Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
107. Gian: Adik


__ADS_3

Menjadi obat, Benarkah seperti itu Akmal baginya?


Agnia mulai menanyai dirinya sendiri, tentang sejauh mana perubahan yang terjadi setelah mengenal Akmal. Bocah yang mulanya membuat ia pusing, dan sekarang tiba-tiba saja jadi calon suaminya.


Agnia menghela, kini pertanyaan lain yang muncul. Siapkah dirinya untuk menikah?


Menikah bukan hal sederhana, bayangkan saja dua orang yang mulanya asing diputuskan hidup selamanya setelah akad diucapkan. Mereka diharuskan saling menjaga, mengasihi, juga saling membimbing. Pun ada proses adaptasi baru yang tentu harus dilewati dari orang lain menjadi suami istri.


Herannya banyak hal yang ia pikirkan sekarang, berbeda saat tiga tahun lalu hendak menikah dengan Adi dimana pertimbangan semacam itu tak pernah terpikirkan.


Dering ponsel membuyarkan lamunan Agnia, membuatnya menghela napas kemudian. Apa ini? ia berpikir terlalu jauh. Untuk apa? Kenapa tak membiarkan semua mengalir apa adanya saja?


Agnia mengulurkan tangannya 'tuk meraih ponsel yang masih berdering dari atas meja. Melihat nama yang tertera di layar ponsel, membuat senyum spontan tersungging di wajahnya.


"Halo, Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam.. warahmatullah.."


"Agni apa kabar.." terdengar ceria suara lawan bicaranya, Agnia hingga tak henti senyum sebab itu.


"Baik, Alhamdulillah Indri.. tumben nelpon? Ada yang pentingkah?"


"Emh.. Kamu tau aku banget.."


Agnia ikut terkekeh, ketika lawan bicaranya berucap dan diakhiri kekehan.


"Ada apa, princess?"


"Stop it!"


"Why? Dulu kamu suka aku panggil begitu."


"I'm not a princess anymore."


"Oiya? apa sekarang berubah jadi prince?"


"Heyy!"


"Becanda, Indri.."


"Aku lebih suka dibilang queen, ya.. Asal kamu tau."


Agnia mengangguk, tampak menikmati obrolan itu. Sesaat diam sembari bangkit menuju ranjangnya. "Ayo ketemu! Berbicara langsung sepertinya lebih seru.."


"Itu dia, aku nelpon kamu untuk ngajak ketemu."


"Oiya, kok bisa? bukannya kamu super sibuk?"


"Justru itu, aku kekurangan tenaga untuk pembukaan butik baru ku."


"Really? selamat.."


"Aku belum beres bicara! dengar.. aku udah ngundang semua temen SMA kita ke acara peresmian itu, dan kamu harus hadir!"


"Kapan?"


"Senin."


"Lusa berarti.. insya Allah, deh"


"Kamu dateng, dongg?"


"Insya Allah.." ulang Agnia. "Aku usahain, soalnya meskipun gak sesibuk kamu aku juga punya jadwal sendiri."


"Ya pokoknya usahain.."


"Iya.."


"Ngomong-ngomong, aku undang Alisya juga, lho.."


Agnia mengernyit saat nama Alisya disebutkan, penasaran mengapa Indri tiba-tiba mengingat nama itu diantara nama lainnya.


"Gak papa, kan?"


"Dih!" Agnia terkekeh. "Itu acara kamu, ya.. lagi pula gak baik ngundang temen tapi dipilih-pilih.."


"Justru itu, kenapa aku undang dia. Cuman yang jadi bingung itu kamu, gak masalah kan ketemu dia?"


Agnia tersenyum, heran sebab Indri jadi begitu memikirkan perasaannya. "Gak papa, lagi pula kita memang sering ketemu akhir-akhir ini."


"Wait?! Are u.."


"No!" potong Agnia segera. "Ceritanya panjang, intinya anak dia sekolah di tempat aku ngajar, karena itu kita jadi sering ketemu."


"Wow.. gak tau malu!"


"Siapa? Aku?"

__ADS_1


"Ya masak iya Agni.. dia tuh, yang aku maksud sahabat kamu."


"Sahabat aku? Kamu dong.." goda Agnia.


"Sorry ya.. bukan. Kita gak pernah bersahabat. Lagian ngungkit soal sahabat, apa gak trauma?"


Agnia mengernyit, padahal yang mulai membahas sahabat siapa yang seakan dituding juga siapa.


"Gimana ya, sedikit canggung tapi terlalu kasar kalo harus dibilang gak tau malu. Sekolah kan tempat umum, siapa aja bisa mendaftar kesana."


"Apapun itu, tapi dari sekian banyak sekolah kenapa harus disana? Dia gak menghargai perasaan kamu kah?" sewot Indri. "Nih, ya.. pantesan dia bilang masih sering ketemu kamu. Dan sialnya dia bersikap seakan kalian itu baik-baik aja."


"Hey, Mis.. calm down.. mana ada Alisya bilang gitu, paling kamu yang mancing kan?"


"Memang." jawab Indri santai. "Ah! lupakan soal dia, pokoknya kamu harus dateng pas acara, dan.. bawa gandengan! Titik."


"Apa hubungannya?"


"Soalnya dia pasti bawa lakinya, meskipun perasaan kamu udah beda. Tapi jangan terlihat menyedihkan, seakan kamu belum menikah sebab gak bisa lupain dia."


Agnia menghela. "Tapi kalo alasannya emang kayak gitu?"


"Tetep aja! Aku bilang jangan terlihat menyedihkan."


Agnia terkekeh, kenapa Indri begitu semangat tentang hal ini. "Buat apa? supaya kelihatan bahagia dan baik-baik saja?"


"Heyy! Bisa dengerin aku sekali aja? Kamu itu ya, dari dulu gak pernah dengerin aku."


"Aku bahagia tanpa perlu ditunjukkan, sama seperti kamu yang sukses tanpa harus dikoarkan. lihat? dalam satu hal ini kita persis."


"Terserah.. Awas aja kalo gak dateng!"


.


.


.


.


Subuh sekali Akmal sudah dibooking sang Bunda, diminta menemani pergi ke pernikahan anak kawannya. Jadilah Akmal bersiap demi menggantikan sang ayah yang harus pergi dengan alasan pekerjaan.


Akmal menghela napas pelan sembari memperhatikan bundanya yang heboh sendiri, entah sudah berapa kali Retno keluar masuk kamar mengabsen isi tasnya yang terus saja ada yang tertinggal.


Apa Agnia pergi ke panti hari ini? Itu yang terlintas di pikiran Akmal. Andai saja tak diajak sang bunda, sudah tentu ia pergi menemui Agnia sekarang juga.


Hari ini pergi ke panti, gak?


Demikian pesan yang diketikkan Akmal disela menunggu Retno. Sayangnya tak ada jawaban meski yang dituju itu sedang aktif, membuat Akmal lantas menghela. begitulah kebiasaan Agnia, hingga jika gadis itu menjawab pesannya langsung berarti hanya kebetulan semata.


Entah sibuk atau sengaja, namun Akmal sudah sangat maklum dengan itu. Bahkan mungkin hanya satu atau dua kali pesannya ditanggapi Agnia selama ini.


Retno kembali keluar dari kamarnya, kini sudah membawa tasnya dengan nyaman sembari tersenyum. Tak seperti tadi yang lagi dan lagi memeriksa isi tanya, sekarang tidak sebab siap pergi.


Akmal mendongakkan kepalanya. "Sudah?"


"Iya, ayo berangkat.."


.


.


.


.


Agnia tak tau sebuah pesan masuk ke ponselnya, baru selesai berganti baju dan kini beranjak ke meja rias untuk berdandan tipis-tipis.


Sebuah helaan napas dalam ia lakukan sembari menatap pantulan dirinya lekat, ia siap. sebab wajahnya yang semula bengkak kini kembali ke bentuk aslinya, tampak baik-baik saja.


Lega sekali, kika begini Agnia bisa kembali beraktivitas seperti biasa tanpa resah pertanyaan orang lain.


...


Khopipah tengah menuruni tangga, baru keluar dari kamarnya hendak menuju kamar Agnia. Setelah penculikan itu ia jadi rutin memeriksa keadaan putrinya, tak peduli meski tau kadang perhatiannya itu membuat Agnia tak nyaman.


Saat itu Agnia juga keluar dari kamarnya, tersenyum lebar kala melihat sang ibu mendekat.


"Mau kemana?" tanya Khopipah, dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ke panti."


"Siapa suruh?"


"Emhh. Gak ada." jawab Agnia sembari menggeleng ragu. "Memangnya kenapa, Bu?"


"Kamu yakin mau keluar?"

__ADS_1


Agnia mengangguk. "Iya.. aku jenuh di rumah, Bu. Boleh, kan?"


Khopipah menghela. "Lebih baik gak usah, ya.. jangan dulu. Kalo mau main, pergi aja ke rumah Mas mu. Ke tempat lain ibu gak ijinkan."


"Tapi aku ke panti, Bu.. bukan ke tempat lain."


"Dan pergi sama siapa? Sendiri, kan?" tanya Khopipah, menunggu hingga anak gadisnya mengangguk. "Kalo gitu gak boleh. Kalo tetep mau, minta Akbar temenin kamu."


"Akbarnya kan udah pergi, Bu.."


"Ya kalo begitu kamu gak usah pergi."


Agnia menghela kecewa, Untuk kali ini ibunya terasa sangat protektif. Namun demi menyadari kasih sayang dari larangan Khopipah, Agnia akhirnya mengangguk samar. Mana bisa dirinya melawan sang ibu, hanya satu hal yang bisa ia lakukan dan itu adalah patuh.


Saat itu deru mobil terdengar, Agnia yang menunduk kecewa kembali mengangkat kepalanya menatap Khopipah. Tersenyum, bayangannya sudah pada Hafidz saja.


"Kayaknya Mas Hafidz, Bu." tebak Agnia. "Kok bisa pas, ya.. lagi diobrolin padahal.." ujar Agnia senang sembari berjalan menuju keluar rumahnya.


...


Hafidz apanya, itu adalah Gian yang keluar dari mobilnya. Senyum Agnia spontan menghilang dan berganti bingung, menilik sesaat untuk kemudian menghampiri.


"Kak.."


"Hai, selamat pagi." Gian mengulas senyum, yang entah kenapa terlihat ceria.


Agnia celingukan, untuk kemudian bertanya dengan sedikit canggung. "Kenapa disini?"


"Mau ketemu kamu, apa lagi? Gak papa kan, aku sering kesini.."


"Iya kak, gak masalah. aku cuma.."


"Syukurlah kamu sudah sembuh.." potong Gian, menyadari luka pada wajah gadis di hadapannya sudah menghilang." Matanya kini beralih pada pakaian yang Agnia kenakan. "Oiya, mau kemana? Kamu sudah bersiap."


"Emh.. gak kemana-mana, Kak. Tadinya mau ke panti tapi gak jadi."


"Kenapa?"


Agnia menoleh Khopipah saat itu, memang pas sekali ibunya itu keluar dari rumah dan sedang berjalan ke arah mereka.


"Nak Gian.."


"Tante.. Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam.. ada apa? Kenapa gak diajak masuk, Agni?"


"Emh.. gak perlu tante, saya justru kesini mau ijin ngajak Agni jalan-jalan."


Agnia spontan menoleh penuh tanya sebab ucapan Gian, mana ada begitu. Ia tak minta diantar jalan-jalan padahal.


Khopipah tak menjawab untuk beberapa saat, matanya menoleh lama pada Agnia. Seakan menimbang, satu sisi tak mengijinkan namu sisi lainnya merasa kasihan sebab putrinya itu justru terkesan dikekang.


"Saya janji jagain Agnia, tante.. Jadi gak perlu khawatir. Setelah selesai, saya langsung antar Agnia pulang..."


...


Bujukan Gian berhasil, kini Agnia sudah duduk di jok depan sebelah kemudi. Menemani Gian yang anteng melajukan mobilnya. Serba salah sebenarnya Agnia rasa, malu sekali pada Gian namun selalu saja begini.


"Kak.. kak Gian gak lagi sibuk, kan?"


"Enggak, ini Minggu. kenapa?" tanya Gian, menoleh sesaat.


"Aku gak enak aja, Kak Gian terlalu baik sama aku." cicit Agnia yang berhasil memancing kekehan Gian.


"Agni.. Agni.. jangan terlalu canggung, jangan lupa kita pernah akrab. Spesial hari ini, Agnia ditemani bodyguardnya. Jadi jangan kaku, adik."


"Hemh?" Agnia heran saat disebut Adik, itu ditujukan padanya?


"Perasaan ku sedang bagus, jadi jangan rusak itu dengan pertanyaan ataupun penolakan. Okay?"


Dengan demikian Agnia memilih diam, aneh saja sebenarnya dengan tingkah Gian. Namun bagaimana lagi, sudah diperingatkan terlebih dulu.


Hening sejenak antara mereka, Agnia memilih menyamankan dirinya dengan membuka ponselnya.


Setelah lima belas menit pesan yang dikirim Akmal akhirnya ditemukan Agnia, buru-buru ia mengetikkan jawaban untuk menjawab pertanyaan itu.


^^^Mbak..^^^


^^^Hari ini pergi ke panti, gak?^^^


Iya, saya ke panti.


Diantar kak Gian.


Tunggu, Agnia heran sendiri setelah kembali membaca balasannya pada Akmal. Kenapa jawabannya jadi terkesan memberi tahu lebih dari yang ditanya.


Kenapa juga ia beritahukan Akmal jika dirinya pergi ke panti bersama Gian, apa tujuannya?

__ADS_1


__ADS_2