Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
138. the day


__ADS_3

Hari yang berganti hampir tak terhitung


Aku terus meyakinkan diriku


Melukiskan bayangmu di cermin mataku


Hingga hari itu berganti tak terasa


Jarakku dan jarakmu perlahan terkikis


Menjadi setipis pertanyaan 'Mau atau tidak?


...


Hari berganti tak terasa, bulan berganti. Ramadhan tinggal menghitung hari namun bukan itu yang menggetarkan hati Agnia saat ini.


Undangan sudah disebar, ucapan selamat dan do'a sudah datang dari banyak orang. Dekorasi, baju pengantin, wedding organizer semua sudah diatur. Semua sibuk namun tidak dengan calon pengantin wanita yang dimanjakan seluruh anggota keluarga, supaya tak stress dan nervous berlebihan.


Khopipah yang juga sibuk bolak-balik hampir menyisir semua sudut rumahnya, menoleh sekilas pada Agnia. Tersenyum tipis. Meski lelah, namun antusias dan kebahagiannya menjelang pernikahan anak gadis satu-satunya itu mengalahkan semua perasaan lain. Hanya senang dan syukur yang ia rasa.


Agnia baru saja selesai mengupas bengkuang, memotongnya jadi beberapa bagian saat ponselnya berbunyi. Sepiring buah-buahan yang ia kupas dan potong, diserahkannya pada Akbar.


"Halo.." Agnia mendekatkan ponsel ke telinganya.


Akbar yang duduk tak jauh dari Agnia menatap antusias, bersiap untuk mengganggu jika penelpon itu adalah Akmal. "Siapa, Mbak?"


"Silmi."


"Oh.." Akbar langsung tak bersemangat, memilih kembali fokus pada bumbu petis yang ditemani bengkuang, mangga muda, mentimun, kedondong juga buah khas rujak lainnya.


Dua orang itu sejak beberapa menit lalu ribut meracik bumbu rujak, asik berdua sedang yang lain sibuk wara-wiri.


Agnia bangkit dari duduknya, tak nyaman menjawab telpon di suasana rumah yang raami begini. "Bentar, Mbak jawab telpon dulu."


Akbar tak merespon, justru melanjutkan kegiatannya. Menyuap satu persatu buah yang dimakan bersama sambal racikannya. Masa bodoh tentang hal lain, cuaca hari ini membakarnya dan hanya bisa jadi lebih baik dengan rujak di hadapannya.


"Wah.. gak ngajak-ngajak!" Yesa datang tak berselang lama, memekik sedari jauh. Segera mengambil tempat duduk Agnia sebelumnya.


Akbar memasang wajah datar, matanya justru memicing menandakan peperangan yang ia nyalakan. Tangan Yesa yang mendekat ia pukul pelan, sepiring buah-buahan yang selesai dipotongkan itu Akbar jauhkan dari Yesa, sengaja memancing kekesalan saudari sepupunya itu.


Yesa mendecak, lantas memukul lengan Akbar. Peperangan mereka dimulai saat itu juga, ketika yang lain sibuk hilir mudik di rumah luas itu menyiapkan perintilan pernikahan.


...


Sepanjang obrolan dengan Silmi, hanya senyum yang bisa Agnia tunjukkan. Wanita yang tempo hari tak hentinya mual dan membuat mereka keluar masuk kedai beberapa kali, kini tengah mengomelinya. Memberitahunya ini itu soal pantangan calon pengantin, yang awalnya biasa saja namun setelah diiyakan dengan malas justru lanjut mengomel.


"Hemh.. iya, aku paham bumil.." ucap Agnia, kali ini lebih lembut saat Silmi melarangnya menyantap makanan pedas. Detail sekali bukan?


Terdengar helaan di sebrang sana, tampaknya Silmi sudah puas mengomelinya. Yang jelas Agnia tak mengambil pusing, setelah dikabarkan mengandung, Silmi memang beberapa kali levih giat melampiaskan kekesalan dengan mengomel padanya.

__ADS_1


"Lega?"


[Hemh..]


Agnia mengangguk kembali, tak pernan keberatan dengan naik turunnya mood ibu hamil inj. Sesaat senyum tiba-tiba muncul di wajahnya. "Kayaknya anak kamu cewek deh.." celetuknya.


[Menurut kamu begitu?"] Suara Silmi terdengar antusias.


"Iya.. soalnya kamu jadi bawel, terus rewel.."


[Bukannya memang aslinya gitu?]


Agnia terkekeh, mengangguk samar. "Memang, tapi sekarang lebih-lebih.."


[Haha, tapi bisa jadi sih.. semoga ya..] ujarnya Silmk terdengar penuh harap


"Jadi kamu mau anak cewek dulu?"


[Gak harus, aku berserah diri. Asal sehat, selamat. Tapi anak pertama perempuan itu nantinya jadi teman buat ibunya. Ya kan? Aku butuh dia kalo gitu.]


"Setuju . Gimana pun pokoknya yang terbaik.."


Hari dengan intensitas jalur telpon yang banyak hari ini, Agnia akhirnya bernapas lega setelah Silmi tak lama memutus panggilan telponnya.


Hanya saja tak berselang lama, panggilan lainnya datang. Itu dari Gian. Agnia cukup terkejut, beberapa saat tampak berpikir. Pasalnya sudah cukup lama sejak pria itu terakhir menghubunginya, sekitar satu bulan atau mungkin lebih lama.


"Halo.."


"Ada apa Kak, tumben.." Agnia tau Gian sibuk, hingga pertanyaan demikian keluar dari mulutnya.


[Kamu gak mau tanya kabar kakak dulu?]


"Emh.. iya, maaf Kak.. apa kabar?" gelagapan, pemuda itu bisa membuatnya malu teramat hanya dengan pertanyaan sederhananya.


Gian terdengar mengendus pelan di sebrang sana. [Jahat! Kamu bener-bener gak inget sama kakak setelah tunangan sama anak itu.. kamu bahkan gak sekali pun hubungi kakak, hemh?]


Mendengar keluhan Gian membuat Agnia bingung, ditambah kata 'anak itu yang disematkannya pada Akmal.


[Becanda, Agnia..] ucapan itu mengeluarkan Agnia dari penjara kecanggungan.


"Hemh?"


Gian terkekeh. [Kamu ini.. herannya kenapa setelah mencoba sangat keras kamu selalu canggung sama aku, Hem?. Berbeda dengan Akmal, bahkan secepat itu kamu nyaman sama dia. Menyebalkan..]


Tak tau harus apa untuk menjawab, Agnia hanya mendengarkan sembari menatap jauh melalui jendela besar kamarnya.


Setelah pertimbangan besar, Agnia setuju untuk kembali ke kamar miliknya. Dan disinilah ia, di kamar luas miliknya yang tiga tahun lamanya sempat ia tinggal. Semua sudah berubah, cat hingga tatanan barang. Sudah sangat berbeda dan terasa suasana baru, tak tersisa kenangan spesial apapun yang ia ingat di kamar ini.


Cuaca sedang terik, bak mendukung kebahagiaan yang tengah tercipta di kediaman Fauzan. Langit bersih tanpa awan, biru sepanjang memandang. Agnia menoleh kala pintu kamarnya terbuka, salah satu tantenya masuk.

__ADS_1


Di suasana begini, semua masuk dan keluar ruangan mana saja tanpa halangan.


"Pinjem mukena, De.." Agnia merespon dengan anggukan, untuk kemudian kembali menghadap ke luar jendela. Lanjut mendengar apa kata Gian setelah ini.


[Dan dengan itu kakak punya kesimpulan.. sekeras apapun mencoba, pada akhirnya bunga hanya akan berhasil dipetik oleh tangan yang tepat.]


Hening sesaat, setelah berucap lirih Gian malah diam entah memikirkan apa. Agnia hanya bisa menyimpulkan jika Gian cukup terluka dengan keadaan mereka saat ini, mengingat pria itu menyimpan rasanya sekian lama.


Untuk beberapa hal, Agnia tersanjung disukai begitu. Saat ia pikir hidupnya hancur dan tak punya siapapun setelah dikhianati Adi bersama Alisya, ternyata ia punya Gian. Namun hal itu juga menimbulkan rasa bersalah baginya, ia hanya tak tega mendengar tiap ucapan Gian yang terdengar lirih dan dalam di telinganya.


[Kamu tau artinya?]


Suara Gian kembali membawa Agnia keluar dari lamunannya, nada bicara pria itu kembali ke intonasi biasa.


[Aku memutuskan untuk move on! Jadi kamu gak perlu khawatir atau merasa bersalah atas apapun.]


"Gimana soal Sila, Kak?"


[Emh.. entahlah, aku gak tau soal itu.]


Helaan berat bisa Agnia dengar, namun jawaban Gian soal Sila rasanya lebih baik. Tak seperti sebelum-sebelumnya, yang tak suka dan tiba-tiba berubah perangainya.


Tinggal tunggu beberapa saat lagi, Gian pasti bisa mencintai Sila. Agnia merasa yakin akan begitu.


[Tapi untuk saat ini, kebahagian kamu yang paling penting.. jadi semoga lancar, dan bahagia selalu.. hemh? Ini do'a dari seorang kakak untuk adiknya, seriusan..]


Agnia terkekeh, kata seriuan dari Gian menggelitiknya. Kini rasanya sempurna, hidupnya yang sempat ia anggap menyedihkan ternyata tak seburuk itu. Tahun-tahun yang ia habiskan dengan perasaan tak dicintai kini terganti. Penghalang telah tersingkap, Allah menunjukkan jika keterpurukan yang ia rasa sebab pikirannya sendiri.


Ia abai sekwli untuk paham, bahwa manusia hanya perlu bersabar dan membuka lebar-lebar mata hatinya, tak ada kesedihan yang tak beralasan. Tak ada derita yang tak kan berganti bahagia.


.


.


.


Kehebohan terjadi sejak subuh, Agnia yang hampir tak mendapat jatah tidur diburu-buru bangun untuk dirias sesubuh mungkin. Semua heboh ingin melihat, pun segera mandi demi menunggu urutan berdandan.


"Sudah pipis, kak?"


"Hemh?" Agnia perlahan membuka matanya, pertanyaan itu mengherankan. Sedang dirinya masih setengah dirias.


"Takutnya saat acara nanti, kakak kebelet pipis. Jadi lebih baik sekarang kalo memang kebelet." jelas perias setengah baya dengan senyum ramahnya, menghentikan gerakan tangannya sesaat ingat hal yang baru saja ia tanyakan.


Ah! Agnia kini paham kenapa ibu juga tantenya semalam berulang kali melarangnya banyak minum dan makan buah berair, mungkin ini salah satu penyebabnya.


Sesaat diam, Agnia dibuat menimbang. Tak tau kenapa justru tiba-tiba kebelet usai perias itu bertanya.


...

__ADS_1


__ADS_2