
"Mbak.." Ripda berseru semangat, melambaikan tangannya dari tempatnya berdiri saat melihat Agnia. Ia yang juga baru tiba beberapa detik lebih dulu, kini berdiri menunggu tepat di depan gerbang hingga yang ditunggunya turun dari motor dan mendekat.
Senyum Agnia tersungging, senyuman yang rasanya agak lain dari biasanya. Setidaknya itu berdasarkan sudut pandang Ripda saat ini.
Sedikit terheran, Ripda pada akhirnya menemukan sesuatu yang menjawab keheranannya. Ya, cincin di jari manis Agnia membuatnya gagal fokus, segera mengira jika itulah yang jadi sebab senyuman Agnia tampak berbeda.
Agnia sudah tau, perubahan kecil pada dirinya tentu akan mengundang perhatian khusus beberapa orang. Lihatlah Ripda yang melongo dan seakan siap menyerangnya dengan pertanyaan.
Hingga Agnia tak lagi terkejut saat Ripda meraih tangan kirinya dengan tiba-tiba, malah tersenyum melihat gadis petakilan di depannya menilik benda berkilau yang ada di jarinya.
"Mbak tunangan sama Akmal?" tebak Ripda, yang langsung membuat Agnia membulatkan matanya. Memberi peringatan. Agnia meringis dalam hati, mau heran tapi itu memang Ripda. Gadis ini jika sedang antusias memang tak pernah bisa mengontrol volume bicaranya.
"Maaf, Mbak.." Ripda tersenyum, sadar tatapan penuh peringatan dari Agnia. Untuk sesaat menyipitkan matanya, minta dimaklumi. "Jadi bener?" tanyanya dengan nada volume yang lebih normal. Ingin memastikan, yak sah jika tak bertanya dan mendapat jawaban langsung dari mulut Agnia.
"Emh.." Agnia mengulum senyumnya sesaat, meski hatinya memberi tahu untuk tak salah tingkah. Tapi sikapnya spontan demikian, apa lagi setelah melihat Ripda yang kentara sekali menanti jawabannya. "Ya.. katakan saja begitu."
"Ya Allah.. selamat.." pekik Ripda sembari melepas tangannya dari tangan Agnia. diluar ekspektasi, Ripda sangat senang. Mengabaikan wajah Agnia yang malu-malu setelah menjawab begitu. "Aku bakal cepet kondangan dong.."
Agnia menghela napas pelan, mengakhiri salah tingkahnya. Kembali pada mode kedewasaannya. "Doain aja.."
"Pasti dong, Mbak.." Ripda menjawab cepat, masih tersenyum ikut senang. "Cantik lho cincinnya." ucapnya lagi, memuji. Membuat Agnia kembali menyungging senyum. Entah kenapa ucapan Ripda selalu terdengar jujur dan tulus di telinga Agnia.
"Aku juga mau cincin kayak gitu kalo nikah." Ripda kembali bergumam, tersenyum malu-malu. "Soalnya aku udah cari-cari referensi model cincin nikah dari sekarang, meskipun calonnya belum ada." tawa renyah keluar dari mulut Ripda, menertawakan dirinya sendiri. Jika orang lain mencari calon baru cari cincin nikah, ia cari cincin dulu dan terserah nanti soal calonnya. Yang paling lucu ia sama sekali tak punya pria incaran, benar-benar hanya punya cincin incaran.
Agnia terkekeh, menggeleng takjub. di matanya Ripda itu polos namun bijaksana di saat yang bersamaan, memang gadis satu dari seribu. Langkah mereka spontan maju berbarengan seiring candaan yang diucapkan Ripda hingga mereka tiba di lingkungan PAUD.
Saat mereka akan pergi ke tujuan kelas masing-masing, Agnia justru mematung sementara Ripda sudah dua langkah pergi. Ada beberapa hal yang masih mengganggu pikirannya dan ia rasa Ripda orang yang tepat untuk diajak bicara.
"Ripda.."
Panggilan Agnia membuat Ripda kembali menoleh, menatap Agnia dengan alis yang sengaja ia angkat. "Ya? Ada apa, Mbak cantik?"
...
Ripda tak keberatan, kini justru duduk di kelas tempat Agnia mengajar. Mengambil salah satu kursi milik anak-anak seperti biasa, sembari tangannya sibuk memainkan selembar kertas kosong di hadapannya.
"Bagaimana pendapat kamu tentang hubungan Mbak sama Akmal?" tanya Agnia langsung, tak mau menunda sebelum para murid datang dan jam pelajaran dimulai.
Ripda menghentikan gerakan tangannya, kini menatap Agnia penuh atensi. "Pendapat? Memangnya pendapat ku penting?"
"Ya, Mbak mau dengar pendapat kamu. maksudnya karena umur.."
"Umur apaan si, Mbak.." potong Ripda segera, mendelik tipis saat Agnia berucap demikian. "Kalo jodoh ya gimana lagi."
Agnia mengangguk, jelas jawaban Ripda sama sekali tak membantu baginya.
"Mbak kayaknya terlalu mikirin apa kata orang.." ujar Ripda. "Padahal itu cuma ketakutan Mbak sendiri. Memangnya kenapa kalo nikah sama yang lebih muda? Kedewasaan gak diukur dari umur, kok."
Agnia sesaat takjub, ia yang semula menganggap Ripda tak paham arah pembicaraannya dibuat bungkam. Bahkan gadis itu lebih dalam menilai kekhawatiran pada dirinya.
"Kamu gak berpikiran kayak gitu?" Agnia sekali lagi bertanya, ingin memastikan. Mendengar setiap ucapan Ripda membuatnya semakin penasaran, tentang seberapa dalam pemikiran gadis yang pecicilan luarnya itu.
"Aku gak suka menghakimi, Mbak. Nikah itu, lebih rumit dari matematika. lebih melelahkan dibanding ngajar anak PAUD. Jadi kalo soal pernikahan aku gak suka komen, soalnya aku gak suka dikomen." papar Ripda, diakhiri cengiran lebar. "Lagi pula gak ada yang menjamin.. mereka yang menikah sama yang lebih dewasa umurnya juga gak semuanya happy."
Ripda nyengir, memiringkan kepalanya berlagak hendak berbisik. Tangannya ia miringkan di sudut bibirnya. "Mereka cuma pura-pura bahagia." tandasnya setengah berbisik.
Entah kenapa Agnia jadi khawatir mendengar jawaban juga melihat seringai Ripda. Seseorang yang bijaksana justru lahir dari masa sulit. Itu yang Agnia lihat saat ini, seakan senyum yang senantiasa tampil di wajah Ripda tersibak dan menunjukkan pengalaman pahit disana.
.
.
.
.
Saatnya pulang, Raina sudah bergelayut di tangan ibunya sembari menunggu jemputan. Sementara Alisya tampak tak tenang, menoleh Agnia berkali-kali. Berharap mantan sahabatnya itu tak lebih dulu pulang darinya, sebab ia punya sesuatu untuk dikatakan.
__ADS_1
Adi baru saja tiba, menurunkan kaca mobilnya dan menunjukkan wajahnya yang menyungging senyum memperhatikan anak istrinya. Sesaat menunggu, namun baik Alisya atau pun Raina tak kunjung menoleh. Hendak menekan klakson namun keadaan sekitar yang ramai tak mendukung, ia akan dianggap tak sopan.
Pria satu anak itu akhirnya memilih turun, sesudah menaikkan kembali kaca mobilnya tentu saja. Kedatangannya kali ini dilihat Raina.
"Mah.."
Alisya menoleh Raina sekilas, lantas beralih pada arah yang ditunjuk putrinya itu. "Oh!"
"Kenapa?" Adi bertanya sembari alisnya bertaut sempurna, sedikit heran dengan fokus istrinya yang tak tau dicuri siapa. Pun ia jadi lebih khawatir beberapa hari ini, sebab istrinya berubah lebih pendiam. "Ayo pulang sekarang."
Alisya menoleh ke dalam gerbang, masih memperhatikan keadaan di dalam sana. Sekilas, tak lama kembali menatap suaminya. "Emh, Mas. Aku mau ngobrol sama Agnia dulu, boleh?"
Adi menghela pelan, Agnia lagi ternyata. "Gak usah, ya.. kita pulang aja. Aku juga mau cepet balik ke kantor."
"Please.." Alisya memohon sembari tangannya terulur menggenggam tangan Adi, menatap penuh permohonan.
Tak bisa bersikeras melarang, Adi akhirnya menghela. "Yaudah, tapi sebentar ya.. aku tunggu di mobil." ucapnya kemudian tanpa mengungkit soal peristiwa yang sudah-sudah, untuk kali ini ia memberi kepercayaan pada Alisya untuk jadi bijaksana.
Alisya mengangguk, menatap senang bak meyakinkan jika ia tak kan mengulang kesalahannya yang lalu. Sementara Adi membalas genggaman tangan Alisya sesaat untuk kemudian beralih meraih tangan Raina dan berjalan ke arah mobil.
...
Agnia baru saja keluar dan berjalan bersebelahan dengan Widia sembari berbincang, langkah dua orang itu spontan berhenti kala mendapati Alisya berdiri menghadang mereka.
Alisya mengangguk sopan pada Widia, lantas beralih menatap Agnia dengan tatapan lembut. Kontras dengan tatapan Alisya pada Agnia di acara pembukaan butik Indri tempo hari. "Boleh bicara sebentar?" tanyanya.
Untuk sesaat Agnia tak merasa perlu bicara dengan Alisya, sebab perempuan itu hanya akan membangkitkan kesedihan di hatinya. Namun demi melihat Alisya yang tampak punya banyak hal untuk diucapkan, membuat Agnia ragu untuk menolak. Akhirnya hanya bisa menghela, menoleh Widia. "Bu.."
"Iya, gak papa. Ibu duluan ya.." potong Widia, segera paham tanpa perlu diterangkan Agnia. Meski menyayangkan sebab Agnia memilih berbicara dengan Alisya, ia tak bisa apa-apa selain pergi.
Suasana canggung segera tercipta seperginya Widia, Agnia menatap Alisya yang entah kenapa tampak hilang semangatnya. Mulai mengira jika yang kali ini akan Alisya katakan bukan sindiran seperti sebelumnya, mungkin reaksi dari aksi marahnya itu. Ya, minta maaf.
"Katakan.."
Alisya tak menyahut, ia sejak tadi menimbang sembari menundukkan mata ke bawah kakinya. Agnia memperhatikan itu, dan saat Alisya mengikis jarak dan tiba-tiba saja memeluknya. Untuk sesaat Agnia mematung, satu yang terlintas di kepalanya.
Bayangan bahagia antara mereka sekilas terulang di pikiran Agnia, pelukan itu seakan menyentuh sudut hati Agnia yang mati kehilangan sebagian kehangatan.
Namun bayangan dirinya yang tersenyum getir dengan berurai air mata di rumahnya yang kacau setelah hiasan pernikahan di rumahnya dilepas paksa, kembali mengalahkan bayangan indah itu. Ia untuk sesaat memejamkan mata, mencoba menghancurkan dua kenangan buruk itu. Kakinya spontan melangkah mundur.
Tidak, ia tidak bisa jatuh pada kehangatan Alisya. Agnia harus sadar jika salah satu orang yang membuat ia begini bahkan orang tuanya bersedih saat itu adalah Alisya, seseorang yang berdiri di hadapannya dengan tatapan sedih sekarang.
Agnia menghela, pandangannya ia alihkan dari bersitatap dengan Alisya. "Ada apa?"
Alisya sedikit kecewa, namun faktanya ia memang harus sadar diri. Yang dirasakan Agnia tak ia rasakan, sakit dan sulitnya tiga tahun ke belakang tak pernah ia lihat dan peduli. Kali ini ia harus mengubur egonya dan meminta maaf untuk itu.
"Aku, minta maaf." lirih Alisya, sembari matanya menoleh jari manis Agnia yang kini sudah dilingkari benda kecio berkilau itu.
Agnia menghela napas dalam, ia tak mau bersikap buruk tapi yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk menjauhi Alisya adalah dengan bersikap tak berbelas kasihan. "Gak perlu, minta maaf berkali-kali tidak akan merubah apapun."
"Aku salah, Agni. Dan yang bisa aku lakukan hanya minta maaf." Alisya tak menghiraukan ucapan Agnia, sebelum Agnia benar-benar mengabaikannya ia harus bisa menunjukkan ketulusannya.
"Dan saya bilang itu gak perlu." jawab tegas Agnia. "Saya sudah melupakan semuanya, saya akui itu sebagai kekeliruan saya. Maka jangan terus merasa bersalah! Hiduplah dengan bahagia, jangan menyedihkan seperti ini."
Ada ketenangan yang Alisya rasa setelah mendengar ucapan Agnia, ia tau Agnia dengan ketulusannya memang tak pernah mengharapkan kesedihan baginya. Mengingat itu, mata Alisyaulai menghangat. Bulir bening mulai muncul di pelupuk mata sana.
Agnia menghela gusar, kali ini apa lagi? Apa yang membuat Alisya menangis? Bahkan dirinya tak mau menangkan meski merasa kasihan.
"Sekarang apa lagi? Jangan membuat orang salah paham dengan tangisanmu, Alisya!"
Alisya malu sekali, kenapa setelah hari ini ketulusan Agnia baru bisa ia lihat. Padahal saat memintanya menjauh itu bukan semata demi kebaikan Agnia, namun kebaikan baginya. Alisya kemvali tersentuh, apa lagi saat mendengar Agnia menyebut namanya setelah sekian lama.
Dalam isakan itu, Agnia setia menunggu. Kini merasa kembali melihat sosok Alisya yang ia kenal dulu. Namun faktanya.. meski ia tak menafikan jika memiliki sedikit merindukan Alisya, dilain sisi Agnia sadar jika semuanya sudah tak sama dan tak kan jadi sama.
Alisya sendiri yang memilih begitu, pengkhianatannya membuahkan persatuan dengan Adi namun perpisahan dengan Agnia.
Jika saja Adi memutuskannya terlebih dulu sebelum mendekati Alisya, maka semua tak kan seperti ini. Agnia yakin itu.
__ADS_1
"Dengar.. jangan membuat saya merasa bodoh dan menyedihkan dengan mengungkit masa lalu." lirih Agnia. "Saya tidak memandang kamu buruk, semua punya pilihan dan alasan yang berbeda. Tapi.. setelah ini berakhir, maka ini berakhir."
.
.
.
.
Tak tau jika akan semenyedihkan itu, obrolannya bersama Alisya memang benar-benar membangkitkan kesedihan di hatinya. Agnia datang ke kamarnya dan segera mengunci pintu kamarnya, terduduk tepat di depan pintu sembari memeluk kaki.
Agnia mengusap wajahnya frustasi, wajahnya ia tenggelamkan di antara kedua kakinya itu. Untuk sesaat ia hanya ingin meyakinkan dirinya jika semua telah berlalu, dan ini gilirannya melihat masa depan.
Tok..tok..tok..
"Mbak? Kok kamarnya dikunci?" Suara nyaring Yesa masuk ke telinga Agnia dengan jelas. Agnia langsung mendongakkan kepalanya, berjalan menjauh dari pintu.
"Sebentar, Yesa.. Mbak mau ganti baju dulu." dalihnya seraya berjalan ke arah kamar mandi, membawa handuk kecil di tangannya.
...
Setelah beberapa saat menunggu dengan bosan, pintu kamar Agnia akhirnya terbuka. Yesa masuk dengan bibir maju, lama sekali baginya. Padahal bisa saja ia dibiarkan masuk tadi, tapi kakak sepupunya itu sepertinya sengaja.
"Katanya tadi kamu mau ikut ke ke rumah Mas Hafidz? Kenapa gak jadi?" tanya Agnia sembari beranjak menuju meja rias, abai dengan manyunnya Yesa.
Ditanya begitu entah kenapa Yesa langsung lupa keluhannya, justru tersenyum lebar. Ingat hal itulah yang memang ia ingin diskusikan dengan kakak sepupunya ini. "He.. Aku nunggu Mbak, Kan. Mau ditemenin kesananya."
"Boleh. Tapi kalo sekarang gak bisa, paling nanti sore.. Mbak ngajar dulu soalnya."
Yesa mengendikkan bahunya, tak keberatan. "Okay, Mbak ngajar dulu aja. Aku nunggu sambil.. toktokan.."
"Isu! Dari pada nunggu, mending ikut Mbak ngajar aja.. Gimana?"
"Mau.. " Yesa segera menjawab, matanya jadi berbinar. Hal itu memantik tawa Agnia, gen memang beda. Yesa sepertinya, selalu siap dan semangat jika diajak bercengkrama dengan anak-anak
.
.
.
.
"Emh.. gue ngasih hadiah apa, ya.. kalo Akmal nikah."
Akbar spontan menoleh saat tak ada angin tak ada hujan Fiki membahas itu, tak bisa diam. Pikirannya segera mencari topik obrolan baru saat dibiarkan diam.
Ardi menghela, menatap Fiki heran. "Yang jadi pertanyaan adalah.. kenapa ente kayaknya paling semangat sama pernikahan Akmal sama Mbak Agni.."
"Iya, lagian heboh banget! Gue aja santay.." timpal Akbar.
"Ah! Kalian gak ngerti, dalam pernikahan ini gue salah satu sad boy nya."
Akbar mencebik, menatap jijik Fiki. Tangannya terulur mengambil buku di dekatnya, sedetik kemudian memukulkan buku itu pada kepala Fiki. "Gila kali, Lo! Dasar.. pantesan lo paling kaget waktu tau Mbak Agni dilamar."
Fiki tak membalas pukulan Akbar, justru tersenyum. "Ya, begitulah.."
Ardi mesem mendengar pengakuan Fiki, hal itu disadari Akbar. "Lo lagi, kenapa?"
Fiki menghela. "Dia.. juga sama. Kita sesama sad boy dalam pernikahan Mbak Agni nanti."
Akbar mendengus, menoleh dua temannya bergantian. Bahkan Ardi tak bergeming saat dikatakan begitu. "Heran, dari sekian banyak cewek kenapa temen-temen gue suka sama kakak gue."
"Dan lo? Dari sekian banyak cewek kenapa lo suka sama Asma? Dasar gak sadar diri!" sindir Fiki, tangannya kini meraih buku yang sebelumnya dipakai memukulnya. Kini giliran ia yang memukul kepala Akbar lebih keras, bahkan sempat berdiri demi mengerahkan tenaganya.
...
__ADS_1