Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
168.


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepatnya, hingga tak ada yang tersisa kecuali terkejutnya diri pada hari ini, menatap hari lalu dengan takjubnya.


Ramadhan berlalu, hari perlahan menjelajahi rutinitas biasanya. Pagi ini dapur sudah penuh dengan aroma lezat, Agnia membuat roti panggang dengan selai coklat. Perut mereka yang terbiasa makan teratur saat ramadhan, tak bisa begitu saja dihantam begitu saja dengan porsi yang besar.


Akmal berjalan cepat, setengah berlari menuruni tangga. Menghampiri sang istri menuju dapur, tampak buru-buru. "Mbak, aku ke rumah ayah dulu, ya? Sebentar. Ada yang harus aku ambil."


"Hemh?!" Agnia tak sempat mengiyakan atau bertanya ini itu, Akmal mengecup singkat keningnya lantas menyambar selembar roti dan pergi tanpa mengucapkan apapun.


Agnia menghela, tersenyum kecil sehilangnya Akmal dari pandangannya. Kembali melanjutkan kegiatannya.


.


.


.


.


Govin, pemuda dengan sisi kelam hidupnya itu, akhirnya datang. Memberanikan diri menemui perempuan yang ia pikir akan dapatkan. Bukan cinta, sebab Akmal lah ia mengambil langkah. Harapannya tak berubah sejak jaman sekolah dulu, sejak kepergian Ulya ia dengan rasa bersalahnya menyandarkan semua kesalahan pada Akmal.


Ia menyesal, andai tak membiarkan Ulya bersama Akmal. Mungkin ia akan menjaga gadis itu lebih baik dari yang Akmal lakukan.


"Akmal itu udah nikah, Vin. Dan istrinya itu temen gue. Jadi jangan bertingkah.. jangan sampe lo nyakitin orang lain karena rasa benci lo." Govin menyeringai tipis, mengingat lagi kalimat Ripda tempo hari. Ternyata Ripda cukup mengenalnya, bahkan meski ia hanya bertanya dimana Akmal sekarang, gadis itu sudah bisa menebak apa yang mungkin saja ia lakukan.


"Jangan salah paham, jangan berburuk sangka. Gue akan melakukan apa yang dilakukan Akmal. Gue gak akan nyakitin siapapun."


Ripda mendesah pelan, tampak frustasi. "Jadi lo masih berpikir kalo Akmal bersalah dalam kecelakaan Ulya? Ayolah.. Vin!"


"Takdir? Gue tau. Gue tau itu yang akan lo ucapin, persis ucapan lo di enam atau lima tahun yang lalu. Kalo gitu gue pergi, terimakasih minum dan sarannya."


Ripda sampai menggeleng takjub melihat tak ada perubahan dalam diri Govin. "Ya.. dia gak berubah. Tampan dan mempesona sejak dulu. Hanya saja pemikirannya?" Ripda menghela, ikut pusing dengan kedatangan Govin yang tiba-tiba. "Gimana bisa dia mencintai Ulya seperti itu? Dasar bodoh!"


...


Agnia mendongakkan kepalanya saat bel rumahnya berbunyi. Tak cepat pergi sebab belum selesai dengan sarapannya. Tak tau siapa yang datang, terlebih dulu menelan habis kunyahannya.


Pria dengan sorot tajam, dan alis tegas itu sungguh asing bagi Agnia. "Siapa?" gumamnya, melihat sosok tak dikenal itu dari balik jendela sebelum kemudian membukakan pintu.


"Maaf, cari siapa, ya?" tanya Agnia, diiringi senyum canggung. Pemuda itu rapih sekali, namun tak terlihat membawa apapun di tangannya. Agnia sedikit curiga, riak takut menjalar di tubuhnya.


"Ini rumahnya Akmal?"


"Ya.." Agnia mengangguk ragu-ragu, tak bisa menyembunyikan kewaspadaannya. "Ada perlu apa?"


"Ah.. kenalkan saya Govin, temannya Akmal." kata pemuda itu, sembari mengulurkan tangan.

__ADS_1


Agnia mematung untuk sesaat, nama itu. Ia jadi teringat kata Ripda dua hari lalu, pemuda inilah yang harus ia waspadai itu. Agnia menelan salivanya, untuk kemudian tersenyum dan menyatukan kedua tangannya. "Ya.. Salam kenal. Saya.. istrinya Akmal."


"Ah.." Govin mengangguk, tersenyum tipis. Kembali menarik tangannya yang tak bersambut itu dengan sedikit kecewa dalam hati, hanya saja hal itu memberi kesan tersendiri baginya. "Emh.. Akmal nya ada?"


"Akmal.. baru aja pergi, tapi katanya gak lama. Kamu silahkan tunggu, biar saya coba telpon dulu." ujar Agnia canggung, mempersilahkan Govin untuk duduk di kursi teras. Tak berpikir untuk membawa pemuda asing itu untuk masuk. "Saya.. ambilkan minum, sebentar.."


Dada Agnia bergemuruh hebat, masih tanda tanya besar kenapa Ripda menyuruhnya berhati-hati, juga kenapa Akmal sampai terpengaruh oleh pemuda itu. Namun apa kata Ripda pasti ada penyebabnya, meski belum jelas apa ia harus tetap waspada.


Segelas air, juga kudapan ringan Agnia bawa. Disuguhkan di hadapan pemuda asing itu, dengan perasaannya yang tak tentu. "Silahkan.."


"Makasih, saya terima." kata Govin, tersenyum tipis sembari meraih segelas teh hangat di hadapannya. Teh hangat yang disuguhkan Agnia, wanita yang kentara canggungnya itu. Kini ia paham kenapa Akmal bisa berpaling dari Ulya, dan menikahi wanita di hadapannya ini. Memang menarik. "Tidak duduk?"


Agnia menggeleng cepat. "Sebenarnya saya ada pekerjaan di dalam, emh.. boleh saya tinggal?"


"Ya.. silahkan."


Govin tersenyum kecil. Tanggapannya tak disangka, bahkan Agnia tak mau menjabat tangannya atau mempersilahkan dirinya masuk. Ia rasa keinginannya akan sangat sulit atau bahkan tak mungkin diwujudkan. Helaan keluar dari mulutnya, entah dari mana Akmal mendapat istri seperti itu.


Tak berselang lama, sebuah motor masuk ke halaman luas itu. Akmal kembali secepatnya setelah mendapat panggilan dari Agnia. Dadanya bergemuruh sepanjang jalan, bahkan semakin bergemuruh penuh emosi begitu melihat kehadiran Govin. Buru-buru melepas helmnya.


Govin tersenyum, bangkit dari duduknya untuk menyambut. Tak disangka, kerah bajunya angsung disambar oleh Akmal. Membuat seorang Govin menyeringai puas.


"Ngapain lo kesini?" potong Akmal, matanya mengilatkan kekesalan yang memuncak.


"Jauhi istri gue, Govin!" kata Akmal, terdengar frustasi. "Urusan lo sama gue."


"Kenapa? Takut kehilangan lagi? Gue cuma menyapa.. Dan.. gue paham. Dia lebih segalanya dari Ulya, kan?"


"Jangan bandingkan mereka berdua, dia istri gue. Satu-satunya yang gue lindungi. Penjahat kayak lo harusnya gak pernah nyentuh dia."


"Siapa yang penjahat? Lo.. justru harusnya istri lo gak perlu menghabiskan hidupnya untuk berbakti sama penjahat kayak lo."


Akmal menghela, benar saja. Ia tak akan pernah bisa membela diri saat dirinya sudah sangat salah di mata Govin.


"Sayang.."


Akmal dan Govin menoleh, Agnia keluar dari pintu. Menghampiri keduanya dengan tatapan bingung. Akmal beralih menoleh Govin, lantas menarik Agnia untuk berdiri di belakangnya. Tak suka dengan tatapan Govin pada istrinya saat itu juga.


"Udah jelas kan? Kalo gitu.. silahkan pergi." ujar Akmal, terdengar dipaksakan baik-baik saja. Agnia bisa tau atmosfer dingin itu, nada bicara Akmal jarang sekali bahkan tak pernah begini. Ia tak ada pilihan selain diam.


"Yasudah, sampai jumpa. Dan terimakasih untuk tehnya.." Govin melirik Agnia sekilas, sengaja membuat Akmal makin memanas. "Manis. Lain kali aku bawakan oleh-oleh." tandasnya sembari menepuk bahu Akmal, seakan mereka sangat akrab.


"Janga repot-repot.. datanglah tanpa membawa apapun, itu lebih baik." balas Akmal, lebih datar dari sebelumnya.


Sesaat hening, hingga helaan panjang terdengar dari mulut Akmal sembari menatap lekat Govin hingga pemuda itu hilang bersama motornya. "Kenapa?" tanya Agnia pelan, baru berani membuka mulutnya.

__ADS_1


Akmal tak menjawab, pria itu membawa Agnia masuk ke dalam rumah. Untuk kemudian menghadapkan tubuhnya dan memberikan pelukan tiba-tiba.


Agnia tak sempat bertanya, pelukan itu rasanya lebih erat dari biasanya. Bahkan Akmal tak kunjung melepas pelukannya seakan tak mau kehilangan dirinya. Ada perasaan berbeda, napas Akmal terdengar berat setelah menghadapi pemuda itu. Tepukan pelan Agnia berikan, berusaha memberi nyaman pada Akmal, terlepas apapun yang sedang terjadi.


"Aku gak kemana-mana.." kata Agnia lembut. "Kenapa kamu begini?"


Akmal mengeratkan pelukannya, sejenak melepas takut dan gejolak resah pada dirinya. Lantas melepas pelukan itu dan menatap Agnia sayu. "Jangan pernah lagi terima dia ke rumah ini."


"Maaf.. tapi dia bilang teman kamu."


Sebuah panggilan masuk, Akmal mengeluarkan ponselnya segera. Untuk kembali melihat nomor sama yang menelponnya tempo hari. Govin lagi.


"Apa lagi?" tanya Akmal datar.


Terdengar kekehan di ujung sana. [Santai, gue cuma mau kasih tau satu hal. Mau tau apa yang menakjubkan? Anehnya selera kita selalu sama. Gak heran kenapa kita selalu bersaing.]


Akmal mengelus belakang kepalanya, kejutan dari Govin berhasil membuat kepalanya pusing. Panggilan itu ia akhiri secara sepihak. Menunggu Govin selesai dengan kalimatnya sama saja dengan mencari penyakit.


"Siapa?"


"Cowok brengsek itu."


"Tapi ada apa? Ada apa antara kalian sampe kamu gak suka sama dia?" Agnia kembali mencoba mengulik beban di hati Akmal, ia harus tau kenapa seorang Govin yang terlihat normal saja begitu mengganggu Akmal. Seakan pemuda itu benar-benar akan membahayakannya.


"Dia mau nyuri Mbak dari aku."


"Hemh?" Agnia menautkan alisnya, sampai tak berkedip mendengar ucapan Akmal. "Sebentar.. nyuri apa maksudnya? Aku bukan barang yang bisa pindah tangan begitu aja." Agnia menggeleng, tak suka dengan kata yang dipilih suaminya.


"Dia membenci aku, Mbak. Sebagai ganti karena aku jadi penyebab meninggalnya Ulya.. dia mau rebut Mbak dari aku." terang Akmal lesu, terlihat sangat putus asa.


Agnia menghela, menyentuh pipi Akmal. Membuat pria itu mengangkat wajahnya, menatap langsung ke matanya. "Hey.. apa yang sebenarnya membuat kamu sedih? Apa karena kamu mengakui kalo kamu jadi alasan meninggalnya Ulya, atau.. kamu takut kehilangan aku?"


"Aku takut kehilangan Mbak." jawab Akmal tegas, sedikit kesal sebab Agnia masih mempertanyakan itu padanya. "Meninggalkannya Ulya.. aku sepenuhnya ikhlas. Baik aku bersalah maupun tidak menurut orang lain. Tapi.."


"Kalo gitu apa masalahnya?" tanya Agnia, menaikkan alisnya. Hal itu memancing tatapan tak percaya dari Akmal, sedang ia khawatir begini Agnia seakan menyepelekan perasannya.


Agnia menghela, menyungging senyum tipis. Meraih tangan Akmal, menautkan jarinya di sana. "Dengar.. jika itu masalahnya. Kenapa kamu takut? Ini tentang aku. Dan.. bukankah berlebihan?" Agnia mengendus pelan. "Kamu dan teman kamu itu, nganggap aku perempuan apa?"


Genggaman itu Agnia lepas, wajahnya berubah kecewa. "Apa ada perempuan yang semudah itu.. memutuskan hubungan untuk berlari ke pelukan orang lain?" tanyanya lirih. "Aku gak perlu orang lain, sama sekali tidak mengharapkan yang lebih baik. Kamu cukup, aku bersyukur punya kamu.. tapi.." Agnia mengalihkan tatapannya. "Kayaknya aku gak gitu buat kamu, kan? Makanya kamu ragu, bahkan gak mau cerita soal ini lebih awal."


Hening sesaat, Akmal melembut. Berganti rasa bersalah, kini berusaha menarik Agnia untuk menatapnya. "Sayang.. aku gak maksud kayak gitu."


Agnia menghela, menjauhkan tangan Akmal darinya. "Kamu belum sarapan, kan?" tanyanya dengan senyum tipis dipaksakan, menatap Akmal singkat. "Aku tunggu di meja makan."


"Ya Allah.." Akmal bergumam pelan, mengacak rambutnya frustasi. Lihatlah Agnia yang berganti marah padanya, setelah ini tak tau apa yang harus ia lakukan. Yang jelas ini bukan sebab emosi istrinya yang tak bisa ditebak, ini murni kesalahannya. Akmal sadar akan itu.

__ADS_1


__ADS_2