Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
67. Cincin pemberian Akmal


__ADS_3

Akmal pulang dengan langkah gontai, masuk ke rumah luasnya yang sepi. Memang seperti ini setiap saat, rumah luas dengan hanya tiga orang penghuni itu senantiasa damai cenderung sepi.


Namun Akmal yang adalah anak tunggal sudah terbiasa dengan situasi ini, bahkan dewasa ini ia baru menyadari jika dirinya perlahan menikmati kondisi serba sendirinya itu.


Akmal langsung menuju kamarnya. Gurat lelah di wajahnya begitu kentara. Ini belum setengah hari, namun rasanya Akmal sudah melakukan banyak hal di senggang waktu itu, belum lagi pergi ke kampus, dan sorenya pergi ke toko. Juga setelah Maghrib kembali mengajar ngaji satu-satunya murid yang ia miliki.


"Allahu Akbar.." Akmal lirih bertakbir, sembari melempar tubuh lelahnya ke atas ranjang.


Tak lama Akbar mendudukkan lagi tubuhnya kala merasakan sesuatu mengganjal di saku belakang celananya. tangannya merogoh sakunya itu. Mengeluarkan kotak cincin yang telah kosong dibawa pulang isinya oleh Agnia.


Senyuman kembali muncul di wajah Akmal, lega sekali. Ternyata ia berhasil, mengambil satu langkah awal untuk menunjukan keseriusannya. Hal yang sebenarnya sulit dan penuh pertimbangan itu, Akmal berhasil melewatinya.


Kepergian Ulya sejujurnya sempat membuat Akmal takut mengenal orang baru. Mati-matian dirinya menghindari semua perempuan yang menunjukkan ketertarikan padanya. Namun entah kenapa ketika itu adalah Agnia, meski sekeras mungkin gadis itu menegaskan ketidak tertarikannya pada Akmal, justru Akmal lah yang dibuat jatuh cinta oleh pesonanya.


Tak ada pertimbangan atau rasa takut ditinggalkan kala mengenal Agnia, hanya perasaan hangat yang tertanam dalam hati. Perasaan ingin memiliki dan melindungi sepenuh hati.


Suara klakson mobil terdengar, membuyarkan senyum penuh arti dari wajah Akmal. Spontan ia menoleh jam, mengernyit sejenak kala dilihatnya jam masih menunjukan pukul sebelas. Merasa aneh jika sebegitu cepatnya kedua orang tuanya tiba setelah ada acara penting di Bandung.


Akmal meletakkan benda di tangannya ke atas nakas, beranjak keluar kamarnya. Mencari tahu kenapa bisa secepat itu orang tuanya pulang.


"Assalamu'alaikum.." salam menggema di rumah luas itu. Seorang perempuan paruh baya dengan tubuh agak berisi menerobos masuk, melirik kiri kanan mencari pemilik rumah.


Akmal dari jauh tersenyum, sudah mengenali pemilik suara itu. "Bude Maryam?"


"Akmal.." wanita yang dipanggil Maryam itu tersenyum kala Akmal muncul. Langsung mengulurkan tangannya pada ponakan satu-satunya itu.


Akmal tersenyum sembari meraih tangan seseorang yang ia panggil Bude itu, mencium punggung tangan Budenya dengan penuh sayang. Menyambut peluk yang ditujukan padanya.


"Apa kabar?"


"Alhamdulilah baik, Bude. Emh.. Pakde mana?"


"Masih di depan, biasa.. udah tua, gak bisa buru-buru." Maryam tersenyum lebar, senang meledek suaminya.


Akmal membalas dengan senyum. "Sama dong kayak Ayah, masa kejayaannya mulai redup."


"Oiya.. Mana Ayahmu? Kenapa gak nyambut bude? Jangan bilang dia sakit." Maryam langsung khawatir setelah mendengar ucapan Akmal, pikirannya sudah heboh sendiri.


"Enggak. Ayah sehat, Bunda juga sehat. Cuman.. mereka lagi gak di rumah."


"Kemana?"


"Ada acara katanya, di Bandung. Berangkat tadi subuh." jelas Akmal. Sudah menebak pertanyaan apa saja yang akan keluar dari mulut Maryam.


Maryam mengangguk. Menghela kecewa. "Sayang sekali, padahal bude gak lama disini.."


"Gak lama?"


"Iya. Bude cuma mampir. Ada acara malam ini, dan gak tau sempet atau enggak kesini lagi setelah acara."


Akmal mengangguk. "Gak papa, Bude. Yang penting buah tangannya yang awet disini."


"Dasar! Anak nakal!


Akmal tersenyum lebar. "Oiya, aku jadi lupa ngambilin minum. Sebentar, Bude.."


"Eh.. gak usah.. gak usah.. Biar bude ambil sendiri. Kamu bantu pakde aja, kayaknya kerepotan dia."


Akmal mengangguk, beranjak keluar. Menghampiri pria seumuran ayahnya yang sibuk mengeluarkan beberapa bawaanya dari bagasi.


"Wah.. ini oleh oleh buat aku?"


"Akmal!" pria itu menoleh, langsung memeluk Akmal dengan hangat. Diselingi tawa renyah, senang sekali setelah sekian lama tak bertemu.


"Apa kabar Pakde?"


"Alhamdulillah baik, dan makin baik kalo kamu bawakan semua ini ke rumah."


Akmal mengangguk. "Iya, tenang aja. Pakde masuk aja.. Kalo cuma ini, gampang.."


"Iya.."


Akmal kembali masuk ke rumah tak lama, membawa tiga kantung besar yang entah berisi apa. Dua kali keluar masuk. Maryam dan sang suami, Zaidi sudah bersantai di sopa. Tampak lelah sehabis berkendara.


Akmal sudah tau itu berisi makanan, segera menyimpan semuanya di atas meja. Kantung ketiga yang paling menarik perhatian Akmal, terasa lebih berat dari yang lain.

__ADS_1


"Ini.."


"Oleh oleh laut itu.." ucap Zaidi.


Akmal membukanya memastikan, dan benar saja.. ikan segar dan macam seafood lainnya tersimpan rapih dalam wadah berisi es batu. Sengaja untuk membuat semuanya tetap segar.


"Apa gak kebanyakan?" Akmal mengernyit.


"Enggak lah, bagi aja sama tetangga. Tadinya bude mau bikin acara makan makan disini, ngajak adikmu juga. Tapi ya adikmu gak bisa libur di pesantrennya, apalagi Pakde juga ada acara mendadak. Jadi kalian aja yang makan."


Akmal mengernyit, bingung sekali. Padahal orangtuanya juga tidak ada. Sesaat menimbang.


"Emh.. aku kasih siapapun boleh ya?"


"Boleh.. ajak teman temanmu kalo bisa."


Akmal mengangguk, tersenyum.


"Yaudah, biar bude yang beresin semuanya, kamu temenin Pakde mu berbincang.."


.


.


.


.


Agnia baru pulang dari mesjid setelah shalat isya berjamaah. Melangkah menuju rumahnya, berpisah dengan beberapa santrinya yang pergi ke arah berbeda.


"Hati-hati, semuanya.."


"Siap, Mbak." Semua serentak berteriak, memasang sikap tegap. Membuat Agnia tak pernah tak tersenyum dengan kelakuan murid-muridnya itu.


Beberapa motor yang terparkir di halaman rumahnya membuat Agnia yakin akan ada semacam makan bersama lagi di rumahnya. Tentu saja, beberapa bujang kawan Akbar bahkan sudah disana.


"Oh! Assalamu'alaikum, Mbak.." Fiki tersenyum ramah, menyambut Agnia seraya berdiri dari duduknya.


"Waalaikumsalam.." Agnia membalas dengan anggukan ramah, menatap Ardi, Fiki serta beberapa orang lainnya. "Kalian punya rencana kemana?" tanya Agnia, basa-basi saja.


Agnia mengangguk. "Baiklah.. tapi jangan buat keributan!"


Fiki tersenyum. "Siap, Mbak."


"Dan jangan lupa shalat!"


Fiki mengangguk lagi. "Siap, Mbak. Emh.. Mbak mau gabung?"


"Enggak. Terima kasih.." Agnia menggeleng, sekali lagi tersenyum. Lantas pergi meninggalkan para bujang yang spontan diam saat kedatangannya.


Seorang yang berdiri paling dekat dengan pintu, mengikutkan pandangannya pada Agnia. Memastikan sosok itu jauh, baru sehilangnya Agnia dari sekitar mereka, segera tersenyum lebar hendak memulai obrolan.


"Gue penasaran kenapa Mbak Agnia belum nikah juga sampe hari ini. Padahal.. kepribadian dan kecantikannya bukan berita bohong. Wah.. diliat aslinya lebih cakep."


"Hah?! Ini kali pertama Lo ketemu Mbak Agni secara langsung?" tanya yang lain, menimpali.


"Ya."


"Wah.. Payah!"


Fiki menatap dua temannya yang berbincang itu. "Heh ngomong apa tadi? Apa hubungannya kecantikan sama cepatnya menikah? Jangan terlalu kejam dengan membuat standar di hidup orang lain.."


Semua tak berkedip mendengar kalimat Fiki, tak percaya jika Fiki bisa berucap kalimat benar semacam itu.


"Inget ya, gue kasih tau.. Jangan pernah bahas apapun tenatang Mbak Agni di hadapan Akbar ataupun Akmal. Meskipun itu soal pinter, cantik, atau apalah.. Jangan pernah! Apalagi menyinggung pernikahan." jelas Fiki.


"Kenapa? Itu bahkan bukan hal buruk."


"Pokoknya jangan pernah!"


"Okay.. di depan Akbar gak boleh gue ngerti, tapi.. di depan Akmal? Kenapa?"


"Emh.." Fiki mengulum kalimatnya, baru sadar kekeliruannya. Kenapa juga membawa nama Akmal tadi. Menoleh Ardi sejenak. "Pokoknya.. gak usah bahas soal itu, Lo tau Akmal, gue sama Ardi, Deket banget sama Akbar. Jadi.. lebih baik diam!"


"Okay.." dua orang itu akhirnya mengangguk, saling pandang sejenak.

__ADS_1


Saat itulah sebuah mobil datang, semua saling tatap. Tak tahu siapa yang di dalam mobil itu. Namun tatkala Akmal turun, semua langsung bersorak menggoda.


"Woah! Yang ditunggu tiba."


Akmal turun, memasang senyum khasnya.


Fiki segera menghampiri, berusaha mengintip isi mobil Akmal. "Mana? Santapan kita?"


"Di bagasi, mau lo yang ngambil?"


"Tentu.. Urusan makanan, serahin sama gue." jawab Fiki, tersenyum lebar. Melangkah dengan riangnya menuju bagasi mobil Akmal.


.


.


.


.


Keributan kembali terdengar, Agnia bisa mendengar itu dari kamarnya. Para bujang tanggung itu asik berpesta di halaman. Bahkan aroma pembakaran samar tercium hingga dapur. Akbar yang sibuk keluar masuk rumah baru sadar akan itu.


Agnia jadi terpengaruh oleh kebisingan itu, urung membuka laptopnya. Kembali ke atas ranjang, duduk bersila sembari bersandar. Menghela napas pelan. Tangannya kembali meraih sesuatu dari laci nakasnya, mengeluarkan cincin pemberian Akmal.


Kembali cincin itu ia perhatikan dengan seksama. Takjub, Agnia pernah sekali mencobanya dan heran kenapa bisa sangat pas di jari manisnya. Senyuman perlahan tersungging di wajah Agnia. Tak dipungkiri hatinya berbunga-bunga akhir-akhir ini.


Agnia kembali memasukkan cincin itu ke jari manisnya, tatkala sebuah ketukan terdengar.


Tok.. tok.. tok..


Deg.


"Agnia?"


Ceklek..


"Hemh? Iya Bu?" Agnia membulatkan matanya, menatap sang Ibu yang melangkah masuk.


Khopipah mengernyit, bingung dengan reaksi Agnia. Jelas terlihat panik.


"Kenapa kamu?"


Agnia menggeleng cepat. "Cuma.. kaget, Bu."


"Kaget?" Khopipah menyungging senyum tipis. "Ada ada saja.."


"Emh.. ada apa, Bu?"


"Kamu belum makan malam, kan? Mau bareng sama ibu?"


Agnia mengangguk. Segera turun dari kasurnya. "Iya. Ayo Bu."


"Kerudung?"


"Oh! Iya." Agnia tersenyum lebar, terlalu jelas kepanikan dari sikapnya. "Maaf, Bu."


Khopipah menggeleng, entah apa yang terjadi dengan anak gadisnya ini. "Ibu tunggu di meja, ya.."


"Iya, Bu."


Agnia menghela napas lega, seperginya sang ibu. Sedetik setelah pintu kamarnya ditutup, segera mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Bukan mencari kerudung, melainkan cincin yang tadi dipakainya entah ia lemparkan kemana tadi saat panik.


Ceklek.. pintu kembali terbuka, Agnia yang terlanjur membungkukkan tubuhnya di bawah meja mematung sesaat. Mengeluh tertahan.


"Cari.. apa?" Akbar ternyata, meloloskan kepalanya dari balik pintu.


Agnia menghela napas lega, Akbar ternyata. Menoleh sejenak. Harusnya sudah tahu, hanya Akbar yang tak pernah mengetuk pintu saat masuk ke kamarnya.


"Bukan apa-apa."


Akbar mengangguk, menatap wajah terkejut Agnia yang sedikit mencurigakan. "Emh.. Aku nyimpen ikan bakar di meja, siapa tahu Mbak mau.."


"Okay.. makasih.."


Akbar menutup kembali pintu kamar Agnia, alisnya bertaut seiring menjauh dari kamar itu. Tak mengerti dengan tingkah Agnia.

__ADS_1


"Apa dia nyembunyiin sesuatu?" gumam Akbar, bertanya pada dirinya sendiri.


__ADS_2