
"Jadi apa yang dia bilang?" Alisya bertanya pada Giska, menatap penuh penasaran.
Giska menghela napas gusar, baru saja tiba di rumah baru kakaknya setelah menjemput Raina, sudah disuguhkan dengan pertanyaan kakak iparnya.
"Gak bilang apa-apa." Ketus Giska, dalam arti sebenarnya.
"Oiya? Masa sih.."
"Bener kok. Tanya aja Raina kalo gak percaya.. Cuma nanya kabar, itu aja."
Alisya menghela napas pelan, menatap adik iparnya yang tampak sebal. Sejenak melirik Raina yang terpaku pada televisi. "Kamu gak bilang yang mbak minta kali.."
Giska mendengus. "Jadi tujuan Mbak nyuruh aku jemput Raina itu untuk ngulik informasi?"
"Bukan.. Tapi kan siapa tahu berkat kamu hubungan Mbak sama Agni bisa baik-baik aja." ucap Alisya santai, belum sadar tatapan sebal yang ditujukan Giska padanya.
"Kenapa?" Alisya bertanya, saat sadar tatapan yang sulit diartikan dari Giska.
"Serius Mbak?"
"Hemh?" Alisya menautkan alisnya.
"Mbak beneran berpikir kalo persahabatan kalian bisa kembali membaik?"
"Kenapa tidak?"
Giska mendengus pelan mendengar jawaban Alisya. "Wah.. Sulit dipercaya. Kalo aku ya Mbak, aku udah pasti kabur sejauh mungkin karena rasa bersalah. Gak akan berani muncul di hadapan Mbak Agni.. Kalo aku.." sindir Giska, menekankan kalimat terakhir.
Alisya yang sudah biasa dengan reaksi berapi-api Giska hanya menatap lembut, memperhatikan Giska yang bahkan enggan duduk di sebelahnya.
"Emh.. Kamu bilang kaya gitu karena kamu sangat sayang dengan Agnia, tapi.. Kamu mungkin gak tau kalo Agnia hari ini sudah baik-baik saja, sudah banyak perubahan di hidupnya. Ini cuman soal waktu, dia pasti terbiasa lagi nanti."
Giska mencebik. "Mbak ngomong kayak gitu karena Mbak gak pernah ngerasain ada di posisi Mbak Agni."
"Dan kamu pernah? Sehingga kamu sangat mengerti perasaan Agnia?"
Seringai muncul di wajah Giska, tak percaya jika Alisya bisa-bisanya membalikkan ucapannya seperti itu. "Begini, Mbak.. Seseorang gak harus menderita dulu untuk mengerti penderitaan orang lain. Dan siapa yang berharap mengalami kisah yang sama seperti Mbak Agnia? Kalo itu terjadi sama aku, aku mungkin gak punya lagi alasan untuk hidup."
Alisya menghela napas, tak peduli dengan apapun yang Giska katakan. Apa yang seorang gadis dua puluh satu itu lebih tahu darinya?
"Lalu apa yang kamu mengerti? Kamu tahu bagaimana kisah kita sebenarnya? Kamu benar-bernar merasakan?"
"Setiap inci nya, Aku tahu semuanya." ucap Giska, setengah berteriak. Beberapa saat diam, mencerna ucapannya yang tak patut jika didengar Raina. Giska menghela napas, menormalkan kembali nada bicaranya. "Mbak pernah gak sih mikir sebesar apa sakit yang Mbak Agni rasakan saat melihat Raina setiap harinya? Semua itu pasti mengingatkan dia dengan rasa malu, sakit, sedih yang terjadi karena kalian.. Pernah gak sekali aja kepikiran itu?"
Alisya menghela napas. "Jadi mau kamu apa?"
"Mau aku apa? Mbak gak usah berusaha untuk mendekati Mbak Agni lagi. Biarin dia dengan kehidupan barunya. Mbak gak kurang apapun, suami, anak, Mbak punya semuanya. Cukup fokus aja dengan itu."
.
.
.
__ADS_1
.
Satu dua hal yang terjadi dalam hidup menimbulkan senyum yang tak lekang pergi. Demikian kedatangan Giska yang membangkitkan beberapa ingatan baik bagi Agnia, tak seperti kala pertama kali bertemu lagi dengan Alisya. Hanya ingatan menyedihkan saja yang terlintas saat melihat Alisya. Namun tak demikian dengan Giska, Agnia mengenal gadis itu sejak Giska masih duduk di bangku sekolah dasar, maka tak dipungkiri dirinya melihat langsung pertumbuhan Giska dari siswa unyu-unyu hingga menjadi remaja yang sangat cantik.
Akbar baru saja turun dari kamarnya, saat Agnia sibuk melamun. Setelah kembali dari mesjid dan menyimpan sarung dan kopiahnya, seperti biasa Akbar bergabung dengan Agnia yang bersantai di sopa.
"Gak seru tuh.. Acaranya." ucap Akbar, seraya melempar bokongnya ke atas sopa.
Agnia menoleh rambut lurusnya mengibas pelan. Meski tampaknya serius pada layar televisi, sebenarnya pikiran Agnia melayang entah kemana. "Memang.."
"Terus kenapa masih ditonton?"
"Siapa peduli? Semua saluran televisi di jam ini isinya gosip."
"Semua?" Akbar tak percaya, tangannya meraih remot. Memeriksa saluran televisi mana yang punya acara paling normal. "Wah.." Akbar menoleh Agnia, membenarkan ucapan kakaknya.
Agnia mengendikkan bahunya, bersandar nyaman di sopa.
"Anehnya kenapa semua televisi menayangkan berita yang itu-itu aja, penonton bisa bosan." keluh Akbar, bermonolog.
"Kata siapa?"
"Hemh?"
"Kata siapa penonton akan bosan? Semua punya cara masing-masing untuk membuat berita menarik, siapa peduli itu berita yang sama atau bukan. Buktinya acara semacam itu mendapat banyak perhatian, dan media hanya mencari berita yang sebenarnya diminati mayoritas."
"Jadi?" Akbar menautkan alisnya.
"Jangan salahkan media atau televisinya, salahkan permintaan pasar."
"Mbak kesini untuk tidur?"
"Hemh.."
"Jangan tidur disini! Gimana kalo ada tamu.."
"Berat badan Mbak gak nyampe empat puluh lima kilo, masih gampang untuk kamu gendong."
"Dih! Aku gendong ke luar tau rasa dia.."
Agnia tak bergeming, memejamkan saja matanya. Akbar jadi berhenti berbicara. Tak lama Agnia membelalakkan lagi matanya. Tepat sekali bersitatap dengan Akbar.
"Tadi Mbak ketemu Giska lho.."
Akbar menaikkan sebelah alisnya mendengar nama Giska disebut, matanya menunjukkan ketidak tertarikan. "Oiya?"
"Iya. Dan dia bilang pernah ketemu kamu.. Bener?"
Akbar menghela napas, lantas mengangguk.
"Kamu gak ngasih tau mbak?"
"Buat apa?" Akbar mengendikkan bahunya. "Itu gak penting. Lagian hari itu aku sama sekali gak ngenalin dia.."
__ADS_1
"Oiya?"
"Iya. Gak percaya banget sama adeknya."
"Tapi kalian dulu berteman, gak pantes lah kayak gitu.."
"Mbak juga sama si Alisya dulu berteman.."
Agnia mendengus pelan. "Itu berbeda."
"Sama Mbak.. Saat aku lihat Giska, kenangan buruk itu terlintas lagi di kepala aku. Dan ini bukan tentang perasaan Mbak, tapi ini tentang apa yang aku rasakan. Semua kisah itu gak hanya membekas buat Mbak, tapi juga buat aku." jelas Akbar panjang lebar, wajahnya tertekuk kesal.
"Jadi.. Jangan ngatur bagaimana cara aku bersikap.." ucap Akbar lagi, memotong Agnia yang sudah akan membuka mulut.
"Baiklah.. Obrolan kita sudah terlalu jauh.." ucap Agnia, mengakhiri perdebatan itu dengan suara beratnya. Sudah sangat mengantuk.
Akbar sudah fokus saja pada televisi, meski tadi ia katakan acaranya membosankan. Beberapa saat menyimak.
"Menarik apanya.. Ini lebih terkesan bohong di telinga. Bisa-bisanya orang suka dengan berita simpang siur." Akbar kembali bermonolog, menunjukkan protesnya. Itulah kenapa dirinya lebih suka berita, hanya disiarkan sesuai fakta.
"Mbak pindah sana! Temen-temenku mau dateng kesini." Akbar berucap ketus, menatap Agnia yang memejam.
"Mbak.." panggil Akbar sekali lagi, saat tak mendapat jawaban dari Agnia. Memastikan jika kakaknya benar-benar tidur. Sesaat kemudian menghela napas dalam. "Lah.. Udah tidur ternyata.."
Akbar menatap wajah lelap Agnia, tampak tenang sekali. Jadi tak terpikir untuk membangunkan mengingat malam kemarin Agnia tak bisa tidur. Beranjak mendekat, tangannya terulur membenarkan posisi bantal Agnia.
.
.
.
.
Keributan terjadi tak lama kemudian, Akbar kedatangan kawan-kawannya. Sepuluh orang sudah berkumpul, masih beberapa orang lagi yang akan datang.
"Bawa yang gue minta?" tanya Akbar pada Fiki.
"Pastilah.." ujar Fiki, mengangkat sesuatu di tangannya.
"Bagus. Soalnya nyokap gue gak masak hari ini." ucap Akbar, meraih sate pesanannya dari tangan Fiki. Spontan disambut seruan kecewa semua orang.
"Becanda.. Konsumsi ada, cuman seadanya." Akbar nyengir, menggoda teman-temannya. Paham betul jika kawan-kawannya ini tak lebih dari kawanan pemburu makan gratis.
"Akbar.. Izin ke kamar mandi, ya.. Udah di ujung." Fiki berbisik, wajahnya tak terkontrol.
"Yeh! Dasar. Pergi aja. Tapi.."
"Apa lagi?" Fiki melotot, bukan becanda ketika ia katakan sudah diujung. Rasanya tak sanggup ditahan, apalagi cuaca malam sedang dingin-dinginnya.
"Jangan jelalatan! Kakak gue lagi tidur di sopa." ucap Akbar.
"Iya.." Fiki berucap geram, di situasi seperti ini mana bisa sikap tengilnya keluar.
__ADS_1
Agnia terusik, suara ribut mengisi telinganya. Matanya terbuka perlahan, sejenak mencuri dengar siapa yang berisik itu.
"Akbar.. Aduh.." Agnia bingung dibuatnya, kantuknya seketika hilang. Masalahnya dirinya tak menggunakan hijabnya. Sekarang mulai berpikir bagaimana cara kembali ke kamarnya.