
Agnia menarik napas panjang selangkah sebelum kakinya menginjak teras rumah, menyudahi rutukan bodoh pada dirinya. Banyak yang terjadi di hari yang baru terjajaki setengahnya ini, dari pada memikirkan hal sederhana yang sudah berlalu lebih baik memikirkan hal lain yang lebih penting.
Kenapa juga ia segitu gengsinya pada Akmal? Padahal jika mereka menikah interaksi yang terjadi akan lebih dari itu. Agnia mengendus pelan, lihatlah ia yang sudah terjebak pada pesona Akmal namun gengsi sekali mengakui.
Saat Agnia sibuk mendikte dirinya sendiri, Akbar muncul dari balik pintu dengan tiba-tiba. Sorotnya yang semula datar berubah tengil dengan terciptanya cengiran lebar kala mendapati kakak perempuannya menepuk bahunya sendiri, tanda menenangkan diri.
Agnia buru-buru menormalkan ekspresinya, kini berdiri tegap dengan tangan terlipat di depan dada. "Apa?" tanyanya datar.
Wajah yang ditunjukkan Agnia tak berhasil membuat Akbar menghentikan tatapan isengnya, justru bertambah lebar senyum di wajahnya. "Sepertinya ada banyak kemajuan.." sindirnya sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Apa?" Agnia mengulang tanggapan yang sama, berlagak tak paham arah pembicaraan Akbar.
"Mbak habis jalan-jalan sama Akmal, kan?"
"Ya." jawab Agnia cepat, sudah jelas mana bisa berbohong. Pun itu hal sederhana ia rasa, dari pada men-tidakkan lalu nantinya sama saja menyerahkan diri sebagai sasaran empuk Akbar yang pasti tak kan membiarkannya tenang. Asal tau saja, Akbar ahli dalam membuat jengkel.
"Cie.." Mata Akbar berubah cerah sesaat mendengar itu, entah kenapa tampak bersemangat. "Berarti gak lama lagi nih.." ledeknya dengan menaik turunkan alisnya. "Otw pelaminan."
Agnia menaikkan bahunya. "Dan yang salah dari itu?"
"Uw.." Akbar tak kehabisan langkah untuk menggoda, matanya sigap menyadari perubahan pada diri Agnia. "Udah beda aja nih reaksinya.. biasanya marah, tapi sekarang.."
"Ter.. se.. rah." Agnia cepat memotong, merotasikan matanya malas. Benar ternyata, Akbar hanya mengatakan omong kosong. Jika tak dihentikan segera anak itu justru akan menggila. "Heh! Mau saran?" tanya Agnia tanpa menunggu jawaban dari adiknya. "Pikirkan urusan mu sendiri! Itu lebih baik." Tandasny, lantas melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
Akbar mencebik, matanya mengikut pada Agnia. Selang beberapa detik, langsung ingat hal lain hingga kakinya mengekor langkah Agnia menuju rumah. "Oiya, Mbak.. bentar.."
Agnia menghentikan langkahnya, mendengus sebal untuk kemudian berbalik dan menatap malas. Tak terbuai tatapan serius Akbar yang selalu menyembunyikan omong kosong di dalamnya. "Apa?" tanyanya malas, ini ketiga kalinya kata itu diucapkan hanya dalam jangka waktu yang singkat.
"Apa.. Adi beberapa hari ini pernah ganggu Mbak?" tanya Akbar, kali ini menghancurkan tatapan malas Agnia seketika. "Maksudnya.. apa dia pernah ngehubungi Mbak, atau.. tiba-tiba datang nemuin Mbak gitu."
"Adi?" Agnia mengernyit, tak ada angin tak ada hujan Akbar bertanya soal pria itu. Dari pada menjawab ia balas mengajukan pertanyaan. "Kenapa emangnya?"
"Enggak, siapa tau aja.. soalnya Fiki sama Ardi bilang mereka pernah ketemu Adi di pengajian. Terus dia nanyain Mbak sama Ayah." jelas Akbar.
"Oiya?"
"Iya, Fiki yang bilang. Gak tau malu kan?"
Untuk sekilas tatapan Adi padanya saat diacara tadi terlintas, tak lama tatapan itu. Namun berhasil membuat Agnia takut sendiri, entah apa yang ada di pikiran pria itu tentangnya.
"Ah! Biarin aja.. Paling basa-basi, gak usah dipikirin.." tutur Agnia setelah sesaat tampak berpikir, kakinya kembali melangkah setelah berucap demikian. Meninggalkan Akbar yang takjub.
Akbar sekali lagi terpesona dengan reaksi Agnia, sangat bijaksana pun tak menunjukkan reaksi tertentu. Kontras dengan dua bulan bahkan satu bulan ke belakang dimana Agnia akan marah jika membahas soal Adi ataupun Alisya. Bibir Akbar tersungging tinggi.
.
.
.
.
Gian merasa harus menemui Agnia, ada sesuatu yang membuatnya merasa harus melakukan satu hal lagi sebelum benar-benar melepas gadis itu. Pagi ini setelah menyuap selembar roti, Gian menenteng tasnya menuju mobil sembari matanya melirik sekilas jam tangan di lengan kirinya.
Ada rutinitas pagi yang berbeda dari biasanya, lebih ke selingan dalam waktu di jadwal padatnya. Ada yang lebih penting dari pekerjannya, yakni tentang hati tak bertuan miliknya.
Setelah mendapat panggilan dari Indri, salah satu adik kelasnya. Gian segera meminta sekertarisnya untuk mengosongkan jadwal di jam pagi, situasi mendesak yang jadi alibinya.
Yang diadukan Indri tak henti mengganggu pikirannya, mendengar Alisya yang tak sadar dengan perkataannya dan justru malah menyalahkan Agnia atas apa yang terjadi di hidupnya membangkitkan sisi lain Gian untuk bersikap.
Ada seuatu yang ia simpan sejak lama, sebuah alasan kenapa meski teramat menyukai Agnia ia tetap pergi dan menjaga jarak dengannya.
Pria itu sudah tiba di depan rumah Agnia, baru saja turun dari mobilnya. Agnia saat itu datang, keluar dari rumahnya dengan dandanan rapih pergi.
Agnia melongo di tempatnya berdiri, tak menyangka jika deru mobil yang ia dengar itu berasal dari mobil Gian. Ia langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan meja makan, mengira jika itu Akmal yang datang.
Senyum Gian menghancukan lamunan Agnia, gadis itu langsung mendekat. Meski sebenarnya sedikit canggung setelah pengakuan Gian tempo hari. Tapi satu hal di kepalanya..
Mau apa Gian kemari?
"Kak.."
__ADS_1
Gian melebarkan senyumnya, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku depan celananya. Untuk sesaat mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, Agnia menerka sedang Gian menikmati saat seperti ini.
.
.
.
.
Akmal dikagetkan dengan pesan singkat dari Akbar, ia yang tadinya damai menyantap menu sarapan dibuat ketar-ketir, ekspresinya spontan berubah.
"Ada apa?" tanya Sidiq, menyadari perubahan ekspresi anaknya. matanya membulat menunjukkan penasaran, bertanya sembari melahap menu sarapannya.
Akmal sekali lagi melirik layar ponselnya, untuk kemudian tersenyum pada kedua orang tuanya bergantian. Ponsel di tangannya ia letakkan kembali ke atas meja. "Bukan apa-apa, Yah.. cuman.. pesan dari Akbar." jawabnya jujur.
"Oh.." dua orang itu hanya mengangguk mendengar jawaban Akmal, sama sekali tak mau tau lebih jauh. Paling urusan receh, anak-anak biasanya begitu.
Padahal pesan sama sekali bukan hal receh, ini menyangkut perasaan dan masa depannya. Pesan Akbar menciptakan tanya juga rasa tak nyaman disaat bersamaan.
Mal, cowok itu dateng lagi.
Maksud gue Kak Gian.
Akmal menghela pelan, kenikmatan sarapannya terganggu. Sepagi ini? Bahkan dirinya saja tak segiat itu untuk datang dan menemui Agnia di jam sekarang, motif apa yang sekiranya pria itu punya? batin Akmal sibuk bertanya-tanya.
.
.
.
.
Khopipah menyambut hangat Gian, begitupun Fauzan yang baru sekali ini bertemu namun nyambung sekali dengan pemuda itu. Keduanya terlibat obrolan dalam mengenai bisnis juga perdagangan. Fauzan antusias menjelaskan bagaimana rasul SAW merupakan seorang pedagang yang jujur hingga Khadijah RA terpikat oleh kejujuran itu. Memang begitu, setiap hal dilihat Fauzan dari kaca mata islam.
Gian mengangguk sembari mendengarkan, mendengar kisah langsung dari Fauzan tentang rasul yang dulunya menggembala juga berdagang. Begitulah bagaimana berdagang termasuk Sunnah Rasul, jika di jaman ini maka berbisnis adalah cabangnya. prinsip jual beli dalam bentuk apapun tak bisa tidak dikaitkan dengan agama.
Yang justru heran adalah Akbar, tak tau kenapa dari yang ia lihat ayahnya senang sekali dengan Gian. Matanya berbinar setiap menjelaskan sesuatu, juga saat mendengar Gian berucap. Ya, sembari melahap sarapannya Akbar sibuk mendengarkan. Tidak, yang sebenarnya ia sibuk mengamati gerak-gerik Gian.
Berbeda dengan Akbar, Agnia resah akan hal lain. Pasalnya jika sudah bercerita begitu, ayahnya kadang lupa waktu. Mana bisa Gian berlama-lama membuang waktunya di sini? Padahal ia salah satu pria paling dicari kelemahanya, soal kerja tak pernah ada kata santai.
...
Gian bersungguh-sungguh saat mengatakan hendak mengantar Agnia ke sekolah tempatnya mengajar, bahkan sudah melangkah lebih dulu ke luar rumah.
Agnia tentu saja tak enak, sejak awal memang selalu begitu pada Gian. "Beneran gak papa, Kak?"
Gian menghela pelan, untuk kesekian kalinya ia mendengar pertanyaan yang hampir persis dari Agnia. Semua menunjukkan keraguan, kembali dan kembali memastikan.
"Menurut kamu aku kesini untuk apa? Hanya untuk sarapan? Tidak! Kakak mau menjamin kamu tiba dengan selamat ke sekolah."
"Tapi.."
"Apa?"
Agnia urung menjawab, sebab Gian menunjukkan tatapan datar. "Aku gak nerima penolakan, sekali ini aja dengar kakakmu ini bicara."
Kakak? Entah kenapa kata itu membuat dadanya berdesir, getir yang Gian rasa seakan menular padanya. Jika Gian sesuka itu padanya, maka pasti sulit untuk merelakan perasaannya.
Agnia sungguh tak mengerti, kenapa Gian bisa berbesar hati seperti itu? Dia bahkan kembali menemuinya setelah mengatakan betapa sedihnya ia.
Gian kembali tak mengerti, Agnia menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Apa yang salah dengannya? Dia tampak aneh? Agnia lebih canggung dari biasanya.
Beberapa tetangga yang biasanya tak terlihat kini menampakkan diri mereka, demi melihat mobil yang masuk ke pekarangan rumah Fauzan mereka saling tunjuk untuk mengintip ke depan rumah luas itu.
Mereka heboh sendiri, berita pengumuman rencana pernikahan Agnia sudah melesat bak bola panas yang bergulir. Menjadikan mereka tak mau kalah menebak siapa pria itu, berbekal informasi dari Nur.
Melihat yang sekarang datang, mereka berasumsi sendiri. Yakin, bukan pria itu. Dan yang lainnya menganggap itulah orangnya.
Namun yang tau pasti hal itu bersikeras dan menciptakan tanya sendiri, tentang.. kenapa Agnia bersama pria yang berbeda?
__ADS_1
Stigma yang muncul setelah Agnia gagal menikah tiga tahun silam masih melekat hingga sekarang. Hingga jika pria berbeda datang, mereka akan berpikir jika Agnia gagal dengan yang satu dan mencoba peruntungan dengan pria lainnya.
Agnia menghela, tatapannya beralih saat menangkap sosok para tetangganya itu. Mereka tersenyum ramah ke arahnya saat kedapatan mengintip, sudah terlanjur tertangkap basah jadinya memutuskan melangkah mendekat saja.
Agnia balas tersenyum. bukan hal aneh, semua tempat punya budaya emak-emak rempong masing-masing.
Gian menoleh ke arah sama, juga mendapati beberapa orang itu. Rasa penasaran membawa mereka sejauh itu, kini tersenyum pada Gian dengan mata tak lepas dari wajah tampannya.
"Mbak Agni, siapa ini.." tanya salah satu mereka yang langsung dibalas sikutan pelan oleh yang lainnya. Yang disikut mendelik, bagaimana lagi.. ia tak tahan untuk bertanya.
"Temen, Bu.."
"Tuhh kan.." samar ucapan itu terdengar, mereka kembali sibuk berdebat yang sama sekali tak Agnia maupun Gian pahami.
Gian tersenyum. "Halo.. Bu.. Salam kenal, saya Gian. Kakaknya Agnia.."
"Kakak?" ucapan Gian berhasil membuat ibu-ibu yang saling sikut itu saling pandang, jelas tak percaya. Mana pernah mereka melihat saudara Agnia yang ini.
Gian mengangguk. "Saudara gak sedarah, Bu." terangnya dengan senyum ramah. "Jadi besok-besok kalo ketemu sama saya, jangan sungkan untuk menyapa ya, Bu.."
Kumpulan wanita itu histeris sendiri, tak bisa mengabaikan ketampanan Gian. Pria itu mempesona dan punya daya tarik sendiri. Setelah sekian lama membual akhirnya membiarkan Agnia pergi bersama pria tampan itu.
Mereka diam-diam berlomba, mengatakan jika anak mereka lebih cocok dengan pria tampan dengan setelan jas itu. Tampan sekali.
.
.
.
.
Alisya dihantui bayang-bayang Agnia, tak karuan perasannya memikirkan mantan sahabatnya itu. Mata dan tangannya memang tengah sibuk di kepala Raina, menguncir juga memasang jepitan berbentuk bunga disana namun benaknya tak henti menggemakan kekhawatiran.
"Selesai.." Alisya tersenyum, kedua tangannya kini beralih memeluk Raina yang berada di pangkuannya. Adi disebelahnya tersenyum, melirik sekilas sambil menyetir.
"Gimana? Mama yang terbaik?" tanya Adi pada Raina yang langsung diangguki putrinya itu, ia lakukan demi menghibur istrinya.
Raina menoleh, tersenyum pada Alisya sesaat. Menunjukkan jika pujiannya sungguh-sungguh.
Itu cukup untuk membuat senyum Alisya merekah, namun tetap tak menghilangkan kelut di hatinya. Ada kekhawatiran yang entah apa, Alisya tak paham isi lubuk hatinya sendiri.
Bagaimana jika Adi berpaling pada Agnia? Pertanyaan bodoh itu terbesit begitu saja.
Tatapan Adi masih sama dalamnya kala menatap Agnia, persis beberapa tahun mereka berpacaran dan ia diam sebagai simpanan.
Tidak! Alisya menghela pelan, tak mau mengingat perihal itu. Ia sudah bersama Adi sekarang. Hingga bagaimana cara ia mendapatkan sang suami, apakah masih penting?
Hal lain muncul di kepalanya pada waktu yang singkat, setelah bertemu Agnia yang baik-baik saja kemarin ia jadi penasaran apakah Agnia akan datang untuk mengajar hari ini?
Gadis itu terlihat biasa saja kemarin. Tak tampak sakit atau musibah apalah seperti yang orang katakan, sehingga Alisya berpikir apakah persangkaannya benar? Agnia tak mengajar lagi sebab akan menikah?
Pertanyaan itu langsung terjawab, tak butuh lama setelah mobil yang mereka tumpangi berhenti, saat Alisya bahkan belum sempat mencium tangan sang suami, Agnia turun dari mobil yang juga baru saja tiba. Jarak mereka cukup dekat, hingga Alisya mengernyitkan dahinya spontan ketika dilihatnya mobil itu tak sama dengan yang kemarin Agnia tumpangi.
Adi menghela, matanya mengikut arah tatap sang istri. Lagi-lagi Agnia. Berbeda dari dirinya yang oke-oke saja saat melihat Agnia, istrinya justru terlalu memberikan konsentrasi tentang itu.
Adi meraih tangan sang istri, berinisiatif menyodorkan punggung tangannya untuk dicium Alisya. Membuat Alisya langsung mengerjap, kini menoleh pada Adi. Tersenyum.
"Jangan lakukan kebodohan yang sama, ya?" Adi bertanya, Alisya langsung mengangguk tak mau membantah.
Namun saat itu, Gian entah bagaimana sudah berada di dekat mobil mereka. Tersenyum sembari mengetuk pelan kaca mobil Adi.
Alisya melongo, bukan terkejut melainkan tak menyangka. Meski sudah lama tak bertemu ia bisa langsung mengenali pria di hadapannya, itu Gian.
Tunggu! Alisya jadi bingung, apa hubungan antara Agnia dan Gian? Sejak kapan mereka kembali bertemu?
Adi mengernyit melihat pria asing itu, sesaat kemudian beralih menoleh sang istri. Kala reaksi demikian ditunjukkan Alisya, Adi langsung paham. Tangannya bergerak menurunkan kaca mobil, penasaran siapa pria yang tampaknya dikenali sang istri.
Senyum Gian tersuguh, menatap Alisya yang sekian lama baru ia temui lagi. Senyum itu sama menawannya, namun menimbulkan lebih banyak tanya.
Hanya saja senyum itu bukanlah senyuman ramah, ada sesuatu yang terselubung dibaliknya. Sesuatu yang Gian siap tumpahkan saat itu juga pada Alisya. Ya, Gian datang dan mengantar Agnia untuk hal ini.
__ADS_1