
Kesedihan pertama Agnia setelah pernikahan, meski tidurnya lelap dalam pelukan Akmal namun dirinya tak begitu saja bisa lupa dengan kegusaran di hatinya.
Pagi ini Akmal tampak canggung, tak bersemangat. Dan kedapatan memandanginya penuh rasa bersalah. Saat ditanya kenapa, jawabannya "Gak papa."
Agnia kesal sekali, hingga rasanya ingin menangis. Akmal entah menganggapnya apa hingga tak mau membagi masalahnya. Bukannya berada dalam atap pernikahan berarti harus berbagi segala hal? Jadi rumah satu sama lain?
Agnia menghela, memandangi langit cerah tanpa awan di balkon kamarnya. Rasanya kesalahan lebih buruk dari pada kebimbangan seperti ini. Ia tak tau apa salahnya ada pada Akmal atau justru pada dirinya, ia juga tak tau apakah masalah itu nantinya akan menyakitinya atau tidak. Belum pasti. Namun Akmal mengambil sikap yang salah dengan memberinya teka-teki tanpa petunjuk.
Tidak taukah jika itu lebih buruk baginya?
Suara bising klakson nyaring terdengar, membuyarkan lamunan Agnia. Ia segera beranjak dari balkon kamarnya. Saat langkahnya menjajaki tangga, saat itu juga Akbar masuk dengan wajah kacau. Tampak bangun tidur.
"Aku pulang.." ujarnya saat melihat sang kakak, lekas mendekat ke sopa kemudian melempar tubuhnya ke sana. Melanjut dengkurannya.
Ya, setidaknya kembalinya penghuni rumah luas ini jadi penghibur Agnia. Membuatnya lupa akan ketidak jelasan Akmal saat ini. Senyum Agnia lepas saat Zain datang digendong Hafidz, rasanya rindu sekali untuk menghabiskan waktu bersama keponakan satu-satunya itu.
Agnia duduk memandangi Zain yang terlelap disebelah Puspa. Dua orang itu terlelap bersamaan, sedangkan Hafidz punya tanggung jawab lain hingga langsung pergi.
Kecupan ia arahkan pada Zain, gemas sekali. Lucunya keponakannya ini justru mengabaikannya setelah ia menikah, bahkan nempel sekali dengan Akmal yang tak lama dikenalnya.
"Agni.." panggilan itu menghentikan lamunan Agnia, spontan menoleh ke arah pintu yang setengah terbuka. "Iya, Bu.."
"Kesini sayang.. ibu mau ngobrolin sesuatu."
Agnia mengangguk, beranjak dari duduknya setelah sekali lagi mengelus puncak kepala Zain. Mengekor sang Ibu menuju balkon rumah mereka.
Tampak serius, Khopipah menatapnya dengan senyum khasnya. Agnia jadi penasaran apakah gerangan yang ingin dikatakan ibunya. Riak takut tiba-tiba mengisi hatinya, mengingat bagaimana Akmal menyembunyikan masalahnya membuat Agnia merasa jika yang didiskusikan saat ini mungkin berkaitan dengan diamnya Akmal.
"Kenapa, Bu?" tanya Agnia sembari mendudukkan bokongnya di kursi. Menghadap sang ibu yang juga duduk di kursi lainnya.
"Gimana rasanya?"
"Hemh?"
__ADS_1
Khopipah mengulas senyum. "Gak perlu dijawab, sudah kelihatan di wajah kamu. Kamu bahagia, kan? Akmal lebih baik setelah dikenal lebih jauh."
Agnia menunduk untuk sesaat, harus apa? Toh ibunya seakan membaca apa yang ada di pikirannya saat ini. Ia mengakui jika pilihan ibunya memang tak salah. Rasanya Agnia bisa menangani Akmal seumur hidup, juga mengarungi pahit manis kehidupan bersamanya. Akmal adalah seseorang yang ia terima sepenuh hati. Dan apa yang lebih baik dari itu?
"Emh.. barusan mertua mu nelpon."
Ini dia, Agnia kini bisa mendapat titik terang. Pasalnya setelah ditanya soal orang tuanya raut Akmal selalu berubah, bak sesuatu yang tak ingin ia ingat sementara dengan tak menyebut nama itu.
"Minta ibu nanyain kamu, soal Akmal yang.."
.
.
.
.
Sore itu, dengan langit yang masih terang. Dengan jingga di yang menyingsing cantiknya. Satu keputusan besar Agnia ambil, hatinya yang semula tak tenang kini membaik.
Akmal dikagetkan dengan Agnia yang duduk menunggu di bibir ranjang, segera menghampiri saat ia keluar dari kamar mandi. Agnia bahkan tak terganggu dengan dirinya yang telanjang dada sekarang ini, justru bangkit dan mengarahkan pelukan padanya.
"Sekarang kita balik ke rumah Bunda?" Agnia bertanya antusias setelah melepas pelukannya. Sesaat itu mengherankan bagi Akmal sebab istrinya bersikap seakan tak terjadi apapun, seakan tadi pagi tak terjadi kecanggungan antara mereka.
"Mbak sakit?" tanya Akmal, mengernyit. Punggung tangannya ia tempelkan ke dahi Agnia. Berlagak memastikan.
"Ih!" Agnia balas manyun, disangka gila atau apa dirinya saat ini. Akmal tersenyum melihat itu, mengacak puncak rambut istrinya yang tak ada angin tak ada hujan mendadak manis ini. "Aku penasaran, kenapa Mbak selalu semangat balik ke rumah Bunda?" tanyanya.
Agnia mendongakkan wajahnya, menatap mata Akmal lekat. Tangannya beralih melingkari tengkuk pria itu. Menciptakan suasana intim dengan tiba-tiba. Akmal tak henti dibuat heran akannya, lihatlah wajah menggoda istrinya saat ini, tak ada raut panik yang biasa muncul tiap mereka berdekatan.
"Karena.. disana gak ada orang?" jawab Agnia, justru balas bertanya diiringi seringai yang seakan mempertegas jika dirinya tengah menggoda sang suami.
Akmal tak bergeming untuk sesaat, justru mengernyit. "Terus?"
__ADS_1
Agnia menghela, tampaknya saat sedih atau merasa bersalah otak suaminya ini cenderung lambat. Namun Agnia tak menyerah, kembali tersenyum. "Cium rambut ku.."
"Wangi.." ujar Akmal setelah menyesap kepala Agnia sesaat. Membuat Agnia langsung tersenyum senang, masih menatap Akmal lama. Menunggu.
"Hemh?" Akmal bingung dengan tatapan istrinya saat ini. "Apa sih?" tanyanya diselingi kekehan dengan ekspresi heran.
Agnia mendecak, melepas tautan lengannya. Mundur satu langkah dari Akmal, memasang wajah sebal yang bukan dibuat-buat. Memang sebal, jauh-jauh hari menanyakan soal haid, tapi setelah diberi kode justru berlagak tak paham. "Lupain aja." ketusnya.
Akmal terkekeh, menahan lengan Agnia supaya tak semakin menjauh darinya. Menarik tangan Agnia supaya kembali ke pelukannya. Kini tangannya ia lingkarkan di pinggang Agnia, menatap istrinya itu lekat. "Bukannya 'malam pertama itu gak harus di rumah Bunda, ya?" tanyanya bersama senyum teduh khasnya, menandakan jika Akmal bukan tidak paham arah bicara Agnia sejak awal.
"Kamu ngeselin ya, sengaja pura-pura gak ngerti.." cibir Agnia, masih dengan wajah sebalnya. Namun kali ini disertai takut, ia tak serius soal membangkitkan keinginan suaminya.
"Aku cuma mau lihat usaha Mbak.."
Agnia mencebik, takut namun dilain sisi senang. Usahanya untuk membangkitkan suasana hati sang suami ternyata berhasil. Melihat Akmal begini, lebih baik menurutnya. Tandanya Akmal sudah kembali ke moodnya aslinya.
"Jadi masih mau pergi ke rumah Bunda, atau.. mau di kamar ini?" tanya Akmal sembari merapatkan tubuh Agnia padanya.
Entahlah, Agnia jadi tersipu saat Akmal berbalik agresif padanya. Nyalinya jadi ciut seketika, dada Akmal ia dorong untuk menjauh.
"Kenapa?" Akmal menahan posisi mereka, usaha Agnia gagal total. Pria itu malah makin mendekatkan wajahnya hingga napas mereka saling menyapu wajah masing-masing. "Mbak sudah menyerahkan diri, kenapa harus mundur?" tanyanya dengan tatapan tertuju pada bibir Agnia.
Agnia menelan salivanya, ternyata jika sudah berhadapan begini takutnya luar biasa. Namun bagaimana dengan dirinya yang juga turut menginginkan itu? Agnia suka sekali dengan aroma mint yang menguar dari tubuh Akmal saat ini. Haruskah ia menyerah saja sekarang? Menyerahkan dirinya seutuhnya? Atau menggunakan kembali jurus andalannya, yaitu kabur? Hanya saja degup jantungnya kini menggila, Agnia tak bisa menafikan jika dirinya mungkin sama gilanya dengan kehendak Akmal atasnya.
Belaian lembut Akmal arahkan pada pipi Agnia, tau sekali jika istrinya kembali diserang panik. Belaian itu berakhir di rahang tajam istrinya. Senyumnya tersungging saat Agnia perlahan memejamkan matanya, kini terlihatlah jika Agnia sudah jatuh dalam pelukannya dan sama menginginkan hal lebih.
Cup
Agnia kembali membuka matanya, mengerjap beberapa saat. Kecupan itu meluncur ke kepalanya. Agnia sampai kembali menelan salivanya, ternyata ia sudah salah sangka. Panas seketika menjalar di wajahnya, malu sekali sudah ketahuan berharap hal yang lebih.
Rona itu menggemaskan di mata Akmal, pelukan ia arahkan lagi pada Agnia. Bersama kecupan lama di puncak kepala istrinya itu. "Tunggu aku selesai berjamaah, ya?" ucapnya diiringi kekehan, gemas sekali dengan tingkah Agnia yang menciut setelah membuatnya membara.
Lihatlah dirinya, Agnia sampai lupa pukul berapa saat ini. Gila saja, ia yang memainkan permainan dan dirinya sendiri yang jatuh dalam permainan itu. Ayolah.. langit bahkan belum menggelap, menuju malam masih harus menunggu beberapa jam lagi.
__ADS_1
...