
Wildan melangkah cepat meninggalkan Akmal, kesal sekali. Bergumam penuh penekanan "Liat aja, pasti gue hancurin persahabatan yang sangat dia banggakan itu."
Akmal menghela napas pelan, menatap punggung Wildan yang semakin jauh dari jangkauan pandangnya. Ia dibuat pusing dengan tingkah bocah itu, sedikit heran juga kenapa Wildan menyasar Asma dari sekian banyaknya orang yang bisa ia jadikan musuh.
...
Asma diam saja lima menit terakhir, menundukkan tatapannya. Hanya sesekali saja mendongak menatap teman-temanya juga diam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Emh.. Aku minta maaf soal ini, semua jadi kena imbas karena ulah aku." Asma berucap, kepalanya makin tertunduk.
Fiki mendengus pelan, tersenyum tipis. "Angkat kepalamu! Jangan terlalu merasa bersalah, bocah itu memang menyebalkan. Dan sayangnya.. kamu lagi gak beruntung sampe berurusan sama dia."
Semua mengangguk, setuju. Untuk kemudian hening kembali, tak bernafsu bicara. Hanya helaan nafas yang teratur terdengar, masalah ini membuat mereka terdiam tanpa sebab.
Tak lama Akmal datang, wajahnya lesu tanda tak ada berita baik. Semua yang sejak tadi menunggunya langsung tahu itu, kembali menghela napas berbalasan tanpa sadar.
"Ada kemajuan?" Fiki bertanya.
Akmal menggeleng. "Dia keras kepala seperti biasanya. Tapi Asma.." Akmal beralih menatap Asma. "Jangan berkecil hati! Kita pasti temukan jalan keluarnya segera."
Asma mengangguk, untuk kemudian merutuki dirinya sendiri. Jika bukan di kesempatan seperti ini, ucapan Akmal padanya pasti membuatnya bahagia sepanjang hari. Namun rasa bersalahnya pada Akbar membuat Asma lupa hal itu.
"Dan.. jangan terlalu merasa bersalah. Itu kata Akbar." tambah Akmal, setelah melihat Asma yang tampak hilang semangat.
Ucapan Akmal berhasil membuat Fiki tersenyum penuh arti seraya menoleh Ardi. "Wah anak itu, bisa-bisanya usaha di situasi kayak gini."
Ardi yang sedari tadi diam langsung menatap tajam Fiki, membuat Fiki diam seribu bahasa. "Dan ente, bisa-bisanya ngecengin Akbar di situasi kayak gini."
"Sorry." Fiki untuk terakhir kali nyengir, lantas kembali ke mode seriusnya.
Asma mengulum bibirnya saat itu, mengingat kembali ucapan Agnia pagi tadi.
...
"Tapi, apa kamu tau kenapa Akbar bisa semarah itu."
Asma menggeleng, benar-benar terbawa dengan cara bicara Agnia yang lembut namun selalu berujung penjelasan yang panjang.
Agnia terkekeh. "Kamu ini.. tidak tau atau tidak mau tau? Itu.. naluri melindungi dari seorang laki-laki untuk perempuan yang mereka sayangi."
...
Ah! Asma memijat kepalanya, selama ini dirinya hanya melihat satu orang. Bukan Akbar, melainkan Akmal. Kini mulai terpikir apakah dirinya terlalu kejam pada Akbar dengan mengabaikannya selama ini?
"Karena keributan ini kita jadi kurang produktif, sibuk dengan satu masalah sederhana yang dibesar-besarkan bocah sialan itu." Fiki berucap lagi, seperti biasa mengungkapkan yang terlintas di kepalanya.
"Tapi ini juga menguji pertemanan kita, kita gak bisa biarin salah satu kita berjuang sendiri." Ardi menambahkan, ia yang paling banyak pertimbangan saat ini akhirnya membuka mulut.
Fiki setuju, mengangguk segera. Beralih menatap Akmal yang sibuk sendiri dengan pikirannya. Menatap curiga. "Tapi.. gimana ceritanya lo bisa kenal sama Wildan? Setau gue kalian gak pernah keliatan saling sapa sebelum ini."
"Emh.." Akmal menegakkan punggungnya, kembali sadar jika hampir semua orang tak mengetahui jika Wildan adalah anak dari salah satu dosen mereka. "Orang tuanya, kenal sama sama orang tua gue."
Fiki mengangguk, tapi masih dengan tatapan penasaran. Menilik Akmal yang baginya mencurigakan, siap melontarkan pertanyaan lainnya. Namun saat itu, tepat sekali seseorang yang masih bagian organisasi datang terburu-buru. Terlihat panik.
"Ardi, ada masalah."
Semua mengernyit, saling pandang. Sudah berprasangka yang bukan-bukan tentang masalah Akbar.
"Liat akun Wildan sekarang!"
Semua menurut, memeriksa ponsel mereka masing-masing. Sebuah postingan terbaru dari akun resmi kampus mengejutkan semuanya, menampilkan rekaman pendek saat Akmal menarik kerah baju Wildan, jika dilihat dari sudut itu terkesan Akmal sedang mengancam.
Hampir semua serempak menoleh Akmal, kini tahu apa yang terjadi saat mereka berbicara berdua tadi. Akmal mendengus pelan, heran dari mana video itu berasal. Ia lagi-lagi dibuat tak bisa berkata-kata. Belum lagi di slide selanjutnya menampilkan rekaman Akbar yang memukul rahang Wildan sekuat tenaga. Dan slide terakhir tentu menampilkan cuplikan saat Asma menampar Wildan.
Keterangan pada postingan itu tak kalah membuat darah mereka mendidih, tertulis; Kekeliruan para anggota MBI. Apa kekerasan yang sebenarnya mereka pelajari?
"Ah!" Fiki menghela napas kasar, hampir melempar ponselnya. "Ada yang salah, gue rasa dia menargetkan organisasi kita sejak awal."
"Setelah ini kita bisa apa?" Fiki menoleh Ardi, seakan meminta kesimpulan ataupun perintah dari pemimpin mereka.
Ardi membenarkan kaca matanya, masih menimbang. "Kita harus klarifikasi. Kita temui dosen setelah ini, dan Akmal. Sebisa mungkin minta Wildan untuk segera menghapus postingan itu."
Akmal mengangguk. "Okay. Tapi gue gak yakin bakal berhasil."
"Ya. Ana tau." Ardi kembali menimbang. "Kalo gak berhasil, coba cari rekaman itu dalam versi fullnya. Kita bisa ikhtiar dari itu."
Saat genting itu, Akbar yang tak pergi kemanapun dan hanya diam di kamarnya menjawab sedang sakit kala ditanya sang ibu kenapa tidak masuk kuliah. Meski dalam hati bingung sekali bagaimana menjelaskan semuanya, dan terpaksa berbohong hingga setidaknya masalah ini jelas meski tak tentu kapan selesainya.
Sebuah panggilan membuat ponsel Akbar berbunyi saat itu. Segera menjawab saat dilihatnya nama Fiki yang tertera.
__ADS_1
"Halo?"
"Liat postingan Wildan sekarang." titah Fiki tanpa basa-basi. Membuat Akbar heran, menaikkan alisnya sebelah.
"Apa lagi ini? Ngapain liat postingan dia? Lagipun gue gak tau akun dia."
"Lo gak tau? Bodoh! Padahal akun Lo di mention sama dia."
"Mention? Emang postingan apa?" Akbar jadi panik setelah ini, segera membuka media sosialnya tanpa menutup panggilan dari Fiki. "Bentar.."
"Gimana?" suara Fiki terdengar, datar sekali. Gemas sekali kenapa Akbar lamban.
"Ah!" Akbar yang sudah selesai memeriksa tak menunjukkan reaksi berlebih. "Gue gak terkejut."
"Persetan dengan reaksilo!" Fiki berucap datar lagi, menghela napas kemudian. "Tapi pikirin apa yang harus kita lakuin Hah!" ucapnya lagi, kini berteriak.
"Apa yang akan kita lakuin?" Akbar membeo, sesaat terdiam. "Enggak. Kalian diem aja, biar gue sendiri cari jalan keluarnya."
"Lo yang harus diem! Ini semua terjadi karena lo yang terlalu gegabah bertindak. Serahin semuanya sama kita!"
"Tapi gue gak akan gegabah sekarang, jadi kalian gak usah lakuin apapun yang bisa nambah masalah."
"Wah.. mulut lo.." Fiki berucap gemas. "Jangan lupa ini kecerobohan lo."
"Ya ya ya.. Memang Itu kesalahan gue, Tapi.. Akmal. Coba lo tanya dia. Kenapa dia ikutan emosi? dia yang mewanti-wanti gue untuk sabar tapi dia sendiri yang dengan berapi-api mengancam bocah itu."
"Heh, bodoh! Ternyata lo sama aja, Lo kemakan hasutan postingan itu. Ceritanya gak gitu, semuanya dimanupalasi."
"Gue tau, karena itulah gue minta kalian jangan ikut campur lagi. Jangan sampe salah satu kita terlibat lagi."
.
.
.
.
Agnia yang penasaran dengan kemajuan permasalahan Asma, mulai mengira-ngira apakah yang ia pikirkan terjadi atau tidak. Pasalnya perundungan memang sering berlanjut, entah melawan atau tidak, entah verbal atau non verbal, entah diselubungi candaan atau tidak, namun peristiwa seperti itu pasti berbuntut.
Sebenarnya Agnia teringat akan dirinya. Hal sama namun tak serupa itu pernah terjadi juga padanya.
Ada seorang menyebalkan yang selalu mengganggunya saat SMP dulu, tak kurang dari satu bulan sekali sekolah dibuat gempar dengan pertengkaran mereka. Penyebabnya sederhana, mulai dari hanya karena tidak menjawab dengan ramah saat disapa, melengos saat berpapasan, tidak mau diantar pulang, hingga tak mau diajak makan di kantin bersama.
Pertengkaran tak lagi terjadi, hingga semua siswa hingga guru berpikir mereka berpacaran. Agnia tak mengelak meski sebal sekali dengan rumor itu, memilih diam.
Dari sanalah Agnia menilai jika melawan seseorang yang keras kepala dengan keras kepala juga akan sia-sia, dia tak akan lelah justru kita yang lelah. Menanggapi seperlunya, sisanya berbesar hati adalah yang terbaik.
Hingga saat kakak kelasnya itu lulus, Agnia merasa hidup untuk pertama kalinya setelah dua tahun terjebak oleh keisengan musuh bebuyutannya itu.
Saat itu ia bahkan bisa menangis seharian dengan tingkah kakak kelas resenya. Bahkan semalaman bisa galau sebab tak mau pergi sekolah jika harus bertemu pria mengganggu itu. Memikirkan banyak cara untuk menghindari, namun lihatlah hari ini.. Agnia tersenyum mengingat itu. Jika diingat hari ini kisah itu memang menyenangkan.
"Kira-kira apa kabar berandal itu?" gumam Agnia, tiba-tiba saja mengingat salah satu tokoh paling menjengkelkan dalam kisah hidupnya.
Agnia memutuskan pergi ke kamar Akbar setelah selesai mengganti pakaian, mendorong pintu kamar Akbar tanpa permisi. Membuat pemiliknya menoleh, waspada.
"Kenapa? Bukannya seru gak berangkat kuliah? Tapi wajah kamu justru ribuan kali lebih menyedihkan dibanding biasanya."
Akbar tak berucap, membalas ucapan kakak perempuannya dengan menyodorkan ponselnya yang menunjukan postingan Wildan, sejak tadi ia perhatikan seraya merenung apa yang bisa dia perbuat.
Sesaat Agnia fokus memperhatikan postingan itu, terlihat sekali berusaha untuk tidak terkejut menurut sudut pandang Akbar. Sesaat kemudian membalas tatapan intens Akbar dengan tatapan heran.
"Wah.. kalian berdua. Bisa-bisanya terlibat dalam masalah yang sama."
Akbar mengendikkan bahunya, seakan menyampaikan jika dirinya sama sekali tak mengajak Akmal bergabung dalam masalah ini.
"Jadi sekarang apa rencana kalian?"
"Kalian?"
"Iya. Anak itu kayaknya memang mau menjatuhkan organisasi kalian, jadi.. itu tugas kalian semua untuk mencari jalan keluarnya."
"Menurut Mbak gitu?"
Agnia mengangguk. Memberi tatapan yakin.
"Mereka juga bilang kayak gitu."
"Memang harus. Mereka salah karena gak bisa mengikat kamu, kalo mereka mencegah kamu tepat waktu, masalah ini pasti bisa selesai dengan solusi yang lebih sederhana."
__ADS_1
"Ya, maaf. Aku menyesal." Akbar berucap seraya menatap Agnia, yang sebenarnya hanya ingin membuat kakaknya itu berhenti mengomel.
"Katakan apa rencana mereka? Siapa tau Mbak bisa bantu. Mungkin Mbak bisa bantu obrolin masalah ini sama dosen kalian."
"Ah! Iya juga. Kenapa Mbak baru ngasih saran sekarang.. Tapi.. Akmal untuk sekarang ini mau sekali lagi coba negosiasi sama Wildan. Siapa tau bocah itu mau hapus postingannya."
Agnia mengangguo. "Bagus, kalian cepat juga. Tapi lihatlah dirimu.. payah sekali! kamu malah mengandalkan temanmu dari pada ikhtiar sendiri."
"Hah?!" Akbar mengernyit, bingung sekali. Tadi katanya teman-temannya harus membantu, tapi saat temannya membantu justru Agnia bilang dirinya payah sekali.
.
.
.
.
Faktanya organisasi yang susah payahnya dibangun kini berada diambang kehancuran. Cepat sekali komite bergerak setelah postingan itu muncul.
Fiki gemas sekali, membaca satu persatu komentar di postingan itu.
"Wajar jika ini terjadi, tapi kekerasan dari anggota organisasi agamis gak bisa diabaikan." Fiki membeo, membaca keras satu komentar seraya mencebik.
"MBI: Memukul berbasis ikhlas Hahaha."
Ardi mengernyit, melirik layar ponsel Fiki. "Beneran ada komentar kayak gitu?"
"Ya. Yang lebih parah juga ada." jawab Fiki, frustasi. Menyandarkan punggungnya ke kursi. Mereka sudah di sebuah Cafe saat ini.
Tak lama Akmal datang, Fiki kembali menegakkan punggungnya. "Gimana?"
"Gue belum pergi."
"Rekamannya?"
"Rekamannya aman. Untungnya salah satu kenalan gue masih nyimpen rekaman itu."
"Masih nyimpen? Maksudnya sebagian mereka udah hapus rekaman itu?" Fiki nalurinya memang paling bagus, kini mengernyit.
"Iya. Katanya mereka disuruh hapus hapus rekaman itu, tapi temen gue yang satu ini sengaja nyimpen jaga-jaga kalo situasi kayak gini."
"Oh! Temen lo itu pasti udah pengalaman sama kelakuan Wildan, kan? Katanya cara kerjanya selalu kayak gitu."
"Wah.. penulusuran lo bagus juga." puji Akmal, pada Fiki. Membuat Fiki menaikkan alisnya, bangga.
"Hemh.. cita-cita gue kalo gak kerja di kantoran sebenernya jadi detektif asal lo tau." Fiki berucap dengan ekspresi konyolnya, membuat Ardi mengangkat kepalanya dari layar laptop. Menyungging senyum, Fiki memang paling bisa mencairkan suasana.
Saat itu sebuah pesan datang ke ponsel Akmal, dari Akbar. Beberapa kalimat.
“Bukannya lo mau pergi ke rumah Wildan? Kalo iya.. jemput Mbak Agni kesini. Katanya ada sesuatu yang bisa dia usahain kalo ikut sama lo.”
Hati-hati! Ini mungkin modus.
Akmal tak membalas pesan itu tersenyum dengan pesan lainnya yang Akbar ketikkan. Langsung mendongak pada dua orang di hadapannya, bangkit.
"Gue pergi sekarang, ya.. do'ain semuanya lancar."
Fiki mencebik, meski wajar juga meminta do'a di saat seperti ini. Namun ucapan Akmal terdengar dramatis di telinganya.
"Ya.. Semoga hati berandal itu luluh, seluluh hati para mahasiswi waktu liat senyum lo."
Akmal mengangguk, tersenyum dengan ucapan Fiki. Segera pergi setelah menepuk pelan bahu Fiki. Ardi menautkan alisnya, mengalihkan matanya ke arah Fiki. Menatap aneh.
"Apa? Lo juga harus mengakui kalo yang paling menarik dari dia itu senyumnya."
Ardi menghela pelan, mengabaikan Fiki. Kembali pada layar laptopnya yang masih menyala. Membiarkan Fiki sesuka hati dengan pikirannya.
.
.
.
.
Akmal sudah menunggu di depan rumah Akbar, namun bukan untuk menunggu Akbar melainkan Agnia. Akmal penasaran akan satu hal, apakah bantuan yang dimaksud Agnia sama dengan apa yang ada di pikirannya, ia harus memastikan.
Tak lama Agnia muncul, segera menghampiri Akmal.
__ADS_1
"Ayo!"
Akmal mengangguk, senyumnya tak tertinggal. Merasa senang di satu sisi sebab pertama kalinya Agnia meminta diajak bersamanya, meski hanya sebab kepentingan Akbar.