
...
Agnia kembali ke rutinitasnya, mengajar. Pagi ini datang lebih awal, tak berharap bertemu Adi seperti sebelumnya. Tak juga menunggu Widia, benar-benar pergi sendiri. Mencari kedamaian, sementara Akmal tak muncul di hadapannya.
Hingga saat masuk ke area sekolah, tak nampak satupun yang datang selain satpam loyal milik PAUD ini.
Agnia segera masuk ke kelas tempatnya mengajar, menghela setibanya. Menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Pikirannya melayang pada obrolan Sang Ibu dan Bundanya Akmal, begitu semangat dua orang itu merencanakan banyak hal untuk menyatukan anak-anak mereka.
Agnia menggeleng segera, tak ingin memberatkan pikirannya tentang hal itu. Terserah nanti saja, saat waktunya tiba biar Allah yang memutuskan.
Meski saat ini Agnia entah kenapa merasa yakin jika hubungan ini tak akan berhasil.
Sekali lagi Agnia menghela, matanya lurus menatap langit-langit ruangan warna warni itu. Hanya mengijinkan damai dihatinya, menunda tumpukan keluhan atas bocah tengil bernama Akmal.
Namun saat damai itu dikejutkan oleh suara berisik, Agnia spontan meluruskan punggungnya. Menatap ke arah suara, penasaran apa yang terjadi.
Dari arah pintu Ripda masuk seraya mengaduh, tersenyum lebar. Menunjukkan deretan giginya, Agnia dibuat mendengus pelan. Setiap saat ada saja kelakuan anak gadis itu.
"Ada apa?"
"Kepentok pintu, Mbak." jawab Ripda, masih dengan cengirannya. Agnia menggeleng takjub saat itu, tak aneh memang bagi si ceroboh ini.
Ripda mengabaikan tatapan heran Agnia, langsung menarik salah satu kursi kecil disana untuk ia duduki. Sesaat kemudian sudah duduk menghadap Agnia.
"Mbak! Aku penasaran.." ucap ya langsung.
Agnia menaikkan sebelah alisnya. "Apa.. lagi?" tanyanya sedikit ragu, selalu curiga jika Ripda sudah seperti ini.
"Bukan apa-apa, tapi.. gimana ceritanya Mbak bisa kenal sama Akmal?"
Agnia menghela, bertanya tentang Akmal sepagi ini. Heran sekali, meski sosoknya tak ada namun nama Akmal seakan enggan pergi dari telinganya. Kenapa juga semua orang terus mengingatkannya pada bocah itu, Agnia dibuat tak paham.
"Akmal itu teman kamu, atau mantan kamu? Kenapa selalu bertanya soal dia." Agnia bertanya sedikit ketus, gemas sekali pada Ripda yang tak bisa berhenti penasaran pada Akmal.
"Teman, Mbak." jawab Ripda cepat, tak mau Agnia salah paham. "Aku penasaran soalnya.." Ripda menggantung kalimatnya, tampak berpikir sejenak. "Mbak tau cerita itu kan?"
"Cerita itu? Maksudnya.. kecelakaan itu?"
Ripda mengangguk, wajahnya berubah serius kini. "Setahuku, Akmal benar-benar terpuruk saat itu. Maksudku, dia tidak segampang itu akrab dengan orang lain. Sedangkan dari yang aku lihat, kedekatan Mbak sama Akmal lebih dari seorang kenalan."
Agnia menghela kembali, menatap Ripda yang kini menunggu jawabannya. Bukannya segera menjawab, Agnia malah menatap lekat Ripda seraya mengernyitkan dahinya. "Kamu sebenarnya penasaran dengan Akmal, atau penasaran dengan hubungan Mbak sama Akmal?"
Ripda tersenyum, Agnia tau sekali dengan isi hatinya. "Yang kedua, Mbak."
Agnia mendengus pelan, menatap Ripda gemas. Apa juga urusannya hingga sepenasaran itu. "Kamu yakin?"
"Hemh?"
"Kamu yakin bukan mantannya Akmal? Soalnya kamu gak akan sepenasaran ini kalo gak ada kepentingan."
Mendengar ucapan Agnia yang itu membuat Ripda langsung menutup mulutnya, kembali menelan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah siap ia lontarkan. Balas nyengir seraya menggeleng, kini tak masalah jika pertanyaannya tak terjawab.
...
Akmal duduk lesu di bibir ranjangnya, menatap nanar kotak cincin di atas nakasnya. Entah kenapa jadi galau sekali, bahkan bertemu Agnia kemarin pun hanya membuatnya makin merana. Rasanya seakan dirinya dicampakan, dan diabaikan.
Jam sudah menunjukkan pukup delapan pagi, Akmal menghela pelan. Ia punya kelas pagi ini, namun tangannya malah terulur meraih kotak cincin itu.
Dibukanya perlahan, hingga kotak itu memunculkan sebuah cincin yang sebenarnya dicari Agnia.
__ADS_1
"Bunda ketemu Tante Khopipah tadi. dia kasih itu untuk ibu, katanya kembalikan sama kamu."
Demikian ucapan Sang Bunda, yang serta-merta membuat Akmal kehilangan napas terakhir semangatnya.
...
Akbar saat tiba di kampus langsung mencari Akmal, lupa rasa bahagianya padahal sudah kembali ke kampus setelah di skors. Apalagi semua berita yang simpang siur itu, entah bagaimana langsung berhenti dan menjadi jelas. Yang tentu membuat organisasi yang tadinya diambang kehancuran kini kembali aman.
Akbar tak sempat memikirkan apapun tentang itu, mana peduli dia. Yang pasti dirinya senang, itu saja.
"Assalamu'alaikum.." Akbar meloloskan salam terlebih dulu, sebelum kemudian dirinya tampil dengan wajah sumringah.
"Wa'alaikumsalam.."
Akbar disambut riuh godaan teman-temannya, setelah salam itu dijawab. Tak terkecuali Fiki yang spontan berdiri, entah kenapa lebih bahagian dari Akbar sendiri.
"Wah, bintang kita selama beberapa hari ini akhirnya kembali." sambut Fiki, tak sah tanpa ledekan.
Akbar mendelik kesal, kenapa juga mengungkit hal itu saat dirinya bahagia seperti ini. "Diem lo!"
Fiki mencebik, kenapa juga reaksinya seperti itu.
"Oiya, liat calon kakak ipar gue gak?"
Semua langsung menoleh, yang tadinya berisik langsung terdiam. Menatap Akbar penuh tanya.
"Apa?"
"Itu.. pertanyaan lo."
"Kalian gak salah denger, gue tanya mana calon kakak ipar gue."
"Najis!"
Semua masih penuh tanya, mengabaikan Fiki yang tersungut. siapa yang Akbar makdus? Apa Akbar sedang mengadakan sayembara mencari kakak ipar? demikian pertanyaan di otak kecil para bujang kurang kerjaan itu.
Tak lama Akmal datang, membaca salam. Datang dengan senyuman khasnya.
"Nah.. dateng juga." ujar Akbar.
Lagi-lagi seisi ruang itu melongo, benar-benar kejutan yang luar biasa. Hingga mereka lupa menjawab salam dari Akmal.
Akmal mengernyit, heran dengan tatapan semua orang. "Ada yang salah?"
...
Akbar menghela napas panjang, lantas beralih menatap Akmal. Mereka sudah duduk berdua di kantin kampus, menikmati segelas teh manis. Karena bukan makan tujuan sebenarnya mereka kesana.
"Jadi apa yang mau kita obrolin?" tanya Akmal, membuka obrolan. Menatap penasaran Akbar yang sibuk menghela napas.
"Soal Mbak Agni." jawab Akbar, untuk kemudian menyesap minumannya.
Akmal mengangguk, siap mendengarkan.
"Gini. Sebelum itu gue mau tanya satu hal."
"Katakan."
"Lo lagi marah kah sama Mbak Agni?"
__ADS_1
"Enggak." Akmal menggeleng, seperdetik kemudian mengerutkan dahinya. "kenapa nanya kayak gitu?"
Akbar menghela lagi, takjub dengan ketidak pekaan seseorang di hadapannya.
"Soalnya Mbak Agni ngeluh sama gue, karena lo tiba-tiba ngejauhin dia. dia bilang lo membuat kepala dia hampir pecah." jelas Akbar, dramatid. "Dia merasa lo sudah mempermainkan dia."
"Mbak Agni bilang gitu?"
"Iya. Singkatnya, dia bilang... Kalo lo mau berusaha, lakukan yang terbaik. Jangan buat dia bingung dengan datang dan pergi sesuka hati."
Akmal menunduk, ia tak berharap Agnia merasa demikian. Tak tau juga jika perilaku spontanitasnya membuat Agnia tersinggung.
"Untuk yang satu ini gue setuju, Mbak Agni mungkin bingung dengan sikap lo yang kemarinnya bersemangat ganggu dia, dan hari ini tiba-tiba bersikap acuh. Gue sebagai adiknya juga kesel."
"Tapi semuanya gak kayak gitu."
"Terus?"
Akmal menghela, sesaat kemudian mengendik.
"Dasar!" Akbar mendengus. Padahal sudah menanti jawaban serius Akmal. "Kalo gue cewek, gue juga gak akan suka sama lo kalo sikap lo kayak gini." ucap Akbar. "Pokoknya, selesaikan masalah kalian. Kalo lo serius, tunjukin seperti sebelumnya. Atau.. lo bisa bener-bener kehilangan dia."
Akbar menghela lagi, membiarkan Akmal terus diam dengan kehendaknya. "Gue ngomong kayak gini karena menghargai lo, karena gue tau luka Mbak Agni sembuh perlahan setelah kehadiran lo. Jadi, jangan sampe Mbak Agni sembuhnya sama lo, tapi nikahnya sama orang lain." tandas Akbar, kini disertai seringainya. Membuat Akmal spontan mendongakkan pandangannya.
Kalimat itu, berhasil membuat Akmal langsung terlihat tak nyaman. Benar juga, kenapa juga ia menyerah secepat itu?
Akmal dibuat tak paham, Entah kenapa Agnia berkali kali membuatnya ingin menyerah. Tapi berkali-kali juga ada saja yang membuatnya merasa harus berjuang, seperti saat ini.
...
Agnia serius saat mengatakan Akmal sebaiknya pergi, hingga saat sosok itu muncul lagi. Agnia benar-benar mengabaikannya, kesal. Dia pikir dirinya siapa? Hingga bisa seenaknya datang dan pergi begitu saja.
Agnia masih berdiri disana, menunggu Widia pergi lebih jauh. Hingga saat tinggal ia dan Akmal, Agnia segera melangkah cepat menuju rumahnya. Masih kesal sampai ke ubun-ubun, tak siap menemui Akmal untuk saat ini.
"Mbak, tunggu.."
Agnia terpaksa menghentikan langkahnya, berbalik. "Apa?" tanya Agnia datar.
"Aku punya alasan."
"Alasan?" Agnia sejenak mengernyit, sudah menebak jika Akbar pasti sudah menceritakan semuanya pada Akmal.
"Alasan kenapa kamu datang dan pergi sesuka hati? Kalo iya, lupakan saja."
"Ini soal cincin itu." potong Akmal, Membuat Agnia tak bisa lagi marah. Dan kini hanya mendesah pelan, bingung kenapa Akmal bertanya disaat yang tidak tepat.
"Aku memang meragukan banyak hal. Dan.. cincin ini.." Akmal bertanya seraya mengeluarkan cincin itu dari sakunya, yang langsung membuat Agnia kaget luar biasa. "Cincin ini membuat aku semakin ragu, kalo Mbak sama sekali gak mempertimbangkan aku."
Agnia mengabaikan ucapan Akmal, hanya satu hal dibenaknya. Kenapa cincin itu ada di tangan Akmal?
"Cincin itu, kenapa ada di tangan kamu?"
Akmal spontan mengerutkan dahinya. Apa maksud pertanyaan itu.
Agnia menatap bingung, menunggu jawaban. "Kamu tau seberapa paniknya saya cari cincin itu? Kenapa cincin itu ada di tangan kamu?"
Akmal sama sekali tak punya ide saat ini, ia pikir Agnia sengaja mengembalikan cincin itu padanya lewat orang tua mereka. Lalu?
"Siapa ngasih cincin itu?"
__ADS_1
...