
Pria dengan senyum termanis itu tak sopan,
Terus menerobos meski dihalaukan.
Terus mengusik meski diperingatkan.
Hingga ternyata pria itu tlah disana.
Di sudut hati teristimewa..
Tanpa tahu sejak kapan hadirnya.
***
Akmal menghentikan motornya kala tangan Agnia berada di bahunya, menepuk pelan. Sedang Agnia turun dari motornya, Akmal mengedarkan pandangannya ke sekitar. Mengamati tiap sudut panti yang tampak dari luar.
"Kamu boleh pulang.." ucap Agnia, menyerahkan helm pada Akmal.
Akmal mengambil helm dari tangan Agnia, menghela napas pelan. "Emh.." Akmal menatap Agnia sambil berpura-pura berpikir sejenak.
"Kalo aku gak mau?"
Agnia mengendus pelan, menatap Akmal dengan tatapan tajam. Lihatlah tingkah bocah di hadapannya ini yang justru tersenyum manis membalas tatapannya, menatapnya kurang ajar. Seakan mengingatkan jika dia bukan Akbar yang akan selalu mengalah.
"Terserah.." Agnia tak punya pilihan lain, menghadapi pria ambisius di hadapannya.
"Okay." Akmal tersenyum senang, menunggu hingga Agnia berjalan beberapa langkah untuk kemudian mengatakan. "Makasih calon istri.."
Agnia mendelik tajam. Berbalik menatap Akmal yang malah menarik dua sudut bibirnya, tak gentar. Suka melihat wajah panik Agnia. Bocah ini sengaja, menunggu kesempatan untuk mengatakan dua kata itu.
"Apa yang saya katakan mengenai calon.." Agnia mendengus pelan, menoleh sekitar. Lantas menatap Akmal lembut, berucap lebih pelan. "Jangan katakan dua kalimat itu disini.. Ya?"
Akmal menaikan alisnya kirinya, Entah mengapa ia merasa Agnia menggunakan tehnik negosiasi yang biasa diterapkannya pada anak-anak. Padahal yang pandai bernegosiasi disini adalah dirinya, Agnia salah tempat.
"Emh.. Kalo gitu ajak aku masuk.."
"Hah?!" Agnia hampir tak percaya dengan yang dihadapinya saat ini. Sepertinya Akmal memang ahli dalam menyudutkan seseorang. Bukan Akmal jika tidak ambisius, melihat kemungkinan lain yang bisa pria itu lakukan, pada akhirnya Agnia memilih mengangguk.
Silmi baru saja turun dari motornya saat Akmal juga turun dari motornya. Dirinya juga lebih lambat dari jam yang ia janjikan, satu dua hal memang biasa terjadi pada seorang ibu rumah tangga.
Agnia sedikit kesal akan itu, padahal dirinya sudah panik setengah mati. namun Silmi mana ingat akan itu, bahkan suaminya yang menjulurkan tanganpun diabaikan tanpa sadar. Lebih tertarik pada seseorang yang bersama Agnia.
"Agni.." Silmi memekik pelan, tersenyum.
"Yang!"
__ADS_1
"Ya?" Silmi menoleh ke arah suaminya, senyumnya tak pudar. "Oh!" Silmi nyengir saat sadar tangan suaminya yang dibiarkan menganggur. "Maaf, Yang.."
"Kalo udah sama temen pasti.." keluh suami Silmi. Kemudian menghela napas pelan. "Yaudah, aku tinggal. Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
Silmi sudah teralihkan oleh hal lain, kini menatap Agnia. Yang ditatap bingung sendiri, tak mengerti apa yang membuat Silmi menatapnya penuh antusias.
"Calon suami?" tanya Silmi langsung seraya menggandeng tangan Agnia. Berbisik, namun masih cukup keras untuk didengar Akmal di belakang mereka.
Agnia memejam sekejap, dua kata itu lagi. Kenapa? Dirinya heran dibuatnya. Kenapa juga Silmi harus berpikir demikian dari sekian banyaknya kemungkinan.
Silmi yang tak sadar wajah tidak nyaman Agnia terus mendesak, menggoyangkan tangan Agnia berkali-kali. Akmal di belakang juga ikut penasaran, tersenyum tipis, menanti apa yang akan menjadi jawaban Agnia.
"Agnia.." Silmi kembali mendesak saat Agnia tak pun menjawab pertanyaannya tadi.
Yang dipanggil akhirnya menoleh, rasanya ingin mengatakan semuanya. Bocah itu bukan siapa-siapa baginya, namun yang keluar dari mulut Agnia justru..
"Kita bahas nanti, ya.." demikian Agnia berucap, tersenyum lembut. Tak sadar itu akan jadi janji yang akan ditagih Silmi.
Agnia dibuat bingung lagi, kala ditanya siapa yang ia bawa hari ini. Harus bagaimana ia kenalkan Akmal, Bu Lisda dan Silmi menunggu saat ini. Akmal benar-benar membuat harinya penuh ketakutan sepagi ini.
"Emh.. Ini.." Agnia bingung sendiri, bingung mengapa dirinya jadi sebingung itu hanya untuk mengenalkan Akmal.
"Gimana kalo kakak sendiri yang memperkenalkan diri?" ucap Lisda pada Akmal, pria di hadapannya ini tampaknya menarik. Agnia khawatir setengah mati, khawatir jika Akmal memanfaatkan ini untuk mengatakan omong kkoson.
"Iya, perkenalkan, Bu. Nama Saya Akmal."
Lisda mengangguk. "Masih kuliah, ya?" tebaknya, merasa begitu saja. Sebab pria yang bersama Agnia ini terlihat sangat muda di matanya.
"Masih, Bu. Semester akhir."
"Terus-terus.." Silmi dengan wajah antusiasnya bertanya. Membuat Agnia spontan melempar pandangan ke arahnya.
Akmal pun demikian, menaikan alisnya.
"Terus.." Akmal tak mengerti, terus macam apa yang dimaksud.
Silmi tersenyum lebar. "Seperti.. Apa hubungan kamu sama Agnia.."
"Oh!" Akmal tersenyum mendengar pertanyaan itu, melirik sekilas Agnia yang ketar-ketir kenapa pertanyaan yang ia hindari justru dilontarkan Silmi. "Kami.. Rekan. Ya, katakan seperti itu."
Silmi tak puas dengan jawaban itu, padahal sudah jelas mereka mengenakan pakaian senada. "Ah.." Silmi kembali punya cara menggali lebih. "Rekan hidup maksudnya?"
Senyum lega Agnia kembali menguap dengan pertanyaan Silmi yang itu. Benar-benar, jika sudah penasaran memang tak bisa dihalangi.
__ADS_1
Akmal menatap Agnia sebelum menjawab, tersenyum. Lalu beralih menatap Silmi. "Ya. Bisa dikatakan seperti itu.."
"Uuu.." Silmi terkesan dengan gaya santai Akmal saat menjawab pertanyaannya, ia yang ekspresif spontan menyikut pelan lengan Agnia, diiringi senyum menggoda. Sangat antusias, sedangkan Agnia sendiri hanya berusaha menarik bibirnya meski sebal sekali. Hari ini, kepalanya kembali diuji. Tinggal menunggu waktu untuk meledak. Ditatapnya Akmal dengan tatapan sebal.
Agnia dibuat tak habis pikir saat Silmi terus saja mendekati Akmal. Tampak bertanya banyak hal. Geram sekali, dirinya ingin tahu apa yang ditanyakan Silmi.
"Mbak.." seorang anak yang duduk di sebelah Agnia berseru, menatap Agnia bingung
"Iya sayang?"
"Itu.." Tatapan anak itu jatuh pada sesuatu di tangan Agnia. Agnia mengikuti arah pandang itu dan..
"Oh.." Agnia lupa jika dirinya sedang mengajarkan anak-anak membuat origami. Sedangkan di tangannya sudah tak jelas bentuknya, jangankan anak-anak, Agnia sendiri bingung akan diapakan lagi. "Maaf ya.. Kita.. Mulai dari awal?"
Anak-anak hanya saling pandang, mulai meraguian sosok di hadapan mereka
Akmal dari jauh tersenyum, sejenak melihat anak-anak yang duduk di dekatnya. "Lanjutin, ya.." ucapnya, seraya mengelus puncak kepala salah satu mereka. Lantas bangkit berjalan menuju Agnia.
"Biar kakak bantu.." ucap Akmal, duduk bersikap menghadap anak-anak. Sekilas tersenyum ke arah Agnia.
Agnia menghela napas pelan melihat anak-anak sudah beralih pusat perhatiannya, harus diakui ia tak sehandal Akmal dalam seni melipat.
Ada hal lain lagi yang justru terlintas di pikiran Agnia, segera bangkit menemui Silmi.
"Mi.. Kamu lihat.."
"Lihat." Silmi menjawab langsung, membuat Agnia takjub, belum selesai bahkan ucapannya.
"Mana?"
"Tuh.."
Agnia mendecak. Bukan Akmal yang di maksud. "Aku cari Bily.."
"Oh!" Silmi tertawa sendiri sebab kelakuannya, terlalu semangat melihat temannya yang membawa gandengan. "Bily kan sekolah.."
"Iya ya.." Agnia baru ingat, sudah dua minggu ini tidak bertemu anak itu membuatnya khawatir. Agnia menghela napas pelan, entah mengapa dirinya jadi resah.
.
.
.
.
__ADS_1
Satu dari ritual khusus setelah pulang dari Panti antara Silmi dan Agnia adalah pergi makan-makan. Namun dengan kehadiran Akmal, Agnia mengusulkan itu untuk tidak minggu ini. Silmi tak terima, sudah mengerti alasan Agnia. Pasti tak ingin mengenalkan Akmal. Kebalikannya, Silmi justru ingin lebih mengenal pria yang digandeng Agnia hari ini.
Agnia meringis dalam hati, matilah ia. Hari ini dirinya sungguh dalam masalah.