Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
186


__ADS_3

"Aku datang dengan hati yang tidak berharap pada siapapun." tegas Asma, setelah obrolan panjang dan setelah kalimat ikhlas yang Akbar sampaikan supaya Asma menerima pria yang akan dikenalkan keluarganya. "Tapi alasan kenapa aku ngasih tau kamu lebih dulu, karena aku pikir.. kalo kita bersama aku gak perlu khawatir tentang apapun, rasanya aku bisa hidup sama kamu." kalimat itu terasa mencabik, Akbar rasanya ingin meralat kalimat relanya. tapi..


"Enggak, Asma.. kamu layak bersama seseorang yang lebih baik dari aku. Aku jauh dari kata siap untuk meminang kamu. Aku masih ada di tahap suka belum sampai tahap siap, aku gak bisa menjanjikan apapun untuk kamu."


"Aku tau. Karena itu terimakasih sudah menyukai sejauh ini. Aku pamit, aku harap kamu bisa tau dengan datangnya aku sekarang adalah wujud menghargai ku atas perasaan kamu."


Tiba di titik ini, Akbar tak pernah tau jika cinta pertamanya dan perasaan bertahunnya akan berakhir mengenaskan. Akbar sadar betul jika patah hati itu bukan datang dari penolakan, melainkan kehendak dirinya sendiri. Namun meski secara sadar telah memutuskan begitu, Akbar merasa hampa saat ini. Cinta pertamanya benar-benar gagal, persis yang dirasakan Gian pada Agnia.


Bisakah ia menyesal hari ini? Jawaban bijaksananya yang sebelum ini terasa benar kini baru terasa bodoh.


Ayolah! Asma datang untuknya, menghargai perasaan terpendamnya dengan meminta saran, yang dibalik itu menanyakan keseriusannya. Hanya saja jawaban yang bisa Akbar berikan tak memuaskan, benar-benar tak melihat itu sebagai kesempatan.


Namun sebagai laki-laki, Akbar tak bisa memberi harapan. Wanita sensitif dengan harapan dan kepastian. Tak benar jika ia jadi penghalang seseorang yang mungkin lebih baik bagi Asma.


Ah! Akbar menghela, mengacak rambutnya singkat. Ia tak bisa lemah sekarang. Ini yang terbaik, antara mereka mungkin tak ada takdir lain selain pertemanan. "Sadar, Akbar.. sadar.." hanya kata itu yang berulang ia ucapkan lirih, matanya memejam lama demi menetralkan hati bergejolaknya.


"Kenapa lo?" pertanyaan yang diiringi dengusan itu membawa Akbar kembali dari kegiatan tak jelasnya, kini menoleh gadis yang beranjak duduk di sebrangnya tanpa dipersilahkan. Akbar buru-buru membenarkan posisi duduknya, balas menatap Ripda, gadis yang ia minta untuk datang.


"Ada apa? Gue buru-buru, jadi katakan dengan cepat." kalimat itu akrab sekali, khas sekali diucapkan seorang Ripda tiap diajak bertemu siapapun. Entah benar-benar sibuk, atau memang anaknya tak bisa berlama-lama dalam lingkungan ramai.


Akbar menghela panjang, yang pertama muncul di kepalanya adalah.. kebingungan atas apa alasan Agnia hingga menyarankan gadis ini padanya, yang padahal Ripda begitu tak bisa ditebak dan terlihat ceroboh. Jelas tidak cocok dengan dirinya yang sama cerobohnya.


"Serius? Lo mau terus diem kayak gini?!" tanya Ripda, menatap datar Akbar. Sungguh tak nyaman berduaan begini setelah Agnia sempat menanyainya tentang rasa suka pada Akbar.


"Emh ." Akbar menghela, tatapannya mulai terlihat serius. "Kasih tau gue soal Govin."


"Govin lagi?" Ripda menautkan alisnya, menatap tak percaya sembari menghela frustasi. "Astaga.."


.


.

__ADS_1


.


.


Jarum jam menunjukkan pukul delapan malam lebih lima menit. Agnia sudah beringsut di atas ranjang di jam yang masih muda itu, duduk berselonjor sembari bersandar nyaman dengan tumpukkan bantal guling.


Akmal baru saja kembali dari kamar mandi, langsung meloncat ke atas ranjang dan membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri. Melihat Agnia fokus dengan ponselnya, rasanya ia akan diabaikan.


Benar saja. Agnia hanya mengacak rambutnya singkat, lantas kembali menggoyangkan jarinya di layar ponsel. Membuat Akmal lekas mengernyit, menyentuh dagu sang istri. Berusaha mencari perhatian. "Chattan sama siapa?" tanyanya.


"Mbak Puspa." jawab Agnia, tanpa menoleh sedikitpun.


"Apa katanya?"


Agnia menoleh Akmal sekilas, menyentuhkan puncak hidungnya ke puncak hidung sang suami. "Kepo!"


"Liat sini!"


"Sejak Mbak mulai sembunyi-sembunyi kalo buka HP."


"Maksudnya?" Agnia bertanya penuh penekanan, membulatkan matanya. "Kamu pikir aku macem-macem?"


Mendapat tatapan penuh peringatan, Akmal segera memicingkan matanya. Menunjukkan cengiran tipis. "Enggak dong.. becanda, Sayang.." tuturnya diakhiri kecupan ke pipi Agnia.


"Mbak Puspa ngabarin, katanya besok malem ada tasyakuran di rumahnya." jelas Agnia kemudian, tanpa perlu ditanya lagi.


"Empat bulanan, ya?"


"Iya."


"Berarti kita juga gak lama lagi dong." Akmal berucap riang, tampaknya baru sadar hal itu. Wajahnya dimiringkan untuk mengecup perut istrinya.

__ADS_1


"Iya. Hamilnya gak jauhan, tasyakurannya gak jauhan, bahkan lahirannya nanti insya Allah gak jauhan dari Mbak Puspa."


Akmal mengangguk samar, konsentrasinya jatuh pada perut yang yang belum seberapa besar. Mengelus dan mengecup lagi dan lagi perut itu.


Hening sesaat, Agnia rasanya senang tanpa alasan melihat Akmal begitu anteng dengan perutnya. Tak ada yang lebih membahagiakan setelah tau jika kehamilannya didamba dan begitu membahagiakan bagi suaminya, hatinya serta-merta penuh dengan perasaan syukur luar biasa.


"Oiya, Sayang.."


"Hem?" Akmal menoleh cepat, meluruskan lagi pandangannya. Saat bahagia dirinya cenderung spontan dan penuh perhatian. "Kenapa, istriku?"


Agnia yang sudah akan bertanya dibuat terkekeh singkat mendengar Akmal menggunakan sebutan 'Istriku. Mencubit gemas pipi suaminya sebelum kemudian mengajukan pertanyaanmya. "Tadi kamu ketemu siapa? Govin?"


Akmal menghela, langsung ingat kembali dengan obrolannya bersama Govin tadi siang. Bergerak merubah posisinya jadi bersila di hadapan Agnia. Mengangguk dengan tatapan serius. "Karena kita bahas ini, aku jadi punya sesuatu untuk dibagi."


"Apa?"


Dua orang itu akhirnya duduk berhadapan, Agnia ikut melipat kakinya dan memperkecil jarak keduanya. "Soal apa?" tanya Agnia lagi, sembari meraih tangan Akmal.


"Sebenarnya.. Govin itu bagian dari masa lalu Ulya."


"Ya.. I know. Tapi.."


"Bukan sekedar teman, bukan sekedar pengagum."


Agnia mengernyit, penjelasan Akmal di telinganya terdengar bertele-tele. Bak ingin mengeluh tapi enggan membuat obrolan buruk tentang seseorang yang sudah meninggal. "Apa maksudnya seperti yang aku pikirkan?"


Akmal tanpa ragu mengangguk, sejauh mana pikiran seseorang bekerja? Siapapun sudah tentu bisa menangkap maksud ucapannya. Ya, kisahnya memang tak habis di titik kepergian Ulya. Ia baru tau setelah kepergian mantan kekasihnya, jika hari itu Ulya datang untuk mengatakan isi hatinya.


Seperti hari ini, hari itu Govin juga datang untuk menyiksa dirinya. Saat dukanya belum habis, kenyataan menyakitkan diungkap Govin tanpa ampun hari itu. Sedangkan hari ini? Pemuda itu datang untuk menuntut sesuatu yang tak ia pahami apa sangkut paut dirinya.


Agnia menghela, ia tak berharap kisah dibalik kesulitan suaminya ternyata sepelik ini. Apa mereka disatukan sebab kisah yang sama? Ia tak tau. Namun faktanya mereka adalah dua orang dengan perasaan tulus yang akhirnya terparahkan oleh kenyataan.

__ADS_1


Agnia tersenyum kecil, mengeratkan genggamannya di tangan Akmal. "Aku tau perasaan itu. Pasti sulit, mengetahui itu setelah kepergian gadis itu."


__ADS_2