
Bagaimana harimu?
Akankah sendu seperti hari-hariku?
Biar ku katakan..
Bahwa kenanganmu teramat menyayat.
Hingga meski lukanya hilang,
Perihnya masih terasa baru.
♡♡♡
Asma tengah berbincang santai bersama satu orang kawannya di tangga gedung, dua orang itu duduk santai sambil mendiskusikan banyak hal. Mulai dari tugas, skripsi yang sudah di depan mata, hingga kajian yang akan segera digelar. Total lebih dari tiga topik sudah mereka bawakan selama lima belas menit ini sejak mereka membuka obrolan.
Sesekali Asma tersenyum, ketika Qori bercerita. Saat ini ia lebih banyak menanggapi dari pada mendominasi obrolan, tak seperti biasanya yang sebenarnya pandai berbicara.
"Asma.." Qori menyela, menyebut nama Asma di tengah obrolannya. Sebagai seseorang yang setiap hari menemani, tentu melihat riang yang hilang dari diri Asma. Qori menatap penuh perhatian. "Kamu kenapa, Sih. Ada masalah?"
Asma tersenyum, menggeleng tegas. Mata bulatnya sedikit membesar. "Emangnya kenapa?"
"Kamu gak kaya biasanya." jawab Qori, wanita yang suka berpashmina itu manyun sedikit.
Demi melihat itu Asma balas tersenyum, menyipitkan matanya. "Bukan apa-apa. Don't worry!" tegasnya dengan tatapan meyakinkan. Meski sebenarnya terlihat aneh karena bagi Qori itu lebih tampak tidak baik-baik saja.
Hanya saja Qori langsung mengerti, ketika senyuman Asma serta merta hilang ketika Akmal berjalan melalui tangga yang mereka duduki, mengangguk sopan. Qori membalas dengan tersenyum, tidak dengan Asma yang spontan saja mengalihkan tatapan. Dan lagi, kembali membuat Qori heran, biasanya Asma akan berbinar ketika melihat Akmal namun kali ini tidak.
Untuk kedua kalinya Qori hendak bertanya kenapa? namun berkat wajah Asma yang semakin murung ia mengurungkan niatnya. Memilih diam, segera mengerti jika itu berhubungan dengan Akmal.
...
◇Flashback
"Ngobrolin apa?" tanya Akmal yang menyeimbangkan langkah dengan Asma. bertanya lebih dulu karena gadis berhijab merah marun itu tampak ragu membuka mulutnya.
Asma melirik Akmal sejenak, tersenyum tipis. lalu kembali menatap lurus ke jalan.
"Eum.. aku mau nanya.."
"Iya?" Akmal menaikkan alisnya, menatap lawan bicaranya sambil terus berjalan menapaki koridor yang lenggang. Kontras dengan Asma yang terlihat salah tingkah, Akmal bersikap biasa saja.
"Aku minta maaf sebelumnya. Karena yang mau aku tanya soal apa yang aku dengar dari obrolan kamu dengan Akbar tadi pagi."
Akmal mengernyit, yang mana? Sepanjang hari ini ia memang banyak berbicara dengan Akbar.
"Obrolan di ruang MBI." tandas Asma, ia langsung mengulum bibirnya setelah mengucapkan itu. Perasaan malu menyelimutinya.
"Kamu menguping?"
"Iya." Ragu-ragu Asma mengangguk. "Tadinya aku mau masuk, tapi karena cuma ada kalian aku gak jadi."
Akmal mengangguk, tersenyum tipis. Menghentikan langkahnya tepat sebelum masuk ke parkiran luas. Asma langsung memposisikan dirinya berhadapan dengan Akmal.
"Gini ya, Asma. Aku gak akan menjelaskan apapun tentang apa yang kamu dengar tadi. Karena jika kamu punya pertanyaan, harusnya kamu tanyakan itu tadi ketika obrolan itu berlangsung. Bukan sekarang." Akmal memberi jeda. Menatap Asma yaang sudah tampak serba salah. "Itu akan lebih baik dari pada mendengar secara diam-diam."
Benarlah keraguan Asma, harusnya ia diam saja. Tidak perlu bertanya. Hasilnya dirinya saat ini, bagai tertampar. Tak ada yang salah dari ucapan Akmal namun setiap kata dari mulut Akmal terasa menyakitkan baginya meski dengan gaya bahasa yang halus.
"Aku duluan, ya. Permisi."
...
Helaan napas lolos begitu saja dari mulut Asma, perasaan kalutnya masih sama sejak kemarin. Ia jadi bertanya-tanya kenapa Akmal selalu membuatnya merasa terpojok.
"Ke kelas sekarang?" tanya Asma, menengok ke sebelahnya. Bertujuan pada Qori yang sejak tadi tak jauh dari sisinya.
"Ayo!"
Asma menjadi bingung saat sadar yang menjawab bukan Qori melainkan Akbar. Matanya spontan saja membesar, menoleh sekitar. Akbar tersenyum gemas dengan reaksi Asma. Gadis kesukaannya ini selalu tampak apa adanya baginya.
"Sejak kapan disini?" tanya Asma. "Aku gak sadar loh Qori pergi."
"Iyalah, kamu bengong. Kenapa.. Ada masalah?"
Asma menggeleng. Mengalihkan tatapannya. "Bukan apa-apa." tentu saja tidak akan bercerita begitu saja pada orang lain, apalagi mengenai hal yang sepele.
Akbar mengangguk saja, tak akan bersikeras bertanya yang akan membuat Asma tidak nyaman. Hening sejenak antara keduanya. "Jadi.. bukan lagi mikirin skripsi kan?" tanya Akbar, mencoba mencairkan suasana.
"Bukan, lah."
"Bukan lagi mikirin aku juga?"
"Dih!" Asma terkekeh, tidak menyangka pertanyaan sejenis itu. "Gak mungkin, lah. Kenapa mikirin seseorang yang kita temui setiap hari?"
Akbar mengulas senyum. "Kenapa gak mungkin? Justru hal-hal terdekat yang selalu ganggu pikiran kita. Bahkan.. bukan gak mungkin memikirkan seseorang yang berada di sebelah kita. Ya kan?" tanyanya penuh arti.
__ADS_1
Asma menaikkan kedua alisnya, sejenak berpura-pura berpikir untuk kemudian mengendikkan bahunya sembari tersenyum. "Entahlah.."
...
Agnia sudah memandikan Zain, sudah menyiapkan sarapan, sudah menjemur pakaian, juga sudah rapih dengan setelan santai.
"Zain!" panggilnya dari dapur, setengah berteriak. Bermaksud pada Zain yang duduk di sopa menonton kartun. Tak mendapat jawaban, Agnia memutuskan menghampiri ke ruang tengah. "Zain! Ayo sarapan. Katanya mau berenang?"
Zain tak menjawab, fokus pada kartun yang mengunci perhatiannya.
Agnia menghela pelan, kesabarannya sedang setipis tisu saat ini. Tak bisa menyia-nyiakan waktu dengan membujuk Zain. "Oh.. gak jadi renang nya?" tanyanya.
Zain menoleh demi mendengar pertanyaan itu, memberi tatapan memohon. Ia tentu ingin pergi berenang, tapi nanti setelah kartun yang ia tonton selesai. Demikian arti tatapannya.
"Pilih satu! Mau kartun, atau renang?"
Zain manyun. "Mau makannya disini."
Agnia menggeleng takjub, lantas duduk berjongkok di depan Zain. "Sekarang aunty tanya. Zain nonton tv di mana?"
"Di sini."
"Ruang apa namanya?"
"Ruang tv."
"Kalo tidur di mana?"
"Di kamar."
"Di kasur bukan?"
"Iya."
"Jadi kalo makan harusnya di mana?"
Zain diam, serba salah jika ia menjawab. Jadilah ia mengulum bibirnya, menunduk.
"Di ruang makan, bukan?"
Zain mengangguk. Memainkan tangannya.
Agnia tersenyum, ia hanya sedang mencoba memberi paham Zain untuk disiplin. Bersikap adil dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Zain tidak peduli, menunduk saja. Sesekali matanya melirik tv. Membuat Agnia semakin gemas dalam arti sebenarnya.
"Assalamualaikum.." Fauzan muncul ketika itu, dengan tas selempangnya. Tiba pagi sekali setelah dua malam mendapat undangan ceramah di bogor.
Agnia bangkit, langsung tersenyum. "Waalaikumsalam. Zain, lihat siapa yang datang!"
"Kakek!" Zain langsung ceria setelah melihat siapa yang datang, meloncat dari sopa menghampiri Fauzan.
Fauzan langsung saja menggendong cucu satu-satunya itu, berjalan menuju sopa. Hendak bersantai. "Wah.. cucu kakek."
"Gimana perjalanannya, Yah?" tanya Agnia. Setelah sebelumnya mencium tangan sang ayah.
"Alhamdulillah lancar." jawab Fauzan lembut, sembari menoleh sekitar. "Mana ibu?" itulah pertanyaaan pertama dan sama yang selalu dilontarkan Fauzan, istrinya adalah prioritas.
"Ada. Masih mandi kayaknya, Yah." jawab Agnia yang baru saja datang dari arah dapur, mengambilkan segelas air.
Fauzan mengangguk, kembali mengalihkan pandangannya pada Zain. "Lho.. Ini cucu kakek kenapa? Kok manyun." godanya pada Zain yang nyaman menyembunyikan wajah di pelukannya.
Ditanya begitu, Agnia jadi punya ide. "Marah dia, Yah.. Lagi nonton kartun terus aku ajak makan, dianya gak mau. Maunya makan disini." adu Agnia. "Padahal satu jam lagi udah harus sampe ke tempat kursus." tandasnya
Fauzan menganggukkan kepalanya, mendengarkan. "Oiya? cucu kakek ini marah?"
"Aku gak mau renang." tegas Zain, masih tak menunjukan wajahnya.
Fauzan bertukar tatap dengan anak gadisnya, tersenyum gemas. "Kalo gak mau, ya gak usah pergi. Batalin aja kursusnya, Aunty!"
"Supaya nanti Zain gak usah kursus lagi dan bisa nonton kartun sepanjang hari." tambah Fauzan yang berhasil membuat cucu satu-satunya itu mendongakkan kepalanya.
"Gak usah kursus lagi?" Zain membeo, wajahnya tampak bingung.
"Iya. Itu maunya Zain kan?"
Zain sampai tak berkedip, menatap lekat Fauzan. Memproses kata gak usah kursus lagi yang dimaksud kakeknya. Beberapa saat itu terjadi, setelah itu baru menggeleng. Beralih menatap Agnia yang sejak tadi gemas. "Gak mau."
"Gak mau nonton kartun aja?" tanya Fauzan sekali lagi, langsung direspon gelengan kepala oleh Zain.
"Yaudah, kalo gitu sekarang kita sarapan. Soal kartun, Zain bisa nonton itu lain kali."
Zain mengangguk, setuju saja. Satu hal yang terlewat agaknya lebih baik dari pada memenuhi satu hal namun berdampak buruk nantinya. Mana mau Zain mengakhiri kursus renangnya, ia padahal suka sekali dengan olah-raga itu.
Fauzan tersenyum, lelahnya hilang setelah bercengkrama dengan Zain. Ia lantas bangkit tanpa melepas Zain dari pangkuannya.
__ADS_1
"Panggil ibu! Pagi ini, kita sarapan sama-sama." pinta Fauzan pada Agnia.
Anggukan serta senyum puas ditunjukkan Agnia, senang saja ayahnya bisa datang tepat waktu sebelum ia kesulitan menghadapi Zain.
...
"Gue angkat telpon dulu." ucap Akbar pada Fiki saat akan melangkah menuju ruang MBI bersama beberapa anggota pria lainnya. Dibalas anggukan oleh Fiki.
Akbar menghela napas ketika membaca siapa yang menelpon, malas untuk berbicara dengan si penelepon namun tetap menjawab panggilan itu.
"Kenapa nelpon?" tanya Zain datar, terdengar sangat tidak ikhlas.
Seseorang di sebrang sana menghela mendapat sambutan semacam itu. "Bisa gak lo menunjukkan sedikit aja kesabaran waktu ngobrol sama gue? yang nelpon itu abang lo, bukan orang lain."
"Gue gini sama lo aja ya.. asal lo tau.. Abang lagi lo bilang." ketus Akbar sembari mencebik, meski tahu pasti tak terlihat lawan bicaranya. "Ada maunya pasti!"
"Memang." jawab Hafidz singkat.
"Gak mau. Gue lagi sibuk."
"Jangan gak mau, gak mau aja! Lo sekarang bawa mobil di toko gue, jemput Agnia sama Zain di tempat kursus. Sekarang!" Jelas Hafidz, menekankan kata sekarang. Dan untuk menghindari penolakan dari adik bungsunya ini, Hafidz segera mengakhiri panggilannya.
Jadilah Akbar gemas, Hafidz bahkan tidak menanyakan kesanggupannya. Bukan permintaan, itu adalah perintah. "Dasar!"
Hafidz selalu saja begitu, membuat Akbar jadi berpikir apakah semua kakak memang selalu bersikap begitu pada adiknya?
"Ah!" Akbar mendesah pelan. Bagaimana lagi, pada akhirnya ia hanya punya satu pilihan. Menurut. Atau ia akan ada dalam masalah besar saat bertemu kakak sulungnya itu.
.
.
.
.
Agnia tengah menikmati makan siang, sembari menyuapi Zain yang tampak kelelahan dengan mata sayu siap kapan saja untuk merapat.
Kantin luas itu tampak ramai, beberapa anak dan orang tua juga sama tengah menikmati menu pilihan masing- masing.
"Udah kenyang?"
Zain mengangguk.
"Minum dulu!" ucap Agnia, menyodorkan satu botol air yang tinggal setengah isinya. Dari sini, orang bisa saja berpikir bahwa mereka sepasang ibu dan anak.
Sepuluh menit berlalu setelah Akbar menelpon, harusnya sudah tiba untuk menjemput mereka pulang. Sudah Agnia duga, mengandalkan orang lain sangat melelahkan. Jika bukan karena Hafidz yang bersikeras supaya mereka dijemput, ia dan Zain pasti sudah tiba di rumah.
Jadilah Zain yang lelah berakhir di pangkuan Agnia, senyum sudah sirna dari wajah anak itu dan berganti kantuk yang tak bisa ditunda lagi.
"Gak papa, Zain tidur aja." ucap Agnia seraya mengelus lembut punggung Zain. Tersenyum gemas, memeluk Zain erat.
Agnia tak sadar jika seseorang tengah mengamatinya dari jauh, seseorang yang mungkin saja tak ia sukai jika sampai bersitatap.
...
Seorang wanita bersama anak perempuannya yang baru saja tiba di kantin kursus renang itu terbengong saat melihat Agnia. Ia yang berdiri tak jauh dari meja Zain dan Agnia, justru tak bergerak. Mematung sedang anak perempuannya di pangkuan.
Agnia masih nyaman memeluk Zain yang terlelap, segera mengambil ponselnya ketika ponsel itu berdering.
"Udah nyampe?" tanya Agnia pada Akbar.
"Mbak di kantin, kesini aja! Zain tidur soalnya." jelas Agnia, yang langsung di iyakan Akbar.
Agnia menghela, akhirnya.. "Kita pulang yaa, Zain.." ucap Agnia, bangkit dari duduknya. menyangga Zain dengan kedua tangannya.
Sesuatu yang tak ia sukai terjadi lagi, saat ia menoleh ke arah pintu bukan jalan keluar yang ia lihat melainkan seseorang yang takut untuk Agnia temui di setiap saat. Spontan matanya membulat.
Wanita yang menggendong anak perempuan berambut ikal itu sama terkejutnya dengan Agnia, kira-kira dua tahun setengah umur anak yang digendong nya. Itulah wanita sama yang Agnia lihat di pusat perbelanjaan tempo hari, juga wanita sama yang menyakitinya beberapa tahun silam.
Sejenak Agnia merasa detak jantungnya berhenti, perasaan yang tak bisa ia jelaskan kembali datang. Rasa takut, kecewa, sedih, sakit, hingga benci kembali menumpuk di dadanya.
Tanoa sadar Agnia hampir menjatuhkan Zain dari pangkuannya, untung saja Akbar datang di waktu yang tepat. Berlari menangkap Zain.
"Mbak!" pekik Akbar, langsung saja membawa Zain ke pangkuannya.
Untuk sejenak Agnia bingung dengan yang baru saja terjadi. Menatap Akbar dengan tatapan yang sulit diartikan. "Akbar.."
"Kenapa, Mbak?" tanya Akbar, tak mengerti. Beberapa saat tadi kakaknya ini baik- baik saja ketika menjawab panggilannya. Tapi saat ini ada apa dengan mata yang berkaca-kaca itu, ada apa dengan Agnia?
Akbar segera saja menoleh ke arah di mana Agnia menghadap sejak tadi, memastikan apa yang sebegitu mengejutkan bagi kakak perempuannya ini.
Tak jauh dari reaksi Agnia, rahang Akbar langsung mengeras ketika matanya bersitatap dengan seseorang yang tak ia harap akan ia temui lagi seumur hidupnya. Wanita itu, wanita yang Akbar pernah berjanji untuk menghajarnya jika suatu hari bertemu.
Pertemuan yang tak disangka itu, bukan saja membawa keterkejutan bagi Agnia namun juga bagi Akbar. Siapa sangka ia melihat perempuan itu lagi setalah tiga tahun ini.
__ADS_1