
Jam berputar teratur, malam gelap sudah berlalu dari puncaknya. Kembali menuju saat-saat paling dingin dalam dua puluh empat jam, yakni di sepertiga sisanya.
Agnia bergerak dari tidurnya, menyadari sejak semalaman posisinya tak berubah. Kecuali tangan Akmal yang kini berada di permukaan perutnya. Tumben sekali, Agnia sampai terheran sendiri dengan Akmal yang tak bergeser sama seki dari posisinya.
Jika biasanya pria itu bersegera bangun untuk shalat malam, namun sepertinya tidak malam ini. Agnia melepas pelukan Akmal perlahan, mendudukkan tubuhnya sesaat untuk mengumpulkan nyawanya.
Pria itu masih terlelap dengan deru napas yang tenang tanpa terganggu sama sekali, Agnia tersenyum kecil sembari mengusap dahi kekasih halalnya itu, memberi kecupan singkat disana. Untuk kemudian bergeser perlahan hendak turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Baru saja kali Agnia tiba di lantai, belum selangkah pun kakinya beranjak. Agnia merasakan lengannya ditahan, spontan menoleh kembali sang suami.
Agnia menghela, balas menatap Akmal yang tersenyum tanpa terlihat mengantuk sama sekali. Jelas sekali sekarang, pria sudah bangun sejak tadi. Melihat sajadah yang terhampar di lantai, bisa dipastikan Akmal sudah melaksanakan shalat malam lalu kembali ke atas ranjang.
Akmal tersenyum, apapun yang dipikirkan istrinya sekarang ia benarkan saja. Masih jauh menuju subuh, Akmal menarik Agnia untuk kembali duduk.
Pria itu bergeser, bergerak mendekat ke arah perut Agnia. Mengecup perut itu singkat, lantas melingkarkan tangannya di pinggang Istrinya itu sedang kepalanya disembunyikan di hangatnya perut milik sang istri.
Agnia tersenyum kecil, membelai kepala Akmal beberapa kali. Tak ada yang terucap dari mulut keudanya, sikap sederhana nan penuh kehangatan jadi jalan mereka berkomunikasi.
Hening cukup lama, Akmal seperti menikmati belaian Agnia di kepalanya. Agnia pun tak mau cepat-cepat mengganggu kesenangan sang suami, ia biarkan saja hingga sepuluh menit lamanya.
Agnia sekali lagi menengok jam, lantas menghela. "Mau terus kayak gini?" tanyanya, masih membelai puncak kepala sang suami. "Kapan aku bisa shalat kalau begini?"
Akmal tak tidur, langsung menolehkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan Agnia. Kini menatap lekat sang istri.
"Kenapa? Ada yang mau kamu omongin?"
Akmal tak bergeming, menarik tangan Agnia untuk ia genggam. Bingung, antara 'apakah harus menceritakan keresahannya pada istrinya ini atau justru lebih baik diam saja.
...
"Mau saran?" Agnia bertanya setelah penjelasan Akmal yang tak sempurna itu, hanya saja Agnia paham inti masalahnya. Kini menarik dagu suaminya supaya fokus ke arahnya dan berhenti menatap langit-langit kamar yang tak kan memberi solusi sama sekali.
"Hem?"
"Kamu bilang, pria itu langganan toko sejak awal kan?"
"Iya." Akmal mengangguk samar.
"Dan dari yang aku dengar, kamu sepertinya mencurigai ada permainan disana."
"Hem, tapi masih prasangka. Aku gak berani bilang gitu dengan yakin."
"Kalo gitu buktikan! Cari faktanya. Temui pria itu, bicarakan dengan baik-baik.. kalian bahkan belum pernah berdiskusi sedikit pun sejak dia datang dan komplain."
Akmal mengangguk, memang tak sekali pun ia pernah bersitatap dengan pria paruh baya itu. Ia keburu sebal dan menyerah sendiri.
"Gimana?" Agnia kembali menarik dagu Akmal saat pria itu kembali menatap asal, bak menerawang jauh.
__ADS_1
Akmal mengangguk samar, tersenyum lembut. "Okay, saran yang bagus. Tapi nanti aku pikirin lagi."
Agnia mengangguk, tak keberatan meski sarannya tak dilakukan nanti. Ia hanya harus memberi nyaman, selebihnya Akmal harus lebih tahu cara terbaik dalam bersikap.
"Makasih.."
"Sama-sama, sayang.."
.
.
.
.
Kembali ke rutinitas, Agnia pergi mengajar diantar Akmal. Jika biasanya membawa motor, sekarang Akmal membawa mobil. Tak mau mengambil resiko dengan kehamilan istrinya meski kelihatannya belum terlalu besar dan tak sama sekali ringkih.
Agnia mengecup punggung tangan Akmal, lantas tersenyum terlihat menunggu sesuatu. Akmal menaikkan alisnya, tak mengerti dengan kode mata sang istri. Agnia sibuk mengarahkan matanya ke atas, sedangkan Akmal sibuk menautkan alisnya bingung.
"CK!" Agnia berdecak kesal, memanyunkan bibirnya. Lekas menunjuk keningnya, ayolah.. suaminya ini tak peka.
Akmal terkekeh, ia baru sadar. Sari pada mendekat untuk mengecup, ia memilih menarik kepala sang istri untuk mendekat lantas ia kecup. Tak mau susah payah dengan membuka seatbeltnya. "Udah?" tanyanya, diiringi seringai tipis.
Agnia mengendik pelan, sebal sungguhan ia. "Jangan sampai lupa lagi! Ini peringatan." katanya galak, dengan mata membesar.
"Iya.." jawab Akmal singkat, sedikit terkekeh menyadari kelakuan manja istrinya yang kontras sekali dengan sikapnya di awal pernikahan mereka.
"Tapi.." Akmal menunda langkah Agnia, tak langsung bicara hingga perempuan itu menoleh kembali ke arahnya. "Hati-hati.. jalannya gak boleh buru-buru! Kalo ada apa-apa telpon aku.. dan jangan makan sembarangan, paham?"
"Iya.. iya.." Agnia menjawab cepat, sudah celingukan memperhatikan sekitar. Tak sempat protes dengan pesan suaminya yang terkesan mewanti-wanti anaknkecil. "Udah ya, Assalamu'alaikum.."
Akmal terkekeh melihat tingkah itu, menggeleng takjub. Aduhai.. lihatlah perempuan itu, Akmal sangat menyukai segala tentangnya.
Toko adalah tempat selanjutnya yang Akmal datangi, tampak buru-buru hanya untuk menanyakan alamat si pelanggan yang tak ada angin tak ada hujan mencari masalah dengannya. Setidaknya ia harus memastikan ini, apapun faktanya nanti meski jika ternyata memang kesalahan berasal dari timnya. Maka ia harus siap dan akan siap berbesar hati.
Mobil itu sudah keluar dari parkiran toko, meluncur menuju arah berlawanan dari arah pulang ke rumahnya. Tiba di sebuah toko busana, merangkap konveksi di belakangnya. Akmal sempat menilik itu dari dalam mobil saat memarkirkan mobilnya.
"Silahkan, Mas.. mau cari apa? Pakaian muslim? Pakaian anak atau pakaian dewasa?" tanya satu karyawati dengan ramahnya, di depan pintu masuk.
Akmal tersenyum tipis, mengangguk. "Emh.. Pak Bagusnya ada?"
"Pak bagus?" karyawati itu tampak bingung, tak berharap ditanyai soal bosnya saat keahliannya adalah melayani pembeli.
"Ah! Saya, rekan bisnisnya." ujar Akmal cepat, tahu kebingungan dari wajah wanita di hadapannya.
"Oh.." wanita itu langsung mengangguk samar, tersenyum ramah kembali. "Iya, Bapak sudah cerita. Sebentar.."
__ADS_1
Akmal mengernyit, senyumnya berganti bingung. Wanita itu pergi entah kemana, menimggalkan Akmal yang tak paham apa yang dimaksud 'bapak sudah cerita' oleh karyawati tersebut.
Wanita itu kembali tak lama, langsung mempersilahkan dan mengantarkan ke satu ruangan yang tak terlalu besar namun nyaman.
Pria itu masih menelpon, tak langsung menghadap. Sedangkan Akmal tak berani menginterupsi hingga memilih duduk setelah dipersilahkan karyawati barusan, memutuskan untuk menunggu saja.
Awalnya tak ada yang membuat Akmal tertarik, hingga pria itu berbicara dengan seseorang di sebrang telponnya membawa nama toko kain miliknya.
Akmal yang tak berniat menguping pada mulanya, kini justru terdiam berharap mendengar lebih.
"Iya, sudah dilakukan. Keputusannya final, dan barang akan dikembalikan segera."
Sesaat pria itu terdiam mendengarkan lawan bicaranya, Akmal memperhatikan itu dengan seksama.
"Baik. Tapi tepati janji! Jangan sampai berita itu sampai ke teling istri saya."
Akmal menyeringai tipis, gila sekali.. meski belum jelas yang didengarnya, namun sepenuhnya ia yakin jika ada seseorang yang tak bisa ia bayangkan dibalik peristiwa ini. Hanya saja apa dan kenapa juga siapanya masih gelap baginya.
"Lho!" Bagus, pria itu mematung sesaat menyadari siapa yang berada di ruangannya. Tak menyangka jika Akmal lah yang datang, sedangkan yamg hendak ditemuinya entah dimana. "Kamu.."
Akmal menghela, balas tersenyum. "Ya, saya."
"Permisi.." seorang lainnya datang, wanita berpakaian rapih khas orang kantoran datang. Itulah seseorang yang tampaknya yang akan ditemui oleh Bagus si pemilik toko busana ini.
Hening sesaat, tiga orang itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Dari wajah panik Bagus dan keterkejutan wanita itu Akmal segera membaca situasi. Memilih bangkit dari duduknya, saat keterkejutan dan kebingungan ada pada pria dengan dandanan alim itu.
"Saya.. pergi." wanita itu segera memundurkan langkahnya, hendak kembali jika tidak dihalau Akmal.
"Tunggu, biar saya yang pergi, Bu." potong Akmal saat itu. "Silahkan lanjutkan urusan kalian."
"Sebentar.." giliran pemilik toko ini yang menghalang langkah Akmal, meski bingung hendak berkata apa namun ia harus tetap meluruskan.
Akmal urung pergi, begitu pula wanita itu. Semua masih di tempat masing-masing dengan kebingungan yang berbeda.
"Kita bisa bicara sebentar."
Akmal segera menggeleng, tersenyum kecut. "Saya paham tanpa perlu mendistribusikan apapun. Jadi, saya mohon ijin.." kata Akmal, berusaha santai menghadapi sitiasi menyebalkan begini. "Dan.." Akmal kembali menoleh di ambang pintu. "Seperti sebelumnya, saat Bapak tidak mau saya ajak diskusi.. maka saya hari ini akan melakukan hal yang sama. Saya tidak akan terima penjelasan. Permisi.."
Pria itu ketar-ketir, saat si wanita mendekat dan menyentuh bahunya ia justru menghempas tangan itu. "Jangan sekarang! Ada keadaan yang lebih mendesak." katanya sembari membuka ponsel dan menelpon seseorang.
Akmal kembali ke dalam mobil dengan wajah tertekuk, gila sekali bisa terjadi hal seperti ini di hidupnya dan ini untuk pertama kalinya. Hanya saja ini menjadi jelas, apapun keputusannya nanti semua akan baik bagi harga dirinya dan harga diri toko. Akmal bisa merasa lega untuk satu hal itu. Dan Terimakasih untuk Agnia yang sarannya bisa tepat sasaran sekali.
.
.
.
__ADS_1
Govin pria itu menghela panjang, berdiri berpegangan pada pagar balkon apartemennya. Menyeruput segelas kopi terlebih dulu, lantas menyeringai tipis.
"Gagal, kalo begitu.. langkah selanjutnya?" tanyanya, seakan pada diri sendiri.