Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
172. Baby moon part3


__ADS_3

Kabut putih memanjang menutupi langit di ujung sana, gemuruh datangnya pasukan hujan terdengar makin dekat. Agnia beranjak dari duduknya, menutup semua jendela lantas kembali beringsut ke atas sofa. Menoleh Akmal.


"Kenapa?" tanya Akmal sembari membelai sayang pipi Agnia, tersenyum menggoda. "Kecewa karena terjebak hujan?"


Agnia mengendikkan bahunya, kembali membaringkan kepalanya di pangkuan Akmal. "Terjebak hujan di dalam rumah, hanya berdua, apa masalahnya?"


Hampir setengah hari, setelah menikmati waktu dengan masak juga makan berdua diiringi tawa, mereka kembali terpaku di depan televisi menyaksikan tayangan-tayangan yang sebenarnya tak satupun dari mereka sukai.


Ada adegan yang paling menarik perhatian, Agnia sampai bangkit dan membenarkan posisi duduknya. "Kenapa kamu gak pernah gendong aku kayak gitu?" tanyanya, tertuju pada adegan di sinetron dimana seorang pria menggendong perempuan ala pengantin.


Pertanyaan itu cukup mengejutkan bagi Akmal, lihatlah Agnia yang bertanya begitu dengan santainya. Lucu sekali bagaimana pertanyaan itu terlontar, Akmal tak menyia-nyiakan kesempatan dengan menarik istrinya untuk tidur kembali di pangkuannya. "Mau sekarang, aku gendong kayak gitu ke kamar?" seringainya, diiringi kecupan singkat di kening juga mata sang istri.


Agnia langsung menarik kepalanya, lantas bangkit sesaat sebelum kecupan itu hendak diarahkan Akmal ke bibirnya. Segera bergeser menjauh, sungguh tak bermaksud membangunkan keinginan Akmal atasnya dengan ucapannya barusan. "Sebentar lagi dhuhur, waktunya wudhu. Kita.. shalat berjamaah.."


Akmal mengangguk, tersenyum sembari bangkit. "Baiklah.. tapi setelah itu, aku minta penuhi apa keinginanku. Hem?" tanyanya, mencubit pelan pipi Agnia, lantas berlalu meninggalkan istrinya yang tiba-tiba dirundung sesal. Apa seharusnya ia tak bertanya begitu tadi?


...


Sisa hujan mulai mengering, kecuali udara yang awet dinginnya hingga malam hari. Agnia bergerak dari bawah hangatnya selimut, mendapati jika bantal tidur favoritnya tak ada di pelukannya. Beranjak turun dari ranjang untuk mencari suaminya.


Rumah yang terang dan tanpa sekat itu menampakkan segalanya, Agnia lebih dulu meneguk segelas air hangat lantas menengok Akmal ke halaman depan. Pria itu tak ada, Agnia beranjak menaiki beberapa anak tangga kecil menuju loteng, firasatnya mengatakan suaminya disana.


Benar saja, pria itu duduk di loteng tanpa alas dengan selimut di tubuhnya. Ditemani pemandangan penuh lampu jauh di ujung sana, lampu-lampu di pelataran rumah yang memanjang dari tempat tinggi hingga ke kaki gunung dan jalanan, menjadikan berdiam diri di tempat itu semakin menenangkan.


Agnia bergabung, tak bisa tidur tanpa kehadiran Akmal. Langsung duduk di samping pria itu dengan pandangan tak beralih dari gemerlapnya lampu.


Akmal menoleh, spontan membuka lengannya. "Gak tidur?"


"Enggak, soalnya kamu pergi." jawab Agnia sembari masuk ke dalam rentangan tangan sang suami, duduk nyaman dalam rangkulan hangat itu. Sesaat Agnia menoleh sekitarnya, ada secangkir kopi yang masih mengepul disana. Akmal ternyata datang dengan persiapan. "Kalo ada api, lengkap ini." gumamnya.


"Dingin ya?" tanya Akmal, mengeratkan rangkulannya. "Gak papa, aku juga bisa memanaskan suasana tanpa perlu api." ujarnya dengan seringai nakal yang mengganggu. Hal itu berhasil menghasilkan cubitan Agnia ke perutnya, tau betul maksud kotor Akmal saat ini.


"Aku heran.. kenapa Mbak selalu melotot kalo aku bahas soal itu."


"Soal apa?"


Akmal menggeleng, tersenyum. Tak berniat menjawab pertanyaan yang dilontarkan dingin dan penuh peringatan itu. Mencubit pelan pipi Agnia, balas mengeratkan pelukan dibanding mendapat kemarahan. Sesaat keduanya terdiam menikmati suasana yang menenangkan itu. Agnia meletakkan kepalanya di bahu Akmal.


"Mbak.."


"Hem?"


"Maaf aku tanya ini, tapi aku penasaran dengan satu hal ini."


"Apa?"


"Kenapa Mbak pernah berpikir untuk bunuh diri? Apa Mbak gak sadar seberapa berharganya diri dan kehidupan Mbak?"


Agnia mengangkat kepalanya, menatap Akmal lama. Untuk kemudian menluruskan pandangannya dengan helaan napas panjang. Akmal menautkan jarinya di jemari Agnia, tak melepas pandangannya dari wajah sang istri siap mendengarkan.


"Aku gak tau." Agnia tersenyum kecil. "Gak ada alasan yang sebenarnya benar untuk menghukum diri kita atas takdir yang terjadi. Kan? Hanya saja.. saat itu sulit. Mungkin banyak orang pernah mengalami ini, rasanya.." Agnia menerawang jauh. "Rasanya seperti kehilangan mimpi, tak ada tujuan. Seakan tubuh sekarat tak bisa bergerak namun masih diberi napas. Itu.. menyesakkan. Gak ada yang bisa kita lakukan dengan kekosongan harapan dan kehampaan hati." Agnia menoleh, tersenyum tipis. "Dan kamu benar tentang aku yang gak sadar seberapa berharganya hidup ku saat itu, hampir saja."


Akmal menatap lembut, mengecup punggung tangan Agnia. Bangga dirinya, juga bersyukur. Dimana lagi akan ia dapatkan seseorang seperti wanita di sebelahnya ini? Seseorang luar biasa yang membawa semua kebahagiaan di hidupnya. Jika hidupnya berakhir, tak kan pernah ia temukan sosok semenawan ini.


"Tapi aku berhasil, kan? Bertahan sampe ketemu kamu." ujar Agnia kemudian, tersenyum lebih lebar. Dibalas anggukan bangga oleh Akmal.


"Makasih, karena menjadi jalan sembuhnya lukaku." Agnia mengelus lembut pipi Akmal, menatap penuh terimakasih dan ketulusan.

__ADS_1


"Tentu.. tapi apa aku seberarti itu buat Mbak?"


"Emh.." Agnia berlagak sedang berpikir, seakan pertanyaan itu perlu dipikirkan sebelum dijawab. "Lumayan.." jawabnya kemudian, nyengir.


Akmal mencebik, menikmati wajah tersenyum Agnia dibawah temaramnya sinar bulan. Tatapannya jatuh dari mata hingga bibir merah Agnia, ikut menyungging tipis seiring senyum tersungging disana.


"Senang?"


Agnia mengangguk, tersenyum. Meletakkan kembali kepalanya di leher Akmal, terdiam nyaman dalam hangat dan harumnya tubuh sang suami.


Akmal masih tak bergeming, ada yang ia rindukan sejak beberapa hari ini. Perasaan itu memuncak hari ini, cuaca dan situasi juga tempat dimana hanya mereka berdua membangkitkan perasaan itu.


Agnia kembali mengangkat kepalanya, menyadari perubahan detak jantung sang suami. Menatap khawatir. "Kenapa? Sakit?" tanyanya sembari menyentuh kening Akmal.


Akmal menggeleng, menarik tangan Agnia. Balas menatap intens. "Mau panaskan malam ini?"


Agnia mengerjap, spontan memundurkan tubuhnya. Dalam kehamilannya yang masih kecil ini apa Akmal berpikir untuk..


"Khawatir dengan sesuatu?" Akmal menahan punggung Agnia, kembali mendekatkan perempuan itu hingga berjarak tipis dengannya.


"Itu.. aku.." Agnia menelan salivanya, napas Akmal berhembus lembut di wajahnya. Degup jantungnya ikut melompat cepat.


Akmal tersenyum tipis, gemas dengan wajah bingung Agnia. Menyentuhkan puncak hidungnya dengan hidung Agnia. "Akan ku lakukan dengan baik." katanya diiringi tawa kecil.


Agnia memukul dada Akmal pelan, bahasa seperti itu tak suka ia dengar. Sayangnya kalimat-kalimat Akmal yang begitu selalu berhasil menggelitiknya meski tak suka.


"Jadi apa jawabannya?"


"Kenapa selalu bertanya untuk segala hal?" Agnia balas bertanya, tak suka memutuskan. Apalagi? Bahkan hal ini sudah Akmal ungkit siang tadi, Agnia sudah bersiap meski hatinya menginginkan menunda ibadah itu.


"Hem?"


Akmal tak butuh jawaban lainnya, tubuh Agnia sudah ia angkat. Pada akhirnya, gendongan bak pengantin yang ditanyakan Agnia siang tadi terjawab malam ini. Menjadi pertanda jika entah honey moon atau baby moon mereka mencapai puncaknya. Apa yang lebih diridhoi Allah dalam saling ilhlasnya suami istri? Agnia tak bisa menolak, sejak hari dinikahi ia resmi menyerahkan keputusan dirinya pada Akmal.


.


.


.


.


"Sayang.."


"Hemh?" Agnia mendongak, melepas tatapannya dari ponsel. Menjawab panggilan setengah berteriak Akmal sesubuh ini, bahkan langit disana masih begitu gelap.


"Air nya kok mati?"


Agnia mengernyit, beranjak demi memastikan tentang apa keributan itu. "Apa? Aku gak denger." tanyanya setelah sampai di depan kamar mandi, menatap Akmal yang bertelanjang dada dengan handuk di bahunya.


"Airnya mati."


"Oiya, tadi enggak kok. Coba liat.."


Akmal menyalakan keran, lantas menoleh Agnia dengan ekspresi bingung. Parah sekali, sudah tidurnya tumben sekali lama, kini dikejar waktu subuh. Agnia juga tega sekali, meninggalkan dirinya mandi lebih dulu.


Wajah itu serius sekali, tampak bingung. Hingga Agnia terkekeh melihatnya, mencubit gemas pipi Akmak. Sedangkan yang dicubit jelas dibuat heran dengan senyuman itu, seakan tidak terjadi hal yang besar padahal bagi Akmal ini darurat sekali. "Terus, aku?"

__ADS_1


"Ya mandi."


"Tapi.. Ah.. kalo ke rumah Nenek apa gak kesiangan?"


"Ke rumah nenek?" Agnia menatap bingung, mereka berpandangan dengan pikiran mereka masing-masing. "Hey.. gak perlu ke rumah nenek!"


"Terus"


...


"Kesana?" tanya Akmal, menoleh Agnia sekali lagi. Mereka sudah berdiri di depan ****** yang menjorok ke kolam pembuangan berisi ikan.


"Iya."


Akmal menghela berat, menilik ****** yang terbuat dari bambu itu. Seumur hidupnya baru kali ini melihat langsung ****** seperti itu. Untung saja penerangannya bagus, yang jadi masalah.. ****** itu tak punya atap. Akmal menoleh sekitar, jika ada orang dari jauh sana maka sudah pasti yang masuk ke ****** itu akan jadi tontonan.


"Apa lagi?" Agnia masih tak paham kenapa Akmal masih berdiri dengan tatapan begitu padanya. "Hemh?"


"Gak papa? Gak licin itu.."


"Enggak, ini jambannya sering dipake, kok.."


"Airnya bersih?"


"Bersih, sayang.. itu air dari gunung langsung, ngalirnya lewat sawah."


Akmal mengangguk, menatap air yang mengalir tak tertahan itu. Tak seperti di perkotaan yang didisiplinkan dengan pengiritan air, di sini kata itu tak berlaku. Memang patut disyukuri dengan kekayaan alamnya.


"Kenapa? Mau aku mandiin?" Agnia bertanya diakhiri kekehan, ingin mencairkan wajah datar itu.


"Boleh?"


Agnia tersenyum, mencubit lengan Akmal yang masih dengan datarnya balas bertanya. "Cepet mandi, ah! Keburu subuh nanti. Jangan banyak pertimbangan.. aku tunggu disini."


"Iya, aku masuk.. tapi Mbak gak usah nunggu aku."


"Yakin?"


"Iya." Akmal mengangguk, namun terdengar tak yakin. Menemukan hal baru yang tak akan ditemui di kota tentu saja sulit baginya. Agnia paham itu, demi melihat itu ia menggeleng. "Enggak, aku tunggu disini." ucapnya.


Langit masih gelap, gemerlap lampu masih terlihat di pemandangan sisi lain rumah ini. Berbeda dengan belakang rumah dimana mereka berada, gelap dan menghadap langsung pesawahan. Agnia duduk menunggu di teras sembari mengeratkan cardigan hangat yang dipakainya. Hingga pria itu akhirnya keluar..


Wajah Akmal saat keluar dari ****** tak berubah dengan ekspresi sebelum masuk tadi, celingukan penuh tanya namun lega di waktu yang bersamaan. Akmal kembali menoleh ****** yang ia baru saja keluar dari sana setelah berdiri di ambang pintu.


"Sayang.."


"Apa lagi?"


"Aku bingung, kalo buang air besar.. disana juga?"


"Kamu sakit perut?"


"Bukan.. aku penasaran."


"Oh.. iya disana, jongkok. Kan ada celahnya itu.."


Akmal mengangguk, memang melihat celah. Hanya saja tak terbayang bagaimana saat buang air besar sedang jarak antara air kolam dan pantat mereka cukup jauh, ah! Akmal malas membayangkannya. Segera menggelengkan kepala, mengalihkan fokusnya dari hal itu. "Di kolam itu ada ikannya?"

__ADS_1


Agnia mengernyit, kenapa Akmal bertanya hal-hal kecil yang sebenarnya tak penting ia ketahui. Mengangguk samar. "Ada, kenapa sih?!"


Akmal menggeleng. "Cuman penasaran.. he.." hal-hal mengejutkan yang ia temukan benar-benar menunjukkan celah dari ekspektasinya tentang kehidupan di pedesaan. Ini baru, ia takjub dengan semua yang ia temukan disana.


__ADS_2