suami kamu kan?"
Agnia tentu saja menggeleng cepat. "Bukan, Mbak.." matanya membulat, meyakinkan.
"Oiya? Tapi ibu kamu lho yang bilang gitu.." Nur tersenyum melihat wajah panik Agnia, tak tahu jika Agnia benar-benar serius tentang Akmal yang bukan calon suaminya.
"Hah?!" Agnia mengerjap, seingin itukah ibunya menjadikan Akmal sebagai menantu? Jika Nur saja sudah diberitahu maka itu putusan yang final. Setelah ini, pasti akan lebih banyak gosip yang beredar.
.
.
.
.
Agnia langsung berlari menaiki tangga setibanya di rumah, bergegas menuju kamar ibunya. Menerobos saja kala pintu kamarnya terbuka.
"Bu.."
Khopipah yang tengah duduk dengan qur'an ditangannya lantas mendongak, menutup dahulu Al Qur'an yang ia baca. "Apa sayang?"
"Tadi Mbak Nur ke sini?"
"Iya?"
"Dan ibu bilang kalo Akmal.."
"Iya." potong Khopipah. Tersenyum.
Agnia menghela napas gusar. "Tapi kenapa, Bu?"
"Bukannya kamu sendiri yang ngasih ibu hak sepenuhnya memilihkan calon suami, berarti ibu bebas dong?"
"Iya.. Tapi aku gak pernah bilang setuju lho, Bu. Sama dia."
"Nunggu kamu setuju itu lama. Ibu mau secepatnya punya cucu dari kamu."
Agnia mengendus. Cucu? Ibunya bahkan sudah mengungkit mengenai cucu. Ingin rasanya Agnia berteriak, sebal sekali.
"Dan jangan sebut Akmal dengan 'dia'. Sebut namanya.."
Agnia menghela napas dalam-dalam. Menoleh ke arah Fauzan yang baru saja masuk.
"Ayah..." renggeknya.
Fauzan mengendik. "Untuk yang satu ini, ayah gak ikutan.." jawabnya diplomatis. Agnia manyun, tak tahu jika jawaban itu keluar setelah pelototan yang diarahkan ibunya pada sang ayah.
__ADS_1