Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
192. Rasa kehilangan.


__ADS_3

Kosong, resah, hampa. Akmal tak bisa merincikan bagaimana perasaannya saat ini, tak ada yang ia khawatirkan selain istrinya, namun ia juga tak bisa jika menafikan bahwa dirinya amat bersedih dengan kehilangan ini.


Yang paling menyebalkan, ia yak bisa menunggu hingga proses kuret pembersihan janin dari rahim sang istri dilakukan. Akmal sebal sekali mengingat dirinya harus pergi kuliah. Di titik ini ia benci, kenapa menjadi mahasiswa sedang dirinya adalah seorang kepala rumah tangga.


"Bun, Ibu.. aku pergi dulu, ya.. maaf ngerepotin." ujar Akmal, menggenggam tangan Retno.


"Enggak.." Khopipah di sebelah Retno menggeleng, menolak ucapan maaf Akmal. "Gak ngerepotin sama sekali, kamu tenang aja."


"Makasih, Bu. Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Khopipah menghela, menatap punggung Akmal yang berjalan semakin jauh. Bisa melihat bahu menantunya yang lebih layu bak kehilangan kekuatan.


Akmal melangkah gontai, lihatlah dirinya yang tengah kehilangan namun tak bisa menyempatkan waktunya untuk sang istri. Rasanya seperti mimpi, kehilangan anak pertama yang ia tunggu dengan penuh harap. Lebih dari itu, hatinya teriris melihat Agnia berjuang sendiri. Lebih dari dirinya, istrinya tentu jadi yang paling terluka.


.


.


.


.


Proses kuret sudah dilakukan, Agnia sudah kembali sadar dari pengaruh obat bius. Kini secara sadar meraba perutnya, mengingat-ingat kembali bagaimana harapan dan do'anya tak sesuai dengan kenyataan yang tengah terjadi.


Agnia menghela, tak ada apapun selain bau rumah sakit yang memenuhi hidungnya. Matanya tertuju pada selang infus yang terhubung ke tangannya. Tak menyangka saja, ternyata dirinya berakhir kembali ke rumah sakit setelah sempat bersumpah tak mau berhubungan dengan pengapnya tempat itu. Bedanya kali ini, ada dua keluarga dan seorang suami di sampingnya. bagaimana ia tak jadi kuat?


"Sayang.." Akmal bangkit dari duduknya, melangkah mendekat. Tak tau sejak kapan istrinya membuka mata, Agnia sedang tidur saat ia datang sore ini. Menarik kursi kecil, duduk sejajar dengan wajah sang istri.


Agnia tersenyum tipis, masih ringkih seluruh tubuhnya. Lemas seakan selesai bertarung. lebih dari itu, hatinya juga tak baik-baik saja sebab rasa kehilangan ini.


Akmal mengelus puncak kepala Agnia, saat ini tak ada satu katapun yang bisa ia katakan. Hatinya bersedih, juga merasa bersalah di waktu yang bersamaan. "Cepet sembuh, Hem? Aku gak suka bau rumah sakit." ujarnya.


Agnia mengangguk samar, mengulurkan tangannya menyentuh pipi Akmal. Tak tega, wajah itu seperti kehilangan sinarnya. lebih buruk dari dirinya, Agnia rasa. "Jangan sedih, aku bisa lemah kalo bukan kamu yang nguatin."

__ADS_1


Akmal menghela berat, mengangguk sembari menyungging senyum dengan air mata di pelupuk matanya. Tak lama terisak. "Maaf." lirihnya, terdengar begitu terluka.


"Kenapa minta maaf? apa ini salah kita? Ini pasti yang terbaik.."


"Harusnya aku jagain Mbak."


Agnia menggeleng. Menghapus air mata Akmal. Tak seharusnya suaminya ini merasa bersalah, kehilangan saja sudah cukup membuat mereka tertegun sedih. "Allah maha tau, ini pasti terbaik. Mungkin.. kita belum siap jadi orang tua. Atau.. mungkin Allah memang sengaja ngasih kita waktu berdua lebih lama."


Akmal tak bergeming, menatap kedua mata Agnia lekat. mencari tau seberapa kuat dan dari mana kekuatan istrinya itu berasal.


"Aku juga sedih." tutur Agnia, seakan menjawab tanya Akmal. "Dan justru karena itu, aku mau kamu yang nguatin aku. Hem? lagi pula.. anak kita diambil oleh pemiliknya, entah karena kecerobohan aku atau kelalaian kita.. tapi ini sudah jalannya. Aku mungkin butuh waktu untuk menyesuaikan diri lagi, tapi semua sedih ini pasti gak akan lama."


Akmal mengangguk, tersenyum kecil. Bersyukur rasanya dengan keteduhan yang selalu dibagi Agnia, padahal yang mestinya menangis dan ditenangkan sekarang adalah Agnia bukan dirinya. "Makasih udah selalu kuat, Sayang.."


"Hey.." Agnia terkekeh. "Bukan hal keren, yang kita alami tidak begitu menyiksa dibanding kesulitan orang lain. Karena itu kita harus bersyukur, dan.. pasrah dengan keputusan Allah."


"Hem.." Akmal mengangguk lemas.


"Dan makasih udah selalu ada.. Kamu suami hebat. Aku seneng, lega, dan bersyukur."


Agnia menghela, Respon suaminya selalu lemah begitu sedih, seakan selera bicaranya hilang. Tangannya terulur meraih tangan Akmal, mengecup punggung tangan suaminya itu singkat. "Ah.. iya, soal tadi pagi.."


"Apa?"


"Kamu belum minta maaf sama Bunda?"


"Oh.. itu, belum." Akmal mengulum bibirnya sesaat. "Aku panik, aku sedih, merasa bersalah. Tapi Bunda justru bertanya apa Mbak bisa hamil lagi setelah ini atau tidak, aku saat itu.."


"Itu karena Bunda pernah kehilangan, pernah di posisi yang sama bahkan lebih parah. Bunda cuma takut yang dia rasakan, aku alami."


"I Know, tapi.. maksud aku.. kenapa Bunda bertanya begitu? Kenapa gak lebih dulu tanya tentang keselamatan menantunya? Itu yang aku gak senang."


Agnia tersenyum, meraih dagu Akmal. "Ya.. setidaknya itu karena kamu sayang sama aku.. tapi.. dengerin aku... Tidak bisa melahirkan seorang anak, bagi seorang wanita itu.. hal yang sangat menyedihkan. Itu mimpi buruk, bahkan kenyataan yang amat pelik. Dan Bunda mengalami itu, sayang.. Kamu bisa bayangkan betapa sulitnya itu? Saat kamu aja nangis liat aku begini, bagaimana dengan Bunda?" Agnia mengeratkan genggamannya. "Secepatnya.. sempetin liat Bunda, ya? Perhatikan Bunda, sama seperti kamu memperhatikan aku."


Memang yang terbaik, Akmal perlahan tau arti segala sesuatu datang dengan hikmah dan pelajaran nya. Kini jelas bagaimana setelah menikah dirinya yang semula begitu dekat dengan sang bunda, kini tanpa sadar menjauh. Ia bahkan abai menyadari kesedihan dan lupa akan luka lama sang Bunda yang mungkin saja kembali terulik.

__ADS_1


Elusan lembut di pipi membuat Akmal kembali dari lamunannya. Kini menatap sang istri.


"Gimana?" tanya Agnia, menagih jawaban.


"Iya." Akmal tersenyum, mengangguk. "Makasih.."


Agnia kembali tersenyum lebar. "Tadi maaf, sekarang makasih.. padahal buat apa semua itu."


.


.


.


.


"Pesan Mbak masih sama, istirahat yang cukup. Jangan banyak kegiatan berat, dan.. hindari stress, Ini bukan hal berat kalo kalian sama-sama. Dan masih ada tahun-tahun kedepan untuk punya momongan."


Agnia mengangguk, duduk bersila di ranjang rumah sakit. "Iya, Bu dokter.." jawabnya disertai senyuman.


Puspa menghela, mendekatkan tubuhnya. Memberi pelukan hangat, mengelus punggung Agnia beberapa kali, menyalurkan dukungan. "Adik ipar ku yang manis.."


"Permisi.." Akmal datang, memotong momen itu. "Maaf, Bu dokter.. bisa saya bawa pulang istri saya sekarang?" tanyanya, dikuti cengiran. Lebih lepas dibanding semalam yang terus saja melow.


"Silahkan.." jawab Puspa, balas tersenyum. "Tapi ingat, jaga istrimu dengan baik. Beberapa hari ini usahakan jangan biarkan Agnia bergerak."


"Mbak.. masak gak gerak sama sekali?" keluh Agnia, disuruh begitu Akmal akan senang hati menjebaknya di dalam kamar.


Puspa tersenyum. "Kalo bisa sih.. begitu. Soalnya.. kamu memang anaknya gak bisa diem, jadi harus diingatkan berkali-kali. Jangan banyak gerak!" ujarnya sembari mencubit pipi Agnia pelan.


Sesaat mobil Akmal akan keluar dari parkiran luas rumah sakit, Agnia menghela hingga Akmal menoleh dan spontan melambatkan laju mobilnya. Agnia enatap rumah sakit itu dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.


"Kenapa?" tanya Akmal, menoleh ke arah yang sama.


Agnia tersenyum, menoleh sesaat. Kembali menoleh rumah sakit sedang tangannya mengelus perut. "Rahasia Allah.. aku masih takjub, bagimana kita datang saat dia disini. Dan sekarang.. kita kembali dari rumah sakit ini hanya berdua." ujarnya sembari tersenyum.

__ADS_1


Akmal menggenggam tangan Agnia, tersenyum lembut. Tentu saja, rasa kehilangan itu kentara terlihat meski Agnia berlagak kuat demi menenangkan suami juga keluarganya.


__ADS_2