Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
38. Adi & Alisya; Bertemu Raina


__ADS_3

Pagi yang penuh kehangatan tersuguh dari kediaman Adi. Menyantap sarapan bersama keluarga kecilnya. Alisya sangat istri, dan Raina si malaikat kecil buah hati pertama Adi dan Alisya.


Si kecil Raina menyendok makanannya sendiri, sedangkan Alisya, sang ibu fokus merapihkan rambut anaknya. Menguncir rambut panjang Raina, dan menyematkan dua jepit berbentuk hati di kiri dan pelipisnya.


"Udah.." Alisya tersenyum, menghadapkan Raina ke arahnya. "Cantik.." ujarnya, selalu begitu. Memuji. "Lanjut makan lagi.."


"Lho! Mau kemana?" Adi bertanya, bingung saat istrinya justru bangkit. Sedang dirinya mulai menyuap.


"Aku mau nyiapin tas Raina dulu, kamu lanjut makan aja."


Adi mengangguk, meraih gelas di dekatnya. Baru ingat jika hari ini hari pertama Raina masuk sekolah, lihatlah bahkan Raina sudah rapih dengan seragamnya.


"Pelan-pelan makannya.." Adi tersenyum, memperingatkan anak perempuannya itu. Raina masih sangat kecil untuk sekolah, dua setengah tahun umurnya. Tapi Raina sudah sejak lama meminta dimasukan PAUD. Secara tidak langsung merenggek, ingin ikut sekolah seperti sepupunya.


"Yang.. ini tas kamu.." Alisya datang, menyimpan tas kerja suaminya di kursi yang kosong. "Dan ini tas Raina.."


"Makasih.." ucap Adi, menatap istrinya penuh penghargaan. Lantas beralih menatap Raina. "Bilang apa sayang sama Mama?"


Raina mendongak, tersenyum menunjukan gigi imutnya. "Terima kasih, Mama.."


"Sama-sama, Sayang.." Alisya meraih kedua pipi Raina, menciumi pipi menggemaskan itu berulang kali. "Nanti di sekolahnya yang baik, ya.. akur sama temen-temen nya. Harus nurut sama ibu gurunya.."


"Iya." gadis itu mengangguk.


Adi terdiam di tengah kunyahan nya, tampak berpikir. "Apa gak sebaiknya Raina sekolah di tempat lain?"


Alisya mengernyitkan dahinya tanpa sadar, mendengar penuturan yang tiba-tiba itu. "Gak mungkinlah, Yang.. Belum juga masuk, masa pindah.."


"Maksud aku.. Sekolah yang lebih baik dari sekolah itu.. Banyak juga, kan?" ucap Adi, berdalih. Yang sebenarnya ia khawatir sebab Raina akan bersekolah di tempat Agnia mengajar.


Alisya menggeleng, tak setuju. "Kata siapa? tetangga sekitar sini bilang PAUD itu udah paling bagus.. terus jaraknya juga deket. Aku bisa antar jemput Raina sendiri."


"Gitu ya... Yaudah."


"Emangnya kenapa? kamu punya saran sekolah lain?"


"Enggak.. cuma nanya aja."


Alisya mencebik. "Gini, aku denger meskipun sekolahnya tidak bertaraf internasional.. Tapi mereka bilang guru-gurunya terakreditasi. So, don't worry.."


Adi menghela napas pelan, mengangguk. menyinggung senyum. Apa boleh dibuat, meski sudah berjanji untuk tidak lagi menunjukan diri pada Agnia. Takdir seakan membawa mereka kembali. Sepertinya Allah memang punya takdir terbaik, seakan ada sesuatu yang terlewat dan masih perlu ditunjukan pada Agnia.


Alisya menaikan alisnya. Heran, apakah gerangan yang terjadi pada suaminya.. Adi terlihat gugup.

__ADS_1


*


*


*


Agnia sudah berangkat pagi sekali, tak ingin mengulangi hal sama diantar Akmal. Jika bocah itu begitu berambisi, maka dirinya harus bisa meredam. Menghindari salah satu caranya..


"Assalamu'alaikum.. Pak.." Agnia mengangguk ramah, menyapa satpam yang berdiri di depan gerbang.


"Waalaikumsalam.. Selamat pagi, Bu Agni.. "


"Pagi.."


Satpam dengan tubuh gempal itu mengangguk sopan. Membukakan gerbang. "Silahkan, Bu.."


.


.


.


.


Satpam bertubuh gempal yang duduk di bangku pedagang, sedang berbincang seperti biasanya tiap waktu senggang, langsung mendekat kala dilihatnya dua orang yang tampak bingung itu.


"Selamat pagi, Bu.. Ade.." ucap satpam itu, ramah sekali. Beralih menatap anak dengan kuncir kuda di hadapannya. "Ade murid baru, ya.."


"Betul, Pak.. Emh.. Sudah ada yang hadir? ke sekolah.." tanya wali murid itu, ragu sebab masih sepi ia lihat.


"Silahkan masuk saja, Bu. Sudah ada guru yang hadir. Emh.. Silahkan.. Saya antar.."


Sepasang ibu dan anak itu mengekor di belakang, seraya mata mereka mengedar, mengamati lingkungan yang baru ini.


"Silahkan duduk, Bu. Saya panggil kan dulu Ibu gurunya."


Satpam itu berjalan cepat, mencari di mana gerangan Agnia berada. Biasanya tak pergi dari ruang kelas murid-murid yang ia pegang. Dan benar saja, Agnia tengah berdiri menghadap jendela, memperhatikan karya seni anak muridnya yang dipajang di sana.


"Maaf, Bu.. ada orang tua dari murid baru. Menunggu di depan."


"Lho! kenapa tidak diajak ke ruang guru saja, Pak?"


"Oh, Kalo begitu, biar saya suruh ke sana..."

__ADS_1


"Tidak perlu, Pak. Saya saja yang ke depan. Pak Alim silahkan ke pos kembali.."


Satpam bernama Alim itu mengangguk, lantas undur diri. "Iya, mari.. Bu."


Agnia menghela napas, murid yang ia tunggu ternyata. Anak yang dilaporkan langsung oleh Bu Zainab padanya, kemarin anak itu tidak masuk. Hari ini menjadi hari yang pertama. Agnia melangkah dengan pasti, dengan tangan memegang erat sebuah lampiran. Bersemangat seperti biasanya.


Senyum tak hilang dari waja Agnia, berjalan dengan anggunya menyelusuri koridor sekolah. Sembari matanya menatap sekitar, memastikan di mana anak bersama orang tuanya itu berada.


Deg..


Sesuatu mengunci tatapan Agnia, ketika berbelok dari koridor satu menuju koridor kelas lainnya, Agnia justru mematung. Mendapati seseorang yang setulus hati tak ingin ia temui lagi.


Alisya. itu Alisya. Batinnya bergemuruh kala nama itu terlintas.


"Ma.." Raina menarik pelan baju Alisya, menunjuk ke arah Agnia saat ibunya menengok.


Alisya juga mematung, jarak mereka pada pertemuan kali ini begitu dekat. Alisya pun bisa merasakan desiran darah yang sama seperti yang terjadi pada Agnia. Mereka saling tatap, cukup lama. Menjabarkan pemikiran masing-masing.


Agnia menelan salivanya dengan susah payah, mengalihkan pandangannya sejenak. Apa yang harus ia lakukan? Ingin rasanya lari. Tapi itu hanya akan menujukan jika dirinya sangat lemah. Ia ingin terlihat kuat, meski hatinya belum remuk redam.


"Anda.. Orang tua Raina Aprilia?" tanya Agnia, kaku.


Alisya mengangguk, di lain sisi merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Setelah sekian lama, akhirnya ia kembali mendengar suara lembut Agnia. Alisya, merindukan sahabatnya ini.


Agnia beralih menatap Raina, tersenyum. Jika bukan karena masa lalu, jika antara mereka tak terjadi masalah, maka hari ini Agnia pasti akan sangat bahagia melihat anak dari sahabatnya ini. Manis sekali.


Namun hatinya menjadi perih, teringat bahwa anak perempuan ini juga anak dari kekasih masa lalunya Adi.


Agnia mengalihkan tatapannya lagi, ia sungguh tak ingin menangis saat ini. Harus seperti apakah sikapnya saat ini?


"Assalamu'alaikum.." sebuah salam menyelamatkan kecanggungan antara Agnia dan Alisya.


Helaan lega keluar dari mulut Agnia, Bu Zainab menjadi penolongnya pagi ini.


"Waalaikumsalam.."


"Bu Alisya.. Tiba sepagi ini.." guru dengan tubuh tinggi langsung itu tersenyum.


"Sesuai janji.." Alisya tersenyum.


"Kalau begitu, mari.. Kita berbincang di dalam.." ucap Zainab. Lantas beralih menatap Agnia. "Agnia.. Ibu tinggal, ya.."


Agnia mengangguk, tersenyum tipis. Matanya kembali dikerubungi kesedihan, kala tiga orang itu berlalu. Sungguh atmosfer yang menyesakkan tadi itu, Agnia menghela napas dalam seperginya Alisya darin hadapannya. Untuk kemudian sekali lagi menoleh punggung Alisya dan anaknya. Mereka tampak bahagia.

__ADS_1


__ADS_2