
Ada satu hal lagi, yang membawa Akmal menemui Govin. Yang tak ia pahami, pun turut ia curigai. Demi tidak mengembangkan persangkaan buruknya, Akmal menyempatkan diri menemui pemuda itu tanpa memberi tahu Agnia.
Pemuda yang tatapannya masih sama kosongnya itu, sudah menanti dengan wajah tertunduk bak sibuk memikirkan sesuatu. Tak tampak wajah yang senantiasa terangkat sombong, atau tatapan percaya diri yang menuntut.
Cukup mengherankan, hingga Akmal sibuk menilai perangai Govin saat pemuda itu menolehnya dengan mata sayu tanpa memberi reaksi berlebih.
Govin menghela, mengangkat punggungnya dari sandaran kursi. "Apa lagi? Bukannya kerusuhan antara kita sudah berakhir?" tanyanya, masih mempertahankan kegengsian meski tak tampak lagi keangkuhan dari tatapannya. "Gue sibuk, ini hari terakhir gue disini."
"Seenggaknya biarin gue duduk dulu." kata Akmal, entah kenapa merasa sedikit bersahabat dengan sosok di hadapannya. Govin mengendikkan bahu sebagai respon.
Giliran Akmal yang menghela, menoleh sekitar. Cafe yang ramai dimana bukan mereka yang satu-satunya tengah berbincang. Bingung, namun Akmal justru semakin bingung dengan Govin hari ini. Ekspresinya saat ini, juga keputusan tak jelasnya. "Jadi.." Akmal spontan mengurungkan ucapannya, kala berbarengan dengan Govin yang juga mengatakan hal sama. "Oh.. silahkan."
"Enggak, Lo dulu."
"Emh.. gini, Vin. Gue tau harusnya gue merasa lega, tenang, karena lo berhenti menggertak gue. Tapi.. gue juga gak paham kenapa rasanya aneh, apa yang terjadi?"
Tarikan napas dalam diambil Govin, setelah berhasil mendapat alasan yang tepat untuk merasa bersalah pada Akmal, kini ia bingung cara untuk meminta keikhlasan hati Akmal untuk melupakan semua kekeliruannya. Singkatnya ia enggan meminta maaf. "Intinya.. gue gak akan lagi di Jakarta, jadi bukannya lebih baik untuk segera mengakhiri semua itu?"
Alasan bodoh, terdengar bodoh. Jelas bukan itu alasan sebenarnya, bukan sesuatu yang bisa membuat Govin yang semula ambisius kini jadi ciut. Jika soal uang saja bisa diatasi, maka soal jarak rasanya bukan hal besar. "Gitu?"
Govin mendengus pelan, menatap Akmal tak suka. Tak suka dengan responnya yang terlihat tidak percaya, terkesan merendahkan. "Gak percaya?"
"Memang." jawab Akmal cepat, jujur. Jangankan dirinya, Govin saja terdengar tak yakin dengan perkataannya sendiri.
"Ah.. pokoknya.. lebih baik, Lo lupain yang terjadi. Gue gak bisa minta maaf. Dan.. gue bahkan masih benci sama lo, sampe gue sendiri cape mengingat kebencian itu. Selalu ada bayangan kepergian Ulya setiap gue liat Lo, anggap itu salah satu alasannya." Govin menjeda. "Dan.. meskipun gue gak tau apakah gue berhak berkata begini atau tidak, tapi.. terimakasih karena sudah menjaga ibu dengan baik."
Akmal mengernyit sesaat, hingga menyimpulkan ibu yang Govin maksud adalah ibunya Ulya. Lantas mengangguk samar.
"Sejauh ini gue paham kenapa Ulya selalu mau jaga hati lo."
__ADS_1
"Ya.. begitu." Akmal tersenyum kecut, mengingat semua itu rasanya.. "Gue ngerasa buruk kalo bahas soal itu, jadi.. kita sudahi obrolan ini?"
Govin menghela, sorot angkuhnya hilang tak tersisa. Terlihat lega setelah mengeluarkan semua yang ingin ia katakan. Berganti tatapan sayu yang bak tak lagi punya kekuatan, sorot mata yang padam seakan menunjukkan kesepiannya.
.
.
.
.
Agnia duduk tak bersemangat di sofa, menekan asal remot memindahkan dari satu saluran televisi ke saluran lainnya. Melirik jam untuk kesekian kalinya, lantas menghela berat persis yang ia lakukan sejak sepuluh menit ini.
Hingga saat deru mobil terdengar, Agnia buru-buru bangun untuk menemui seseorang yang dinantinya. Seseorang yang membuatnya amat bosan dengan ketidak adaannya. Terlalu bersemangat, hingga lututnya dalam satu hentakan mencium ujung meja yang tumpul.
Duk
"Assalamualaikum.." Akmal masuk dengan senyum bahagianya, selalu begitu setiap pulang. Sebagai ganti untuk menyenangkan istrinya yang senantiasa menunjukan senyum dan pertanyaan manis setiap dirinya kembali dari kesibukan.
"Wa'alaikumsalam.."
Akmal hendak meraih puncak kepala Agnia, hendak membubuhkan kecupan saat istrinya itu justru mengaduh sembari menunduk menyingkap celananya, tampak memastikan sesuatu. Akmal mengernyit akannya, memperhatikan beberapa saat. "Kenapa? Sakit kakinya?"
"Iya, kepentok meja." jawab Agnia.
"CK!" Akmal mendecak, sembari menurunkan tubuhnya jadi berjongkok. "Kayak anak kecil, sini liat.."
Agnia nyengir disebut seperti anak kecil, toh memang ceroboh sebab bersemangat menemui suaminya. Nyengir sembari menunjukkan lutut mulusnya yang kini punya sedikit lebam.
__ADS_1
"Gak papa, itu.. cuman sedikit."
"Makanya.."
"Makanya apa?" Akmal bangkit, berdiri mengikis jarak dari Agnia. "Hem?" matanya membulat, menunjukkan peringatan. "Makanya.. Harus hati-hati. Ya? Masa di rumah aja ceroboh."
"Iya.." Agnia menjawab malas, padahal hanya terpentok sedikit namun seakan dirinya melakukan kecerobohan besar.
"Yaudah.. sini." Akmal menarik tangan Agnia, membawanya ke atas sofa. Sudah melihat bau-bau pertanda ngambek dari bibirnya yang perlahan manyun. Mendudukkan Agnia di sampingnya.
"Apa?" Agnia menautkan alisnya, seketika melihat tatapan yang sulit diterjemahkan dari suaminya.
"Emh.. aku mau tanya satu hal..."
"Tanya aja, apa?"
"Tapi jangan marah.. kalo bisa.. jawab, kalo gak mau gak usah jawab."
"Dih! Soal apa sih, sampe aku marah?"
"Soal hari itu, pas Govin kesini.. Mbak ada nyampein sesuatu?" tanya Akmal, sembari menilik reaksi Agnia setelah nama itu disebut.
"Kenapa tanya soal itu lagi? Ada masalah lagi sama dia?"
"Enggak, bukan begitu. Cuma.. penasaran aja. Kita belum pernah ngobrolin soal itu, karena kondisi Mbak yang tiba-tiba nge drop."
"Emh.." Agnia mengulum bibirnya singkat, tak terlihat marah sebab sama sekali tak terganggu. Lantas menggeleng. Tak berniat memberitahukan kalimat apa saja yang ia katakan hari itu pada Govin, lagi pula sudah berlalu, dan.. itu jadi tak penting hari ini.
Akmal mengangguk, tersenyum tipis. Ia tau istrinya sedang berbohong, namun demi tak mengungkit luka lama, ia tak akan bertanya. Sebab bagaimana pun, yang terpenting.. mungkin salah satunya sebab ucapan Agnia lah hati Govin melembut.
__ADS_1
"Beneran.." tegas Agnia, menjelaskan pada Akmal yang tak kunjung merespon. "Aku gak banyak ngobrol sama dia, hari itu."
"Iya.." Akmal mengangguk, mengelus puncak kepala Agnia. "Yaudah, lupain soal itu.. sekarang aku lapar. Boleh minta makanan yang spesial, istriku?"