Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
102. syukuran?


__ADS_3

Akmal dihadapkan pada kebingungan yang tak pada siapapun bisa ia curahkan, kini pria yang masih berada dalam mobilnya itu menghela napas dalam. Untuk kemudian perlahan menyandarkan punggungnya, beberapa saat nyaman seperti itu.


...


Panggilan yang menginterupsi waktunya bersama Agnia itu berasal dari ibunda almarhumah Ulya, Akmal spontan berderu menerima panggilan itu. Ada apa gerangan? Perasaannya tiba-tiba tak karuan.


Akmal segera melajukan mobilnya menuju kediaman almarhum Ulya, sesaat setelah menutup sambungan panggilan itu. Wanita di sebrang itu memintanya datang segera, tak jelas apa alasannya namun terdengar sedikit ketakutan dari suaranya.


Akmal tentu khawatir, mengingat wanita paruh baya itu hidup seorang diri semeninggalnya Ulya.


Ia dan ayahnya Ulya sudah bercerai bahkan sejak Ulya duduk di bangku sekolah dasar, tak lagi menikah hingga saat ini. Yang kemudian ayah Ulya kembali menikah, dan memiliki keluarga baru.


Masalahnya kali ini, ayah Ulya datang dan mengacau. Membuat mantan istrinya yang adalah ibunya Ulya tak punya pilihan selain menelpon Akmal.


Akmal datang segera, meski sedikit terlambat sebab pria itu sudah akan pulang. Tangannya membawa beberapa lembar kertas, ditilik dari wujudnya. Berupa surat rumah.


Pria itu langsung mendengus kala melihat Akmal turun dari mobilnya, menyeringai tipis.


"Jadi kamu menelpon mantan calon menantumu ini?" tanyanya, diarahkan pada mantan istrinya.


Akmal mengabaikan ucapan pria itu, segera menghampiri wanita paruh baya yang kini terduduk di lantai berusaha bangun.


Tanpa berucap apapun, Akmal membantu wanita itu untuk bangun. Setelah memastikan tak terjadi apapun, ia lekas berseru demi menghentikan langkah ayahnya Ulya.


"Tunggu.."


Pria itu berbalik lagi, kembali menghadap Akmal. Langkahnya berhenti di tempat, ingin mendengar yang akan diucapkan Akmal.


"Jangan hanya berdiri, bantu ibu mertuamu itu bersiap.. dia harus pergi dari rumah ini." ucapnya dengan tatapan tak bersalah, yang langsung ditanggapi Akmal dengan kernyitan bingung. Pria itu menghela, lantas mengangkat benda di tangannya demi menjelaskan. "Saya mau jual rumah ini."


Akmal mengangguk seraya mendengus pelan, takjub. Benar saja tebakannya, pria itu tidak datang kecuali membuat keributan.


Ternyata masalah masih sama di setiap tahunnya, entah kenapa selepas meninggalnya Ulya, ayahnya itu sibuk sekali mengurus soal penjualan rumah. Yang padahal ibunya Ulya, punya hak penuh atasnya.


Rumah yang cukup luas ini, adalah hasil kerja keras orang tua ulya di awal pernikahan. Dan soal bagian mantan suaminya, ibunya Ulya padahal sudah memberi sejumlah uang untuk mengganti. Katakanlah untuk membeli sebagian rumah yang berasal dari jerih Payah pria itu.


Dan sekarang apa lagi? Apa belum cukup?


"Sebentar, Pak.. Menjual? Jadi.. anda pikir masih berhak untuk itu?" tanya Akmal, sedikit kasar dari biasanya.


"Kenapa tidak? Di rumah yang dia tinggali dengan nyaman ini terdapat kerja keras saya, selama ini saya diam dan membiarkan dia tinggal dengan nyaman. Tapi karena saya butuh uang sekarang, saya mau mengambil hak saya." jelas pria itu sembari mengangkat bahunya santai, seakan tak ada kekeliruan dari ucapannya. "Itu jadi masalah?"


Wanita yang sempat didorong jatuh itu kini melangkah maju, menghadap mantan suaminya. "Hak kamu yang mana? Uang yang pernah saya berikan untuk membeli rumah ini, lebih dari cukup untuk mengganti jasa kamu."


"Uang yang mana? Saya tidak pernah menerima sepeserpun. Kecuali sedikit uang untuk mengganti biaya hidup Ulya selama ini."


Miris, mengganti biaya hidup? Bahkan jika tidak menyayangi anaknya, apa pantas begitu? Akmal makin muak dengan pria di hadapannya, bahkan ibunya Ulya pun tak bisa berkata-kata, malu di hadapan Akmal.


"Apa karena Ulya sudah meninggal, semua kasih sayang anda menjadi hutang?" Akmal bertanya dengan menaikkan intonasinya, suaranya sedikit bergetar menahan amarah.


Pria itu menoleh Akmal santai, malah merasa jika bocah di hadapannya terlalu berlebihan dengan kekesalannya. "Tentu tidak." Jawabnya. "Tapi sebagai seorang kakak, andai dia masih hidup.. sudah kewajiban dia untuk mengurus adiknya. Tapi karena dia sudah meninggal.. ini jadi satu-satunya cara untuk memenuhi kewajiban itu."


Akmal mendengus. "Kewajiban? Harusnya sebelum meminta tanggung jawab orang lain, anda dulu yang harus bertanggung jawab. Sudah sebanyak apa anda memberikan yang terbaik untuk Ulya selama hidupnya?"


"Jika anda benar-benar bertanggung jawab, apa mungkin Ulya harus bekerja demi memenuhi kebutuhannya?" tanya Akmal, intonasinya kembali naik. Hatinya teriris mengingat bagaimana Ulya dulu selalu diam-diam bekerja sebagai pelayan toko sepulang sekolah, juga pergi sana sini menawarkan jasa mengajar.


"Jangan sok mengatakan tanggung jawab, pak! Malu.. kalo anda memang tak mau bekerja keras, akui saja. Akui juga kalo anda itu serakah."


"Apa kabu bilang? Beraninya kamu.."

__ADS_1


"Mari kita akhiri.." Akmal memotong, tak mau terus berdebat dengan bedebah tua itu. "Anda mau menjual rumah ini kan? Kalo begitu saya yang akan beli."


Pria itu mendengus. "Dasar bocah! Jangan berlagak kaya, kamu!" pelototnya.


"Lima puluh juta? Enam puluh juta?" tawar Akmal. "Berapapun. Tapi saya mohon, setelah ini berjanjilah untuk tidak mengganggu ibu, pergi dan nikmati hidup anda dengan tenang. Saya mohon.."


...


Akmal mengangkat kepalanya setelah beberapa lama, kini merasa pening luar biasa di kepalanya. Bukan soal uang, tapi ia heran kenapa saat akan pergi dari kenangan Ulya ia justru ditarik kembali kesana.


Dan hatinya tak bisa abai, seakan masih menyimpan Ulya pada sudut teristimewa di hatinya. Akmal tak bisa menahan dirinya saat Ulya diusik, sebab demi apapun.. gadis itu berhak untuk kenangan indah juga hal-hal baik yang tak sempat ia rasa di hidupnya.


Dering panggilan membuyarkan lamunan Akmal, pria itu lantas mengulurkan tangannya ke atas dashboard mobil. Meraih ponselnya, membaca nama yang tertera di sana.


Akbar?


"Halo?"


"Dimana?"


"Emh.. lagi di jalan, kenapa?"


"Nanti malem ke rumah, ya! Bokap gue mau ngadain pengajian di rumah."


"Pengajian dalam rangka apa?"


"Gak usah banyak tanya! Dateng aja.. gue juga ngajak Fiki sama Ardi."


"Gitu? Okay." Akmal segera setuju, mengiyakan sembari mengusap wajahnya pelan.


"Dateng, ya.. awas. Lo yang utama, spesial!!"


Akmal hilang semangat untuk tersenyum, kini hanya mengangguk meski tau jelas tak kan dilihat lawan bicaranya.


Kepalanya teramat pening, berharap dengan tarikan dan hembusan napas itu bisa membuat hati dan pikirannya lebih tenang.


...


Agnia terbengong di tempatnya berdiri, menatap takjub tanpa berkedip barang yang tersaji di depan matanya. Beberapa saat kemudian mengernyitkan dahinya, penasaran untuk apa beberapa kantong belanjaan yang beragam isinya itu.


Agnia kini tau, kemana Akbar pergi tanpa mengajaknya tadi. Ternyata bocah itu pergi untuk berbelanja, dan yang ia bawa pulang..


Akbar menoleh Agnia heran, alisnya terangkat sementara mulutnya asik mengunyah.


"Mbak!" sapanya pelan, tak berniat mengejutkan kakaknya seperti sebelumnya.


"Hemh?" Agnia menoleh.


"Merhatiin apa?" tanyanya serius.


Agnia menoleh Akbar, menatap lama adiknya. "Ini, Mbak bingung. Dalam rangka apa belanja sebanyak ini?" tunjuk Agnia dengan matanya, beralih menatap hamparan sayur, buah, daging, ikan segar, juga kudapan yang saat ini dikeluarkan Khopipah. Banyak sekali, hingga tak meninggalkan celah di meja makan.


Khopipah hanya tersenyum mendengar pertanyaan Agnia serta tatapan takjubnya, tangannya terlatih memisahkan bahan makanan pada tempatnya.


"Anggap aja kita mau syukuran.." jawab Akbar.


"Syukuran?"


"Iya, kita buat syukuran, pertunangan Mbak sama Akmal." celetuknya, seraya terkekeh kemudian.

__ADS_1


Agnia yang tau itu hanya lelucon, langsung mendelik tajam seraya tangannya mencubit perut Akbar.


"Aw! Becanda.. becanda.." Akbar menarik tangan Agnia, menjauhkan jari lentik itu dari perut sixpacknya.


Agnia masih manyun, pertanyaannya tak terjawab. Ia jadi risau, tentang apa maksud masak besar ini diadakan.


"Syukuran biasa, Mbak.. bukan apa-apa." Akbar segera berujar, tau keresahan yang tersirat di wajah Agnia.


"Iya, tapi dalam rangka apa?" tanya Agnia, kini kembali menormalkan nada bicaranya.


"Dalam rangka sehatnyam Mbak. Dan.." Akbar nyengir. "Dekatnya Mbak sama Akmal." tandasnya, kemudian sesegera mungkin berlari menghindari Agnia.


Agnia mencebik melihat itu, padahal ia tak berniat melakukan apapun. Kini terkekeh, menertawakan Akbar. "Gak jelas, dasar!"


Agnia mulai bosan kembali, kini beranjak duduk sembari memperhatikan Khopipah yang bolak-balik dapur–ruang makan.


Khopipah menyungging senyum melihat wajah penasaran Agnia, memang setelah dari rumah sakit ia tak memberi ijin anak gadisnya itu untuk bekerja.


Kentara sekali raut bosan pada wajah Agnia, namun Khopipah akan tega. Sebab masih ingin memperlakukan anak perempuan satu-satunya itu sebagai ratu untuk waktu sedikit lebih lama.


"Mau bantu?" tanya Khopipah. "Gak usah deh.. kamu istirahat aja. Sebentar lagi, Mbak Puspa sama Bu Widia kesini untuk bantuin Ibu."


Agnia yang sudah akan tersenyum langsung urung, Khopipah bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri. "Gitu?"


"Iya. Pergi sana.." usir Khopipah. "Nanti keburu Bu Widia kesini, terus bawa Nur. Kamu bisa pusing jawab pertanyaan dia."


Agnia mendengus pelan, namun setuju. iya juga, Nur pasti datang bukan hanya dengan ketulusan untuk membantu tapi juga segudang pertanyaan. Dan jika itu terjadi, tamatlah ia.


"Yasudah.." cicit Agnia, kecewa.


...


Agnia termangu di kamarnya, merebahkan tubuhnya di ranjang dengan mata menatap lurus langit-langit kamar yang lenggang itu.


Disaat seperti ini, banyak hal yang datang ke kepalanya. Perihal Wildan, Gian, Sila, juga Akmal. Ah! Agnia mendesah pelan, kesal. Kenapa harus punya waktu senggang?


Jika dipakai bekerja ini itu, tentu pikirannya tak kan menggila. Jika sudah senggang seperti ini, ketakutan juga kehaluan lebih sering menguasai pikiran.


Agnia yang bosan, kini merubah posisinya jadi tengkurap. Menghadap ponsel, misinya saat ini.. mencari kesibukan lain.


Jaringa bergerak hendak mengetuk ikon pesan, namun urung saat melihat ikon kontak. Jarinya beralih kesana, melihat riwayat panggilan yang terlewat di hari itu.


Panggilan Akbar paling banyak, sepuluh kali yang terlewat. Mungkin tak tau jika ponselnya jatuh saat penculikan itu, Agnia menyungging senyum tipis. Tandanya adiknya itu, sangat khawatir saat itu.


Ada nomor mencolok, yang tak sempat ia simpan. Ya, nomor Akmal.


Agnia mengulum bibirnya sesaat, lantas iseng saja menekan nomor itu. Berniat melihat rincian riwayat panggilan dari bocah itu. Namun..


Sentuhannya itu justru membawa Agnia menelpon nomor tanpa nama itu, membuat Agnia ketar-ketir sendiri dibuatnya.


Yang paling mengherankan, Agnia tak sempat memutus panggilan itu dan..


"Halo?"


Agnia mengeluh tertahan, spontan menenggelamkan wajahnya pada kasur saat suara Akmal terdengar. Kenapa juga bocah itu harus menjawab? batin Agnia.


Apa yang akan dia pikirkan setelah ini? Agnia malu sekali.


"Halo, Mbak? Assalamu'alaikum.."

__ADS_1


"Mbak Agnia disana?"


Agnia menghela, mengangkat wajahnya kini. Sudah terlanjur, akan lebih malu jika ia bersikap tak jelas. Kini, tak ada pilihan selain menjelaskan situasinya.


__ADS_2