Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
64.


__ADS_3

"Hari ini aku mengunjungi Ulya untuk terakhir kali, lalu meminta izin pada ibunya untuk merestuiku mengganti Ulya dengan orang lain di hatiku." jelas Akmal, kemudian menghela napas. "Dan sayangnya aku gak bisa kasih tau ibu kalo orang itu.. ada di hadapanku sekarang.." tandas Akmal, dengan senyum menggoda.


Hati Agnia tak bisa tak berdesir dengan kalimat Akmal, sejenak dirinya mematung merasakan hawa panas menjalar di wajahnya. Dan wanita mana yang bisa tahan dengan senyum Akmal? Agnia mengakuinya sekarang, senyum itu memang menawan.


Agnia mendengus sebal, mengalihkan tatapannya. "Jangan mulai! Jaga ucapanmu atau orang lain akan salah paham!" Ucapnya setengah berbisik.


Akmal terkekeh, melihat hal lain yang lebih menarik pada wajah Agnia. "Apa yang terjadi dengan pipi memerah itu.. apa jangan-jangan Mbak.."


"Apa? Merah apa? Jangan berpikir aneh! Semua perempuan memakai blush-on di pipi mereka." kilah Agnia, seraya menyentuh pipinya yang memang terlanjur merona.


Akmal tersenyum lagi, senang sekali melihat Agnia yang gelagapan. Namun dirinya tak tega mengganggu Agnia terus menerus, memutuskan mengalihkan pada hal lain.


”Mbak.. Karena kita disini, kenapa kita gak menghabiskan waktu? Sebentar aja.." ucap Akmal, menekan kata terakhirnya.


Agnia yang masih sibuk menyembunyikan pipinya dari tatapan Akmal spontan menoleh, mendongak. Haruskah?


"Mbak kan bilang suka tempat yang damai? Kita bisa pergi ke perpustakaan, ke cafe, ke taman, atau... ke kebun binatang?"


"Hah?!" Agnia bingung kenapa kebun binatang diikut sertakan. Mulai berpikir apa kebun binatang tepat dikategorikan sebagai tempat yang damai.


"Ah!" Akmal menyadari kekeliruan pada kalimat spontannya. "Kebun binatang juga membuat hati kita damai, kan?"


Agnia mengernyit, entahlah. Dirinya tak yakin.


.


.


.


.


Agnia dan Akmal alih alih ke tempat yang damai justru berakhir di sebuah pameran seni, hilir mudik orang tersaji disana. Cenderung ramai. Sebenarnya, Agnia tidak bisa mempertaruhkan hatinya jika harus berduaan dengan Akmal di tempat yang minim orang. Dengan begini, matanya teralihkan oleh banyak hal menarik.


Akmal mengaruk tengkuknya tak gatal, heran kenapa mereka berakhir di pameran outdoor seperti ini. Bahkan Agnia tampak senang dengan itu, berbeda kala diajak ke danau tempo hari.


"Kenapa? Kamu keberatan?"


Akmal menggeleng, hanya saja..


"Sebenernya.. aku berpikir soal.. ada kelas nanti siang."


Agnia mencebik. "Kalo gitu pergilah! Saya gak harap kamu temani.."


Akmal kembali tersenyum, menggeleng. "Aku bilang itu nanti siang. Dan sekarang aku punya banyak waktu untuk menemani Mbak.."


Agnia menghela kecewa, padahal dalam hati berharap Akmal pergi saja dan meninggalkannya sendiri.


Akmal tahu itu sejak awal, tersenyum menang. "Tempat mana dulu yang mau kita datangi?" tanya Akmal, berjalan lebih dulu dari Agnia. Mengabaikan Agnia yang gemas sendiri dibuatnya.


"Tunggu.." Agnia mengekor, ragu-ragu menyeru Akmal.


.


.


.


.


"Gue rasa akhir-akhir ini kebucinan lo berkurang.." ucap Fiki, menatap Akbar penasaran.


"Lo bisa gak, jangan ikut campur urusan orang lain? Jangan kepo! Cari kesibukan lain?"


"Ish! Ditanya baik-baik juga.." geram Fiki, yang akhirnya hanya diam.


"Tapi bener lho, apa yang dibilang Fiki." tambah Ardi. "Ente gak terlalu ribet sekerang ini."


"Jadi dulu gue ribet banget, gitu?"


"Sedikit.."


Akbar nyengir. "Kan Lo yang ngajarin gue, supaya lebih menahan diri."


"Ey!! Memang harus." Ardi tersenyum lebar, senang sarannya didengar. "Kalo ente goyah, inget! Cubit paha ente sendiri. Jangan salah bertindak! Biarkan Asma penasaran dan mendekat dengan sendirinya."

__ADS_1


"Pasti! gue denger saran lo.."


Fiki dibuat tak berkedip melihat dua orang di hadapannya, lihatlah tawa Akbar dan Ardi. Gemas sekali ia dibuatnya.


"Aw!" Akbar dikejutkan dengan pukulan tiba-tiba Fiki. Langsung mendelik tajam. "Apa?"


Fiki membenarkan kembali buku yang ia pakai untuk memukul Akbar, membalas sengit tatapan Akbar. "Bener bener lo ya.. gue tanya baik-baik malah marah, giliran Ardi yang tanya lo jawab sepenuh hati."


"Terus kenapa? Lo udah tau juga jawabannya. Lagi pula harusnya lo sadar, gak satu katapun dari mulut lo yang serius. Mulut lo dipenuhi omong kosong."


Ardi menghela pelan, dua orang ini baru saja berdebat namun mata seisi cafe sudah mengarah pada mereka. Mengeluh tertahan. "Jangan mulai! Ini cafe, semua ngeliatin kita." ucap Ardi kemudian, setengah berbisik.


Dua orang yang memang hobi berseteru itu akhirnya diam, menoleh sekitar. Tersenyum memohon maklum. Fiki yang sudah akan membuka mulut urung membalas, mati-matian menahan meski ingin sekali membalas.


Sesaat hening, namun Fiki tampaknya tak mau tragis begitu saja. "Ehhem." Fiki berdehem, kembali menatap Akbar. "Terus kenapa Akmal gak diajak kesini? Lo akrab sama dia kan, calon adik ipar.." tanyanya penuh penekanan.


"Akmal ada urusan. Tapi katanya nyusul kalo sempet." Ardi langsung menjawab, tersenyum. Mencegah Akbar yang tak mungkin tak sebal dengan pertanyaan Fiki.


"Oh.." Fiki nyengir, matanya masih mengarah pada Akbar. "Kira-kira urusan apa, ya.."


"Pikirin urusan lo sendiri!" pelotot Akbar.


Fiki mencebik. "Baiklah.. adik ipar." balas Fiki, penuh penekanan. Membuat Ardi terkekeh mendengarnya.


.


.


.


.


"Mbak suka lukisan??"


"Hemh?"


"Apa Mbak suka lukisan?" ulang Akmal. Mengekor Agnia yang matanya begitu tertarik pada ragam kaligrafi dan lukisan yang tersusun sedemikian rupa.


"Oh! Emh.. enggak." Agnia menggeleng setelah sempat berpikir, menoleh sejenak.


"Terus?"


"Oiya?" Akmal tertarik, beranjak mensejajarkan langkahnya dengan Agnia. "Kalo gitu.. boleh aku belikan kaligrafi? Untuk Ibu.. maksudnya Tante Khopipah."


"Gak perlu." jawab Agnia cepat. "Saya bawa uang sendiri."


"Emh.. kalo gitu Mbak suka apa? Aku mau beliin Mbak sesuatu."


"Saya.. saya suka pulau." jawab Agnia, lantas menoleh Akbar dengan senyum menantang. "Bisa kamu belikan?"


Akmal terkekeh, yang benar saja. Tampaknya memang tak mudah membuat Agnia nyaman dengannya. Ada saja jawaban Agnia yang membuatnya diam tak bisa menjawab. Namun bukan Akmal jika menyerah begitu saja. Melangkah mendekati Agnia yang sudah beberapa langkah meninggalkannya..


"Mbak.." panggil Akmal lagu, berdiri sedekat mungkin dengan Agnia yang sama sekali tak menghiraukannya. "Aku memang gak bisa beli pulau yang Mbak mau, tapi.. aku bisa ajak Mbak ke pulau manapun.. saat kita bulan madu.."


Aduh! Agnia mendengus, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bocah ini benar-benar diluar ekspektasinya. Kali ini menatap Akmal sepenuhnya.


"Jangan berpikir terlalu jauh! Dan.. bisa-bisanya kamu berbual tentang bulan madu, dasar.." Agnia menghela napas pelan. "Kita bahkan belum menikah." ucapnya pelan.


"Belum?"


"Ah!" Agnia kembali menyesal dengan ucapannya. Meringis pelan. "Maksudnya.. kita bahkan tidak menikah. Tidak." tegas Agnia, menekankan kata Tidak.


.


.


.


.


"Ana mau ke toilet sebentar, ente berdua yang akur!" ucap Ardi seraya bangkit dari duduknya. Pria berkacamata itu menepuk pelan bahu Fiki. Seakan tahu masalah apa yang mungkin terjadi jika dua orang ini ditinggal.


Keduanya mengangguk malas, untuk kemudian Fiki segera menatap sinis Akbar, seakan tengah mencari cara menerkam seterunya itu. Masih teringat beberapa peristiwa kebelakang dimana dirinya yang selalu kalah dari Akbar. Masih terus berpikir bagaimana membalikan keadaan setelah ini.


"Jangan liatin gue! Nanti Lo jatuh cinta.." ucap Akbar datar.

__ADS_1


"Najis!" Fiki bergidik mendengar kalimat Akbar. "Hih! Sekarang gue ngerti kenapa lo jomblo terus, lo gak bisa bedain mana tatapan cinta dan mana tatapan jijik."


"Hei" Akbar terkekeh, benar-benar temannya satu ini. "Ngaca! Lo juga jomblo." ingat Akbar, masih belum tersulut emosi. Apalagi Ardi sedang tak ada di dekat mereka.


"Gue jomblo karena prinsip."


"Gue juga jomblo karena prinsip." Akbar tak mau kalah, matanya membulat sekarang. "Lagian sok tau lo! Mana.. gue pengen tau perbedaan tatapan cinta sama tatapan jijik, kalo emang lo tau."


"Okay." Fiki tak terima direndahkan, mendengus pelan. "Lo udah tau gimana tatapan jijik kan? tinggal amati cara gue liat lo. Sedangkan.."


"Ish!" Akbar sebal sekali, namun masih mau mendengarkan ucapan bodoh Fiki.


"Sebentar.. gue cari.." Fiki mengedarkan pandangannya ke sudut cafe. "Biar gue kasih tau.."


Sesaat Fiki menilik beberapa pasangan yang tengah berduaan, masih belum menemukan yang dicarinya. hingga saat matanya menoleh ke luar cafe, ada dua objek yang membuatnya terpaku.


"Mana?" tanya Akbar, masih menunggu. Yakin sekali jika Fiki hanya sok tau.


Fiki tersenyum tipis, menatap Akbar. "Harusnya.. Lo gak perlu jauh cari contoh.."


"Maksudnya?"


"Lo cukup liat tatapan Akmal sama Mbak Agni.."


"Hah?!" Akbar tak mengerti, berdecak. Matanya lantas mengikuti arah tatapan Fiki.


"Lho! Mereka.." Akbar terbengong, melihat Akmal dan Agnia tengah berjalan berdua. "Dan apa arti tatapan itu!" Akbar mendengus, tak terima. Akmal bahkan tak mengalihkan tatapannya dari Agnia.


.


.


.


.


"Kita berpisah disini.. Mbak yakin gak mau aku antar?" tanya Akmal, berdiri menghentikan langkah Agnia.


"Enggak. Lagipun kamu gak bawa motor.."


"Emh.. Aku sebenernya ada janji sama Akbar disini, Mbak gak mau gabung?"


"Enggak." tegas Agnia. "Berhenti bertanya! Saya gak mau gabung sama kalian, apalagi dengan teman-teman kamu yang berisik itu."


Akmal nyengir, membenarkan ucapan Agnia. "Yasudah.."


"Mbak?!"


Ucapan Akmal terpotong begitu saja, teralihkan oleh kehadiran Akbar. Yang kini menghampiri mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.


Agnia santai saja, sudah tahu jika kemungkinan bertemu Akbar di tempat ini. Begitupun Akmal, namun Akbar memasang wajah masam.


"Kenapa?" Agnia heran dibuatnya. Seakan dirinya ketahuan melakukan kesalahan.


Akbar menarik tangan Agnia, membuat Agnia berdiri agak jauh dari Akmal. "Mbak jalan berduaan sama Akmal?"


"Enggak."


"Terus ini apa?"


"Ini? Ini kebetulan ."


"Bohong! Wah.. bahkan Mbak gak ngajar demi.."


Agnia mendelik. "Bohong? Siapa yang bohong? Kamu yang tadi bilang punya kegiatan penting, tapi justru ada disini. Mengejutkan."


Akbar tak menjawab, tersenyum lebar. Merangkul bahu Agnia kemudian. "Maaf.."


Agnia menarik tubuhnya, menatap heran Akbar. "Terus kalian mau ngapain disini?"


"Adalah. Urusan cowok."


"Dih! Terus yang lain mana?"


"Tuh.." tunjuk Akbar dengan tatapannya, diikuti tatapan Agnia. Fiki dari dala Cafe langsung tersenyum seraya melambaikan tangan saat melihat tatapan tiga orang itu mengarah padanya.

__ADS_1


"Mbak mau gabung?"


Agnia mengulum bibirnya, masih menatap ke arah Fiki. Seakan menimbang sesuatu. "Tapi bukannya kamu bilang ini.. urusan cowok?"


__ADS_2