
...
Hari kedua tanpa Agnia, rumah luas itu tampak lebih sepi dari biasanya. Tanpa perdebatan konyol Agnia dan Akbar, juga teriakan Agnia saat mengomel. Hanya satu yang meramaikan rumah itu saat ini, tangisan Zain.
Khopipah kewalahan sekali mengurus Zain, cucunya itu entah kenapa susah sekali diatur tak seperti biasanya.
Terus menangis setiap keinginannya tak dipenuhi, bahkan saat ini Khopipah tengah menggendong Zain sembari membujuk agar berhenti menangis.
Tangis itu dimulai ketika Zain hilang entah kemana saat ditinggal beberapa saat untuk mengambil minum, Khopipah yang kembali dari dapur dibuat panik seketika.
Untung saja pintu kamar Agnia yang terbuka menjadi tanda keberadaan Zain, Khopipah lega sebab itu.
Namun entah bagaimana ceritanya, bocah itu sudah berselonjor di atas ranjang bersama laptop di pangkuannya. Sekilas itu terlihat menggemaskan, Zain meniru gaya Sang Ayah.
Khopipah mengaduh pelan, lantas berlari ke arah sang cucu. Merebut laptop di panguan Zain segera, membuat Zain yang tak siap dengan rebutan itu mengerjap pelan.
Setelah itu tangisan meledak, Zain tak mau tau meski diperingatkan tentang kemarahan tantenya. Menginginkan laptop yang sengaja dijauhkan dari jangkauannya
Khopipah menghela, mulai lagi di tangisan ke sekian untuk siang ini. Dengan tubuhnya yang sudah semakin berat seiring usia, ibu dari tiga anak itu susah payah menggendong cucunya.
"Udah nangisnya, ya.." Khopipah menjeda, meletakan Zain di sopa sedang dirinya bersimpuh sebab Zain tak mengangkat wajah dari bahunya. "Nanti Om yang botak datang lagi lho!" bujuknya, sebab tak mempan jika dirayu beli eskrim dan sebagainya, kini ia inisiatif mengatakan sesuatu yang paling ditakuti Zain.
Berhasil, tak disangka Zain kini diam. Masih terisak, namun lebih tenang. Khopipah menahan tawa dibuatnya, baru ingat trik ini.
"Om botaknya gak akan dateng, kan?" tanya Zain, mengangkat wajahnya dari bahu Sang nenek. Dengan mata merah dan air mata yang masih basah di pipinya, anak usia empat tahun itu bertanya serius.
"Kalo Zainnya baik, dan gak nangis, pasti gak dateng. Tapi kalo Zainnya berisik, nanti Omnya dateng sambil bawa karung."
"Karung?"
"Iya. Buat ngantongin anak-anak yang suka nakal."
"Aku gak nakal, kok."
"Kalo gitu harus dengerin kata nenek dong?"
"Tapi aku mau ikut Aunty." renggek Zain.
"Aunty? Boleh. Tapi besok, ya.. Aunty pulangnya besok."
"Bohong! Maunya sekarang."
Khopipah tergagap, bingung hendak menjawab apa sekarang. Masalahnya ada pada Fauzan dan Hafidz yang berbohong dengan mengatakan jika Agnia pergi berlibur dua hari ini, membuat Zain kesal sebab tak diajak.
Kenapa juga Zain ingat dengan kebohongan itu? batin Khopipah gemas.
...
Di tempat berbeda, Agnia yang dirindukan Zain justru tengah anteng menyantap soto pesanannya. Ditemani tatapan dua bocah satu angkatan, yakni Akbar dan Akmal.
Agnia menyuap santai, tak terganggu kehadiran dua orang itu. Pun sudah terbiasa dengan adanya Akmal, hingga tak ada canggung ia rasakan.
Sesaat sudut mata Agnia menangkap intensnya tatapan dua orang itu, Agnia lantas menolehkan matanya pada Akbar yang duduk tepat di depannya. Mengernyitkan dahinya dengan sempurna.
"Kalian gak ada pekerjaan?" tanyanya, setelah cukup lama hening dan menatap bergantian dua bujang itu.
Akbar menggeleng cepat, tak perlu pertanyaan. Agnia tentu sudah tau kegiatannya sehari-hari, mana ada ia sibuk selain kuliah. Akbar ikut mengalihkan pandangannya pada Akmal yang duduk bersandar di sopa, seakan ikut bertanya. Padahal satu-satunya yang meminta Akmal datang, adalah dirinya.
Akmal lantas menggeleng, pokoknya soal Agnia ia rela bolak-balik rumah sakit bahkan meliburkan diri dari toko sang ayah. Jika boleh, ia bahkan siap siang malam menjaga calon istrinya itu.
Agnia menghela gusar, sekali lagi menatap dua orang itu untuk kemudian kembali fokus pada sendoknya.
Diamnya Akbar itu langka hingga tak berselang lama keheningan tercipta, ia sudah kembali melemparkan pertanyaan.
"Kok orang itu gak datang-datang, Mbak?" tanyanya.
"Kenapa? Kamu gak sabar mau ketemu dia?" balas Agnia datar, tanpa menoleh sang adik.
Akbar menghela dalam, tak berniat menjawab. Pertanyaan macam apa itu?
Agnia lantas menoleh saat tak ada jawaban. "Apa mbak bilang tadi? dia orang sibuk, gak kayak kamu."
"Ish!" Akbar mendelik sebal, kenapa juga dibandingkan dengannya. Padahal Gian dan dirinya jelas berada pada fase yang berbeda.
"Iya deh, sibuk. Sampe adiknya aja gak keurus!" ketus Akbar.
Akmal hanya mendengarkan sejak ia tiba disana, persis sekarang. Perdebatan kecil mereka menarik untuk disaksikan, apalagi untuk dirinya yang tak memiliki saudara.
Tapi siapa 'dia' yang mereka maksud? Untuk yang satu ini jujur saja Akmal penasaran.
...
Gian sudah tiba di lobi rumah sakit, melangkah cepat menuju ruang inap Agnia. Berharap Akbar tak bersungguh-sungguh tentang berubah pikiran, sebab ia sudah cukup terlambat. Obrolan bersama Sila yang melebar, ditambah waktu perjalanan yang tak singkat membuat Gian menghabiskan lebih dari dua puluh menit untuk tiba disana.
Kedatangan Gian menjawab pertanyaan Akbar, juga rasa penasaran Akmal. Tau lah Akmal, jika 'dia' yang kakak beradik itu maksud adalah Gian.
__ADS_1
Akbar segera bangkit dari duduknya, secara tidak langsung mempersilahkan Gian supaya duduk lebih dekat pada Agnia. Sedangkan ia beralih ke sopa, bergabung di sebelah Akmal.
Akmal menoleh bingung untuk sesaat, kala Akbar tiba-tiba saja menyenggol bahunya. Segera paham itu trik Akbar untuk menggodanya, sengaja mengompori untuk cemburu.
Akmal tentu cemburu, apalagi Agnia menyambut pria itu dengan senyum. Namun cemburu harus tau tempat, tau situasi. Akmal hanya mengendik pelan untuk menanggapi Akbar, lantas kembali mengawasi pergerakan Gian.
Gian menilik wajah Agnia sesaat, seperti yang dilakukan beberapa orang sebelumnya. Hingga bahkan Agnia mulai terbiasa dengan tatapan itu.
"Aku gak papa, Kak." terang Agnia segera, membuat kesekian kalinya Akbar menyikut pelan perut Akmal. Mencari celah untuk mencoba membuat temannya itu cemburu.
"Udah baikan?" tanya Gian, meski tau persis luka di wajah Agnia masih sama seperti kemarin.
Agnia mengangguk, sambil tersenyum demi menghilangkan rasa bersalah Gian padanya, yang bahkan sama sekali bukan kesalahannya.
Gian menghela pelan, bagian mana yang baik? Lebam itu mana sembuh dalam satu hari?
"Maaf, ya. Atas nama Wildan." ujar Gian, dengan tatapan iba.
Agnia mengangguk pelan, tetap tersenyum tipis.
"Gak papa, kak. Terlepas dari apapun itu, aku bersyukur karena dia tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dia lakukan." ucap Agnia. "Jadi Kakak gak usah merasa bersalah."
Gian tak menyahut, kehilangan kata-kata sebab kebaikan Agnia. Demi apapun, ia tak tau hal apa yang membuat Agnia masih berbaik hati padanya.
"Oiya, Kak." Agnia kembali membuka obrolan, tak tega melihat Gian yang diam dengan pandangan entah kemana. "Aku minta kakak kesini karena satu hal."
"Apa?" tanya Gian, matanya kembali mengarah pada Agnia penuh perhatian.
"Emh.. sebenernya, aku mungkin gak berhak nanya soal ini tapi... Apa gak sebaiknya kakak katakan semuanya?"
Gian mengernyit, masih mendengarkan.
"Soal Ibunya kakak."
Gian kembali terdiam, mulutnya kelu untuk bicara. Agnia orang kedua yang menyarankannya hal sama, yang lagi menambah kebingungan di hati Gian.
"Haruskah?" tanya Gian, lirih.
Agnia mengangguk. "Dia harus tau, apa yang memang jadi haknya untuk mengetahui."
Sesaat Agnia menilik wajah Gian, menciptakan percikan cemburu di hati Akmal.
"Lebih baik katakan secepatnya, atau dia akan lebih lama hidup dalam kebencian."
Kamar itu lenggang untuk sejenak, Akbar berhenti menggoda Akmal demi mendengar obrolan serius itu. Akmal tak mengerti apapun, namun semua bisa menebak jika itu bermuara tentang ibu, juga kesalah pahaman.
...
Akbar menoleh satu persatu tiga orang di hadapannya, tak kuasa dengan keheningan. Berdehem memecah hening seraya bangkit, membuka mulutnya.
"Kak, bisa ngobrol berdua?" tanyanya, tertuju pada Gian. "Ada yang mau gue obrolin."
Gian menoleh, mengangguk. Lantas mengekor Akbar tanpa paksaan, lagipun antara ia dan Agnia masih sangat canggung untuk terlalu banyak berbincang.
Agnia tak sempat bertanya, dua orang itu sudah berlalu meninggalkan ia dan Akmal dalam satu ruangan. Ia yang masih penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Akbar mendadak lupa saat Akmal tiba-tiba saja berada di hadapannya, mengambil alih kursi yang diduduki Gian barusan.
Akmal tanpa sebab tersenyum, tak mengatakan apapun. Membuat Agnia menatap curiga, fokusnya beralih pada Akmal.
"Kenapa?"
Akmal menggeleng, hanya ingin begitu. Sesaat menatap wajah Agnia, selagi tak ada siapapun yang mengganggu.
"Mbak gak bosen disini?" tanya Akmal kemudian. "Gak kangen Zain, atau ngajar anak-anak?"
Agnia mendengus pelan, pertanyaan macam apa. Padahal ia disana belum lebih dari dua puluh empat jam.
"Bosen, sih. Tapi.. kalo kangen, kayaknya terlalu dini." jawab Agnia santai. "Kamu nanya seakan saya sudah seminggu disini."
"Kan kangen gak harus berpisah lama, Mbak. Contohnya aku, kangen terus sama Mbak." ucap Akmal seraya menyipitkan mata, menunjukkan senyum khasnya. Terkesan menggemaskan.
Agnia mendengus, dengan kalimat biasa itu senyum Akmal lah yang berhasil membuatnya ikut tersipu. Spontan memalingkan wajahnya demi menyembunyikan binar bahagia itu, hanya saja senyum itu jelas sekali dari posisi Akmal. Membuat pria itu jadi orang paling bahagia dari yang lainnya.
"Kamu nanya saya bosen, kangen dan sebagainya hanya untuk mengatakan itu?" tanya Agnia, setelah menetralkan senyumnya.
Akmal mengangguk cepat, membuatnya semakin terlihat menggemaskan di mata Agnia.
"Emh." Agnia mengangguk paham. "Tandanya kamu kuno! Gaya becanda kamu berbelit!"
"Tapi kuno pun tetep buat Mbak senyum." Akmal mengendikkan bahunya, terima saja disebut kuno.
"Saya menghargai."
"Oiya?"
Agnia mengangguk yakin, seraya tersenyum. Tanpa sadar ia makin nyaman berbincang dengan Akmal, dan itu semakin menambah buncahan bahagia di hati Akmal.
__ADS_1
Sesaat demikian, keduanya diam sambil tersenyum satu sama lain. Untuk kemudian Akmal menghela dan menatap lekat Agnia.
Agnia mengernyit. "Sekarang apa lagi?"
"Aku penasaran.. Mbak beneran baik-baik aja, atau sedang pura-pura?"
Pura-pura? Agnia tak tau dari mana pertanyaan itu berasal, apa rasa takutnya jelas terlihat?
...
Agnia belum sempat mengelak, ataupun mengiyakan sebab Akbar kembali bersama Gian. Perhatian Agnia, beralih pada dua orang itu segera.
Tak terlihat ekspresi tertentu dari Gian, membuat Agnia menyangka jika obrolan itu bukan sesuatu yang serius.
Gian menghela pelan, menoleh Akmal sekilas untuk kemudian menjatuhkan tatapannya pada gadis favoritnya sembari tersenyum.
"Agni, kakak pamit sekarang."
"Sekarang?" tanya Agnia, terlihat bingung. Yang berhasil memancing tatapan yang sulit diartikan dari Akmal.
Dari yang Akmal lihat, kenapa Agnia seakan ingin sekali pria itu berlama-lama disana. Tak terima, mana pernah Agnia begitu padanya.
"Iya, aku masih ada kerjaan."
Agnia mengangguk. "Makasih udah dijenguk, kak."
Ingin sekali Gian mengatakan bahwa dirinya lah yang harus berterima kasih, namun pada akhirnya hanya anggukan yang mampu ditunjukkannya.
Gian keluar dengan tatapan kecewa, merasa tak ada harapan. Meski amat menyukai Agnia, ia merasa harus berhenti. Sialnya, Akmal tak terlihat cacad di matanya hingga tak satupun bisa dicela. Mereka terlihat cocok, meski Gian ingin sekali mengatakan sebaliknya.
...
Seperginya Gian, Akbar spontan membulatkan matanya. "Minggir lo!" usirnya pada Akbar. "Cari-cari kesempatan, emang!"
Akmal segera bangkit, tak menanggapi ucapan Akbar yang sebenarnya setengah fakta. Kursi itu, kembali diisi Akbar.
"Satu pertanyaan." ucap Akbar, menatap Agnia.
"Jawab dulu pertanyaan mbak.." balas Agnia, membalikan situasi.
"Apa?" tanya Akbar malas, sebal. Sengaja sekali tampaknya kakaknya ini.
"Ngobrolin apa kamu sama Gian?" tanya Agnia dengan menaikkan intonasinya.
"Urusan cowok! Gak perlu tau." cetus Akbar yang langsung mengundang decakan Agnia.
"Terus kenapa Akmal gak diajak, kalo memang urusan cowok?"
"Emh.. karena.." Akbar menjeda, kentara tengah mengarang. "Aku sengaja. Supaya Mbak sama Akmal bisa berduaan." ungkapnya sembari nyengir.
Agnia mendelik sebal. "Bohong banget! Kalo memang mau ngedeketin Mbak sama Akmal, harusnya gak usah kesini. Biarin kita berdua." ujar Agnia, tersungut sendiri.
"Jadi Mbak mau, nih? berduaan sama Akmal?" Akbar bertanya dengan wajah isengnya, memancing Agnia untuk jatuh pada jebakanya.
Agnia menelan kembali ucapannya, tak mau kllidahnya salah melangkah dan membuatnya malu sendiri.
"Jangan mengalihkan! Jawab pertanyaan Mbak!"
Akbar nyengir, sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan Agnia. Senang saja, menciptakan tanya besar bagi kakaknya itu.
"Bukan apa-apa, Mbak. Serius.."
"Terserah.."
Ucapan itu keluar lagi dari mulut Agnia setelah sekian lama, tandanya Akbar berhasil memancing kekesalannya. Menilik wajahnya saat ini, Agnia tak lagi penasaran. Memilih meluruskan tubuhnya di atas brangkar, menoleh Akbar malas.
"Mbak mau istirahat, kalian pergi aja!"
"Dih! Ngambek."
"Enggak, mbak serius." ucap Agnia, menekankan kata serius.
"Tapi Mbak belum jawab pertanyaan ku, bahkan.." Ya, pertanyaan itu belum terlontar sama sekali.
Agnia mengendikkan bahunya, matanya beralih pada ponsel miliknya. Tak lagi menanggapi segala ucapan sang adik.
Akmal terkekeh, segera menghampiri Akbar. Menepuk bahu calon adik iparnya itu, seraya tersenyum.
"Ayo, ada yang mau gue obrolin."
"Apa?"
"Urusan cowok." jawab Akmal singkat, seraya tersenyum iseng. Menyindir secara halus.
Akbar mencebik, menge dus pelan. Namun memang layak, bocah itu harus mendapat pelajaran setelah mempermainkan kakak perempuan satu-satunya.
__ADS_1
Saat bisa tak berbelit-belit, Akbar justru membuat Agnia kesal dengan berbelit dan ogah menjawab. Padahal Agnia, sedang tidak dalam kondisi yang siap untuk ribut dan becanda seperti biasa.