Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
25. Kalimat menyihir Agnia


__ADS_3

Mendung itu benar-benar telah pergi


Berganti langit indah membiru yang menawan hati


Hujan dan petir urung datang


Bosan dengan bumi yang tak pernah menentang


Berjaya lah kini sang bumi..


Terbitlah terang,


Juga pelangi yang tak henti datang.


***


Hari itu akhirnya tiba, kajian yang sudah ditunggu semua orang yang terlibat di sana, juga kajian yang akan mempertemukan Agnia dengan Akmal kembali setelah malam itu, juga setelah Ardi dan Fiki mengetahui kehendak orang tua dua keluarga atas kedua insan itu.


Pagi itu Agnia sudah merapihkan kamarnya, pun setelah shalat subuh bergegas mencuci pakaian bahkan mengganti sprei miliknya, layaknya week end biasanya.


Waktu begitu cepat bergulir, setelah sarapan ia yang sudah berpakaian rapih langsung menghampiri Akbar yang sudah menunggu. Terlepas dari kemalasannya, Akmal memang rajin untuk satu hal ini. Tak pernah terlambat untuk pergi ke kampus atau kegiatan yang berhubungan dengan kampus.


"Lama banget, perasaan." protes Akbar bertengger tak sabaran di kuda besinya.


"Kamu yang rusuh!" tampik Agnia, mengambil helm dari tangan helm dari tangan Akbar.


Akbar mencebik, secara tidak langsung membenarkan ia yang tidak sabaran.


Saat itu tak disangka mobil Hafidz muncul dari kejauhan, membuat jiwa permusuhan dalam diri Akbar membara. Dalam arti tidak sebenarnya, tentu saja. Pasangan kakak sulung dan adik bungsu itu seperti biasa menebar aura permusuhan.


"Mundur, Mbak! Monster generasi ini datang." ujar Akbar, padahal belum pun mobil itu mendekat.


"Oh!" Agnia justru memekik senang, bisa melihat Zain dalam mobil itu. "Zain!" padahal baru kemarin ia seharian bermain bersama Zain, tapi demikianlah Allah ciptakan rasa suka luar biasa pada diri anak-anak.


Akbar mendecak, sangat tidak asik. Kakaknya ini tidak menanggapi candaannya. Lebih kesal jika Agnia lebih membela Hafidz nantinya. Agnia sudah seakan piala yang harus diperebutkan atau lebih tepatnya dipeributkan. lihat saja!


Hafidz turun bersama Zain di gendongannya. Puspa mengekor tak lama.


"Kemana?" tanya Hafidz, menatap adik-adiknya yang sudah tampil rapih siap pergi.


"Ada kajian, Mas." jawab Agnia, perhatiannya sudah jatuh pada Zain.


"Di kampus Akbar, ya ?" timpal Puspa.

__ADS_1


Agnia mengangguk, disela menciumi Zain.


"Yaudah, mas anter.." tawar Hafidz, yang langsung membuat Akbar mendelik dan menatap Agnia.


"Mbak! Aku udah nunggu loh.." ucap Akbar, seakan punya firasat jika Agnia akan memilih pergi bersama Hafidz meski ia sudah menunggu, pikir Akbar. Tak ikhlas jika setelah ini ia justru diabaikan. Sangat tidak sopan.


Hafidz akhirnya menatap adik bungsunya, memberi tatapan seperti biasa, menantang.


"Masalah?"


"Gak sopan!" ujar Akmal. "Jangan nyerobot! antara tukang ojek aja ada aturan."


"Terus lo tukang ojek, gitu?"


Puspa menggeleng, tak kan selesai dua orang ini memperdebatkan omong kosong. Dari pada telinganya terluka dengan sia-sia, Puspa segera meraih Zain dari pangkuan Hafidz. Bergegas masuk ke dalam rumah.


Melihat Puspa pergi bersama Zain, Hafidz langsung pamit, dan tentu saja memantik keributan. "Sayang, aku anter Agnia dulu ya.."


"Gak bisa!" pelotot Akbar. "Sana masuk!"


Agnia bisa pusing sendiri jika seperti ini, namun sebab sudah terbiasa ia hanya membiarkan perdebatan berselimut cinta itu terjadi. beberapa saat.


"Aku jalan kaki nih.." ucap Agnia, membuat adik dan kakaknya mau diam.


"Ayo, Mbak.." Akbar menggusur tangan Agnia. Supaya tak jauh darinya. Beranjak menunggangi motornya. Takut jika Agnia berpaling.


"Awas lo! Gue bales!" ucap Akbar serius. mengabaikan ia yang tadi mengomel sebab Agnia yang membuatnya menunggu meski hanya untuk beberapa saat.


***


Selalu ada kerja keras tak ternilai di setiap suksesnya sebuah acara. itu juga yang menjadi titik kesuksesan bagaimana kajian hari ini terlaksana. Ada kepuasaan tersendiri bagi Ardi, ia yang kini duduk di kursi yang disediakan di atas panggung siap memberi sambutan tersenyum lebar, memikul tanggung jawab sebagai ketua menjadi lebih mudah kala semua orang saling membantu.


Bukan mudah pada awalnya membentuk organisasi ini, MBI memang besutan Ardi dan sekawan nya. Organisasi yang alot pembentukannya namun kini berjaya dan mendapat tempat di hati semua mahasiswa kampus.


Asma mengambil bagiannya, membuka kajian di hadapan mustami' yang memenuhi jajaran kursi di aula kampus. Semangat langsung Asma rasa kala semua yang hadir menunjukan ketertarikan pada setiap ucapan yang ia lontarkan, belum lagi yang lainnya siap dengan buku dan pulpen di pangkuan tanda siap menyimak.


Akbar di ujung sana, tersenyum saja melihat Asma, merasa kehangatan yang coba Asma sampaikan ke hadirin, juga merasa senang sebab baru sadar jika Asma lebih banyak bertanya padanya belakangan ini. Ia merasa terlaru percaya diri jika mengatakan itu bentuk perhatian, bodoh memang Akbar itu.


Fiki menggeleng takjub melihat reaksi sahabatnya, tak aneh memang baginya. Agnia yang juga duduk bersama Ardi di atas panggung melihat adiknya dengan senyuman yang tak bisa diartikan dari jauh. Akbar harus siap digunjing setelah ini.


*


*

__ADS_1


*


Akmal yang sejak tadi tak muncul nyatanya sibuk menemani para perempuan mengatur konsumsi, berkomunikasi dengan bagian pencatatan via whatsapp.


Baru saat bagian Agnia tiba, ia tiba membawa dus berisi snack diikuti beberapa orang lainnya, Qori juga dua perempuan lainnya sigap mengestapetkan ke masing masing jajar hadirin.


Salam sudah terucap, Agnia sudah pada babak mengenalkan dirinya lebih dulu sebelum masuk ke inti pembahasan.


Senyum Akmal tersungging, suka saat Agnia mengenalkan dirinya sendiri sebagai guru pendidikan usia dini bukan sebagai sarjana ataupun pembicara yang memang sebenarnya tak asing lagi.


Untung saja Akbar tak melihat itu, atau bisa saja Akbar menatap penuh peringatan padanya. Tak terima jika kakaknya terjamah mata yang tak bertanggung jawab.


Ada satu hal yang membuat Akmal takjub, dirinya dibuat tak percaya jika seseorang yang sedang berbicara dengan bijaknya di atas panggung adalah seseorang yang pernah terpuruk di masa lalu. Seakan bayangan menakutkan itu tak pernah terjadi sebelumnya.


Dan Agnia berhasil, membuat semua orang takjub atas dirinya yang berhasil saat ini, tanpa tahu dan ingin tahu masa lalu seperti apa yang pernah ia kecap.


Ini bukan soal sebesar apa masalah yang terjadi, atau sesulit apa keadaan saat itu, melainkan bagaimana hebatnya Agnia yang kemudian memilih untuk kembali menjadi dirinya sendiri selepas guncangan hebat yang hampir memusnahkannya.


"Saya percaya bahwa segala sesuatu yang kita tekuni itu, tidak akan sia-sia. Ingat ya, kita garis bawahi.. Bukan berhasil yang kita tuju."


"Terlalu buru-buru jika kita menargetkan keberhasilan, dan keinginan itu sering kali membawa kita pada kekecewaan. Setuju?"


"Kita dituntut harus kuat, gagal coba lagi, gagal coba lagi, jatuh bangkit lagi, jatuh bangkit lagi. Hingga akhirnya keikhlasan membawa kita untuk tidak menyerah."


"Berhasil itu cuma persangkaan, temen-temen.. Menurut kita diri kita berhasil, orang lain belum tentu berpikir demikian. Jadi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa visioner ke depannya, merangkul setiap kegagalan yang orang lain sematkan untuk kita..."


"Tapi sekali lagi kegagalan itu tidak berarti apapun, ingat saja, tak ada yang sia-sia. kalimat itu yang akan menguatkan kita sekali lagi dan lagi."


"Itulah bagaimana mental kita menjadi tonggak pertama dalam kesuksesan kita. Kembali ingat.. hal pertama yang harus disiapkan untuk sukses adalah kesiapan diri kita secara mental. Sebab menyadari kemampuan diri membawa kita untuk selalu meng-upgrade diri menjadi lebih baik."


*


*


*


Kalimat-kalimat yang diuntaikan Agnia menyihir semua yang hadir di aula saat ini, Akmal termasuk di dalamnya, sedangakan Akbar tersenyum bangga lebih ke sombong.


Satu hal yang membuat Akmal yakin, pesona inilah yang membuatnya tak pernah menolak keinginan kedua orang tua mereka. Andai memang berjodoh, ia nantinya bak mendapat mutiara yang begitu didamba setiap mata.


"Ehm"


Akmal tersenyum canggung, ketahuan sudah ia menyimak Agnia. Akbar kini menatapnya penuh peringatan, berusaha menyampaikan jika dirinya bukan berarti akan setuju setelah kembali menunjukan kebaikannya.

__ADS_1


Akmal menelan ludah, tak terbayang jika nantinya ia benar-benar memiliki adik ipar seperti itu. Akbar sungguh meresahkan.


Sedangkan Akbar mengangkat kepalanya, "Jangan pernah berpikir terlalu jauh!" gumamnya dalam hati, seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Akmal.


__ADS_2