
"Sekarang paham kenapa aku bilang di rumah Bunda gak ada orang lain?" todong Agnia setibanya Akmal dari mesjid, buru-buru menghampiri menuju kamar.
Akmal mengangguk samar, menarik Agnia untuk duduk di sebelahnya. Lantas mengusap puncak rambut istrinya itu dengan sayang. "Iya, nanti kita pindah ke rumah baru ya.. secepatnya."
Agnia menghela, untuk kemudian mengangguk dan memeluk Akmal. Begitu saja sudah sempurna, Akmal rasanya tak mau melepas pelukannya dari Agnia. Hatinya tenang, bak menemukan rumah yang sekian lama dicarinya.
Lucu sekali bagaimana hubungan mereka terjadi, perjodohan yang semula terdengar konyol itu tak tau kenapa menariknya untuk mau mengiyakan. Hingga sosok Agnia ternyata makin menariknya dan memang membuatnya kembali jatuh cinta setelah sekian lama.
"Mbak gak papa suaminya masih anak kuliahan?" tanya Akmal tiba-tiba, terbesit saja setelah melamunkan awal pertemuan mereka.
Agnia mencebik tanpa diketahui Akmal, balas bertanya tanpa menoleh. "Kamu gak papa istrinya udah berumur?"
"Aku juga berumur, Mbak.." kata Akmal, langsung tergelak. Lucu saja di telinganya.
"Ya makanya.. jangan dibahas." kata Agnia penuh peringatan, jujur saja sebal jika diingatkan soal perbedaan usia mereka. Hanya saja Akmal tak cukup pandai memahami nada bicara istrinya saat ini, justru kembali mengajukan pertanyaan yang sebenarnya dihindari Agnia.
"Mbak tau kenapa mahar yang aku kasih empat puluh tujuh gram?"
Agnia mendengus, spontan melepas pelukannya. Tiba juga mereka pada topik ini. "Itu gabungan usia kita kan?" tanyanya datar.
"Iya." jawab Akmal santai, tak sadar jawaban itu terlontar dengan datarnya.
Agnia mendecak. "Tuh kan, bener.. kamu sengaja ngingetin perbedaan umur kita!"
Akmal menggaruk tengkuknya tak gatal, salah lagi dirinya bertanya itu.
...
Sarapan bersama keluarga Agnia yang mungkin terakhir kalinya, sebab Agnia untuk kesekian kalinya meminta pulang ke rumah orang tua Akmal.
"Kita pulang ke rumah Bunda lagi, ya.." kata Agnia saat Akmal tengah bersiap, bertanya sembari duduk di meja rias menghadap Akmal yang hilir mudik. "Aku duluan kesana."
"Gak nunggu aku pulang dulu?"
"Ya kamu pulangnya kesana. Bunda udah nelpon aku soalnya."
Akmal mencebik tipis, mencubit hidung Agnia pelan. "Oh.. si menantu kesayangan Bunda."
Agnia tersenyum, sama sekali tak menafikan. Sorot matanya menunjukkan pengakuan. Bagaimana lagi, toh ia menantu satu-satunya.
.
.
.
.
Menantu kesayangan? Agnia yakin sekali soal itu hingga menjawab percaya diri. Dan itu terbukti dengan senyum bahagia Retno saat menyambutnya.
Keributan tengah terjadi di kediaman Sidiq, sekelompok ibu-ibu yang entah mengurusi apa, beberapa kertas bertebaran di atas meja. Sesaat salam dibacakan, Retno langsung menyambut dan memperkenalkan Agnia dengan bangganya.
"Oiya, sayang.. ikut Bunda sebentar."
Agnia menurut, mengekor. Mengakhiri sesi perkenalannya yang cukup hangat. Agnia senang sekali berada di lingkungan baru itu.
"Bunda cuma mau mastiin kalo kamu gak lagi bohong, jawab jujur apa kamu tau soal peristiwa itu atau memang baru tau?" tanya Retno setelah pergi dari berisiknya rekan-rekan pengajiannya.
__ADS_1
Untuk sesaat Agnia takjub dengan ketajaman perasaan Retno dalam memastikan kebenaran ucapannya, jelas sekali menghargai perasaannya. Agnia tersenyum. "Aku tau Bun. Aku tau siapa Ulya, aku tau bagaimana sayangnya Akmal sama ibu mendiang Ulya. Aku gak keberatan untuk itu, jadi.. Bunda gak perlu khawatir."
Retno sesaat menatap Agnia salut, mengusap lembut bahu menantunya. Mengangguk dan tersenyum penuh bangga. "Makasih, ya.. Bunda senang karena istrinya Akmal itu kamu."
Agnia mengangguk, balas menyentuh punggung tangan Retno di bahunya. Apa lagi yang ia inginkan? Mana mungkin hal sekecil masa lalu yang tak mungkin kembali itu membuatnya sedih. Dan rasanya terlalu berlebihan jika ia katakan kecewa pada sikap Akmal. Toh pria itu sempat mencintai seseorang, hingga akhirnya menyayangi segala tentang seseorang itu. Dan apa salahnya sayang yang tersisa saat seseorang itu tiada?
...
Semua sudah membaik, tatapan Sidiq yang semula tak menyenangkan itu kembali tenang. Akmal lega, istrinya berhasil mencairkan kembali suasana.
Senyum teduh Akmal tersungging, kala menemukan mahluk cantiknya tengah bergulat dengan panci di dapur. Wajah tenang itu ia rindukan, manis dan mungil pas sekali di tangannya.
"Ngapain disitu?" tanya Agnia, tepat sekali menoleh ke arah pintu saat berjalan menuju lemari pendingin.
Akmal balas tersenyum, yang sedari tadi bersandar di ambang pintu kini bergerak mendekat. "Masak apa?" tanyanya, mengabaikan pertanyaan retoris dari sang istri.
"Sup iga, yang tadi aku bawa dari rumah Ibu. Mau cobain?"
"Enggak, gak perlu nyobain. Masakan istriku pasti terbaik." kata Akmal, sembari memeluk Agnia dari belakang.
"Hey.. lepasin! Nanti ada Bunda kesini, malu ah.." ujar Agnia galak, untuk yang satu ini ia cukup trauma. Tak pantas saja sedang adegan mesra begitu dilihat orang lain.
Akmal menurut, tenang saja. Ia juga tak suka mengumbar. Orang lain hanya perlu melihat baik-baiknya sebuah rumah tangga, aib masing-masing harus disembunyikan, namun tidak dengan keromantisan. Itu cukup jadi rahasia antara dua orang yang menjalaninya.
Pria itu beralih menyandarkan bokongnya ke meja kompor, berhadapan langsung dengan Agnia.
"Gimana kuliahnya?" tanya Agnia, berubah lembut kembali setelah sempat menakutkan bak induk ayam takut kehilangan anaknya.
"Gak bagus."
"Kenapa?"
"Dih! Itu akibatnya kalo masih bocil udah ngebet nikah."
"Bocil?" Akmal menautkan alisnya. "Tapi bukannya Mbak sendiri suka ya sama Bocil?"
...
Semangkuk sup iga mengepul tersaji, Akmal menyendok dengan lahapnya. Ditemani tatapan intens Agnia yang tak ikhlas jika masakannya tak dihabiskan.
"Enak?"
Akmal mengangguk cepat. Tak bohong, pasakan istrinya memang tak perlu diragukan. "Mau coba? Aku suapin."
"Enggak." tolak Agnia cepat, memundurkan wajahnya. Memasang ekspresi tak suka.
"Lho.. sama masakan sendiri.. enak kok. Buka mulutnya coba."
"Kenyang aku.. gak mau. Enek." terang Agnia, masih dengan kespresi tak sukanya. Yang lantas memancing atensi khusus Akmal. "Apa Yang? Enek? Jangan-jangan kamu hamil.."
"Ih" Agnia melotot, masak iya kehamilan terjadi satu malam. Bahkan meski bagi Allah mungkin, namun ikhtiar dan proses yang dimiliki manusia selalu berjalan sewajarnya sebuah fitrah.
Akmal nyengir lebar. "Becanda, sayang.. tapi aamiin ya? Mau kan punya anak dari aku?"
"Ih!" Agnia kembali melotot, menatap gemas sang suami. "Nanya nya.. terus kamu pikir aku mau punya anak dari siapa? Hemh? Bener-bener kalo nanya."
Akmal mengulum senyum, bangkit dari duduknya dan berjalan melingkar menuju kursi Agnia. Memeluk Agnia sesaat, untuk kemudian kembali ke kursinya. "Udah gak marah kan? Maaf."
__ADS_1
Agnia menghela, demi tingkah manis itu ia tak akan meneruskan kekesalannya. "Yaudah.. lanjutin makannya."
Benar-benar menunggu hingga Akmal selesai dengan makannya, Agnia tak dulu beranjak. Baru setelah selesai merapihkan bekas makan sang suami, kembali ke kamar mereka.
Akmal hendak pergi ke kamar mandi, sudah bertelanjang dada. Meraih handuk. Hingga Agnia masuk ke dalam kamar dengan wajah penasaran. "Sayang.."
"Hemh?"
"Aku penasaran ini sejak lama." Agnia menatap Akmal serius, duduk di bibir ranjang menghadap Akmal yang urung melangkah ke kamar mandi. "Bukannya kamu ngajar ngaji.. itu.. Emh.."
"Oh! Pak Basit? Dia.. memutuskan berhenti, mungkin cari guru lain."
Wajah Agnia berubah prihatin, ada dua hal berlawanan di hatinya. Diam untuk beberapa saat. "Karena aku ya?"
"Mungkin.." Akmal mengendik pelan, mendekat dan duduk di sebelah Agnia. "Yang jelas dia gak enak sama Mbak, atau mungkin juga malu."
Entahlah.. Agnia anatara merasa itu baik atau sebaliknya. Satu sisi merasa salah jika sampai dirinya jadi penyebab seseorang tak lagi belajar mengaji. Namun satu sisi tak bisa menafikan jika dirinya lega. Bertemu Basit salah satu hal yang ia waspadai di rumah ini.
"Kenapa?" tanya Akmal, membawa Agnia kembali dari lamunannya.
Agnia mengulum bibirnya sesaat, menatap prihatin. "Gak papa emangnya?"
Akmal tersenyum, paham isi hati istrinya saat ini. "Kan gak ngaji lagi sama aku bukan berarti beliau gak ngaji lagi. Masih banyak orang yang bisa diminta tolong, dan untuk saat ini perasaan kita yang penting. Pak Basit tau gak mudah buat Mbak bertemu dia lagi."
Agnia tak bergeming, balas menatap lama.
Akmal terkekeh. "Tau gak, Mbak. Pak Basit itu sempet nawarin anaknya sama aku."
"Hah?!" Agnia sedikit terperanjat. "Giska?"
"Gak tau, aku gak kenal. Pernah ketemu sekali aja."
"Terus kamu mau?"
"Hey.. aku udah lamar orang lain saat itu." ujar Akmal, mencubit pelan hidung Agnia.
"Kalo belum, mau gak?"
"Gimana ya.."
"Ih.."
"Nanya nya.. memangnya aku apa? Kalo suka yang ini terus ditawarin yang itu mau gitu? Hemh? Mbak pikir hatiku apa?"
"Ya siapa tau.."
"Enggak lah, calon istriku saat itu sudah lebih sempurna. Apalagi calon menantu kesayangan Bunda. Bisa apa aku?"
"Oh.. maksudnya kalo gak gitu kamu mau sama Giska? Hah?!" Agnia memberondong Akmal dengan kekesalan tak beralasan, mencubit perut beberapa kali hingga pria itu rubuh ke belakang. Agnia tak mau mengakhiri itu, terus mencubit perut suaminya sambil mengomel.
Ceklek.
"Ah.. maaf. Bunda.. lupa.. kalian.. kalian kenapa gak kunci pintu? Masih sore ini.. kenapa kalian.." Retno membalikkan tubuhnya, namun tak henti bicara.
Lihatlah posisi dua orang itu, Akmal terlentang dengan telanjang dada. Sedangkan Agnia di atasnya, siapa yang tak macam-macam pikirannya melihat itu?
Terulang lagi, Agnia mengaduh dalam hati. Bangkit dari tubuh Akmal dengan wajah terkejut, tak terjadi apa-apa saja sudah panik apalagi jika ketahuan seperti saat dipergoki Yesa tempo hari.
__ADS_1
...