Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
17


__ADS_3

Hati bisa saja di atur,


Tapi takdir tidak.


Harus diterima, dijalani.


Namun, Meski kembali pada jalan-Nya


Tak berarti pula diri mesti berpangku tangan.


Sebab meski tahu hasil akhirnya tak selalu indah,


Selama diri bernyawa..


Ikhtiar harus selalu ada.


♡♡♡


Di pagi yang sama, tak lama setelah mendapat telpon dari Silmi, Agnia bergegas kembali ke kamarnya untuk mengambil tas. Meraih semua barang yang ia butuhkan untuk dimasukan ke dalam tas slempang hitam berukuran sedang miliknya.


Dengan langkah cepat bergegas mengejar waktu, tak mau membuat celah supaya Silmi kembali menelpon. Tentunya setelah lebih dulu memastikan diri sudah rapih di hadapan cermin.


"Aku berangkat ya, Bu." ucap Agnia seraya mencium punggung dan telapak tangan ibunya bergantian.


Khopipah mengangguk, tersenyum. "Iya, hati-hati."


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


Tak ingin meninggalkan apapun, Agnia berjalan sambil melihat isi tasnya. Begitulah jika melakukan sesuatu dengan terburu-buru, semua serba was-was. Kadang hingga lupa apa yang harus dibawa dan apa yang tidak perlu. Karena itu Agnia memastikan barang bawaannya benar, terutama ponsel dan dompet.


Hari ini ia akan menemui orang-orang hebat, mengunjungi tempat luar biasa. Tempat yang menjadi tujuan utama di setiap senggang, Tempat utama ketika ia butuh waktu sendiri.


Saat itu, seorang wanita berusia empat puluhan dengan baju kuning terang serta rok dan hijab hitam tersenyum dari jauh kala melihat Agnia keluar dari rumahnya, bagai menemukan apa yang sedang dicari. Langkah wanita itu semakin cepat, menghampiri Agnia.


"Agni..!" sapanya riang.


"Eh! Mbak Nur!" Agnia mendongak seraya menarik reselting tasnya.


"Ibu kamu ada?" tanyanya, saat langkahnya tiba tepat di hadapan Agnia.


"Ada, Mbak.. Mbak mau ketemu ibu?"


Nur mengangguk. "Iya, mau ngobrolin soal PKK. Kamu sendiri mau kemana?"


"Ketemu temen, Mbak."


Nur mengangguk lagi. Beberapa saat berpikir apa yang hendak ditanyakan. "Oh iya.. Kamu masih ngajar di panti?"


"Masih, Mbak. Ini mau kesana. Kenapa emangnya?"


"Gak papa, cuma nanya. Tapi ya itu.. sayang lho kamu kan sarjana. Si Dika aja, yang waktu sekolah ilmunya di bawah kamu, sekarang kerjanya kantoran. Sarjana ilmu sosial juga kan dia?"


Agnia mengangguk pelan, tersenyum dongkol. Tak tau harus memberikan reaksi seperti apa, dan tak tahu harus menjawab apa. Akan sia-sia jika ia menghabiskan waktu membela diri dan menerangkan keadaan dirinya. Sementara Nur pasti tidak akan peduli.

__ADS_1


Menjelaskan prinsip atau pemikiran kita pada orang yang jelas beda prinsipnya dengan kita adalah kesia-siaan. Agnia tak mau cape-cape membela diri dengan pendapat receh Nur yang sebenarnya asal membuka mulut.


"Ya.. kalo semua sarjana kerja kantoran, siapa yang menjamin pendidikan adik-adik kita, Mbak? Lagian sama lah.. sama-sama mengabdi. Bedanya Dika mengabdi untuk keluarganya, aku mengabdi untuk adik-adik kita yang kurang beruntung."


Nur mengangguk lagi. "Iya juga, ya.. Em.."


"Mbak, aku berangkat sekarang ya.. udah ditunggu soalnya." potong Agnia segera. Sebelum Nur menggila dengan segala macam obrolannya. Bergegas melanjutkan langkahnya. "Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalaam... Hati-hati.." Nur menatap kepergian Agnia dengan sedikit kecewa. Pasalnya ia bahkan belum selesai dengan pertanyaannya.


***


Agnia tiba sepuluh menit kemudian, setelah menaiki angkot dan berjalan beberapa saat menuju bangunan dengan cat biru tua. Rumah dengan halaman luas yang saat ini penuh dengan wara wiri anak.


Anak-anak itu langsung bersorak saat melihat Agnia tiba. Apalagi dengan dua kantong besar di tangan Agnia. Anak laki-laki paling besar usia lima belas tahun langsung menghampiri keluar pagar.


"Aku bawain, Mbak.."


"Boleh.." Agnia menyerahkan dua kantung kresek berisi ayam geprek yang sempat ia beli itu. "Hati-hati Bili.."


"Iya, Mbak."


Dua anak perempuan usia enam dan sembilan tahun juga berlari menyambut Agnia dengan semangat, menghampiri keluar pagar ketika yang lain justru semangat melingkari Bili berebut makanan yang dibawakan Agnia.


"Ow.. pelan-pelan.." pekik Agnia, tertawa saat kedua kakak beradik itu memeluknya dengan tiba-tiba.


"Mbak Agni kok baru kesini lagi?" anak dengan rambut dikepang yang bertanya, mendongak. Mata bulatnya menatap penuh tanya. Fitri namanya. "Anak-anak nakal kalo gak ada Mbak Agni.."


Agnia tersenyum. "Oiya? Kamu marahin gak mereka?"


Anak usia enam tahun itu menggeleng, rambut dikepangnya mengibas pelan. "Mereka takutnya sama Mbak Agni doang."


"Agnia.."


Agnia menoleh ke asal suara, wanita seusianya yang memanggil. Memberi tatapan tanya, matanya membesar. Kenapa baru datang?


***


"Aku kerepotan, loh.. gak ada kamu." ucap Silmi sambil kembali menyumpit mi ayam, menu makan siangnya bersama Agnia. Keduanya langsung menyambangi kedai mi ayam setelah selesai dari Panti.


"Bu Rika sama Bu Lisda gak bantu sama sekali."


"Hem?" Agnia menatap Silmi disela kunyahannya.


"Iya. Anak-anak itu makin nakal kalo gak ada kamu. Gak ada takutnya sama aku atau ibu-ibu panti."


Agnia terkekeh. "Namanya juga anak-anak. Tapi gak papa loh, Mi.. itung-itung latihan sebelum kamu punya anak sendiri."


"Iya deh.." untuk yang satu ini Silmi setuju.


"Tapi serius lho, mereka manut kalo sama kamu. Jangan bilang kamu pake pelet.. atau susuk."


Agnia mendengus. "Iya, susuk vanila."


"Susu itu mah.."

__ADS_1


Agnia tersenyum, melanjutkan suapannya.


"Aku rasa, mereka kayaknya jenuh deh Mi. Butuh hiburan kaya anak-anak lain. Buktinya tadi mereka seneng kamu bawain mainan.."


"Iya. Butuh hiburan, sama butuh kamu."


Agnia mencebik. "Gimana ya, aku di libur kaya gini justru makin sibuk lho. Aneh, kan?"


"Enggak aneh lah, suamiku gitu soalnya.."


"Oh.." Agnia mengangguk pelan. "Itu sebabnya kamu semangat ke Panti?"


"Hehe.. iya."


"Sukurnya suami kamu gak ngebatasin, Mi."


"Alhamdulillah.. cenderung cuek dia.. nah kamu kalo cari suami harus yang sefrekuensi.. jangan yang ngatur. Aku susah nyari partner nanti."


"InsyaAllah."singkat Agnia, matanya tertuju pada mi ayamnya yang tinggal setengah. Tiba-tiba dengan obrolan ini Agnia teringat sesuatu. "Eum.. ngomong-ngomong, kamu sama dia beda berapa tahun?"


Silmi berpikir sejenak. "Kita. empat tahun kayaknya.."


"Lumayan deket, dong.. kira-kira segitu ideal, gak?"


Silmi tertawa. "Kamu nanyanya.."


"Serius, Mi.."


"Aku gak tau, sih.. definisi ideal itu gimana.. soalnya kalo urusan keharmonisan rumah tangga ya gak bisa ditentuin pake usia kita, atau pake usia rumah tangga itu sendiri. Karena kalo aku bilang orang menikah harus si cowo lebih tua dari cewenya ya gak adil buat mereka yang nikahnya seumuran atau cewenya lebih tua, mungkin."


Agnia mengangguk. Begitu ya?


Giliran Silmi yang terkekeh, menatap Agnia curiga. "Kamu mirip aku waktu beberapa bulan menjelang nikah."


Agnia balas tersenyum. "Aamiin. Semoga ya.."


***


Akmal tengah duduk di kursi paling pojok yang ada di ruang MBI. Di tangannya ada Alqur'an, matanya menyusuri satu persatu huruf-huruf indah penuh hikmah itu.


Di kursi lainnya, Ardi serius pula dengan buku tebalnya. Pria berkaca mata yang adalah ketua organisasi itu dua kali lebih tampan ketika sedang serius seperti sekarang ini.


Empat orang tak lama datang, itu Fiki dan ketiga anggota lainnya. Ardi mendongak, begitu juga Akmal. Keduanya langsung menutup bacaan masing-masing.


"Kita mulai sekarang?" tanya Ardi.


"Mulai aja. Keburu ashar. Anak-anak juga udah kumpul."


"Akbar?"


Fiki menghela napas pelan. "Langsung pulang dia, kata Asma."


Ardi mengernyit, sejenak saling tatap dengan Fiki. "Gak masalah. Dia sibuk kayaknya."


Ketidak hadiran Akbar siang itu menyisakan tanya bagi Akmal. Sikap berbeda Akbar tunjukan sejak kemarin, sikap sama yang pernah Akbar tunjukan di awal pertemanan mereka yang kurang baik.

__ADS_1


Apa setidak ikhlas itukah Akbar jika Agnia berjodoh dengan Akmal?


Pulang, Akbar menunggangi kuda besinya menuju rumah. Membelah jalanan jakarta yang ramai dengan hati yang muram. Tak tahu pergi tanpa izinnya membuat tanya juga hinggap pada diri Fiki dan Ardi.


__ADS_2