
"Nak Akmal berencana menikah muda?" pertanyaan itu keluar dari mulut Basit, sesaat setelah Akmal menutup kegiatan mengaji mereka. Sejak lama ingin bertanya namun baru saat ini bisa tanpa beban membuka mulutnya.
"Emh.." Akmal mengulum bibirnya sejenak. "Sedang saya pikirkan, Pak." jawabnya kemudian, bingung bagaimana mengatakan jika ia bukan lagi berencana menikah muda namun sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan berkas administrasi pernikahannya sudah diserahkan ke KUA. Akmal tersenyum tipis, masih belum bangkit dari duduknya sebab Basit kini tampak sengaja memperpanjang obrolan dengannya.
Senyum Basit muncul mendengar jawaban Akmal, sejujurnya ada keinginan di hatinya yang entah lancang atau tidak jika ia sampaikan pada pemuda yang jadi guru mengajinya ini. "Sudah ada calon?"
"Ya?" Akmal spontan mengangkat sebelah alisnya, ditanya begitu cukup untuk membuat Akmal tak nyaman. Bukankah itu terlalu jauh?
"Kemarin Nak Akmal sudah bertemu dengan anak bapak, kan?"
"Iya?" Akmal mengangguk samar, gadis tempo hari itu. Tentu saja.
"Lalu bagaimana Giska menurut Nak Akmal?" tanya Basit, tatapannya menyiratkan harapan besar. Akmal menangkap sorot itu, paham arah pembicaraan ini. Untuk sesaat Akmal dibuat bingung untuk menjelaskan.
Ia tak suka mengekspos hubungan pribadinya pada orang lain, dan bagi Akmal.. Basit hanya orang lain. Haruskah ia jelaskan?
Akmal menghela pelan sebelum kemudian menjawab. "Sebenarnya, Pak. Saya.. sudah punya calon. Begitu." jawabnya, penuh harap semoga Basit tak lebih jauh menanyainya.
Basit langsung mengangguk, rasa kecewa yang memenuhi hatinya sebisa mungkin ia redam di hadapan pemuda luar biasa ini. Kecewa sebab kesempatan emasnya untuk punya mantu idaman gagal total. Hanya saja ada sedikit keraguan, sama sekali menyangka jika Akmal diusianya saat ini sudah memiliki calon. "Ini jujurkah, atau Nak Akmal sengaja berkata begitu supaya bapak tidak tersinggung?"
Akmal tersenyum, menggeleng. "Saya tidak berbohong, atau mencoba menutup mulut Bapak. Ini memang sungguhan. Tapi dari reaksi Bapak, sepertinya wajah saya memang tidak begitu meyakinkan untuk itu.."
...
Akmal baru kembali ke kamarnya, Basit yang sempat membuatnya melongo dengan pertanyaan tadi pun akhirnya pulang. Mobilnya belum lama meninggalkan kediaman Sidiq.
Helaan lega keluar dari mulut Akmal, hari ini ia sudah ke kampus, ke toko, pergi ke KUA, bahkan pergi menjemput Bude Maryam yang akan menginap dua hari ini.
Suasana jadi lebih ramai sebab ada Bude Maryam, yang katanya datang untuk bisa bertemu calon menantunya. Memang saat lamaran kemarin tak bisa banyak berbincang dengan Agnia, makanya saat pulang ke kotanya justru dilanda penasaran luar biasa.
Akmal mulai merebahkan tubuhnya, namun dering ponsel di atas nakas membuatnya kembali bangkit meski malas. Melihat nama yang tertera disana.
"Akbar?" Akmal sedikit terkejut dengan panggilan yang memang tak biasa itu. Ditambah lima panggilan tak terjawab yang berasal dari bocah itu, membuatnya jadi khawatir.
"Halo?"
"Gue di depan.."
"Di depan? Ngapain.."
"Cepet keluar! Bego apa gimana, si.."
"Ah! Iya.." Akmal segera bangkit, lupa saja jika barusan disebut bego. Ia terlalu bingung dan penasaran kenapa di jam saat ini Akbar datang.
...
"Ada apa?"
"Diem!" Akbar mengangkat tangannya, ia yang baru saja tiba dan kini bersandar di sisi ranjang Akmal masih ingin menikmati saat seperti ini.
Naik motor dari rumahnya menuju tempat ini, di malam yang penuh angin jelas menyebalkan. Hanya saja saran Agnia terus menggelayut di kepala Akbar, ia penasaran akan saran seperti apa yang bisa Akmal berikan. Hingga demi itu akhirnya memutuskan pergi sendiri setelah tak berhasil menelpon Akmal berkali-kali.
Akmal menghela, ia masih berdiri menatap heran calon adik iparnya itu. Sudah lelah, didatangi tamu macam Akbar lagi. Lengkap sekali Akmal rasa. "Gue bawain minum dulu." ucapnya untuk kemudian menghilang dari balik pintu.
Akbar mengedarkan pandangannya seperginya Akmal, takjub melihat isi kamar Akmal yang berbanding terbalik dengan kamarnya. Rapih sekali, malah lebih persis kamar perempuan baginya. Dari sana Akbar bisa menyimpulkan jika Agnia memang akan cocok dengan pemilik kamar ini.
Tak lama Akmal datang, membawa segelas air hangat serta beberapa toples kudapan. Meletakkan itu di depan Akbar.
"Makasih.." Akbar segera meraih segelas air di depannya, memang itu yang ia butuhkan. Kakinya ia tarik jadi bersila.
"Kenapa kesini?" tanya Akmal, duduk di kursinya menghadap Akbar.
__ADS_1
"Kenapa? Gue gak boleh kesini?" Akbar yang juga sedang sangat sensitif sedikit lupa jika dirinya lah yang sedang butuh bantuan, tak tau diri dengan bertanya dengan nada menyebalkan.
"Bukan gitu, tadi pagi lo nolak diajak masuk dan sekarang tiba-tiba datang.. menurut lo itu gak aneh?"
Akbar mengendikkan bahunya, lantas menatap Akmal. "Bukan masalah besar. Gue datang karena saran Mbak Agni."
"Mbak Agni? Tentang apa?"
"Tentang Asma."
"Hemh?" Akmal mengernyit.
"Ini agak berlebihan menurut gue, tapi.. Mbak Agni bilang gue harus tanya lo. Katanya lo paling bisa menaklukan hati wanita. Gimana menurut lo?"
Akmal tersenyum, Mbak Agni bilang begitu? Ia jadi tersanjung. Apa itu juga berarti ia yang sudah menaklukan hatinya? "Kalo Mbak Agni yang bilang begitu, berarti benar.."
Akbar mencebik melihat senyum di wajah Akmal, heran bagaimana kalimat seperti itu saja bisa membuatnya bahagia. "Dih! Seneng dia.."
Tentu saja, Akmal tak bisa menafikan. itu seperti asupan yang ia dapat setelah seharian ini mengalami hari yang padat. Keluh juga lelahnya hilang seketika. Dan lihatlah senyum yang lebih cerah dari sebelumnya itu.
"Gue ditolak bahkan sebelum menyatakan perasaan. jadi sekarang gue butuh saran, gimana supaya Asma gak suka lagi sama lo." ujar Akbar kemudian, terlihat tidak suka. Mendelik tipis pada Akmal yang sebenarnya tak punya salah apapun dalam hal itu.
Akmal menghela, Asma. Tentu saja hanya gadis itu yang dipikirkan Akbar. "Itu.. kayaknya susah."
"Maksud lo?"
"Mengatur hati seseorang itu diluar kendali kita, itu konsep yang pertama. Kedua, lo gak bisa melihat gue seakan gue yang salah dalam hal ini.."
"Ya makanya, Kenapa Asma bisa suka sama lo? Apa yang Lo punya sedang gue enggak?"
"Soal Asma gue gak tau.." Akmal mengendikkan bahunya. "Gue gak pernah berusaha menarik perhatian dia. Tapi kalo kakak lo, jujur aja gue berusaha keras untuk cari perhatian dia."
"Gue gak bisa kasih lo saran."
Ah! Tentu saja.. Akbar sudah tau itu, jawaban seperti ini yang akan ia dapat. Beberapa saat Akbar menatap sebal pada Akmal, untuk kemudian mengendus pelan. "Asal lo tau, kalo bukan karena Mbak Agni, gue gak akan mau jauh-jauh datang ke sini.."
"Tuh, kan.. Lo nyalahin gue. Padahal satu-satunya yang harus lo tanya itu Asma, bukan gue."
Akbar menoleh malas, mengendikkan bahunya pelan. Dari pada mendengar ucapan Akmal ia lebih memilih menyantap kudapan di hadapannya.
"Tapi jangan pernah lakuin itu, atau lo akan terlihat menyedihkan di mata dia."
"Terus?"
Akmal menghela, mulai berpikir. "Gue gak pernah ngajak Asma bicara, gak pernah menatap mata dia kalo dia bicara, gak pernah merespon permintaan tolong dia.. jadi bisa disimpulkan bukan keramahan gue yang dia suka."
"Jadi menurut lo, Asma suka Akmal karena Akmal itu pinter? Ganteng? Gitu." ledek Akbar, tak sabaran.
"Gue gak bilang gitu."
"Terus?"
"Lakukan yang biasa gue lakukan. Abaikan dia untuk mendapatkan hatinya. Itu yang juga gue lakukan sama Kakak lo."
Akbar mendesah pelan, mana bisa dia begitu. Saat dirinya kesal pun hanya Asma yang tak bisa ia jadikan pelampiasan, sekarang ia disuruh mengabaikan Asma?
"Yakin?"
"Coba aja. Kita rubah peran.. Lo abaikan dia, gue sebaliknya."
"Gila! Kalo dia justru makin suka sama lo?"
__ADS_1
Akmal mengendikkan bahunya. "Gue jamin itu gak akan terjadi."
.
.
.
.
Agnia resah sekali, duduk tak tenang di sofa. Akbar tak kunjung pulang setelah izin pergi ke rumah Akmal, padahal sudah larut sekali. Mau menghubungi Akmal namun rasanya gengsi.
Entah benar-benar pergi ke rumah Akmal atau tidak, bocah itu sungguh tak bisa dihubungi. Jika orang tua mereka tau tentu besok akan menjadi hari yang sulit bagi Akbar.
Beruntung, saat itu juga panggilan dari Akmal memberi Agnia rasa lega. Ia segera menjawab panggilan itu sembari matamya celingukan, takut dilihat ayah dan ibunya. Segera berlari menuju kamar.
"Halo, Mbak.."
"Iya, Halo.. Akbar lagi sama kamu?"
"Iya, Mbak. Ketiduran dia."
Agnia menghela. "Syukurlah.."
"Mbak belum tidur?"
"Belum, kamu sendiri?"
"Tadinya aku berencana tidur cepat, banyak yang aku lakuin tapi.. setelah Akbar datang dan bilang kalo Mbak yang ngasih saran dia untuk kesini, kantukku jadi hilang."
"Maaf.."
"Kenapa minta maaf? Aku senang. Mbak bilang kalo aku pandai menaklukan hati wanita, kan? Aku tersanjung."
Mampus! Agnia kini menggigit bibirnya, ia memang mengatakan itu pada Akbar. Namun tak berharap itu disampaikan pada Akmal, tamat sudah.. setelah ini ia akan malu sekali bertemu pria itu.
"Mbak?"
"Iya?"
"Kenapa diam? Aku suka Mbak bilang seperti itu. Itu, terdengar manis."
Letupan kecil menjalar di hati Agnia, mendengar suara Akmal yang merdu di telinganya membuat apapun yang di ucapkan pemuda itu mampu menghadirkan gejolak di dadanya. Agnia mengulas senyum tipis.
"Yasudah, Mbak cepat tidur.. jangan khawatir tentang adik ipar ku."
"Hemh.. makasih." hanya itu yang bisa keluar dari mulut Agnia, bagaimanpun.. memperpanjang obrolan hanya akan membawa mereka pada perbincangan tak penting yang bisa saja membawa mereka pada perzinahan secara tidak langsung.
Terdengar helaan dalam dari seberang sana, Agnia mendengar dengan sabar. "Aku harap, kita bisa segera mengucapkan selamat tidur secara langsung. Bisa bercerita banyak hal, tanpa terhalang jarak."
Agnia menyungging senyum, lantas mengangguk meski tak kan terlihat Akmal. "Ya, semoga.." lirihnya, menutup obrolan itu.
...
"Ya, semoga.."
Akmal memejamkan matanya sembari berpegangan pada pagar balkon kamarnya, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia senang, dan itu tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Balasan Agnia jadi pelebur lelahnya. Jawaban itu jadi pertanda, jika tak hanya dirinya namun Agnia pun menginginkan penyatuan itu.
Terucap harapan di hatinya, semoga perasaan bahagia seperti ini tak pergi bahkan hingga nanti mereka menikah dan bertahun-tahun kemudian menua bersama.
__ADS_1