
Rumah tujuan itu terletak di sebuah desa yang jangkauannya jauh meski aksesnya mudah. Masih jauh menuju pusat kota Tasikmalaya, namun masih termasuk kabupaten Tasikmalaya.
Akmal cukup terkejut sepanjang jalan disana, meski bisa dikatakan pelosok namun fasilitas jalan, jembatan semua lengkap. Tak ada jalan kerikil khas pedesaan tak terjangkau, satu-satunya masalah hanya jalan berkelok nan jauh.
"Dulu jalannya gak gini." kata Agnia, mulai menjelaskan setelah ungkapan terkesan Akmal padanya.
"Oiya?"
Agnia mengangguk. "Kayaknya ada bantuan pemerintah sekitar delapan atau... Sepuluh tahun yang lalu." ungkapnya sembari mengenang. "Kamu beruntung datang kesini sekarang.. dulu jalannya masih bebatauan besar, beberapa bahkan tanah basah. Aku sering kali kapok balik kesini."
"Emh.." Akmal mengangguk. "Daerah ini apa namanya, yang?"
"Hemh?"
"Daerah ini apa namanya?" ulang Akmal.
"Ah! Salawu." jawab Agnia, bukan tak mendengar melainkan terkejut sebab panggilan 'Yang dari Akmal. Untung saja suaminya itu tak ngeh dengan ekspresi kagetnya saat ini, bisa-bisa Akmal menggodanya nanti.
"Kalo ke kota deket?"
"Jauh.."
"Sejauh apa?"
"Jauh pokoknya.. lebih deket ke Garut dibanding ke pusat kota Tasik."
"Emh.." Akmal kembali mengangguk, ia belajar banyak kali ini. Beruntung saja di tengah jalanan gelap yang hanya diterangi satu dua lampu, Agnia menemaninya. Zain dari mulai tidur, bangun, berhenti di rest are untuk makan, lalu ikut kembali ke mobil ayahnya. Akmal dan Agnia benar-benar berdua saat ini.
"Kapan terakhir kali kesini?"
"Lebaran taun kemarin."
"Taun kemarin kesini ya masih sendiri, ya.. sekarang udah sama suami."
Agnia mengangguk, menoleh dengan senyum. Memperhatikan Akmal yang kembali fokus menyetir setelah bertanya. Siapa tau dengan jalan hidup seseorang, Agnia masih jadi gadis hilang harapan saat ferakhir kali datang ke desa ini, Namun hari ini ia kembali tak hanya sebagai seorang yang punya harapan melainkan membawa serta kehidupan barunya.
"Masih jauh gak?"
Pertanyaan Akmal membawa Agnia kembali dari lamunannya, menggeleng samar. "Sebentar lagi kok. Kenapa? Cape?" Agnia meletakkan tangannya di lengan Akmal. "Siapa suruh ngajak aku kesini, hemh?"
Akmal hanya tersenyum, sesaat membalas pegangan tangan Agnia di lengannya. "Gak papa, demi imbalan." jawabnya diiringi cengiran. Yang lantas membuat Agnia menghela, menarik lagi tangannya. Jelas ia paham imbalan apa yang suaminya maksud, dan itu sudah pasti akan menyudutkannya.
"Kenapa?" Akmal menarik dagu Agnia, terkekeh melihat ekspresi istrinya saat ini. "Jangan panik, sayang.. hemh? Lebih baik bersiap."
Tidur Akmal nyenyak sekali, dengkuran halus terdengar berbalasan dengan dengkuran Akbar di sebelahnya, sementara Hafidz tampak damai di sisi lainnya seperti karakter nya setiap saat. Agnia tidur bersama Yesa, Puspa dan Zain. Namun demi melihat sang suami, pergi diam-diam saat teman sekamarnya sudah terlelap. Ia tak tenang sebelum memastikan Akmal sebelum tidur.
Ini cukup mengherankan, ternyata tak butuh lama, ia mudah sekali untuk terbiasa. Seakan sudah membersamai Akmal sejak lama, timbul khawatir di hati Agnia hingga belum bisa tidur sebelum keinginannya melihat Akmal terpenuhi.
Peluh terlihat di wajah Akmal, Agnia mengambil tisu dan mengusap wajah Akmal pelan. Pria itu damai dalam tidurnya, sama sekali tak terganggu dengan gerakannya. Agnia menghela pelan, berpikir jika ini mungkin kali pertama sang suami melakukan perjalanan jauh. Bukan tanpa sebab, lihatlah pria yang kesulitan tidur dan mudah sekali terganggu tidurnya ini kini mendengkur halus. Sama sekali tak terganggu saat Agnia memberi kecupan di dahinya.
...
__ADS_1
Rumah yang semula damai itu mendadak ramai dalam satu malam, keributan terjadi di waktu menjelang subuh ketika semua bangun. Yang semalam lelah hingga tepar berakhir di kasur, kini tampak segar.
Yan paling mengejutkan semua adalah suhu disana yang kontras sekali dengan suhu jakarta. Akmal yang paling kaget, paling tak biasa dari yang lainnya. Tapi jangankan Akmal yang baru pertama kali, Akbar yang sudah sering kali beradaptasi lagi dan lagi tiap kesana saja tak kunjung terbiasa, kinibmasih betah meringkuk dalam selimut.
Lima belas menit setelah berjamaah subuh selesai, Akmal dan Akbar kembali berdua saja meninggalkan Fauzan dan Hafidz yang memilih duduk lebih lama di mesjid. Jaraknya cukup jauh, mereka melewati jalanan umum yang di kanan-kirinya berderet beberapa rumah warga.
Akmal terpaku, matanya terkunci pada gradasi biru yang memanjang dari Utara langit hingga ke timur disertai kilau oranye yang memanjakan penglihatan. "Maasya Allah.." Akmal tak bisa melewatkan pemandangan cantik ini tanpa memuji penciptanya, sungguh tak terhingga keindahannya. Dengan langit yang hampir tanpa awan dan bintang yang terhitung, hanya satu dua yang tampak berkelip. Deretan gunung dari jauh dengan pepohonan yang berderet tampak kecil menambah takjub Akmal saat ini.
Akbar sibuk bicara sembari berjalan, baru sadar setelah lima langkah menjauh dari Akmal yang mematung. Decakan keluar dari mulutnya, namun siapa yang salah? Akbar sendiri yang sibuk berbicara dengan mata celamitan. "Yeh! Dibawa ngomong juga .. Kenapa lo?" tanyanya, mendekat lagi pada Akmal dengan gemas.
"Ah.." Akbar segera paham setelah melihat ke arah pandangan Akmal. "Kenapa? Baru kali ya, liat pemandangan kayak gini." tanyanya bernada cibiran namun dirinya sendiri saat ini juga ikut terpaku.
"Hemh.. pertama kali." jawab Akmal sedikit tak fokus, tak mau melewatkan atauh bahkan bahkan berkedip dari pemandangan ini.
Akbar menarik napas panjang, menghirup banyak-banyak udara segar yang setahun sekali ia rasakan ini. "Memang indah, pantas dinikmati. Kan?"
"Hemh.. cuman sayang."
"Apa?"
"Gue menikmati pemandangan indah ini dengan orang yang salah.." ujar Akmal, tanpa menoleh lawan bicaranya. Mereka berdua berbincang tanpa saling bersitatap.
"Emh.." Akbar mengangguk, seakan menyetujui. "Hah?" segera menoleh, baru sadar kalimat kurang ajar Akmak. "Dasar.. pengantin baru!" cibirnya lantas melanjutkan langkah, lupakan soal pemandangan. Ia tiba-tiba saja jadi tak tertarik. Akmal terkekeh, melihat reaksi itu. Menyadari kesamaan nada bicara Akbar dan Agnia.
Akbar menghela, menoleh sesaat setelah Akmal menyamakan langkah dengannya. "Gimana rasanya.. nikah? Sama kakak gue?"
"Seru. Menantang." jawab Akmal, dengan sunggungan tipis yang langsung dibalas dengusah oleh Akbar. "Hah seru dia bilang.. terus apa artinya menantang? Lo pikir Mbak Agni wahana?"
"Hemh.." Akbar mengangguk, sembari mencebik anatara setuju atau menilai itu alai. "Syukurlah, seenggaknya lo bener-bener nikahin Mbak Agni karena keinginan lo."
"Hemh? Maksudnya? Kenapa.. Lo pernah ragu akan itu?"
"Ya.. bukan gue sih, tapi Mas Hafidz. Dia bilang takut kalo lo nikahin Mbak Agni sebab perjodohan, atau sebab bakti sama orang tua aja."
Akmal mengernyit, sesaat mencerna. Sebab dirinya sama sekali tak melihat kesalahan dalam hala itu. "Tunggu.. apa itu salah?"
"Enggak. Tapi bagi sebagian orang menyatukan bakti dengan ketulusan itu hampir gak mungkin. Beberapa berpikir jika dengan menikahi saja sudah menjadi bakti, padahal keinginan orang tua itu supaya anak mereka menemukan bahagia dalam hubungan yang mereka ciptakan." terang Akbar, mengungkapkan yang terlintas di kepalanya. "Gue gak mau aja denger Mbak Agni harus survive di masa pengantin barunya, atau kedepannya nanti. Gue rasa hari-hari sebelum ini sudah cukup menghabiskan jatah sedihnya."
Ungkapan itu terdengar jujur, tak tau kenapa tapi Akmal bisa merasakan jika topik tentang Agnia selalu merubah Akbar jadi serius dan emosional. Bahkan meski melewati masa sulit bersama, Akmal merasa jika adik iparnya itu terlalu menganggap luka Agnia sebagai lukanya. Padahal ia harus memiliki ketenangan, kebahagiaannya sendiri harus diciptakan. Kejahilan dan keceriaan Akbar jelas sekali wujud usaha untuk menutupi luka yang ia simpan di hatinya.
Para kerabat satu persatu bergantian datang sejak pagi sekali, datang untuk sekedar menyapa pengantin baru katanya. Penasaran sekali dengan suami Agnia, mereka sejak mendengar kabar Agnia akan menikah semua mulai menebak bagaimana rupa calon suaminya. "Si Aa nya mana, Neng?" tanya semua saat bersalaman dengan Agnia.
"Ada, Wa.. tadi pergi ke mesjid sama Akbar." jawab Agnia.
"Oh.. Kela, saha namina?" timpal yang lain. (Sebentar, siapa namanya?)
"Akmal, Wa.."
"Oh.. caket bumina, ti bumi Neng?" (Deket rumahnya dari rumah Neng?)
Agnia mengangguk, rasanya tak perlu menjelaskan dengan rinci seberapa jauh jarak rumah mereka. Singkat saja. "Caket, Wa.."
__ADS_1
Begitu saja alurnya, semua tak jauh bertanya demikian. Soal nama suaminya, dan asal suaminya. Hingga saat Akmal dan Akbar kembali, semua beralih memberondong Akmal dengan pertanyaan dengan bahasa Indonesia kaku mereka, diiringi tawa menertawai kelakuan mereka sendiri.
...
"Suka disini?" tanya Agnia, pada Akmal setelah mereka mendapat waktu berdua lagi. Sekarang dalam mobil menuju satu tempat.
"Suka." jawab Akmal cepat. "Tapi Mbak.. semua yang datang tadi beneran masih kerabat?"
Agnia terkekeh. "Kenapa? Kaget ya.."
"Hemh.. kayaknya satu kampung datang tadi. Kalo mereka datang ke pernikahan kita, kayaknya gak usah undang tamu lagi."
"Namanya di kampung, ya isinya pasti masih kerabat. Gak kayak kita di kota, satu dan yang lainnya belum tentu kenal. Sebab datang dari daerah yang beda."
Akmal mengangguk, kini paham jika orang-orang yang menamai mereka sebagai Uwa itu tidak sedang pura-pura atau mengaku-ngaku saja. Hening sesaat, Akbar menatap lurus jalanan, mobilnya sudah membelah jalan raya mengikuti mobil Hafidz di depan sana.
"Oiya Mbak.."
"Hemh?" Agnia menoleh, ia sibuk berjibaku dengan makanan sejak tadi. Satu kantung belanjaan berada di pangkuannya.
"Aku rasa Mas Hafidz masih gak suka sama aku." ungkap Akmal, menoleh lewat kaca spion.
"Iyalah, soalnya kamu ngambil perhatian Zain lebih dari dia." jawab Agnia cepat.
"Bukan karena nikahin adiknya?"
Agnia berpikir sesaat. "Itu mungkin juga. Tapi jangan dipikirin.. Mas Hafidz memang begitu, mau bahagia, kesel atau sedih wajahnya tetep kayak gitu. Gak pandai berekspresi."
"Ya gak papa, aku cuma heran.. padahal hati adiknya aja udah luluh, kenapa justru Mas Hafidznya yang susah ditaklukkan. Ya kan?"
"Hemh" Agnia mengangguk saja, tak sadar jika anggukannya berarti menyetujui jika hatinya sudah luluh sepenuhnya pada Akmal. Ia justru sibuk menyuap, tak sadar senyuman penuh arti yang diarahkan sang suami padanya.
Galunggung, butuh waktu satu jam dengan mobil untuk tiba di sana. Tempat wisata berupa berapi yang sudah tidak aktif, dengan kawah cantik dan pemandangan indah mengitarinya. Ada sejumlah fasilitas di kaki gunung, berupa kolam pemandian air hangat. Sementara menuju kawah membutuhkan effort lebih untuk menaiki anak tangga yang berderet panjang. Tasikmalaya, pesonanya tak kalah mendunia. Ada kampung adat Naga, gunung Galunggung. Dua hal itu lekat sekali dan jadi ikon kabupaten Tasikmalaya.
"Ke kota masih jauh?" tanya Akmal, dilingkupi penasaran sebab setelah makin dekat dengan tujuan mereka malah kembali ke jalanan pedesaan yang asri setelah sempat menemui jalan raya.
Agnia balas tersenyum. "Masih jauh, sayang.. masih satu jam lagi, atau bahkan lebih.. kayaknya.."
"Hah?!" Akmal spontan menoleh, tatapannya bukan saja kaget namun penuh harap dalam waktu bersamaan.
"Iya, sekitar satu jam lagi."
"Enggak, bukan itu. Mbak panggil aku sayang?"
"Ehhem.." Agnia memulai aksi pura-pura tak sadarnya, memasang ekspresi tak tau apa-apa. "Oiya?"
Akmal tersenyum lebar, memang terkejut dengan jauhnya jarak mereka menuju pusat kota namun lebih terkejut dengan panggilan sayang dari sang istri. "Gak papa, Mbak.. aku suka. Panggil sayang lagi, coba.."
Agnia menutup rapat mulutnya, memalingkan muka. Masih tak suka digoda, jika sedikit-sedikit saja sudah diganggu begini.. rasanya lebih baik ia tak menunjukkan perhatiannya.
"Hey.. kok diem?" Akmal menarik dagu Agnia, membuat istrinya itu kini menghadapnya dengan wajah kecut. "Ngambek? Gak suka aku ganggu? Okke deh.. aku gak akan aneh-aneh.. hemh? Aku tunggu sampe Mbak bener-bener nyaman sama aku.. ya? Senyum dulu dong.."
__ADS_1
Agnia menyunggingkan bibirnya tipis, terlihat sekali terpaksa. Namun Akmal dibuat gemas saja melihat itu, tau sekali kegengsian yang dirasa istrinya kini. "Tunggu saja setelah terbiasa, sayang.. kamu gak akan bisa menolak aku setelah itu." gumam Akmal di dalam hati dengan percaya diri, sembari mengulum senyum.