Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
121. Marriage Syndrome?


__ADS_3

Tak tau sejak kapan waktu luang tak lagi menyiksaku,


Hati ini lapang dengan sendirinya,


Jiwa ini waras dengan kehendaknya.


Tak tau mengapa..


Yang ku tau sejak masa sulit itu,


Selalu ada kamu yang menggenggam tanganku.


...


Seperti apa sindrom menjelang pernikahan? mungkin itu yang kini dirasakan Akmal. Semangat dan buncahan bahagia yang kemarin ia rasakan kini berganti resah. Faktanya menikah tidak semulus dan sebahagia itu, ia sudah diwanti-wanti sebelumnya.


Bisakah ia menjadi imam yang baik? Sebab Agnia seseorang yang didewasakan proses, seseorang yang terdidik, juga mandiri. Akan kah hal itu menghalangi Agnia untuk menghargainya sebagai suami?


Belum lagi soal statusnya sebagai mahasiswa, apa Agnia bisa bangga memperkenalkannya sebagai suami? Lingkar pertemanan Agnia tak main-main, Akmal justru mempertimbangkan segala hal dari sisi Agnia.


Akmal menghela napas panjang, lihatlah hari masih siang dan ia sudah banyak melamunkan hal bodoh yang belum tentu terjadi. Agnia terdidik, maka didikannya tentu akan membawa ia jadi istri yang sempurna. apa lagi?


Seorang pria berperawakan tinggi itu mendekat, sejak tadi mencari Akmal. Heran, padahal jika resah akan sesuatu harusnya Akmal pulang saja dan menenangkan dirinya di rumah. Tapi ini tidak, pria itu justru duduk melamun di sofa panjang ruangan karyawan.


Itu jelas mengganggu, Dimas mendapat laporan dari rekan kerjanya. Mereka jadi tak bebas keluar masuk ruangan mereka, merasa kagok.


Dimas menghela pelan, sembari bokongnya ia dudukkan di sebelah Akmal. Hal itu langsung memancing tolehan Akmal yang bak mendapat pencerahan, dapat ide untuk bertanya.


Sesaat Dimas menilik wajah Akmal, keningnya langsung bertaut kala melihat senyum mencurigakan disana. "Kenapa?"


"Aku punya pertanyaan, Mas."


"Pertanyaan? harusnya sejak tadi kamu nemuin saya, dan bukannya duduk disini dan buat anak-anak gak nyaman."


Akmal hanya tersenyum dibilang begitu, tentu saja. itu ulahnya.


"Jadi apa? soal pernikahan?" tebak Dimas, yang langsung dibalas tatapan takjub Akmal. Kenapa bisa tepat sekali? "Bukan hal menakjubkan, Ayahmu yang bilang.. katanya sebentar lagi kita akan pesta besar. Dan Mas kesel ya.. kamu gak ngasih tau.."


"Itu.. mendadak, Mas jadi.."


"Lupakan!" potong Dimas segera, waktu adalah uang baginya. "Sekarang katakan apa?"


"Setelah pernikahan ditentukan, gak tau kenapa aku merasa sedikit.. maksudnya beberapa kekhawatiran. Apa itu wajar? Mas pernah ngerasa kayak gitu juga gak?"


Dimas menghela, Menerawang. Faktanya ia sudah menikah selama hampir lima tahun, berarti perasaan macam itu ia rasa sekitar lima tahun yang lalu. "Entahlah.. Mas lupa. Tapi.. Kekhawatiran pantas terjadi, itu tandanya kita banyak pertimbangan. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kekhawatiran itu kita rubah jadi antisipasi. Persiapan mental yang paling utama. Namun.." Dimas merubah posisi duduknya jadi lebih nyaman, bersandar pada sopa itu. "Harus diingat kalo pernikahan gak semenakutkan itu setelah kita masuk ke sana."


"Ya.. kita niatnya ibadah.. setelah itu kalau pun sulit pasti ada ikhlas dan disana letak keindahannya."

__ADS_1


"Wow.." satu kata itu yang keluar dari mulut Akmal, sorot matanya menunjukkan takjub pada Dimas. setiap kalimat Dimas meski tak cukup meredakan kekhawatirannya, namun terdengar realistis dan bisa ia resapi secara perlahan nantinya.


Dimas tersenyum bangga, siapa yang tak suka dipuji? reaksi Akmal membuatnya yakin jika kalimatnya terdengar bijaksana.


Namun Akmal bukan hanya takjub dengan paparan Dimas, tapi ia menyadari satu hal. "Mas.. dari yang aku dengar, kayaknya kehidupan rumah tangga Mas Dimas cukup sulit." ujarnya jujur yang spontan mengenyahkan senyuman di wajah Dimas.


Itu tak sesuai ekspektasi, ucapannya justru membawa Akmal mengetahui jika semua yang ia ucapkan berdasar dari pengalaman. Dimas mengendus pelan, sementara Akmal tersenyum lebar. Tentu saja menertawakan Dimas.


"Memang begitu, kesimpulannya siapkan mental. Menghadapi perempuan itu butuh effort luar biasa, jadi bersiaplah.."


.


.


.


.


Sementara itu, ketakutan semacam itu tak dirasakan oleh Agnia. Entahlah, mempertimbangkan banyak hal justru akan membawanya pada keraguan. Yang paling benar adalah meminta yang terbaik kepada Allah. Sebab Agnia sudah berpengalaman dengan kegagalan yang sebelumnya ia yakini kebahagiaan.


Siapa tau, ternyata kegagalan yang dulu menyakitinya justru yang terbaik. Allah begitu baik dengan menampakkan perselingkuhan Adi dan Alisya sehari sebelum pernikahan dilaksanakan.


Agnia tak bisa membayangkan jika perselingkuhan itu terungkap sehari setelah pernikahan, atau sebulan bahkan setahun setelah pernikahan, maka rasa sakit dan kecewanya akan berbeda dan mungkin lebih dalam.


Mengingat itu, timbul rasa syukur di hati Agnia. Saat semua bisa saja menjadi lebih buruk, Allah dengan kuasanya menjadikan segala kemungkinan terjadi. Rasa sakit yang membubui sebuah kisah, juga rasa kecewa yang membumbui pengharapan.


Tapi lihatlah Agnia saat ini, ia yang sempat berpikiran pendek dan mau mengakhiri hidup kini bisa mengulas senyum bahagia yang tak dibuat-buat.


Entahlah.. tak tau sejak kapan waktu luang tak lagi menyiksanya.


Senyum Agnia tersungging, tak henti muncul sembari memperhatikan Yesa yang tengah berdiri di depan anak-anak kelas enam madrasah diniyah itu. Menerangkan tentang bab berbakti pada orang tua, dengan kitab Akhlaqul banin jadi sumbernya.


Ini seperti sedang evaluasi cara mengajar, Agnia duduk di mejanya sembari ikut mendengarkan. Yesa persis dengannya, yang beda dari cara bicara adik sepupunya itu yang lebih lantang dan lebih banyak pengetahuan hadist juga hafalan qur'annya.


Jika Agnia lebih suka memilih kalimat yang mudah dipahami anak-anak dengan percontohan sederhana, maka Yesa sebaliknya. Yesa lebih suka menilik satu masalah lebih dalam dari segala sisi, yang sebenarnya entah akan dipahami anak-anak itu atau tidak. Kalau harus dilihat lagi, maka Yesa lebih mirip Fauzan, omnya dibanding Agnia kakak sepupunya.


...


Tak hanya Agnia, Yesa juga mendapat kekuatan dari mengajar. Lihatlah senyuman juga mata berbinarnya yang tak kunjung hilang. Yesa bahkan lebih banyak bicara saat begini.


Senyumnya sebenarnya sudah dimulai saat mendengar Agnia akan menikah, ia jadi bersemangat untuk segera bertemu sepupu juga keluarga dari pihak ibunya. Membayangkan bertemu saja sudah membahagiakan, apa lagi saat ini ia sudah berada di tengah-tengah keluarga besarnya.


Ketika tiba di rumah Hafidz, Yesa langsung berhambur pada Zain. masih berusaha menarik perhatian bocah empat tahun itu. Tekadnya untuk segera mendapat hati Zain sebelum ia kembali lagi ke Tasikmalaya, dan dikirim lagi ke pondok.


Beda dengan Agnia, setibanya disana langsung pergi mencari makanan. Segera duduk di meja makan tanpa disuruh, menghadap buah juga kudapan yang tersedia disana.


Tangannya meraih sebuah apel merah yang menggoda, juga sebilah pisau untuk mengupas apel itu. Saat itu Hafidz muncul, tanpa bicara ikut bergabung dengan adik perempuan satu-satunya itu. Adik kesayangannya yang sebentar lagi akan menikah.

__ADS_1


Agnia mengernyitkan dahinya, setelah sekilas menoleh tatapan Hafidz. Tatapan tak biasa, kakaknya yang dingin itu kini tengah menatapnya intens. "Kenapa, Mas?"


Hafidz ditanya begitu, justru membenarkan posisi duduknya. Memilih bersandar nyaman dengan tangan terlipat di depan dada. "Bukan apa-apa. Mas.. juga mau apel itu." jawab Hafidz kemudian, sembari menunjuk apel di tangan Agnia dengan tatapannya.


"Mau aku kupasin juga?"


Hafidz mengangguk.


"Okay.." Agnia mengendikkan bahunya pelan, tak keberatan. Untuk kemudian larut dalam diam.


Ada yang mengganggu di hati Hafidz, ia masih tak ikhlas jika adiknya menikah dengan Akmal. Pria yang masih dalam masa perpindahan remaja menuju dewasa, yang umurnya saja belum dua puluh tiga tahun. Pria tanggung yang masih menyandang status mahasiswa, dan jelas-jelas teman Akbar.


Tapi apa harus dikata? Tau-tau dijodohkan, tau-tau lamaran. Dan nanti tau-tau dinikahkan. Hafidz tak punya kuasa untuk memberi saran ataupun melarang.


Agnia selesai, setelah mengupaskan bahkan menyajikan buah itu ke atas piring, lantas menyodorkan buah itu ke hadapan Hafidz sedang ia mengupas apel yang baru.


Hafidz memperhatikan gerak-gerik Agnia, menilik emosi apa yang sebenarnya dirasakan adiknya itu. Sembari tangannya meraih satu potongan dadu apel lantas menyuapkannya.


Untuk waktu yang lama Hafidz terdiam, masih berperang dengan dirinya sendiri. Sesaat menilik cincin di jari manis adiknya, lantas mengernyit.


"Kamu suka itu?" tanya Hafidz, terkesan ambigu sebenarnya. Namun Agnia cepat mengangguk.


"Suka lah, Mas. Mas juga suka, masak aku enggak." jawab Agnia santai, memancing tatapan tak terima dari kakaknya itu.


"Kapan Mas bilang suka sama dia?" sewot Hafidz, tangannya hingga batal meraih potongan apel selanjutnya.


Tunggu.. Tangan Agnia spontan berhenti, kini menatap Hafidz bingung. dia? "Bentar, Mas lagi ngobrolin apa sebenarnya?"


"Ya calon suami kamu, Mas nunjuk cincin itu tuh.."


Agnia menghela, lantas terkekeh. Itu yang dimaksud Hafidz ternyata beda dengan Itu yang dimaksud Agnia.


"Lucu?" tanya Hafidz datar, merasa ditertawakan.


Anggukan segera ditunjukkan Agnia, masih tersenyum lebar menatap kakak sulungnya. "Aku pikir yang Mas maksud itu apel, makanya aku jawab iya."


Mana ada lucunya, Hafidz terheran. Lihatlah senyum bahagia Agnia, senyum seperti itu bahkan tak pernah muncul saat bersamanya.


"Terus? kalo sama Akmal suka?"


Agnia ditanya begitu justru mengulum bibirnya, ia sering malu-malu pada orang lain tapi pada Hafidz tidak. Hanya saja kini sedang mencari jawaban tepat dari pertanyaan itu.


"Emh.. entahlah.. aku memutuskan untuk tidak dulu suka. Yang aku tau.. sepertinya aku bisa suka sama dia dan bisa menghabiskan sisa hidupku sama dia."


Hafidz menghela, sangat tak nyaman mendengar jawaban itu. "Itu artinya kamu udah suka sama dia." ketusnya.


"Kan aku bilang entah, Mas.. bisa jadi iya bisa jadi enggak."

__ADS_1


"Terserah.." ujar Hafidz cepat, lantas berdiri dari duduknya. "Kamu karena kenal bocah, jadi ketularan berbelitnya." tandas Hafidz sembari berbalik dan meninggalkan Agnia yang melongo dibuatnya.


"Ish! kenapa juga dia!" Agnia mencebik, menatap tajam Hafidz yang berlalu dan hanya tampak punggungnya saja. "Sensi apa gimana?"


__ADS_2