Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
175. Govin lagi!


__ADS_3

"Mbak!" seruan keras yang sudah lama tak ia dengar senyaring itu kini didengar kembali oleh Agnia, segera tau pemilik suara itu. Menoleh cepat ke arah pintu.


Baru saja panggilannya pada Akmal diputus, Akbar sudah berteriak sembari membuka lebar pintu kamar dimana ia tinggal. Akbar masuk dengan cengiran, santai sekali seakan tak tau jika tingkah sembrononya itu luar biasa mengagetkan. "Udah nyampe dimana, katanya?"


Agnia menghela, sedang tak nafsu meributkan hal kecil seperti itu. "Baru masuk Bandung."


"Wih! Cepet, dong." kata Akbar, duduk di bibir ranjang dengan satu kakinya dilipat ke atas kasur. "Gak macet berarti."


"Hem.."


"Oiya Mbak, aku penasaran.. dia akhir-akhir ini kenapa, ya.." tanya Akbar, sebagai ungkapan heran. Agnia langsung menaikkan kedua alisnya. "Kenapa gimana?"


"Dia jadi irit ngomong, eh.. memang dia dari sananya gitu. Cuman.. sekarang jadi lebih parah. Kayak balik ke setelan pabrik."


"Setelan pabrik?" Agnia mengernyit, menajamkan tatapannya. "Dikira suami Mbak HP kali, ngomongnya.."


"Nah.. Mbak gak tau sih, kan gimana Akmal dulu! Makanya marah.." ujar Akbar sebal, tak terima diberi pelototan oleh kakaknya.


"Ya Mbak mana ngerti arah obrolan kamu, Orang biasa aja.."


"Kalo sama Mbak, sama istrinya ya pasti nyaman."


"Terus?"


"Kebalikannya, Akmal jadi gak cair lagi kalo ngumpul sama orang banyak." jelas Akbar, kembali mengingat bagaimana wajah Akmal yang cangung dan kaku kembali terlihat. Persis ketika mereka awal berkenalan.


"Emh.. yaudah, kamu coba tanya sendiri. Dia juga gak terbuka soal masalahnya sama Mbak, siapa tau sama kamu dia ngomong."


Akbar mengendus pelan. Niat hati mengadukan justru ia yang disuruh turun tangan. Padahal apa sangkut pautnya ia dalam hubungan mereka?


"Iya atau enggak?" tanya Agnia datar, lebih ke mengintimidasi.


"Iya.. Mbak bawel, bumil serem!"


...


Langit sudah gelap, genap sudah delapan jam Agnia berjauhan dengan Akmal. Hatinya masih tak tenang, tak bisa tidur sebelum mendapat kabar dari sang suami. Menoleh ke sisi kirinya, Agnia menghela.


Lihatlah yang katanya hendak menemani, tapi Yesa justru sudah mendengkur halus bahkan di satu menit setelah naik ke atas ranjang. Tak tau di bagian mana ia sedang bercerita saat Yesa terlelap begitu saja.


Benar saja, Agnia yang terbiasa dengan adanya Akmal kini tak bisa tidur tanpa pria itu di sisinya. Hanya saja tidurnya Yesa membawa jalan keluar, ia bisa menghubungi suaminya itu sekarang juga.


Agnia menyamankan posisi tidurnya, baju Akmal yang sengaja ia bawa bersamanya ia dekatkan. Benda kecil, canggih dan berbunyi sudah di tangannya. Ia mendadak tak asing dengannya, bahkan sejak lima belas menit yang lalu saja tak hentinya memperhatikan kotak masuk pesannya berjaga-jaga pesan jawaban dari Akmal datang.


[Nyampe?]


[Dimana?]


Tak ada jawaban setelah lima menit pesan itu dikirim, Agnia masih menunggu dengan sabarnya hingga tak berselang lama pesan dari Akmal datang.


[Baru aja nyampe, masih di mobil]


[Di depan rumah Bunda]


[Aku ganti baju dulu, shalat, baru nanti aku video call ya..]

__ADS_1


"Alhamdulillah.." Agnia bergumam pelan, matanya terpaku pada langit-langit kamar yang lenggang. Kini ia bisa tidur nyenyak, mungkin. Tentu saja setelah melihat wajah Akmal terlebih dulu, ia masih menunggu janji Akmal untuk melakukan panggilan video.


Kaos berbau khas Akmal Agnia hirup dalam, kepalanya ia baringkan. Menunggu Akmal mandi dan bersiap menuju ranjang tentu saja lama, belum lagi shalat. Uniknya saat itu masih tak ada kantuk, Agnia benar-benar ingin melihat suaminya terlebih dulu.


Panggilan datang dua puluh menit kemudian, Agnia yang memandangi jam menghitung waktu langsung sigap menjawab. Senyumnya langsung tersungging saat Akmal menampakkan wajahnya di layar ponsel itu, tersenyum dengan teduhnya.


"Belum ngantuk? Aku pikir udah tidur." tanya Akmal, masih membenarkan posisi tidurnya.


"Mau liat kamu dulu, mata ku gak bisa diajak kompromi."


Akmal tersenyum. "Begitu? Atau mungkin hatinya yang gak bisa diajak kompromi?"


"Gak tau, pokoknya gara-gara kamu."


"Yaudah, aku temenin sampe tidur.. Hem?"


"Hem.." Agnia menganggukkan kepalanya samar, menggulung dirinya dalam selimut. "Gimana perjalanannya?"


"Lancar, cuacanya bagus juga. Tapi sepi, gak ada yang nemenin sama sekali."


"Siapa suruh gak ngajak aku!" kata Agnia, memajukan bibirnya. Kesal lagi jika mengingat itu.


Akmal mengulas senyum. "Aku khawatir.. perjalanan jauh di waktu yang berdekatan gak bagus buat Mbak, sama kandungan Mbak.. tunggu beberapa hari lagi sampe aku jemput, ya?"


"Jemput? Gak usah ya.. aku bisa pulang sendiri sama ayah."


"Iya, maksudnya.. nanti aku jemput ke rumah ayah sama ibu, gitu."


"Ih?" Agnia mengheran, padahal maksud ucapannya adalah bentuk perhatian. "Jadi kamu gak serius mau jemput aku? Padahal aku bilang gitu karena kasian sama kamu, lho.."


"Gak lucu!" cibir Agnia. "Udah ah, aku ngantuk, mau tidur sekarang.. kamu juga, ya.."


"Iya.. good night."


"Hem.. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam.."


Itulah bagaimana Agnia bisa nyenyak dalam tidurnya, setelah memastikan Akmal tiba dengan selamat sementara dirinya kini tidur bersama baju wangi suaminya, ia benar-benar masuk ke alam mimpi segera. Begitu pula Akmal yang lelah sekali malam ini, melihat dan berbicara singkat dengan istrinya membawa sempurna lagu sebelum tidurnya.


...


Suara tarhim, seseorang yang mengaji di mesjid pada seperempatnya malam terdengar berbalasan. Dari setiap penjuru samar terdengar hingga kamar. Yesa spontan bangun dari tidurnya, segera beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu. Ia sudah terbiasa, kecepatan dan kedisiplinan adalah yang utama kala di pondok.


Gadis itu kembali dengan wajah basah oleh air wudhu, setelah meraih handuk dan mengenakan mukena lantas melaksanakan shalat dua rakaat. Saklar lampu ia tekan, kamarnya yang semula gelap berganti terang. Alquran sudah ia bawa menuju hamparan sajadah.


Namun belum Qur'an ia baca, mata Yesa menangkap hal yang baginya ganjil. Melihat sang kakak sepupu tidur nyaman dengan baju kotor di pelukannya.


Yesa bangkit lagi, mendekati Agnia dan duduk di bibir ranjang. Sesaat memperhatikan wajah terlelap itu, dimana Agnia sama sekali tak terganggu setelah lampu ia nyalakan. Padahal biasanya paling mudah terganggu tidurnya.


Yesa mengulurkan tangannya, berusaha menarik baju itu. Merasa tak patut Agnia terus memeluk pakaian kotor itu, sebab yang ia tau pakaian itu sama sekali tak dicuci setelah kemarin terlihat dipakai Akmal.


Mata itu terbuka, spontan memicing begitu merasakan benda berharganya ditarik. Yesa dan Agnia sesaat bersitatap, hingga Agnia mendudukkan tubuhnya dan merebut kembali baju Akmal. "Kenapa?" tanyanya, serak khas bangun tidur.


Yesa berdehem. "Mbak yang kenapa?!"

__ADS_1


"Hemh?"


"Itu.."


"Apa?" Agnia masih berproses mengumpulkan kesadarannya. "Oh.. ini.. sengaja, supaya Mbak bisa tidur."


"Ah.." Yesa mengangguk, langsung paham. Berbeda dari Agnia ia sudah sadar sepenuhnya. "Aku pikir, itu bukan disengaja. Jadi mau aku ambil, jorok soalnya."


Agnia mengangguk, tak bisa menanggapi meski mendengar kata jorok. Entahlah, jorok dan bucin baginya saat ini beda tipis. Siapa sangka ia tak bisa tidur tanpa baju itu.


.


.


.


.


Mobil itu kembali ke tempatnya, kembali ke kediaman dimana seharusnya ia berada. Setelah menginap di rumah sang Bunda, Akmal kembali ke rumahnya.


Ternyata memasuki rumah itu terasa berbeda, tanpa Agnia bersamanya. Tak lama ia kembali. Hanya untuk mandi, berganti pakaian lantas pergi menemui dosen.


Melakukan segalanya sendiri ternyata tak menyenangkan, Akmal jadi tak terbiasa mengurus dirinya sendiri. Dari menyiapkan pakaian hingga mencari barang yang istrinya simpan. Helaan berat keluar dari mulutnya, merasa jika disata begini ia harusnya tak jauh dari sang istri.


Belum selesai ketakjuban hatinya, seseorang tak menyenangkan dan tak ia harap temui, yang adalah Govin. Niat sekali datang pagi hari begini, Akmal melihat itu dari balik jendela kamarnya untuk kemudian melangkah cepat menuruni tangga.


"Akhirnya Lo balik.." kata Govin, dengan senyum miringnya begitu Akmal membuka pintu sebelum sempat ia ketuk. Berucap santai, bak akrab sekali dengan tuan rumah. Langsung duduk di kursi rotan teras rumah itu tanpa dipersilahkan, bertumpang kaki demi melengkapi sikap angkuhnya.


Akmal tak bergeming, menghela pelan dengan tangan dimasukkan dalam saku celananya. Ia tak boleh kalah santai dari Govin, ia harus menunjukkan jika upaya Govin mengganggunua adalah kesalahan dan kesia-siaan.


"Setakut itu Lo sama gue?" tanya Govin setelah cukup lama tak direspon. "Sampe kabur ke tempat jauh.. bahkan, lo sengaja mengungsikan istri lo?"


Akmal mengendus pelan. "Jadi lo cari tau tentang gue dengan rinci ternyata.." katanya, menoleh Govin datar. Jengkel dengan sikapnya. "Memang lo gak punya kegiatan."


Govin mengendikkan bahunya, terlihat acuh seperti biasanya. Akmal harus belajar untuk tak terprovokasi dari ahlinya, Govin muka tanpa dosa sekali. "Untuk sekarang ini, itu pekerjaan gue."


"Kalo gitu lebih baik lo berhenti! Kalo lo mau rusak rumah tangga gue, itu gak mungkin. Gak mungkin."


"Kenapa gak mungkin? Karena istri Lo bilang kayak gitu?" Govin terkekeh. "Emh.. tapi apa dia bilang kalo sebelum ini kita pernah ketemu?" tanyanya dengan seringai menang, yakin sekali jika jawaban dari pertanyaannya adalah tidak.


Akmal tak bergeming, ingin tak bereaksi namun wajahnya sudah menunjukkan apa yang dirasakan dan menjawab tanya itu. Kapan mereka bertemu? Agnia tak pernah membahas itu bahkan meski hanya kebetulan berpapasan.


"Enggak kan?" Govin mendapat jawaban itu dari ekspresi Akmal, lantas bangkit. Menepuk bahu Akmal sedang pria itu mematung dan tak bisa menanggapi. "Jadi jangan main-main.. dan hati-hati dengan perempuan, ini nasihat gue. Dan.." Govin mendekatkan mulutnya ke telinga Akmal. "Jangan terlalu percaya sama mereka, belajarlah dari masa lalu."


Sekali lagi Govin menang, berhasil mewujudkan harapannya untuk mengganggu perasaan Akmal. Dan seperti tokoh utama, setelah mematikan dengan ucapannya Govin berlalu begitu saja dengan senyum bahagia.


Akmal menghela panjang, tangannya perlahan mengepal. Kini jelas jika Govin sedang berusaha menanamkan keraguan di hatinya. Padahal apa salah istrinya? Kenapa Govin berpikir untuk menyamakan Agnia dengan perempuan yang mudah ia goda?


Gila sekali pemuda itu!


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2