Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
37. Agnia dan Akbar


__ADS_3

Akbar baru saja pulang, selepas mengantarkan Asma, ia kembali ke kampus dengan terburu-buru. Akbar lupa jika sudah punya janji dengan dosen, tak mempertimbangkan itu saat bersikeras membujuk Asma untuk mau diantar pulang. Jadilah Akbar saat itu mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, bergegas ke kampus. Padahal pertemuan ini sangatlah penting.


Helaan napas keluar dari mulut Akbar, berdiri menghadap kuda besinya. Apa yang harus ia katakan pada orang tuanya? Lihatlah motor yang penyok bagian depannya itu, Akbar bingung sekali. Hingga keberadaan mobil yang asing di halaman rumahnya sama sekali tak menarik atensinya.


Ia suda pusing sendiri, membayangkan kemarahan yang pasti dirinya terima. Dan itu sebab kekeliruannya. Akbar memijat tengkuknya yang tiba-tiba terasa berat, tak mungkin bisa dihindari, ia harus bersiap diomeli bukan?


"Harusnya gak ketahuan.." gumam Akbar, seraya matanya celingukan memastikan tak ada yang melihat tingkahnya saat itu. Namun saat membalikan badannya ke arah pagar, ia terkejut bukan main. Memekik sedikit keras.


"Hah?!"


Agnia yang baru saja tiba mengernyit, menatap bingung pada adiknya itu. Membuka pagar rumahnya dengan sekali dorongan.


"Kenapa? Kamu ngelakuin kesalahan?" selidik Agnia, tak terkejut dengan gelagat semacam ini.


Akbar terbengong, menggeleng. Ada kesalahannya, namun kagetnya saat ini bukan dengan alasan kesalahannya. Namun..


"Kalian.. Kalian.. Jalan berdua?" tanya Akbar, dramatis sekali. Menunjuk Agnia dan Akmal bergantian.


"Jangan sembarangan.." Agnia menatap tajam, berpikir jika Akbar sedang menggodanya. Tak terima juga, ia semudah itu untuk menyerah? Sembarangan sekali!!


"Kalian jalan berdua?" tanya Akbar lagi, kini menatap Akmal. Agnia sudah melangkah ke dalam rumah.


Akmal balas mengendikkan bahunya, tersenyum. Apa yang harus dijawab? Semua bisa tahu yang terjadi hanya dengan melihat saja.


Agnia memilih masuk ke dalam rumah, meninggalkan dua orang itu. Tak tertarik untuk lebih lama bersinggungan dengan Akmal. Hal itu, satu sisi membuat Akbar meloloskan napas lega.


"Gercep, lo ya.." ucap Akbar, masih tak percaya dengan yang ia lihat. Luar biasa.. Lantas mengacungkan jempolnya. Salut. "Respect.."


"Tunggu.." Agnia mengernyit, apa yang ia lihat tadi? Kembali melangkah mundur.


Akbar dan Akmal langsung menengok ke arahnya. Akbar dalam hati ketar-ketir, jangan-jangan tiba masanya untuk dimarahi.


Mata Agnia turun ke celana hitam Akbar, hampir koyak di lututnya. "Itu.." Agnia menatap tajam Akbar. "Jatuh di mana?"


Akbar menggeleng. "Enggak, gak jatuh.." ucapnya, berlawanan dengan ekspresinya yang canggung. Terlihat jika ia berbohong, bocah pun bisa tahu itu.


"Terus itu kenapa?" Agnia menunjuk motor Akbar, tanpa memalingkan matanya dari Akbar. Tampak menakutkan.

__ADS_1


Yang ditatap mendengus pelan, kelihatan ternyata. Tadinya ia ingin meminta bantuan Akmal membawa motornya ke bengkel segera sebelum keluarganya tahu. Urung sebab ini. Ia ketahuan.


"Aku.. Bisa jelasin.." Akbar tersenyum lebar.


*** beberapa saat lalu;


Satu langkah maju diambil Akbar, ia yang selama ini tak berikhtiar meski menyukai Asma kini berubah pikiran. Apalagi setelah melihat bagaimana gigihnya Akmal mendekati Agnia, ia termotivasi, katakan demikian.


"Makasih.." Asma tersenyum, turun dari motor Akbar.


"Sama-sama."


"Mau mampir dulu?" tanya Asma, basa-basi saja.


"Boleh?"


"Hah?!" Asma terkejut, tak serius tadinya. "Iya, ayo.. " ucapnya lagi, segera memperbaiki responnya. Mengajak Akbar menuju rumah kecilnya, rumah sederhana yang sangat jauh jika dibandingkan dengan rumah Akbar. Berjalan lebih dulu, wajahnya menyiratkan ketidaknyamanan. Kenapa harus basa-basi, gumamnya dalam hati.


Dering dari ponsel Akbar membuat dua orang itu berhenti lagi, Asma berbalik menatap Akbar. Pria itu tampak tidak senang saat membaca siapa yang memanggilnya.


"Ah!" Akbar spontan menjauhkan ponsel dari telinganya, kala Fiki di sebrang sana berteriak tanpa peringatan. Kesal sekali, dirinya bahkan belum sempat mengucapkan halo.


Kembali Akbar dekatkan ponselnya perlahan ke telinga, memastikan Fiki sedang tidak merutuki nya.


"Apa?!" tanya Akbar datar, menahan diri meski sangat ingin meneriaki Fiki balik. Sebab ada Asma, dirinya tak mau terlalu apa adanya. Merasa jaim penting untuk saat ini.


"Liat jam! Lo lupa punya janji ketemu dosen hari ini?"


Wajah menantang Akbar langsung berubah pucat mendengar apa pertanyaan penuh penekanan yang dilontarkan Fiki. Sial!! Ia malah teralihkan oleh Asma.


Asma menaikan alisnya melihat perubahan itu, belum sempat bertanya Akbar sudah langsung berucap.


"Asma.. Gak jadi.. Aku ada urusan mendadak.. Assalamu'alaikum.." ucap Akbar, lantas pergi tanpa mengucapkan hal lainnya pada Asma.


"Waalaikumsalam.." Asma menghela napas, mulai lagi pria itu. Sangat tidak jelas.


Dengan kecepatan penuh, Akbar melakukan motornya. Membelah jalanan kota yang sepi namun padat di waktu yang bersamaan. Ia sudah seperti kucing yang memburu mangsa, tak peduli apapun asal segera tiba ke tujuannya.

__ADS_1


Yang mengejutkan, meski gayanya sudah bak pembalap, Akbar masih ceroboh. Di salah satu gang yang ia pilih supaya segera tiba menuju kampus. Di sanalah peristiwa menjengkelkan itu terjadi.


Sebuah motor lainnya datang dari arah berlawanan, Akbar yang kaget tak sempat menarik tuas rem. Berakhir menghindari tabrakan antar transportasi, hingga menubruk dinding rumah warga.


Tabrakan yang cukup keras itu tidak akan parah sebenarnya jika Akbar bisa mengendalikan motornya. Namun karena setelah menabrak motornya ia juga terbanting ke jalanan beraspal.


Akbar bangkit, langsung ditolong beberapa orang yang sedang berkumpul di sekitar sana. Lututnya terasa perih, dirinya pun terkejut bukan main. Namun harga dirinya membuat Akbar tak mengeluh sekalipun.


Pengendara yang hampir bertabrakan dengannya muncul, dirinya yang sempat mengerem tak terluka sama sekali.


"Maaf, kamu gak papa.."


Akbar mendongak, bangkit dan menolak uluran tangan seseorang itu. Pengemudi perempuan, ternyata. Akbar menghela napas, yasudahlah.. Semua sudah terjadi. Tapi dirinya tak bisa menutupi rasa kesalnya.


Perempuan muda yang tampak merasa bersalah itu menuju motor Akbar, mencari tahu seberapa parah kerusakan yang terjadi.


Lumayan, perempuan itu terbengong juga dibuatnya. Tangannya bergerak menelpon seseorang. Bengkel.


"Mas, ini.." perempuan itu tak menyelesaikan kalimatnya, saat dilihat seseorang yang hampir ia tabrak itu sudah pergi dari peredaran. Membawa motor yang penyok itu bersamanya. Perempuan dengan pakaian kaos lengan pendek warna abu dan celana jeans itu menggeleng heran, aneh sekali ada seseorang yang tak mau dibantu di era sulitnya meminta pertanggung jawaban bagi orang lain.


***


Akbar berdiri tak nyaman, diberi tatapan horor oleh Agnia. Lebih tepatnya tatapan maut. Akmal tak ikut campur, memperhatikan dua orang di depannya. Memperhatikan setiap kata yang diucapkan Akbar. Dan memperhatikan wajah kesal Agnia yang makin tertarik saat Akbar mengatakan semua asal muasal terciptanya penyok pada motor kesayangannya.


Dengusan tipis Agnia tunjukan, benar-benar Akbar ini.


"Jadi semua ini terjadi sebab perempuan, rupanya.." ujar Agnia, menekan lutut terluka Akbar dengan tangannya.


"Aw..." Akbar tentu meringis. "Memang.. Gak percaya?"


Agnia mendelik, bukan itu bodoh!! "Ya.. Ini semua gara-gara Asma." tegas Agnia. "Harusnya kalo ada janji, ingat baik-baik.." omel Agnia, benar-benar kesal. Akbar mengangguk, seperti inilah kejadian yang ia takutkan tadi. Dan terjadi. "Dan harusnya kalau terluka, bukannya kamu harus obati luka itu terlebih dulu?"


Akbar menghela napas pelan, mendengar saja setiap kalimat yang kakaknya lontarkan. Masih banyak kakimat-kalimat indah yang tak lelah Agnia katakan, dalam omelan itu Akbar menoleh Akmal. Berusaha memberitahu akan seperti jugalah nasibnya jika menikah dengan Agnia.


Akmal hanya tersenyum, tak ikut campur atau melempar tatapan. Ia bisa jadi kena omelan juga jika salah bersikap. Satu hal yang Akmal lihat, itu menggemaskan.


Dirinya tak keberatan hidup bersama Agnia, menikmati setiap omelan semacam itu. Manis sekali.

__ADS_1


__ADS_2