Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
135. pejuang restu?


__ADS_3

Minggu yang sempurna, setidaknya itu yang dirasakan Hafidz saat ini. Ayah dari satu anak itu tengah menikmati waktunya bermalas-malasan di atas ranjang, setelah sekian lama penuh kesibukan akhirnya bisa bersantai ditemani anak juga istrinya yang selalu sibuk itu.


Puspa duduk di bibir ranjang dengan wajah lelah, tengah berusaha mengganti baju Zain tanpa harus mengejar bocah aktif itu. Bukan tanpa alasan wajah Puspa sudah terlipat sepagi ini, pasalnya Zain tak bisa diam dan malah sengaja mengulangi kesalahannya saat diberi peringatan.


Helaan terdengar, puspa menoleh pada sang suami dengan sorot memelas. Tak perlu dijelaskan bagaimana jengkel dan lelahnya dirinya, menangani dua laki-laki sedang ia wanita satu-satunya di rumah ini cukup menguras emosi.


Sejak kembali dari rumah sakit kemarin malam, Puspa tak bisa menghindar saat ditodong dengan tugasnya sebagai istri juga sebagai seorang ibu.


Demi sorot lelah Puspa, Hafidz yang tengah berbantal lengan langsung paham. Menoleh Zain dari posisi tidurnya. "Zain.. jangan lari-larian! Dengerin apa kata ibu! Pakai baju dulu, nanti main lagi." ucapnya.


Bak sihir, Zain yang semula tak mendengar apa kata ibunya kini menghampiri sang ibu tanpa perlu dioanggil dua kali. Dengan wajah tanpa dosa menghadap ibunya yang jengkel luar biasa.


Puspa tak bicara, setelah memakaikan baju pada Zain ia segera beranjak dari duduknya. Jangan dipertanyakan kenapa, ia sedang jengkel dengan rutinitasnya sebagai satu-satunya wanita di rumah ini.


Jika biasanya ada Sri yang membantu di segala kondisi, beberapa hari ini Puspa harus siap melakukan segalanya sendiri. Setidaknya hingga Sri kembali dan meringankan beban pekerjaan rumah tangganya.


Melihat sang istri berlalu begitu saja, Hafidz ikut bangkit dan beranjak mengekor. Membiarkan Zain yang setelah berpakaian kengkao lanjut bersila di karpet sembari menengadah ke televisi tanpa teralihkan.


Masih pukul tujuh pagi, Puspa yang belum sempat pergi ke dapur untuk membuat sarapan kini bergegas. Di kepalanya sudah tersusun beberapa menu sederhana yang akan ia buat, demi mempersingkat waktu saat perutnya saja sudah menggonggong.


Puspa mengambil beberapa lembar roti setibanya di meja makan, mendekat ke kompor dengan panci di tangannya. Roti bakar sudah memenuhi bayangannya, menu sederhana yang pasti disukai Zain.


Belum lengannya menyalakan kompor, Ahnia dikejutkan saat tangan Hafidz tanpa permisi melingkar di perutnya. Ditambah Wajah Hafidz jatuh di temgkuknya yang tertutup hijab.


Bukannya senang dengan perilaku manis itu, Puspa justru menghela. "Mas.."


"Hemh?" Hafidz bergeming, tanpa mengangkat wajahnya. Betah menyesap aroma parfum dari tubuh sang istri, aroma segar baru mandi memenuhi hidungnya.


"Aku mau masak.." ujar Puspa lembut.


"Silahkan.."


"Mas.." Puspa kembali memanggil Hafidz yang tak kunjung melepas pelukannya. "Gimana aku mau gerak, kalo kamu kayak gini?" keluhnya sembari menepuk pelan punggung tangan Hafidz yang bertengger tak sopa di perut ratanya.


"Sebentar lagi.." ucap Hafidz, bernegosiasi dengan maksud hati tak mau mengangkat kepalanya dan melepas pelukannya dari sang istri begitu saja.


Puspa akhirnya menghela pelan, tak ada pilihan baginya selain membiarkan suaminya itu berbuat semaunya. Toh sejak bangun tidur tadi, ia tak sempat memperhatikan Hafidz. Keburu dibuat pusing oleh Zain dan akhirnya jengkel.

__ADS_1


Saat itu suara deru mobil terdengar, tak perlu diminta Hafidz segera mengangkat kepalanya. Masih dengan tangan di perut istrinya. "Kamu punya janji sama seseorang?" tanyanya.


Puspa menggeleng. "Aku pikir kamu.."


"Bukan.." Hafidz balas menggeleng, dari tatapannya terlihat sekali kebingungan. "Biar aku liat." ujarnya kemudian, sembari terpaksa melepas pelukan hangatnya.


Hafidz berjalan cepat menuju pintu, rasa penasaran menggelitiknya. Hanya saja ruangan yang didominasi kaca itu sudah menampilkan siapa gerangan tamu yang datang sepagi itu.


Untuk sesaat Hafidz mengernyitkan dahinya, berdiri di tempat sembari menebak siapa yang turun dari mobil SUV silver di luar sana.


Wajah Hafidz berubah datar kala pemilik mobil itu turun, demi apapun tidak pernah berharap melihat seseorang yang tengah berjalan mendekat itu di rumahnya.


.


.


.


.


...


"Mbak Agni gak mau aku temenin karena gak nyaman sama aku?" Akmal bertanya demikian dengan kecewa, bukan tanpa sebab. Dari yang ia lihat sebelum ini, Agnia tampak tak nyaman di dekatnya.


[Enggak kayak gitu, tapi.. ada hal lain yang lebih baik kamu lakukan..]


Akmal menghela pelan, bisa ditebak jika Agnia terdengar akan memberi alasan. "Apa?" tanyanya.


[Kamu.. masih harus minta restu satu orang lagi..] cicit Agnia, terdengar ragu-ragu. [Untuk hubungan kita..] tambahnya, setengah berbisik.


Kalimat terakhir yang Agnia tambahkan berhasil membuat senyum Akmal kembali, malu-malunya Agnia terdengar manis di telinganya. Rasa kecewa tak karuan yang sempat melanda hatinya hilang seketika, sesaat perasaan bahagia yang membuncah itu membuatnya terdiam. "Siapa?"


[Ada, pokoknya.. orang ini untuk ku istimewa.. jadi lebih baik lakukan yang terbaik..]


...


Akmal datang dengan tekad yang bulat, ingin meyakinkan Hafidz jika dirinya orang yang tepat bagi Agnia. Tak akan menikahi untuk membuat adiknya menderita. Setelah mengetahui jika orang itu adalah Hafidz, Akmal memutar otaknya untuk mencari cara melembutkan hati calon kakak iparnya ini.

__ADS_1


Sesuai prediksi, Hafidz keluar dengan tatapan datar, persis setiap kali mereka bertemu. Akmal menyungging senyum seperti biasa, tak kan gentar meski sambutan yang ia dapat seperti itu.


"Assalamu'alaikum, Mas.."


"Wa'alaikumsalam.." Hafidz berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada, matanya bak menilik untuk sesaat


"Siapa yang suruh kamu kesini?"


Pertanyaan itu sungguh tidak ramah, pantas saja Akbar memperingatkannya berkali-kali saat memberitahu akan pergi ke rumah kakak sulungnya.


"Agnia?"


Akmal cepat menggeleng, tersenyum. "Ini kemauan aku, Mas.."


"Oiya? Terdengar bohong.." sindir Hafidz. "Yasudah, silahkan masuk.." ketusnya, tetap mempersilahkan meski wajahnya tak menunjukkan sambutan yang baik.


"Mas.. siapa?" Puspa datang, sudah mencuci tangannya dan tengah mengeringkan tangannya dengan tisu. Sebab penasaran, menghampiri untuk memastikan sendiri.


Hafidz tak menjawab, hanya bergeser untuk jawabannya. Menunjukkan pemuda yang berjalan tepat di belakangnya.


"Lho.. Akmal?" Puspa memekik pelan saat melihat pemuda itu, tak menyangka bisa melihat Akmal di rumahnya. Wajahnya sumringah seketika, tampak tak ada yang dibuat-buat. Hal itu tak lepas dari perhatian Hafidz yang spontan mencebik menyadari kilatan senang di mata istrinya.


Akmal tersenyum, suka saat melihat calon kakak iparnya yang ini. Bisa diibaratkan Puspa itu mentari sedangkan Hafidz itu mendung, beda saja auranya. "Halo, Mbak.." sapa nya.


Pandangan Puspa jatuh pada bingkisan yang dibawa Akmal. "Apa itu.." tanyanya dengan wajah antusias.


"Ah, iya Mbak.. ini dari Bunda." ujar Akmal, hampir terlupa. "Untuk Zain."


"Padahal gak usah repot-repot." ucap Puspa, basa-basi. Yang padahal tangannya sudah terulur saja meraih bingkisan dari tangan Akmal. "Tapi makasih, ya.."


Alis Hafidz bertaut, dilihat dari sini wajah istrinya entah kenapa berubah cerah. Kontras saat menolak pelukannya tadi, jika begini ia jadi semakin tak suka pada Akmal.


"Karena kebetulan kamu kesini, kita sarapan sama-sama.. Mbak masak dulu, kamu akur-akur sama Mas Hafidz. Oke?"


Akmal mengangguk tanpa ragu, setuju. Dengan begini Puspa seakan mendukung harapan hati Akmal, memuluskan tujuannya. Berharap dengan ini mungkin Hafidz akan melembut dan memberi dukungan sepenuhnya pada hubungan Akmal dan Agnia.


Saat Akmal mengangguk dan tersenyum, Hafidz satu-satunya yang tak bersemangat dengan ekspresi datarnya. Tak suka dengan ide itu, tak berpikir untuk jadi dekat ataupun akur seperti yang diucapkan Puspa.

__ADS_1


__ADS_2