Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
177. Apapun selama bersama


__ADS_3

"Mal.. ada masalah." kalimat itu membawa kembali Akmal ke kenyataan, menoleh Dimas dengan wajah bingung sedang belum habis resah di hatinya.


"Kenapa, Mas?"


Hati Akmal berubah tak enak, tengah melangkah untuk memastikan kabar yang disampaikan Dimas. Benar saja, seorang pria paruh baya bergamis tengah berdebat dengan salah satu karyawannya, Akmal langsung paham apa yang terjadi. Pria yang adalah pelanggan tetap tokonya ini, kini mengomplain, untuk pertama kalinya.


"Pokoknya saya mau kembalikan semua barang itu, saya tidak terima alasan! Saya mau uang saya kembali." ujarnya final begitu melihat Akmal. Sama sekali tak memberinya waktu untuk bertanya apalagi menawarkan jalan keluar.


Pria itu lantas pergi, menyisakan hening seisi toko. Waktu closing jadi berat tiba-tiba, atmosfer seperti ini kontan tercipta seperginya pria itu. Akmal menghela, sama dengan yang lainnya ia tak tau harus mengupayakan apa.


Dimas menoleh Akmal, hanya dia satu-satunya yang berani begitu saat yang lainnya menundukkan mata mereka, bimbang takut disalahkan .


"Ini aneh, Mal.." Dimas berucap setelah menghela terlebih dulu. "Mas sendiri yang mastiin barang itu sebelum dikirim, kamu tau Mas gak pernah gegabah."


Akmal mengangguk, matanya menyapu menoleh semua orang. "Ya, ini aneh. Pelanggan paling loyal disini, tiba-tiba komplain dengan hal yang gak jelas."


"Harus kita perkarakan? Mas berani jamin ucapan dia cuma asal." tanya Dimas yakin, yang langsung dibalas gelengan oleh Akmal. Pikirannya tak pergi sejauh itu.


"Gak usah, sekarang kita closing dulu aja. Sisanya kita pikirkan besok, semua pasti cape kan? Begitu pun aku."


Mudah sekali berucap, Akmal jujur saja bingung. Ini kali pertamanya dihadapkan dengan sesuatu yang mengancam keuntungan tokonya. Modal harus terus berjalan, harus ia apakan jika seluruh kain itu dikembalikan?


Ah! Akmal menghela pelan, duduk di ranjang kamarnya yang sepi. Jika ada Agnia ia bisa membagi susahnya, namun kali ini ia benar-benar sendiri.


Mudah untuk mengembalikan uang, tapi dimana letak keberhasilan bisnis jika perputaran uang keluar dari jalur modal dan laba. Akmal mengusap wajahnya, terduduk lemas di bibir ranjang.


Ponselnya sepi, Agnia jangankan mengabari, menjawab pesannya saja tidak. Ada apa sebenarnya pada istrinya itu? Kadang hangat, kadang sama sekali terlihat tak peduli. Bahkan panggilannya tak dihiraukan, mungkin sudah tidur. Sepertinya sudah tak butuh dirinya untuk bisa nyenyak.


Akmal beranjak mengambil wudhu, melaksanakan shalat ishya diakhiri dengan istikharah. Kemana lagi ia berlari, saat tak ada keputusan yang paling baik selain keputusan Allah. Ia lemah, biar Allah tunjukkan jalan keluarnya.

__ADS_1


Menghamba, tunduk pada sang maha kuasa. Akmal mengeluhkan seluruh resahnya, dalam hamparan sajadah. Hari ini berat, satu resahnya belum hilang dan masalah lain datang. Ditambah Agnia yang tak mengabarinya sama sekali.


Balasan dari Agnia tak kunjung datang, panggilannya tak juga dijawab. Akmal dilanda tak bisa tidur lagi, dan Agnia menghilang bak ditelan bumi. Tak tau kah ia sedang dibutuhkan?


Beralih memanggil Akbar, pemuda itu juga tak memberi jawaban atau mengirim balasan. Akmal menyimpulkan jika dua orang itu sedang bermain petak umpet dengannya.


Jika istikharah biasanya diakhiri tidur, Akmal merasa istikharahnya akan gagal. Ia tak bisa tidur. Ia tak tenang sebelum menemukan jawaban, memilih membaringkan tubuhnya dengan kecewa di hati. Apa ini? Ia tak biasanya sekesal ini.


Hingga pagi menjelang, Akmal merasa lelah sekali. Jalan keluar belum ia temukan dan kepalanya jadi pusing sebab sama sekali tak memejamkan matanya. Ditambah harus pergi ke toko dan dituntut untuk segera memberi keputusan.


Benar kalimat, jika amanah datang bersama tanggung jawab. Ia harus menghadapi situasi krusial ini sendiri. Persis yang diduga, Dimas menagih jawabannya. Sepagi ini mereka harus segera menemukan keputusan yang paling baik.


Akmal menghela ditengah hening dan tatapan Dimas padanya, ingin berusaha setenang mungkin. "Kapan barang itu dikembalikan?"


"Katanya lusa, nunggu semuanya selesai disortir ulang."


Akmal mengernyit. Disortir ulang? Tandanya kain itu tak jelek ataupun cacad, sudah masuk ke dalam toko. Hanya saja kepalanya terlalu lamban untuk memikirkan kejanggalan itu. "Mas.. gimana kalo kita fokus ke hal yang lain dulu? Lusa berarti masih ada satu hari. Aku belum minta saran sama ayah."


"Tapi.." Dimas yang sudah bertahan bekerja pada ayahnya Akmal terbiasa melihat dan menangani masalah seperti ini, ia rasa Akmal lamban dan tak bisa tegas. "Yasudah.. bicarakan dulu sama Bapak, kabarin Mas apapun itu." pada akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Dimas, tak bisa mematahkan semangat Akmal dalam merintis. Sarannya ia simpan dahulu.


Langit cerah tanpa awan hingga sore menjelang, matahari mulai kembali sembunyi menyisakan alam yang mulai menggelap. Akmal menghela setelah membuka helmnya, memandangi langit yang menyuguhkan pemandangan yang kontras dengan hatinya.


Sempurna. Akmal luar biasa selesai dengan harinya, mendengus pelan menyadari buruknya perasaannya saat ini.


Akmal membuka pintu rumahnya dengan malas, langsung beranjak menaiki tangga dengan gontainya menuju kamar. Lihat! Kamar itu kosong dan terasa hampa. Akmal mendudukkan bokongnya di bibir ranjang, masih tak mau menyerah memanggil Agnia.


[Sayang jam berapa pulang?] satu-satunya balasan Agnia dari pesannya yang beruntun membuat Akmal mengernyit, mencerna pesan itu dengan baik.


"Tunggu.." Akmal menilik seisi kamar, ia baru sadar aroma Agnia sudah kembali di kamar itu. Hanya saja tak ada tanda-tanda jika istrinya kembali, lagi pula mana mungkin kejutan seperti itu terjadi. Akmal ditampar harapannya sendiri.

__ADS_1


Hari menjelang malam, Akmal merasakan penasaran yang menggelitiknya. Beranjak turun demi memastikan kemungkinan yang dipikirkannya, melangkah lurus ke arah dapur.


Lampu dapur yang menyala memberi harapan, Akmal bergemuruh senang tiba-tiba. Hingga ketika matanya menangkap sosok yang dinanti itu, ia menghela panjang. Tak bisa menahan senyum. Lihatlah Agnia yang tak tau sejak kapan datangnya, tengah fokus menyantap roti.


Agnia terburu-buru datang ke rumahnya, sama sekali tak sempat menyimpan barang bawaannya dan berlari menuju dapur. Bahkan saat Akmal datang, ketika pria itu justru lurus saja tanpa menengoknya ia hanya menghela sembari tersenyum kecil. Bertemu suami bagaimana nanti, urusan perutnya harus ia urus terlebih dahulu. Jadilah ia berakhir di meja makan.


Melihat Akmal, Agnia segera bangkit dari duduknya. Menghampiri sang suami dengan senyum lebar sementara pria itu tak bergerak dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.


"Kejutan.." ujar Agnia, setelah memeluk singkat sang suami.


Akmal mendengus pelan, menatap Agnia datar. Lihatlah senyum itu, padahal kepalanya serasa mau meledak. Padahal ia sudah khawatir setengah mati sebab tak satupun dari Agnia maupun Akbar yang menjawab pesannya.


"Gak seneng?" Agnia mengernyit, menatap sebal Akmal yang tak bergerak dari tempatnya dengan tatapan datar.


"Mbak gak tau seberapa khawatir aku? Mbak gak bales pesan aku sama sekali!" ujar Akmal tak kalah sebal, mencubit gemas pipi Agnia. Geram sungguhan dirinya, kejutan macam apa yang membuat perasaannya hancur.


Agnia mengulum bibirnya untuk sesaat, melihat mata seseorang yang katanya khawatir itu. "Maaf.. aku sengaja."


Akmal mengendikkan bahunya, terserah saja. Selama istrinya ini tiba dengan selamat rasanya tak perlu keluhan lainnya. "Jam berapa nyampe?"


"Ba'da dhuhur, tapi istirahat dulu di rumah ayah. Aku baru aja kesini."


"Emh.." Akmal mengangguk.


Agnia mengambil tangan Akmal, menautkan jemarinya disana. "Masih marah?" tanyanya, menilik dua mata Akmal lekat. "Emangnya gak kangen sama istrinya? Hem?"


Akmal menghela, memang menyebalkan. Perasaannya sudah kadung kacau, tapi bagaimana bisa ia pungkiri jika dirinya amat merindukan istrinya ini?


Tautan jemari Agnia ia lepas, Akmal beralih memberikan pelukan erat pada sang istri. "Kangen, aku kangen banget sama Mbak. Jangan jauh lagi dari aku." ucapnya setengah lirih namun tegas.

__ADS_1


Pelukan itu sedikit mengherankan bagi Agnia, pelukan yang biasa Akmal berikan saat mencari tempat untuk melebur masalahnya. Agnia mengelus punggung Akmal, menyesap harumnya pria itu. Ia juga rindu sekali, teramat rindu hingga tak bisa pergi lama darinya. "Yang ninggalin aku itu kamu, dasar payah!" ujar Agnia.


Akmal tersenyum kecil, memang benar. Mengecup bahu Agnia, dan puncak kepalanya bergantian. Satu keluhannya teratasi, ia tau Agnia selalu bisa memberi bahu terbaik dan menjadi tempat menenangkan untuk dirinya mencari jalan keluar.


__ADS_2