
Luka itu belum sembuh,
Sebab rasa sakitnya masih selalu terasa baru.
***
Di hari yang sama, Agnia sudah bercengkarama lagi bersama anak-anak panti setelah selesai mengisi kajian itu, pantatnya sudah duduk tak nyaman bahkan sejak di aula kampus.
Menyenangkan baginya, berbagi ilmu bersama orang-orang yang sangat antusias mendamba meski setetes ilmu yang didapat. Kesenangan itu juga lah yang ingin Agnia bagikan pada adik-adik kesayangannya.
Sedangkan Hafidz langsung ia suruh pulang setelah mengantarnya terlebih dulu ke sebuah kedai ayam goreng. Tak minta diantar lagi, moodnya seketika berubah tadi.
Agnia kesal sebenarnya, kakaknya itu tidak memihak pada dirinya saat ini. Ia lebih suka Hafidz yang berada di garis tengah saja, tak perlu menyuarakan isi hatinya.
Ahh, ingin rasanya Agnia berkata dengan lugas. "Aku gak mau nikah!" hanya saja pengharapan besar ibunya selalu membungkam mulutnya.
*
*
*
"Gak boleh serakah, ya... berbagi.." ucap Agnia, mengingatkan anak-anak yang berebut meski Lisda, satu dari dua pengurus di sana sudah membagi masing-masing dari mereka dengan adil.
Senyuman muncul dari sudut bibirnya, Agnia menggeleng takjub, di matanya sekarang anak-anak tak beda dengan anak ayam yang tengah diberi pakan oleh induknya. Berisik dan tak mau kalah cepat.
"Emhh." Agnia mengernyitkan dahinya, ketika tak menemukan seseorang yang ia cari, setelah matanya mengabsen anak-anak dengan cepat. "Kamu lihat Kak Bily?" tanyanya kemudian, pada anak laki-laki usia lima tahun yang kini duduk di dekatnya.
Anak itu mendongak, menggeleng sedang mulutnya penuh dengan suapan besarnya. Mendengar pertanyaan itu, Riska yang sedang hilir mudik mengatur adik-adiknya berhenti sejenak.
"Bily dari tadi pagi pamit pergi, Mbak."
Riska, yang juga bertanya-tanya. Sebab belum lagi melihat teman sebayanya itu sejak pergi tadi.
"Bilang gak mau pergi ke mana?" tanya Agnia, jadi penasaran sebab tak biasanya di siang menjelang sore begini bocah itu tak terlihat batang hidungnya.
Riska diam sejenak, mengingat. "Enggak, deh Mbak."
Agnia mengernyitkan dahinya kembali, entah kenapa merasa khawatir.
"Yaudah. Lanjut makan, ya.. Semuanya.."
Meski masih khawatir, ia tak bisa membuat yang lain resah. Satu box yang tersisa, ia simpan kan untuk Bily saja nanti.
***
Malam yang tentram di mana Agnia sudah berkutat nyaman dengan memakai kostum tidurnya, kaca mata sudah bertengger di hidungnya, duduk di meja belajar menghadap laptop. Diganggu Akbar seperti biasa.
"Mbak?!" Akbar muncul, mendorong pintu kamar Agnia tanpa mengetuk. Seperti biasa, datang untuk membual dengan senyum tengilnya.
__ADS_1
Agnia menoleh, menatap curiga Akbar. Sudah mencium bau-bau keresean dari kedatangan Akbar.
Akbar nyengir, duduk di bibir ranjang kakaknya. Menghadap Agnia yang duduk nyaman di kursinya, menghadap laptop yang menyala.
"Mbak gak terima bingkisan dari Asma, tadi?" tanya Akbar.
"Hhmm.." jawab Asma malas, kembali menatap layar laptopnya setelah melihat gelagat penuh ketengilan dari adiknya.
"Pantes aja.." ujar Akbar menggantung.
"Kenapa?"
"Anak-anak minta no rekening Mbak."
Agnia lantas menoleh, menatap lawan bicaranya lebih lama. "Terus, kamu kasih?"
"Enggak lah.."
Agnia mengangguk. Bagus, berarti adiknya ini masih waras untuk tidak memaksa dirinya menerima uang yang sudah ia tolak secara baik-baik.
"Aku kasih rekening ku." tutur Akbar lagi, membuat Agnia langsung mendelik.
Akbar nyengir, "Becanda."
Hening sejenak, Akbar jadi lupa apa yang tadinya ingin ia katakan. Berusaha mengingat lagi.
Astaghfirullah.. Agnia memejamkan matanya sejenak, kesal dengan celoteh Akmal yang kali ini menyakiti kupingnya. Ia jadi berpikir lagi jika lain kali harusnya ia mengunci pintu kamarnya. Bahkan Akbar sama sekali tidak peka dengan reaksi diamnya. Heii!! Mbak sedang tidak mau diganggu, demikian yang ia katakan namun yang keluar dari mulutnya hanya helaan pelan.
"Apa ya..." Akbar kembali berpikir. Sangat serius meski Agnia sangat tidak peduli. "Ah, lupa. Nanti aku inget-inget lagi." ucap Akbar
Sempurna sudah ia membuat kakaknya sebal luar biasa.
***
Akmal baru saja tiba dengan mobilnya, tiba larut malam setelah mengurus satu dua pekerjaannya di Toko. Tadinya ia tak tahu jika pekerjaanya akan memakan waktu yang banyak, Ternyata memang se rumit itu. Sehingga dirinya kininmerasa sangat lebih lelah dari biasanya.
Mata lelahnya begitu kentara, namun setelah melihat sebuah motor asing yang terparkir di sana, mata lelahnya spontan lenyap. Berganti penasaran, siapa yang bertamu di jam larut seperti ini.?
Akmal melangkah masuk, mendorong pintu rumahnya seraya membaca salam. "Assalamualaikum.."
" Waalaikumsalam.." jawab dua orang yang tengah berbincang itu, hampir serentak. "Nah.. Ini dia.." ujar sang ayah.
Senyum ramah coba ditunjukan Akmal, meski hatinya meringis kala dilihatnya jam dinding menunjukan pukul sepuluh lewat.
Ada batas-batas waktu yang sebenarnya tidak tepat untuk seseorang bertamu, dan saat ini, waktu sang empunya rumah beristirahat, berkumpul di atas ranjang yang empuk.
"Duduk!" titah Sidiq, pada Akmal yang berdiri tak nyaman. "Gimana kerjaannya?"
Akmal beranjak duduk, mengangkat bibirnya terpaksa. "Lancar, Yah. Alhamdulillah.."
__ADS_1
Itu Basit, pria paruh baya yang Akmal temui di mesjid tempo hari.
"Nak Akmal, ingat saya?" tanya pria itu, dengan senyumnya.
Tentu saja, Akmal mengangguk. Rupa Basit baginya membekas di ingatan. Mudah diingat. Ia jadi bertanya-tanya kini, apakah gerangan pria ini ke rumahnya di jam selarut ini. isi kepala Akmal sudah terpokus pada ranjang dan selimut saat ini.
"Karena sudah larut, kita persingkat saja." ucap Sidiq, memahami jika anaknya sedang butuh waktu istirahat. "Jadi.. Tujuan Pak Basit kemari, adalah ingin meminta kamu untuk bersedia mengajarkan beliau ini ilmu agama."
Akmal menunjukan tatapan yang tak bisa diartikan, membuat Sidiq memukul lembut paha anaknya supaya berhati-hati dengan tatapannya.
"Saya memang terlambat dalam mengenal agama.." ujar Basit, menjawab tatapan Akmal yang dilihatnya sedikit terkejut.
"Tidak ada kata terlambat, Pak." tumpas Sidiq. "Semua berhak mengecap nikmatnya berislam. Apalagi di usia kita saat ini."
Akmal mengerjap, baru sadar jika reaksinya tadi mungkin menyinggung. "Maaf, Pak. Bukan mengenai itu, tapi.. Kenapa saya?"
*
*
*
***
Agnia merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya, menghela napas seraya menatap langit-langit kamarnya yang lenggang dibawah sinar lampu tidur yang menenangkan.
Selalu begini, kala kesibukannya berakhir, setelah tenaganya terkuras, kesepian lah yang memenuhi dirinya. Ia tak memungkiri jika hari-harinya setelah kegagalan pernikahan itu sangat-sangat menyedihkan.
Dirinya yang terbiasa menjadi sandaran bagi banyak orang diluar sana, kini meratapi dirinya yang tak punya siapapun untuk bersandar.
Ada saja yang kurang dalam hidup, demikian Agnia mengobati sedikit sepi di relungnya. Dan rasa sepi ini kembali naik ke permukaan saat dirinya bertemu lagi dengan Alisya.
Kecewa luar biasa, miris ia rasakan. Sedangkan mereka berbahagia dalam pernikahan mereka, dirinya justru terpuruk dalam kesendirian.
Luka itu belum sembuh, sebab rasa sakitnya masih selalu terasa baru. Dan nyatanya rasa sakit itu membuat dirinya pernah bersumpah untuk tak lagi mengijinkan orang lain singgah di hatinya.
Tak ada air mata, sebab semua yang membuatnya menangis dulu kini menjadikannya lebih kuat.
Meski masa lalu itu masih sama menyengatnya, dirinya sudah jauh lebih bijak dalam mengontrol emosinya.
Helaan napas lolos dari mulutnya, Agnia kini merubah posisi tidurnya jadi berbaring di sisi kanan tubuhnya. Menatap cahaya kecil yang menerangi seluruh kamar miliknya dengan kehangatan.
"Seseorang yang seperti lampu ini, bisakah aku temukan?" gumamnya.
Seseorang yang tak memaksa dirinya menjadi terang benderang, namun cukup dengan hanya memberi cahaya yang justru mampu menghangatkan sudut jiwanya yang gelap dan penuh kecewaan.
Malam semakin larut, mata bulat dengan bulu mata lentik itu perlahan menutup, siap membawa pikirannya menyebrangi sungai mimpi yang indah meski tak berarti apapun.
Niat hati tak ingin memejamkan mata, apa daya alam bawah sadar menyadari, bahwa untuk bertahan hidup diri ini butuh tenanga, memang.
__ADS_1