Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
106. dia tidak istimewa


__ADS_3

...


Akmal memang paling sabar saat menghadapi Fiki, menurut saat dimintai traktir. Yang padahal Fiki justru lupa dengan janjinya setelah berhadapan dengan makanan, tampaknya serius saat mengatakan lapar.


Tak masalah dengan itu, demi apa yang ingin dia dengar dari mulut Fiki, Akmal bersedia membuang waktunya seperti ini. Akmal dengan sabar memperhatikan Fiki, masih menunggu hingga pria di hadapannya selesai menelan habis kunyahannya.


"Lo.. bener-bener mau ngasih tau sesuatu, atau sengaja ngerjain gue?" tanya Akmal, seraya memasang wajah curiga.


Fiki nyengir kala ditanya begitu. "Lupa." cicitnya lantas meraih minumannya, menyedot sesaat.


Akmal mencebik tipis, tangannya terlipat di depan dada. Duduk bersandar menanti penjelasan Fiki.


"Ceritanya.. dimulai dari.." Fiki memasang tatapan tengilnya, tersenyum miring bak hendak bercerita dramatis.


...


Fiki, remaja dengan tampang tengil yang tak berubah hingga bertahun selanjutnya tengah terpesona kala masuk ke rumah Akbar. Ya, itu pertama kali baginya.


Satu orang lainnya, Ardi tak bereaksi berlebihan. Sebab rumahnya bahkan lebih besar dari rumah milik kawannya itu, ia hanya mengendikkan bahunya melihat reaksi Fiki yang baginya justru berlebihan.


Tiga remaja berseragam putih biru itu masuk beriringan, dengan Akbar paling depan memimpin masuk ke rumahnya. Tiga orang itu, meski terkesan santai namun terlihat sekali waspada nya.


"Orang tua ente, lagi gak ada di rumah?" tanya Ardi, seraya menoleh sekitar. Sudah diberi tahu sebenarnya, namun tetap bertanya.


"Enggak, ada acara mereka."


"Terus?"


Alis Akbar bertaut sebab pertanyaan singkat itu, kakinya berhenti saat kakinya baru menginjak tangga pertama menuju lantai atas. Spontan ia menoleh, menatap heran dua orang di belakangnya.


Yang mengekor ikut berhenti, Fiki menatap dua temannya bergantian.


"Cemen! Kalo takut harusnya kalian gak usah ikut!" ketus Akbar.


Fiki menggeleng. "Bukan gue.." Matanya mengarah pada Ardi, membuat yang ditatap kini menghela.


"Tenang.. gak ada siapapun di rumah, kakak gue juga pada pergi." ujar Akbar, lantas melanjutkan langkahnya.


"Lo punya kakak?" tanya Fiki, tertarik dengan fakta itu.


"Punya, dua malah.. Kalo mau ambil aja satu"


"Dih.." Fiki hanya mencebik menanggapi ucapan becanda Akbar yang terkesan keterlaluan, ia tak lagi bertanya sebab foto yang menampilkan keluarga kecil Akbar sudah lebih dulu menjawab. Terpampang jelas di depan mata mereka, kala menginjak lantai kedua rumah itu.


Fiki masih menatap takjub tiap sudut rumah Akbar, terpesona dengan beberapa foto, lukisan juga kaligrafi yang dipajang sedemikian rupa sepanjang dinding menuju kamar Akbar.


"Ini kamar Lo?"


"Bukan! Itu kamar kakak gue.." pelotot Akbar, segera menarik Fiki menjauh dari kamar Agnia. "Gak liat lo! Itu pintu stikernya boneka, pink lagi. Masak kamar gue.."


"Ya siapa tau.." potong Fiki, lebih sewot dari Akbar yang sebal. Itulah bagaimana benih pertengkaran bermula antara dua orang itu. "Banyak kok, laki hatinya pink."


"Aneh!"


Keributan dua orang itu disaksikan datar oleh Ardi, ia sudah belajar menangani dua orang ini sejak hari itu.


Namun bukan saja Ardi yang terganggu dengan keributan itu, seseorang yang berada dalam kamar dengan pintu berstiker boneka yang jadi perdebatan Akbar dan Fiki sekarang keluar. Menampilkan sosok Agnia yang berdiri dengan tatapan bingung, seragam putih abu dengan rok sepanjang mata kaki meyakinkan jika kakaknya Akbar itu duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Akbar langsung mematung, tangannya menggaruk tengkuk tak gatal. Keberadaan Agnia tak ia perhitungkan sebelumnya, dan dari enam hari waktu sekolah kenapa mereka harus bertemu di rumah? Akbar membatin sendiri.


"Kalian.."


Akbar memasang senyum lebar, berusaha menutupi dirinya yang sebenarnya tegang takut dimarahi.


Agnia mendengus sebal saat tak mendapat jawaban dari Akbar, dari sikap diam adiknya itu ia sudah mengambil kesimpulan. "Kalian bolos?" tanyanya sinis.


"Enggak, Mbak.."


"Bohong! Terus ngapain disini?"


"Ada yang mau aku bawa, apalagi.." jawab Akbar, terdengar meyakinkan. "Mbak sendiri? Jangan bilang Mbak yang justru bolos.."


"Malah ngebalikin omongan Mbak, kamu.. Yaudah, cepet ambil barang yang mau kamu bawa. Mbak tunggu, kita pergi sama-sama."


"Aku baru dateng, jadi kayaknya bakal lama kalo Mbak nunggu.." ujar Akbar, kini menemukan celah untuk membuat alasan.


Agnia menghela, tangannya ia lipat ke depan dada. "Di sekolah mbak lagi ada lomba, jadi mbak santai.. dan udah dapet izin pulang juga.."


Mati! Akbar tak bisa berkelit setelah ini, bagaimana ia katakan jika mereka bertiga dihukum dan justru berlari dari hukuman itu.


Dari pada harus membersihkan toilet setelah ketahuan merokok, Akbar berinisiatif mengajak temannya kabur. Sebab jarak yang dekat dari sekolah menuju rumahnya, jadi tak menyulitkan. Namun kehadiran Agnia lah yang ternyata menyulitkan.

__ADS_1


Agnia mengernyit setelah beberapa saat tak digubris Akbar, tatapannya datar mengarah pada sang adik.


Ia mencium sesuatu mencurigakan, apalagi setelah melirik dua teman adiknya bergantian dan mendapati Ardi yang terlihat gugup.


"Kalian pasti sudah melakukan kesalahan." tebak Agnia, yakin sekali sebab Ardi makin menundukkan kepalanya setelah mendengar Agnia berucap begitu.


"Sekarang balik ke sekolah! Atau kalian dalam masalah yang lebih besar.."


Akbar gelagapan, tak bisa berbohong namun tak mau juga jika harus kembali ke sekolah. Sama saja mereka menyerahkan diri untuk dihukum lebih parah dengan kembali.


"Tapi Mbak. Gini.."


"Mbak gak mau denger alasan apapun. Mbak bilang balik ke sekolah, artinya harus!"


Akbar menghela, lantas melirik Ardi dan Fiki bergantian. Seakan memberitahu jika ia tak bisa berbuat apapun lagi.


Niat mereka menghabiskan jam dengan bermain PS justru berakhir tertangkap basah, untuk kemudian tiga orang itu dimarahi orang tua mereka masing-masing.


Begitulah kekuatan ancaman Agnia, hingga kini bahkan tak berubah. Masih sama lancipnya, menembus siapa saja yang tak patuh ucapannya.


...


"Jadi.." Akmal tak paham arah pembicaraan Fiki yang berbelit, alisnya bertaut sempurna sebab itu. Entahlah, cerita Fiki lebih menjurus ke pertemuan pertama dibanding kesan pertama.


"Jadi kesan pertama gue ketemu Mbak Agni.. gak bagus." jelas Fiki.


Akmal mencebik, jangankan Agnia. Semua pasti melakukan hal yang sama, mana ada anak kabur dari sekolah datang ke rumah disambut baik.


"Dia jutek, sombong, terus kejam. Itu pendapat gue tentang Mbak Agni selama.." Fiki menjeda, tampak berpikir untuk sesaat. "Tujuh tahun, kayaknya.."


Akmal mendengarkan, masih mencari tau apa yang berusaha dijelaskan Fiki padanya.


"Kita gak sekalipun saling sapa selama tujuh tahun itu. tau kenapa? sebab Mbak Agni menciptakan dinding tebal di sekitar dia."


Fiki diam lagi, kini kembali menyuapkan makanannya. "Tapi.. dua tahun ini, setelah dia gagal menikah dan berhasil melalui satu tahun masa terpuruknya.. dia banyak berubah."


Akmal menaikkan sebelah alisnya. "Maksud lo.. dia yang berubah atau pendapat lo tentang dia yang justru berubah?"


"Emh.." Fiki untuk sesaat menimbang, memikirkan jawaban mana yang lebih tepat ia pakai. "Ah.. kalo dipikirin lagi, bukan dia yang berubah tapi memang sudut pandang gue tentang dia yang berubah." ralat Fiki, untuk kemudian terkekeh sendiri.


"Masalahnya, Mal.. menurut gue Mbak Agni itu sama sekali gak aware sama sekitar dia sebelumnya. Coba lo bayangin, dia sampe gak sadar kalo terjadi sesuatu antara pacar sama sahabatnya."


"Menyalahkan diri sendiri itu melelahkan, karena itu berati kita suka rela membawa beban berat di pundak kita." Fiki menghela pelan, menatap Akmal lama. "Itulah kenapa gue bertanya-tanya tentang hal apa yang membuat Mbak Agni lupa rasa sakitnya dan memilih membuka hati buat lo.."


Akmal mengulas senyum tipis, lantas mengendikkan bahunya. Jawabannya tetap sama meski Fiki tanyakan seribu kali, mana ada rahasia khusus menaklukkan perempuan? Fiki ada-ada saja.


Sekarang ia justru takjub, Fiki mengatakan hal luar biasa untuk pertama kali di telinganya. Cara Fiki memandang kisah itu pada hari ini sungguh luar biasa.


Fiki mendengus sebal menerima tatapan dari Akmal, sudah pertanyannya tak dijawab ditambah tatapan yang sulit diartikan juga. Membuat tanda tanya besar muncul di kepala Fiki.


"Apa? Lo terpesona sama gue?"


.


.


.


.


Menikah?


Tak terhitung kebingungan yang Agnia rasa sebab satu kata itu sekarang ini.


Timbul penasaran, Apa yang membuat ayahnya itu mudah sekali mengabarkan berita pernikahan padahal belum ada lamaran ataupun pertunangan antara ia dan Akmal.


Bukankah lamaran saja lebih baik dirahasiakan? Sedangkan ayahnya kini bahkan sudah mengumumkan pernikahan sebelum terjadi akad terima dan tidaknya.


Agnia merasa aneh, apa yang membuat keluarganya seyakin itu pada Akmal?


Tak seperti hari lalu, topik pernikahan tak lagi membuatnya takut namun.. menimbulkan debaran aneh di dadanya. Apa ia benar-benar akan menikah?


Sebenarnya sejak tak jadi menikah dengah Adi, tak pernah dirinya berpikir untuk kembali merajut kasih dengan pria manapun. Bahkan saat dihadapkan perkenalan dengan beberapa pria, yang timbul di hati Agnia hanya benci. Rasa trauma itu membangkitkan kesedihan juga kehampaan di jiwanya.


Namun hari ini, Agnia paling heran dengan dirinya. Lihatlah.. ia bahkan tak merasa sedih atau marah setelah tau berita itu, hatinya tenang dan hanya merasakan gemuruh tak jelas yang beradu di dalam sana.


Khopipah datang dan membuyarkan lamunan Agnia saat itu, masuk ke kamar lama Agnia tanpa disadari. Wajahnya berseri mendapati anak gadisnya tengah duduk santai di kamar lamanya yang semula ia takuti.


Khopipah membawakan secangkir teh untuk Agnia, masih mengepul asapnya. Setelah menyodorkan teh yang kini sudah beralih ke tangan Agnia, Khopipah lantas mengambil tempat di sebelah sang anak.


"Ngapain disini? Bukannya kamu gak suka kamar ini?" tanya Khopipah lembut.

__ADS_1


Agnia mengulas senyum tipis, menoleh sang ibu sekelas. "Sengaja, Bu. Aku.. lagi butuh suasana baru."


Khopipah mengangguk, setuju. "Memang seharusnya, suasana baru baik untuk kita. Tinggal dalam ruang pengap untuk waktu yang lama, cukup melelahkan.. cukup menguras tenaga."


Agnia paham arah pembicaraan sang ibu, hanya menoleh sesaat untuk kemudian meluruskan pandangannya pada secangkir teh mengepul yang ibunya berikan.


Sesaat lenggang antara dua orang itu, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Oiya, Bu.." Agnia justru yang memulai.


"Apa?"


"Kenapa Ibu suka sama Akmal?" tanya Agnia, yang berhasil membuat senyum di wajah ibunya tak bisa tertahan. Senang saja mendengar Agnia bertanya tentang Akmal dengan nyamannya.


"Kenapa bertanya?"


"Penasaran. Aneh aja, ibu bisa seyakin itu nitipin aku sama dia."


"Emh.." Khopipah mengangguk, kemudian menghela cukup panjang. "Sebenarnya.. itu terjadi begitu saja, sama seperti saat ibu mengenalkan kamu dengan pria-pria sebelumnya. Tidak ada yang istimewa, Hanya saja.. dia satu-satunya yang bisa membuat kamu sembuh."


"Hemh?"


"Kamu berhenti takut saat membicarakan pernikahan, kamu mulai bisa diajak berbincang soal Akmal, dan kamar ini? Kamu mulai kembali ke kamar ini.. Katakan.. apa kamu gak merasa itu menakjubkan? Atau.. bisa jawab sejak kapan dan kenapa itu terjadi?"


Agnia terdiam, tak bisa menjawab. Itu juga yang sedang ia pikirkan.


Khopipah menghela. "Dan ibu juga tau, kalo Alisya dan Adi mereka kembali. Bahkan kamu mengajarkan anaknya.. Sekarang, bisa kamu jawab kenapa kamu bisa setegar itu? Memaklumi orang lain tidak cukup untuk memberi alasan kepura-puraan. Itu adalah keikhlasan dari kamu...


"Sekali lagi, sejak kapan rasa sakit itu tidak mempengaruhi kamu?"


Sejak kapan? entahlah.. Agnia justru tak berkedip mendengar pertanyaan ibunya.


Khopipah tersenyum kembali. "Dengar.. dia tidak istimewa, Agni.. dia hanya kebetulan saja bisa membuat kamu merasa lebih baik."


.


.


.


.


Alisya dan Raina baru saja pulang, keduanya baru saja masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Alisya segera merebahkan dirinya di atas sopa, sementara Raina yang tadinya terlihat lemas justru berubah semangat setelah melihat mainannya.


Satu hal lagi yang mengganggu di kepala Alisya, ia jadi penasaran sekali, ada apa gerangan dengan Agnia. Musibah? Semua sibuk berkata demikian. Tapi apa yang terjadi?


Sesaat dahinya berkerut memikirkan rasa penasarannya, untuk kemudian menampar dirinya lagi. Kembali mengingatkan dirinya untuk tak terlalu memikirkan Agnia, sebab itu hanya akan membuat dirinya over thinking. Sudah cukup masalah yang timbul antaranya dan Adi sebab nama Agnia, tak perlu sengaja dibumbui lagi.


Dari pada memikirkan Agnia kenapa, lebih baik ia pikirkan bagaimana cara menyingkirkan nama itu dari hati suaminya.


Sebuah notifikasi masuk, memecah pemikiran Alisya yang makin menggila. Alisya langsung membuka pesan yang datang tanpa menunda, apalagi pesan itu datang dari teman masa sekolahnya.


Pesan itu berisi undangan untuk menghadiri pembukaan butik milik Indri, temannya yang adalah designer juga pengusaha.


Alisya jadi punya satu ide sebab undangan itu, ia terpikirkan untuk menunjukkan keharmonisannya bersama Adi di hadapan semua orang, termasuk Agnia.


Agnia pasti diundang dan akan datang, ia tak boleh menyia-nyiakan ini. Ya, itu rencana sempurna. Ini untuk pertama kalinya, dan itu harus dengan penuh bangga juga sempurna.


Ia harus terlihat bahagia bersama suami dan anaknya.


Senyuman muncul di wajah Alisya, dengan senang hati membalas pesan itu.


Selamat, Indri.. semoga bisa hadir ya..


^^^Harus dong.. semua diundang kok.^^^


Agnia diundang juga?


^^^Iyalah.. harus kalo dia.^^^


^^^Masih sering ketemu sama dia gak?^^^


Masih lah.. kenapa emangnya?


^^^Kalo gitu tolong kasih tau undangan aku buat dia juga, ya..Takutnya aku lupa ngabarin dia.^^^


^^^Sibuk soalnya.^^^


Iya deh, orang sibuk.. pasti aku kasih tau deh, nanti..


Alisya tersenyum, menghela lega. Ia jadi punya ajang menunjukkan keluarga kecil bahagianya pada semua, maksudnya pada Agnia.

__ADS_1


__ADS_2