Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
65. seseorang istimewa?


__ADS_3

Hati manusia siapa yang tahu, Agnia yang tadinya menolak ikut bergabung justru kini duduk bersebrangan dengan Fiki di sebelah Akbar. Ardi masih belum muncul, entah apa yang dilakukannya di toilet cafe.


"Mbak mau pesen sesuatu?" tanya Fiki.


Agnia menggeleng pelan. "Mbak cuma mampir, cuma mau denger obrolan macam apa yang kalian lakukan."


"Kita gak ngobrol macem-macem, Mbak. Mbak jangan samain kita sama cewek!" protes Akbar, entah kenapa tersinggung sendiri.


"Iya, tentu. Kalian memang laki-laki, bukan perempuan. Karena itu juga.. gak pantes dong kalo laki-laki banyak bicara, banyak membual, dan bergosip. Ya kan.. Fiki?" sindir Agnia, menatap Fiki.


Fiki mengangguk, tersenyum canggung. "Betul Mbak." Paham betul kenapa hanya namanya yang disebut. Yang pasti, dia dalam masalah.


Tak lama Ardi datang, tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Agnia. "Oh! Halo Mbak.."


Agnia tersenyum, mengangguk.


Ardi jadi bingung sendiri, tak tau kenapa tiba-tiba ada Agnia di tengah mereka. Beranjak duduk saja, menatap Akbar.


"Kalo gitu.. Mbak pamit sekarang." Agnia menatap Akbar.


"Yaudah.. tapi gak aku anter, ya.."


Agnia mengangguk. Meraih bawaannya. "Assalamua'laikum.."


"Hah.." Fiki menghela napas panjang seperginya Agnia, merasakan aura berbeda saat Agnia tak ada di sana. Beralih menatap Akbar.


"Apa Mbak Agni semenakutkan itu?"


Akbar tersenyum lebar. "Seperti yang pernah gue bilang."


"Bahkan rasanya gue gak bisa nafas tadi. Gue yakin itu.. semacam ancaman"


"Memang. Asal lo tau dia paling gak suka orang yang sok tau dengan urusan pribadi dia." tambah Akbar, senang punya kesempatan menyudutkan Fiki. Ardi yang tak paham apapun, hanya menyimak.


"Apa gue udah sejauh itu?" Fiki resah sendiri. "Seumur gue kenal lo, ini kali pertama gue liat sisi itu dari Mbak Agni. Wah.. gue dalam masalah."


"Jangan khawatir.. itu sebenernya bagus. Kalo Mbak Agni menunjukan sisi itu, tandanya dia nyaman sama kalian semua."


Ardi mengernyit, menatap dua orang yang berdialog. Hanya dirinya yang tak tahu situasi apa yang terjadi. Sedangkan Fiki, meringis dalam hati.


.


.


.


.


Dalam sebuah taksi, Agnia menghela napas pelan sembari menatap keluar jendela taksi yang ia tumpangi itu. Takjub saja, setengah dari harinya selesai. Meski tak sesuai rencana, tadinya datang untuk urusan pekerjaan namun berakhir menghabiskan waktu bersama Akmal. Bagaimanapun itu membuat hatinya lega.


"Dua hal itu, sama sulitnya. Tapi sakitnya berpisah dengan seseorang kita sayangi akan sembuh seiring waktu, sedangkan sakitnya berpisah dengan orang yang menyakiti kita.. Mungkin gak akan sembuh."


Agnia mengangguk pelan, semakin dipikirkan kalimat itu semakin benar ia rasa. Ucapan Akmal itu seakan mengulik keadaannya, Agnia tahu itu. Akmal secara tidak langsung membandingkan dukanya dengan duka Agnia, seakan mengatakan jika dukanya tak seberapa dibanding yang dirasakan Agnia.


Satu hal yang pasti bagi Agnia, Akmal sekali lagi membuatnya salut oleh kepribadiannya.


"Perlu diakui, dia saaangat berbeda dari Akbar." gumam Agnia. Membuat supir taksi spontan menoleh lewat kaca spion.


"Gimana, Mbak?"


"Ya?" Agnia nyengir, menggeleng. Tersenyum canggung. "Ah.. Bukan apa-apa, Pak." Agnia malu sendiri, memilih mengalihkan fokusnya pada ponsel.


Tepat saat menghidupkan ponselnya, ponsel Agnia berkedip beberapa kali. Sebuah panggilan masuk. Helaan napas keluar dari mulutnya, tampak ragu menjawab panggilan itu meski tetap menjawab pada akhirnya.


"Halo.. Ada apa ya, Rizwan?"


.


.


.


.

__ADS_1


Agnia tak menyangka akan berakhir lagi di sebuah Cafe, ini kali ketiganya di hari ini Agnia masuk ke Cafe yang berbeda. Matanya langsung mencari seseorang, kala masuk ke Cafe ketiga itu.


Rizwan melambai, tersenyum. Menyambut kedatangan Agnia.


"Cepet ternyata.. Aku pikir kamu masih lama." ucap Rizwan, basa-basi saja.


"Kebetulan lewat jalan ini, jadi.. Ya.. Emh.. langsung aja, gimana? Apa yang perlu diobrolin?"


"Mau pesan minum dulu?"


Agnia tersenyum canggung, menganggukkan kepalanya ragu-ragu. Tak ingin sebenarnya. "Boleh."


Sejak hari itu jujur saja Agnia merasa tak nyaman, ia rasa Rizwan sudah lewat dari jalur bisnis dan pertemanan. Tidak masalah jika Rizwan menyukainya, hanya saja bagi Agnia, Rizwan bukan seseorang yang ingin dirinya cintai.


Rizwan sama sekali tak melihat ketidaknyamanan Agnia. Berpikir jika semuanya baik-baik saja, seperti sebelumnya. Selayaknya keakraban antara mereka.


Hingga saat pesanan tiba, Rizwan menoleh Agnia yang sibuk pada layar ponselnya. Mengernyit, baru menyadari perbedaan pada sikap Agnia.


"Kenapa? Ada masalah?"


Agnia mendongakkan kepalanya, menggeleng. "Gak ada, cuman.. Aku gak punya banyak waktu."


"Ya, baiklah." Rizwan paham maksud Agnia, tak berniat memperlama obrolannya. Namun sesaat kemudian kembali terlihat menimbang. "Tapi sebelumnya aku ada pertanyaan.."


"Ini diluar urusan pekerjaan. Kalo kamu mengizinkan."


"Katakan.."


"Aku penasaran tentang pria yang pernah membonceng kamu.."


Agnia menaikkan alisnya. Dari yang ia dengar, sudah bisa menebak kalimat selanjutnya dari pertanyaan itu.


"Aku beberapa kali lihat kamu bersama pria itu. Apa.. dia seseorang yang istimewa, buat kamu?"


Agnia mendengus pelan, benar sangkaannya.


"Emh.. Aku gak ngerti kenapa kamu tertarik dengan hal itu. Tapi.. Jika dia memang orang yang istimewa buat aku, apa reaksimu?"


Rizwan tersenyum. "Aku tentu senang, akhirnya.. Sudah saatnya kamu menikah dan memiliki anak."


.


.


.


.


"Semuanya udah jelas, jadi.. aku mau pulang sekarang." ucap Agnia, mengakhiri obrolan yang singkat pembahasannya namun panjang basa-basinya. Agnia bahkan bosan dibuatnya. Heran dengan Rizwan yang suka sekali berbelit-belit. Agnia langsung meraih barang bawaannya, bangkit. "Sampai jumpa.."


"Tunggu, Agni.."


"Hemhh?"


"Biar aku anter.."


"Gak perlu, aku bisa naik taksi."


"Tapi kita searah.."


"Tapi.. aku harus ketemu orang lain dulu setelah ini, jadi gak papa. Makasih atas tawarannya." jawab Agnia, terdengar ragu yang memang hanya alibi.


Rizwan menghela napas, menatap Agnia seperginya. Semua upayanya mendekati Agnia selama ini dengan penuh penantian menjadi sia-sia sebab kehadiran pria baru di hidup Agnia, pria yang bahkan belum ia ketahui namanya.


Agnia berjalan cepat, sempat menoleh ke belakang. Sumpah demi apapun takut dikejar dan ditahan Rizwan, tak ingin terpaksa menerima tumpangan dari teman lamanya itu.


"Mbak!"


Agnia dengan wajah paniknya terkejut sekali kala hampir saja menabrak seseorang di hadapannya. "Astaghfirullah.." pekiknya pelan. Mundur beberapa langkah.


"Kamu?" Agnia dibuat heran. "Kenapa disini?" tanyanya, dengan tatapan sulit diartikan.


Yang ditatap demikian membalas dengan senyum. Mengangkat sesuatu di tangannya, ditunjukan pada Agnia.

__ADS_1


"Oh!" Agnia langsung meraih kantung kresek ditangan Akmal, panik. Dalam hati mengeluh, kenapa dirinya lupa meninggalkan kantung berisi benda-benda penting miliknya itu. "Gak ada yang liat isinya, kan?" tanya Agnia, memastikan.


Akmal menggeleng.


"Syukurlah.."


"Emang apa isinya, Mbak?"


"Bukan apa-apa. Jangan kepo!"


Akmal mengangguk, sejenak menatap Agnia yang memastikan isi kreseknya sendiri. Entah kenapa gadis itu panik sendiri. Tak berselang lama tatapan Akmal berubah curiga, melipat tangannya di depan dada.


"Jadi.. ini alasan Mbak terburu-buru ingin pulang?"


Agnia mendongak, menatap Akmal dengan tatapan bingung. Sesaat kemudian mendengus, tertawa kecil melihat tingkah Akmal.


"Apapun itu, kenapa kamu bertanya? Kamu merasa punya hak untuk itu? Dan lihat gayamu itu.."


Akmal menaikkan bahunya. "Aku akui, aku tidak di tempat yang tepat untuk bertanya. Tapi sebagai calon suami yang baik, aku harus memastikan keselamatan Mbak sampe pulang. Mbak kesini tanpa ngasih tau siapapun, kan?"


Agnia bergidik, lelah dengan ucapan semacam itu dari Akmal hari ini. Lagipula sejak kapan ia harus lapor pada semua orang hanya untuk pergi saja. "Terserah.."


Akmal senang saja dengan ucapan singkat dan dingin itu, merasa diberi lampun hijau. "Mbak setelah ini langsung pulang?" tanyanya lagi.


"Iya. Kenapa? Mau nganter pulang juga?"


"Nganter pulang juga?" Akmal mengernyitkan dahinya. "Emangnya siapa yang ngajak Mbak pulang bareng selain aku?"


"Bukan siapa-siapa. Sudahlah.."


"Entahlah.. terdengar meragukan. Kalo gitu, biar aku pesenin taksi online."


"Gak perlu. Saya bisa sendiri."


"Tapi udah.." Akmal nyengir, menunjukkan layar ponselnya. Sudah sejak menunggu Agnia didalam dirinya beraksi.


Bukan main, Agnia dibuat tak bisa berkata-kata lagi dan lagi oleh tingkah Akmal, seperti biasa.


Akmal mendekat ke arah Agnia, berdiri tak jauh dari calon istrinya itu. Kembali melipat tangannya di depan dada. Sudah mendung, hawa dingin lebih dulu datang dari hujannya sendiri.


"Cowok itu kayaknya suka sama Mbak."


Agnia menoleh, kembali menjauhkan langkahnya saat sadar terlalu dekat dengan Akmal. Menatap bingung Akmal.


"Aku tau, Mbak. Aku juga cowok." jelas Akmal, kala mendapat tatapan sulit diartikan dari Agnia.


"Oh!" Agnia menghela napas dalam. Menatap lurus jalan raya yang tak terlalu ramai namun cukup menciptakan bising tiada henti dari kendaraan yang lewat.


"Dia tampak baik, pintar, juga tampan. Kenapa Mbak gak suka juga sama dia?"


Agnia, demi mendengar pertanyaan Akmal itu, menoleh sejenak. Tersenyum tipis, tak menyangka jika Akmal bertanya demikian. Apa bocah ini sedang cemburu? pikir Agnia.


Akmal masih menunggu, menatap Agnia yang tampak berpikir.


"Emh.. dia.. terlalu banyak basa-basi."


"Oiya? Tapi.. bukannya itu karena dia suka sama Mbak? mungkin sangat suka."


"Begitu? Tapi bukannya kamu juga suka sama saya?"


"Ya.." Akmal mengangguk cepat. Soal yang ini tak perlu diragukan.


"Terus kenapa kamu gak banyak basa-basi?'


Akmal mendnegus pelan, paham. Ternyata Agnia memang lebih suka dengan pria apa adanya seperti dirinya. Cukup lama senyum di bibirnya bertahan, teringat hal lain kemudian.


"Emh.. Kalo gitu, apa aku orang yang istimewa buat Mbak?" tanya Akmal, membuat Agnia spontan menoleh. Menatap curiga. Entah dari mana Akmal terpikir untuk bertanya demikian.


"Kamu.. jangan bilang.. Kamu nguping pembicaraan saya?" selidik Agnia.


"Eng.. enggak." Akmal gelagapan. Menggeleng, menghindari tatapan Agnia. Tersenyum lebar. "Nah.. taksi kita sampe."


Agnia mencebik, hanya saja tepat sekali taksi itu datang. Akmal jadi tak tersudutkan dengan ucapannya. Namun tingkah Akmal yang itu, berhasil membuat senyum terbit di Wajah Agnia.

__ADS_1


Sayang sekali Akmal tak melihat, jika melihat, bocah itu pasti sudah kegirangan akannya.


__ADS_2