
Seakan mendiami labirin..
Ke arah manapun pergi, langkah ini selalu salah..
Ingatanku sungguh keliru,
Hanya diam di satu kondisi,
Hingga lupa rasa ingin terbebas.
Ternyata..
Diri ini sudah terbiasa,
Terjebak dan tak bertemu jalan keluar,
Lalu berputar mengulang peristiwa sama.
***
Agnia duduk di tepi ranjang, menatap lekat lantai kamarnya. Lenggang di kamar itu, hanya di pikirannya yang kini menggila. Napasnya terdengar jelas dan tak teratur, seakan baru saja tertimpa keresahan.
Agnia mengusap wajahnya frustasi, semua kegiatan yang diharap menyibukan justru kini pada akhirnya membawa dirinya pada kehampaan.
Kesakitan ini berasal dari masa lalu, dan bermuara pada masa lalu. Seakan kehidupan miliknya hanya berkutat di sana. Dirinya terjebak
"Menikah tidak harus selalu diawali oleh cinta, kesiapan akan membawa kita pada ke-ikhlasan dan rasa tanggung jawab. Setelah itu.. Pengabdian atau rasa sayang tak kan terlihat bedanya. Apa lagi jika itu bukan cinta?" Khopipah berucap, menatap lembut anak gadisnya. Tetap berusaha meyakinkan seperti apa situasi saat ini. Anak perempuan satu-satunya ini harus berumah tangga, bukan?
Agnia diam, hanya mendengar apa yang ibunya katakan. Semula ragu-ragu hendak menjawab, hingga kegiatan makannya pun berhenti tanpa sebab.
"Tapi aku gak mau menjalani hidup seperti itu, Bu.." Wajah yang tertunduk itu akhirnya mendongak, menjawab apa yang ada di pikirannya. "Aku gak akan bahagia." cicitnya.
Khopipah tersenyum tipis, menatap penuh pengertian pada anak perempuan satu-satunya ini. "Kalau begitu, apa sekarang.. Dengan kamu sendiri, kamu merasa bahagia?"
Deg.
Agnia tak bisa lagi mendebat meski ingin, pada kenyataannya semua tawa yang dirinya tebar memang terbukti hanya pengalihan.
Hari-hari miliknya kemana, toh di jam tertentu ketika sendiri air mata lah yang berbicara.
Di kesendiriannya saat ini, ia bahkan lupa bagaimana dulu dirinya pernah bahagia oleh kehadiran Adi dan Alisya di sisinya. Dan kini ketika Adi dan Alisya bahagia, ia tak hadir di samping mereka. Sungguh mirisnya hubungan yang terjadi diantara mereka.
Hatinya kembali sakit lagi dan lagi kala mengingat kisah lalu itu, tak lagi Agnia rasakan kebahagiaan selepas hari itu. Saat ini, ketika dirinya sendiri, air mata kembali jatuh di pipinya. Rasa sesak kembali menyergap. Hanya satu kesimpulan, dirinya terjebak masa lalu.
***
Cuaca panas hari ini sangat berarti, sebab muncul setelah mendung di hari sebelumnya. Seirama dengan kemudahan yang 'kan terbit setelah kesulitan. Semua terbagi rata, panas beserta hujan semua dirasakan tanpa harus dikeluhkan.
__ADS_1
Siang ini Akmal sudah sibuk dengan urusan pekerjaan, selepas pulang dari kampus pergi ke toko untuk menangani ini dan itu bersama karyawan-karyawan ayahnya yang lebih nyaman ia sebut rekan.
Belajar berbisnis baginya menyenangkan, sebab berdagang juga termasuk sunah Rasulullah. Ada sekian banyak pintu rejeki Allah bukakan dalam perdagangan.
Apalagi minatnya mungkin juga turun dari kedua orang tuanya yang penggila bisnis.
Satu yang tampak jelas, tak ada sisa kebimbangan di wajah Akmal. Sudah hilang sejak berbincang dengan Fiki tadi siang, meski saran Fiki lebih terdengar guyonan dari pada nasihat. Walau begitu, Ia memutuskan menjalani saja semuanya untuk saat ini. Kenapa pula sikap ambisius nya harus hilang hanya karena ucapan seorang gadis.
Akmal menginginkannya, sebisa mungkin ia harus mendapatkannya.
Akmal meraba saku celananya, merasakan getaran di sana. Sebuah panggilan masuk ke ponselnya, Bunda. Nama itu yang tampak di layar ponsel. Demi melihat nama itu, Akmal segera melangkah jauh dari kerumunan, mendekatkan ponselnya ke telinga setelah dipastikan sekitarnya aman dari kebisingan.
"Halo, Bun?"
Akmal tersenyum, salah. Ia lupa membaca salam. "Wa'alaikumsalam.. Kenapa bun?"
Entah apa yang dikatakan Bunda nya dari sebrang telpon, tiba-tiba saja Akmal menarik sudut bibirnya setelah sesaat mendengar jawaban dari sang Bunda.
"Aku pulang sekarang.."
.
.
.
.
Agnia sudah mulai mengajar lagi siang menjelang sore ini, madrasah yang dua minggu ini sepi kembali berisik oleh kehadiran anak-anak.
Hanya saja niat semula untuk belajar langsung urung ketika setibanya, ia dan para santrinya justru disuguhi pemandangan luar biasa. Kursi berjajar bukan pada tempatnya, meja tersusun bak panggung, papan tulis penuh dengan coretan tak penting, cap kotor hasil sendal serta sepatu terpasang di mana-mana.
Helaan pasrah, hanya itu yang keluar dari mulut Agnia. Tersenyum menatap anak muridnya.
"Hari ini kita gak belajar dulu, simpan tasnya di tempat yang bersih, kita rapih kan semua kekacauan ini."
Anak-anak yang didominasi usia sembilan hingga dua belas tahun itu mengangguk, tersenyum dengan wajah berseri. Ini yang mereka harapkan. Tak tau saja gurunya itu, jika beberapa diantara merekalah pelaku yang membuat kekacauan ini. Bermain menggunakan fasilitas sekolah saat kegiatan belajar diliburkan.
.
.
.
.
Tak perlu waktu lama jika semua bekerja sama. Menyapu, mengepel, merapihkan bangku, menggosok jendela, semua selesai tak perlu setengah jam. Madrasah dengan tiga ruang kelas itu sudah bersih seperti sedia kala, siap dimanfaatkan.
__ADS_1
"Kita lanjut belajar?" tanya Agnia semangat yang langsung direspon teriakan kecewa, anak-anak itu sudah berharap tidak ada pelajaran. Agnia terkekeh gemas melihat bibir manyun mereka yang hampir serempak. Lihatlah, tiga puluh empat anak ini bahkan berkumpul di depan madrasah dengan rapih tanpa disuruh. Terlihat sedang mengikuti apel pagi.
"Yasudah.. Belajarnya besok aja, lagipun Bu Sita sama Bu Yayu kan gak dateng.. Jadi, boleh pulang.."
"Yah.."
Lho! Agnia menaikan alis kirinya, tak mengerti apa yang diinginkan anak-anak di hadapannya ini.
"Masih gak mau juga?"
"Buat permainan, Bu.." celoteh salah satu anak yang usianya paling tua. Kelas enam di sekolah dasar.
Agnia langsung menggeleng, tak berpikir dahulu. Ia sedang tidak berselera bermain. Kenyang setelah pagi hari bermain bersama anak-anak yang lebih kecil dan lebih tak bisa diatur dari anak-anak di hadapannya sekarang ini.
"Kalo mau main boleh, asal jangan lupa waktu pulang. Setelah adzan ashar harus langsung pulang.."
"Ibu gak ikut?"
Agnia menggeleng, "Enggak. Kalo kalian gak mau belajar, ibu pulang. Banyak urusan yang lebih produktif untuk dilakukan..." ucapnya, berusaha mengajarkan anak muridnya untuk mengenali yang namanya prioritas.
Sekali lagi wajah kecewa terlihat dari anak-anak itu, Satu-satunya guru yang paling bersahabat ini untuk sekarang jadi tidak seru di mata mereka.
"Kalo ibu guru kalian ini tidak mau bermain, biar saya temani.. Mau?"
Pertanyaan dari seseorang yang asing itu membuat anak-anak saling pandang, terdiam, sama sekali tak pernah melihat pria yang kali ini tengah melangkah mendekat itu.
Agnia juga terdiam, heran luar biasa. Apa dirinya sedang dikuntit?
Pria itu tersenyum, melirik Agnia sejenak lalu menatap anak-anak yang mematung bingung hendak bertanya apa. "Assalamu'alaikum.."
"Waalaikumsalam.." meski terbengong, salam tetap mereka jawab. Demi memenuhi kewajiban antara sesama muslim. Agnia yang sebal di hati, juga tetap menjawab dengan suara pelan. Secukupnya ia rasa.
"Kalian terkejut? Kenalkan.. Nama saya Akmal." ucap Akmal dengan senyum khasnya. Anak-anak masih tak merespon, tak penting bagi mereka nama pria ini, sebab tak tahu kaitan pria asing itu dengan mereka.
Agnia diam, mendengus pelan. Sok akrab sekali bocah ini. Entah apa tujuannya datang kemari.
Tahu perkenalannya tak mudah direspon anak-anak, Akmal segera memutar otak.
"Kakak ini.." ujar Akmal seraya menunjuk dirinya sendiri. "Calon suami dari ibu guru kalian.." ujarnya percaya diri.
Apa-apaan?! Agnia bagai dihujani saat panas terik, terkejut bukan main. Menatap Akmal penuh pertanyaan, tak menyangka dan sama sekali tak berharap ucapan semacam itu keluar dari mulut Akmal.
"Cie.." demikian reaksi anak-anak, riuh kembali. Menatap Agnia yang pipinya mulai memerah, malu sekali. Rasanya ingin Agnia menarik kasat pria itu, sembarangan sekali mulutnya.
Agnia hendak menggeleng, menafikan pengakuan Akmal, namun percuma saja ia jelaskan pada anak-anak itu. Anak-anak, apa yang harus mereka pahami?
Apalagi Akmal kini berhasil menarik perhatian mereka. Mengajak anak-anak yang antusias itu ke sisinya. Mengabaikan Agnia yang meringis dalam hati, geram sekali.
__ADS_1
Bocah ambisius ini tak mudah menyerah rupanya.