
Tak sangka, jika perasannya yang semula baik-baik saja dan berbunga kini dihantui rasa tak tentu yang menimbulkan kebimbangan. Akmal tak tau apa yang dirasakan dan dipikirkan istrinya saat ini. Entah cemburu, atau salah paham, atau mungkin juga sakit hati. Yang pasti rasa istrinya sedang berpura-pura tak tau dan tak peduli.
Helaan napas panjang diambil Akmal sesaat sebelum masuk kembali ke kamarnya. Ini rumit, yang terjadi padanya di masa lalu memang terkenang dan membekaskan trauma tersendiri. Namun Akmal juga tak mau membuat Agnia salah paham dan bersedih sebab itu.
Bahwasanya hari ini adalah milik mereka, tak ada keluhan dan keraguan baginya. Perasannya hari ini tertuju pada Agnia, tak ada jejak Ulya lagi setelah bertemu dengannya kecuali rasa takut yang masih saja menyiksa.
Mahluk cantik itu tengah mematut dirinya di depan cermin, segera menoleh saat suaminya masuk. Ia sudah siap.
Meski wajah pria itu menyiratkan sesuatu yang tak bisa diungkapkan, Agnia abai sekali. Justru tersenyum bak mematahkan sangkaan Akmal padanya. "Jadi kita mau kemana?" tanyanya, terdengar antusias meski berusaha tak ditunjukkan.
Akmal tersenyum lembut, mendekat. Mendudukkan bokongnya di meja rias. "Ada, pokoknya tempat yang pasti Mbak suka." jawabnya.
Agnia mencebik tipis, tak yakin namun juga tak bisa menebak. Saat disuruh bersiap, dirinya bersiap saja. Toh tak peduli kemanapun, asalkan bisa menghabiskan waktu berdua baginya itu terbaik.
"Siap?"
"Hemh.." Agnia mengangguk.
"Gak mau sarapan dulu?"
Agnia menggeleng. "Udah kenyang aku, bener.."
"Yaudah.." Akmal menggenggam tangan Agnia. "Siap untuk perjalanan halal pertama kita?"
Agnia tersipu mendengar pertanyaan itu, terdengar manis dan tampak akan berkesan baginya. Lantas mengangguk tanda siap.
Perjalanan pertama setelah halal, dada Agnia berdegup kencang mengingat kata itu. Akmal di sebelahnya, sembari fokus menyetir menoleh sekilas lantas tersenyum melihat gurat bahagia di wajah sang istri.
Dua orang itu berada satu mobil dengan tujuan yang hanya diketahui oleh Akmal, yang dengan yakinnya ia katakan jika Agnia pasti menyukai perjalan ini. Sementara Agnia tak tau punya ide, terlanjur antusias tanpa peduli kemungkinan lainnya.
"Ini.." Agnia mengernyit, mengenal jalan yang dilalui mereka. "Mau ke rumah ayah?" tanyanya lantas menoleh penuh tanya, diakhiri dengan anggukan Akmal.
"Dih!" senyum Agnia seketika berganti dengan sorot sebal, yang lantas memantik tawa sumbang Akmal. "Kenapa? Mbak berharap tempat yang lain?" tanya Akmal, masih diselingi tawa.
Agnia mengendik pelan, menyembunyikan wajah kecewanya. Bukan tak mau menemui keluarganya, namun Agnia sudah kadung membayangkan tempat lain untuk dikunjungi.
Duduk-duduk di taman, berjalan-jalan di bibir pantai, atau seharian mengunjungi Cafe dan rumah makan berbeda, jujur saja itu yang terlintas di pikiran Agnia saat Akmal mengatakan jika ini tempat yang pasti disukainya.
Akmal terkekeh, keduanya hampir tiba ditujuan. Tangannya terulur menarik dagu Agnia supaya menghadap ke arahnya. "Hari ini sama keluarga dulu, lain kali kita jalan berdua. Ya?"
"Terserah." jawab Agnia datar, tak mau menunjukan jika dirinya memang menginginkan itu, namun justru kekecewaannya makin terlihat jelas.
__ADS_1
Akbar tersenyum gemas, suka sekali dengan tingkah gengsi Agnia saat ini. "Senyum dulu dong.. kita udah ditunggu." bujuknya, yang langsung ditanggapi decakan oleh Agnia. "Udah ah! Fokus aja nyetir.." titah Agnia, tak suka digoda begitu.
Sekali lagi Akmal terkekeh pelan oleh tingkah Agnia, untuk selanjutnya menurut dan kembali fokus pada jalanan. "Siap, istriku sayang."
Dan tak ada yang membuat Agnia harus bersedih atau menyesal, Agnia segera tau kemana mereka akan pergi setibanya di rumah sang ayah. Dua mobil berjajar siap pergi, Yesa dengan tampilan rapih juga tampak siap pergi.
Penampakan itu membuat Agnia tak langsung turun dari mobil, menoleh Akmal terlebih dulu dengan senyuman sumringah. Akmal melihat itu hanya mengangguk, tanpa berbincang sudah paham arti tatapan masing-masing.
Agnia menggenggam hangat tangan Akmal, tak tampak sorot sebal yang tadi tercetak di wajahnya melainkan kini tatapan penuh penghargaan. "Makasih.. ini jauh lebih baik dari yang aku harapkan."
Senyum hangat dan teduh disungging Akmal, membalas genggaman hangat istrinya dengan usapan lembut di punggung tangannya. "Sama-sama. Tapi ini gak gratis, aku tunggu imbalannya."
Hari ini Yesa pulang, Akmal langsung setuju saat diajak mengantar ke Tasikmalaya. Sembari menemui nenek Agnia yang tak bisa hadir saat pernikahan sebab kondisi yang kurang stabil di masa tuanya.
"Udah sarapan?" tanya Khopipah, setelah menyambut salam dan pelukan hangat Agnia.
Sedangkan Akbar yang mendengar ribut dari kamarnya segera turun, pontang-panting meninggalkan game di komputernya. Ia juga sudah siap dan semangat sekali untuk pergi, perjalanan menuju rumah sang nenek jadi perjalanan paling ditunggu setiap tahunnya.
Senyum tengilnya tersungging kala melihat Agnia, kakak perempuan satu-satunya yang amat ia rindukan. Setelah diboyong ke rumah Akmal, Akbar jadi bosan sekali sebab tak ada sasaran kejahilannya. Untung saja ada Yesa yang dua hari ini jadi pengganti Agnia.
Tak tau dengan besok setelah saudara sepupunya itu kembali ke kampung halamannya, Akbar sepertinya resmi kesepian. Sebelum menghampiri Akmal, bujang tengil itu terlebih dulu menyolek pinggang Agnia. Membuat Agnia buru-buru waspada, dan mendelikkan mata.
"Zain!" seruan nyaring itu memutus delikan Agnia, diikuti larinya Zain ke arah mereka. Setelah dua hari tak bertemu keponakannya, Agnia jadi rindu dan spontan merentangkan kedua tangannya bersiap memberikan pelukan. Tak disangka.. saat Agnia sudah tersenyum lebar penuh antusias, ketika tangannya terbuka lebar menawarkan pelukan, Zain justru melewatinya dan malah berlari pada Akmal.
"Zain tau, kalo peluk Uncle barunya udah plus dapet Auntynya." kata Puspa, masih diselingi tawa. Lucu saja melihat ekspresi gemas adik iparnya pada Zain.
Fauzan dan Khopipah sudah masuk ke mobil Hafidz bersama Puspa. Di mobil lainnya Yesa juga kedua orang tuanya juga sudah siap berangkat.
Sedangkan Hafidz menghela, melihat Zain tak mau lepas dari Akmal. Bingung harus dengan cara apa lagi ia membujuk anaknya. Wajahnya tampak datar seperti biasa, namun kini ditambah tak suka. Meski sudah menikahi adiknya, namun Hafidz tak bisa membohongi diri jika dirinya masih tak suka dengan pria itu.
"Zain.. ayo! Gak mau sama ayah?"
Zain menoleh lama, lantas menggeleng. Sudah ke tiga kalinya ia ditanya begitu, dan jawabannya tetap tak berubah.
"Mending naik mobil ayah.. ada ibu, kakek, nenek. Ya?" tanya Hafidz lagi. Yang tentu saja dibalas gelengan yang tampak lebih yakin dari sebelumnya, ia sibuk memainkan rubik di pangkuan Akmal. Rubik yang setiap saat berada di dahboard mobil Akmal.
"Gak papa, Mas.. biar di mobil ini aja. Sama aku." ucap Agnia pada akhirnya, berbicara dari jok sebelah sang suami.
Hafidz menghela lagi, tak yakin. Toh sejak tadi saja Agnia juga tak berhasil membujuk Zain. Namun demi klakson yang ditekan Puspa, tanda harus bergegas. Ia memilih setuju saja. "Yaudah, Zain duduknya pindah sama Aunty.. Unclenya kan mau nyetir. Ya?"
Beres satu masalah, namun mereka bisa berangkat sebab Akbar masih di dalam rumah. Baru setelah mematikan komputer di kamarnya, ia bergegas keluar. "Mbak, aku pergi ya.. jaga rumah." ucap Akbar, pamit pada tetangga yang diberi amanat menjaga rumah luas itu.
__ADS_1
"Cepet!" Hafidz meloloskan kepalanya, memberi tatapan sebal pada adik bungsunya.
Akbar yang semula hendak bergabung ke mobil Hafidz langsung tak berselera, sudah mencium bau-bau keributan jika mereka berada dalam satu mobil. Akhirnya mendekat ke mobil Akmal. "Boleh numpang gak?" tanyanya, tak sembarang masuk begitu saja. "Di mobil itu serem soalnya." tandasnya sembari mendelik tak suka pada Hafidz.
"Kenapa nanya dulu? Masuk aja!" jawab Akmal tak keberatan.
"Yes.." Akbar segera menarik pintu mobil, sembari untuk terakhir kali mendelikkan matanya pada Hafidz yang setia memantau dari mobilnya. Hanya saja sebelum Akbar bisa masuk ke mobil milik Akmal, sebuah tangan lebih dulu menjangkau telinganya. "Aw.. aw.. aw.."
Yesa sejak awal memperhatikan tingkah Akbar yang bodoh dan tak pengertian itu, sembari menghela heran. Segera turun dari mobilnya, menarik telinga Akbar dan menggusur pemuda itu supaya ikut dengannya.
Bisa-bisanya Akbar ingin masuk dan mengganggu momentum berharga pengantin baru, Yesa dibuat tak habis pikir. Padahal Zain saja cukup untuk jadi orang ketiga.
Semua memberi waktu, memberi kesempatan, supaya Agnia dan Akmal bisa melakukan perjalanan bersama. Hanya berdua, dengan Zain di tengah-tengah mereka.
Agnia dibuat gemas, hampir saja Zain tak bisa diambil dari pangkuan Akmal. Nempel sekali memang, tak tau magnet apa yang dimiliki suaminya ini. "Pelet kamu manjur, ya.." kata Agnia sembari tersenyum, setelah mereka setengah perjalanan dan Zain tidur di pangkuannya.
Akmal tersenyum bangga. "Iyalah, kalo gak manjur ya gak dapet istri. Istriku kan istimewa, memang susah ditaklukkan."
"Terus kenapa gak cari yang gampang aja, kalo memang sulit ditaklukkan? Hemh?"
"Boleh emangnya?" tanya Akmal, memasang ekspresi serius.
"Ih!"
Akmal tersenyum, menoleh sekilas. "Enggak lah, mending yang ini. Lebih menantang. Lebih cantik, terus lebih sayang."
Agnia mencebik. "Bener, ya? Jangan nyesel nikahin Mbak-mbak.."
"Nyesel aku.." jawab Akmal cepat. "Nyesel kenapa gak dari dulu."
"Dari dulu? Waktu kamu SMA, maksudnya?"
"Iya. Kalo bisa."
"Dasar aneh! Orang lain mah gak mau cepet nikah, kamu ngebet.."
Akmal mengendikkan bahunya pelan, nyengir. "Kalo udah ketemu sama yang cocok, sama yang sayang, sama yang cantik, ya kenapa ditunda?" ujarnya. "Lagi pula aku tersiksa waktu Mbak deket banget sama Kak Gian. Dengan menikah, perasaan itu hilang." Akmal menoleh. "Ya kan? Hari ini aku bisa dengan percaya diri bilang kalo hati Mbak cuma buat aku."
Agnia mencebik lagi, itu jadi kebiasannya untuk menghindari tersipu. "Udah! Liatnya kedepan.. inget lagi nyetir, hati-hati ah!." titahnya dengan nada ketus, sebagai pengalihan.
Akmal kembali menatap lurus ke arah jalan, dengan senyum yang tak hilang. "Iyalah.. aku inget, Mbak. Pasti hati-hati, takut ada apa-apa.. soalnya belum dapet ciuman pertama."
__ADS_1
"Hey!!" Agnia mendelik kaget, tak menyangka Akmal mengatakan hal semacam itu saat di mobil mereka ada Zain. Meski Zain terlelap dan bahkan meski mendengar tak kan paham, baginya itu mengejutkan. Spontan menutup telinga Zain, meski sebenarnya keponakannya itu terlelap pulas sekali.