Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
84.


__ADS_3

Minggu pagi di kediaman mewah Wiryo diwarnai keacuhan seperti biasanya, namun hari ini berbeda. Rumah yang berisi tiga laki-laki itu lebih panas dari biasanya, Gian menunjukkan kekesalannya pada sang adik.


Wildan sudah akan pergi pagi itu, bersenandung sembari menuruni tangga. Tak melirik kiri kanan, matanya hanya tertuju pada pintu.


"Kemana?" tanya seseorang, yang membuat Wildan spontan menghentikan langkahnya. Menoleh ke asal suara.


Gian yang bertanya, datar sekali. Pria itu duduk di sopa ruang utama, menghadap laptop miliknya. Pertanyaan itu disampaikan Gian sedang matanya tak lepas dari layar laptop, membuat Wildan tak punya pilihan selain menyalakan antena permusuhannya.


Mereka memang tak hangat, jarang sekali berbincang. Namun Wildan bisa merasakan jika Gian berbeda setelah peristiwa kemarin, lebih sinis dan dingin dari biasanya.


"Main." singkat Wildan.


"Oh.. Yaudah.." Gian mengangguk, matanya masih tak beralih dari layar laptop.


Wildan mengernyit, sedikit tersinggung dengan reaksi seperti itu. "Lo punya masalah?" tanyanya.


Gian melirik sekilas. "Enggak. Lanjutkan." jawabnya, untuk kudian kembali mengunci tatapannya pada layar laptop seraya tangannya tak berhenti bergerak menekan tombol pada keyboard.


Wildan mencebik. "Gue ngerti lo emang kayak gini dari lahir, kak. Tapi gue rasa lo makin sinis setelah masalah kemarin." protes Wildan, diiringi dengusan pelan. "Apa karena cewek itu?"


"Lo udah keterlaluan, itu jawabannya." jawab Gian santai, meski fokusnya bercabang tetap menjawab dengan benar.


"Apa dia mantan pacar lo, atau sesuatu?"


"Gak ada hubungannya. Cuman kebetulan anak yang bermasalah sama lo itu, adik dari kenalan gue."


Wildan mengangguk, namun mencebik. Sangat tidak percaya dengan ucapan kakaknya. "Gak mungkin, lo gak pernah ikut campur sebelumnya. Jadi, dia pasti spesial sampe lo melawan Ayah untuk pertama kalinya."


"Jangan omong kosong! Ini gak ada kaitannya sama siapapun." Gian masih menjawab dengan santai meski datar. Hingga Wildan kembali membuka mulutnya dan membuat Gian tak bisa bertoleransi lagi.


"Kalo emang gak spesial, berarti boleh dong gue deketin dia?" tanya Wildan, sengaja memancing pengakuan Gian.


Demi mendengar ucapan itu Gian spontan mendongakkan wajahnya, menatap Wildan penuh tanya.


"Apa? Ngomong sekali lagi."


"Gue gak suka mengulangi ucapan gue, lo tau itu. Tapi Kak, gue serius. Cewek itu boleh buat gue? Beda beberapa taun kayaknya gak masalah."


Gian menghela pelan, bangkit dari duduknya. Melangkah ke hadapan Wildan, mengusap bahu adiknya pelan. "Jangan ganggu dia, ini peringatan."


Wildan tak gentar meski peringatan Gian jelas menakutkan di telinganya. "Kenapa? Lo bilang gak ada hubungannya dengan cewek itu, jadi.." ucapan Wildan terhenti, bisa merasakan cengkraman tangan Gian yang makin erat di bahunya.


Gian menatap tajam adiknya. "Jangan macem-macem. Silahkan ganggu siapapun, tapi jangan dia."


"Denger, gak semua cewek itu sama. Cewek yang biasa lo bayar, gak sama dengan mereka yang sekuat tenaga menjaga harga dirinya."


Ucapan Gian justru membuat Wildan terkekeh. "Gak sama lo bilang? memang kakak gue ini polos, lo yang harus denger kak. Semua cewek itu sama, akan bergoyang hanya dengan satu sentuhan." Wildan menjeda, tersenyum miring. "Mau gue tunjukin?"


Plak..


Sebuah tamparan yang suaranya menggema di ruangan luas itu, adalah jawaban dari Gian atas ucapan kurang ajar Wildan. Tak bisa lagi bertoleransi.


"Lo emang gak bisa dikasih tau baik-baik, sejak awal harusnya gue hajar lo sampel ngerti."


Wildan tersenyum miring, pipinya yang terasa perih ia sentuh sejenak.


"Terserah.. tampar gue sepuasnya, tapi itu hanya akan membuat gue semakin penasaran sama cewek itu."


Gian sudah akan menarik Wildan lagi, andai Wiryo tak datang dan menarik Gian.


"Kalian! Ada apa?" tanya Wiryo, menatap dua anaknya bergantian.


"Bukan apa-apa Yah, dia cuman gak terima ceweknya aku ganggu."


Wiryo melirik Gian. "Begitu?"


"Anak kesayangan Ayah itu bicara kurang ajar tentang perempuan, mana bisa aku diam?"


Wiryo yang kepalanya seakan mau pecah balas melirik Wildan.


"Kamu harusnya belajar sesuatu! Bukan malah merasa benar dan terus berulah. Setelah ini jangan buat masalah apapun, atau Ayah gak akan bisa bantu kamu lagi."


Wildan mendengus, dunia sekana berputar sedang ia dibawah saat ini. Sang Ayah yang biasa membelanya pun balik memarahinya.


"Sekarang, pergilah!"


Tanpa disuruh dua kali, Wildan langsung pergi dengan marahnya. Meninggalkan Wiryo dan Gian yang kemudian saling tatap.


Wiryo menatap tak percaya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama dua kakak beradik itu bertengkar di hadapannya. Dan karena seorang gadis?


"Sudah, lupakan semuanya. Jangan terlalu menganggap ucapan adikmu. Semakin dilarang, semakin gila dia. Sekarang kamu juga pergilah, bukannya kamu akan menemui Sila?"

__ADS_1


...


Pagi menjelang siang itu Akmal tak menemui Agnia meski ingin, padahal sudah pergi sejauh itu menuju rumah Agnia, namun hatinya melarang untuk semakin dekat. Hanya memperhatikan jadi jauh.


Hati Akmal sedikit bergetar saat melihat wajah kecewa Agnia, tampak beberapa kali melirik kiri kanan seakan menanti seseorang. Akmal, berharap dirinyalah yang memang dicari Agnia.


Tak tau saja jika Agnia sempat melihatnya, dan hal itu membuat Agnia kesal setiap detiknya dihari itu. Tak mengerti tujuan Akmal bersikap demikian.


Namun semangat anak-anak panti selalu menjadi penyembuh bagi Agnia, Dari setiap luka yang pernah ia alami merekalah yang tanpa sadar mengajarkan arti kesabaran dan penerimaan diri.


Seringkali Agnia terenyuh, bagaimana tidak. Mereka dipaksa harus menerima takdir yang mau tak mau dijalani. Jika bisa bertanya, apa salah mereka hingga harus menjalani hidup yang seperti ini sedang orang lain beruntung dengan keluarga dan kehidupan yang sempurna.


Pemikiran itu lagi dan lagi membuat Agnia sangat amat bersyukur. Senyum tulus anak-anak itu memberinya kekuatan lagi dan lagi.


"Mbak.." Bily yang memanggil, datang dari jauh membawa segelas air di tangannya.


"Ini.." Bily tersenyum lebar saat memberikan segekas air itu pada Agnia.


Membuat Agnia mengernyit, namun tetap menerima air itu. "Ada apa?"


"Makasih ya Mbak, karena gak ngasih tau ibu panti."


"Oh!" Agnia mengangguk. "Lagipula itu gak penting. Tapi setelah ini kamu harus janji, kalo ada apapun kasih tau Mbak, Kalo butuh apapun kasih tau Mbak. Ya?"


Bily mengangguk, tersenyum lagi. Sesaat diam, ikut mengawasi adik-adiknya yang sedang asik bermain.


"Tapi Mbak, aku penasaran. Kakak yang waktu itu.. beneran calonnya Mbak Agni?"


"Emh.." Agnia jadi bingung, antara mengiyakan atau mentidakkan. Hatinya ingin berkata iya namun egonya tidak. "Itu.."


Bili segera memotong, pernah mendengar jika menjawab pertanyaan macam itu memalukan bagi sebagian orang. "Sampein terimakasih aku ya Mbak, sama kakak itu."


Agnia mengangguk, tersenyum. "Ya."


...


"Agni.."


"Hemh? Apa bumilku?"


Silmi tersenyum, senang dengan sebutan Agnia. Namun seperdetik kemudian manyun, ikut tak bersemangat melihat wajah murung Agnia sepanjang hari ini.


"Calon suami?" Agnia sedikit kaget, menoleh Silmi. Tapi kemudian ingat jika sudah menceritakan semuanya pada Silmi. "Oh.. anak itu.."


"Apa? Anak itu? Agni, meskipun dia lebih muda dari kamu. Harusnya kamu gak panggil dia anak itu.."


"Terus?"


"Ya.. Calon suamiku, atau calon ayah dari anak-anakku... Atau.."


"Stop! Itu terdengar menakutkan dan menggelikan disaat bersamaan." protes Agnia, memasang ekspresi geli.


"Oiya? Soalnya aku panggil suamiku gitu dulu."


"Oh.. kalo kamu, pantes aja kok. Selama bukan Umi Abi." Agnia meralat, tersenyum canggung.


"Aku juga pernah pake itu."


"Oh.." Agnia menggaruk tengkuknya tak gatal, tak bisa menanggapi lainnya takut semakin salah. "Ah! Jemputan kamu udah datang."


"Jemputan?" Silmi mengernyit. "Suamiku, Agnia.."


"Ah! Iya. Suami kamu, maksudnya." Agnia nyengir, dalam hati mengutuk dirinya yang asal bicara.


...


Agnia melirik ponselnya lagi setelah beberapa saat, memastikan ada panggilan atau tidak. Sesaat kemudian ia merutuki dirinya sendiri, Bodoh sekali sebab memikirkan Akmal.


Yang bahkan hingga Agnia pulang dari panti pun, pria itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya ataupun menelpon dan mengganggunya seperti biasa.


Kesal luar biasa, Agnia mendengus kasar.


"Apa dia becanda? Setelah mengganggu setiap saat sekarang menghilang seenaknya." keluh Agnia.


Bocah itu membuatnya kembali sakit kepala persis saat awal mereka bertemu, sangat meresahkan.


Agnia menghela, memilih melanjutkan makannya. Mengabaikan ponselnya yang sepi itu di atas meja.


Pesan datang saat itu, Agnia segera meraih ponselnya. Decakan keluar dari mulutnya, ternyata bukan dari Akmal. Melainkan Puspa yang menyuruhnya datang dan menjaga Zain.


Sekali lagi Agnia malu sendiri, sebab kedapatan menunggu kabar dari Akmal oleh dirinya sendiri.

__ADS_1


...


Agnia disambut pelukan hangat Zain setibanya, seperti biasa anak itu girang sekali saat punya teman bermain.


"Pelan-pelan.." Agnia memperingatkan, Zain menarik tangannya untuk cepat-cepat menemui Puspa.


"Lho! Mbak mau kemana?" tanya Agnia langsung, dikejutkan dengan pemandangan koper juga tas berukuran sedang di ruang tengah rumah itu.


"Ini alasan Mbak minta kamu jagain Zain."


"Iya. Tapi kemana? Mbak gak ngasih tau aku WhatsApp."


"Ada seminar di Bandung, dan Mbak gak bisa ngajak Zain." jawab Puspa, memasang wajah kecewa meski sebenarnya tak bisa menutupi wajah penuh semangatnya.


Agnia tak bergeming, mencebik.


"Cuman dua hari kok."


Agnia mengendik. "Gak masalah. Kapan berangkatnya?"


"Nanti sore."


"Sama Mas Hafidz?"


"Iya, cuma nganter aja tapi."


Agnia mengangguk paham. "Baiklah.." kini beralih menatap Zain. "Zain, are U ready?"


"Yes.." Zain memekik senang, entah paham atau tidak jika dia akan ditinggal Ibunya.


Agnia terkekeh, mencubit gemas kedua pipi Zain.


"Gak ngerti aja Mbak, dia mau ditinggal."


Puspa ikut tersenyum. "Karena Mbak gak bisa ngajak kalian, jadi sebelum itu.. ayo kita jalan-jalan"


"Jalan-jalan?" Agnia membeo, memastikan.


"Ya." Puspa tersenyum, berjongkok menghadap Zain. "Jalan-jalan."


Tak ada angin tak ada hujan, Agnia tak salah dengar. Puspa yang selalu sibuk itu hari ini mengajak mereka pergi makan diluar. Membuat Zain girang bukan main, terus tersenyum dengan tangannya yang tak lepas dari genggaman sang ibu.


Puspa mengajak anak dan adik iparnya makan di Cafe salah satu Mall, sengaja supaya singkat bisa sembari cuci mata.


Agnia melupakan tanyanya sesaat, menikmati saat berharganya bersama Zain dan Puspa. Mereka menuruni eskalator, hendak mengantar Zain bermain di playground.


Saat itulah, Agnia melihat sosok Gian yang sedang bersama seorang gadis. Agnia tersenyum melihat itu, lantas mengalihkan pandangannya. Tak berpikir menyapa sebab akan menggangu dua orang yang tampak serasi itu.


"Aku lebih suka novel sejarah dibanding romance, soalnya romance kadang lebih complicated dari cerita yang kisah sebenarnya." gadis berambut ikal sedikit pirang di sebelah Gian bermonolog, melirik Gian sesekali. "Menurut kamu gimana?"


"Emh.. Ya, aku setuju." balas Gian, tersenyum tipis.


"Tapi kalo novel sejarah, terus ada romancenya aku rasa lebih complicated." gadis itu terkekeh sendiri. "Oiya, ceritain soal kamu. Ayahmu bilang kamu orang yang cukup tertutup, tapi aku harap kamu bisa sedikit nyaman cerita sama aku."


"Apa yang harus aku ceritakan? Ayah pasti sudah bercerita banyak tentang aku."


Gadis itu mengangguk, memang benar. Dalam hati bingung bagaimana memulai lagi percakapan dengan orang semacam Gian, sudah ia coba buka obrolan tapi langsung saja diakhiri oleh Gian. Wiryo benar, Gian memang sulit ditaklukkan.


Hening sejenak, sementara gadis itu terdiam sebab bingung. Gian melirik sekitar, suasana Mall memang paling tepat ia pilih supaya mengalihkan ketika obrolan jadi sangat membosankan.


Sesaat Gian mengunci tatapannya pada satu objek yang terus menjauh, memastikan. Tersenyum saat yakin sekali yang dilihatnya Agnia.


"Emh.."


"Sila.." Gian segera memotong.


"Ya?"


"Aku ada urusan, jadi.. kamu bisa pulang sendiri?"


Sila mengangguk. "Bisa. Tapi kenapa buru-buru?"


"Lain kali aja kita ngobrol lagi, sekarang aku mau ketemu sama orang lain."


Sila tak ada pilihan selain mengangguk, tak bisa memprotes seseorang yang baru kedua kalinya ini mereka bertemu. "Okay. Hati-hati."


Gian mengangguk, tersenyum. Lantas berlalu dengan langkah besarnya, menuruni eskalator.


Gadis itu menghela pelan. "Selalu begini. Padahal setidaknya dia bisa anter aku ke depan atau antar aku pulang.." gumamnya kecewa.


Next: Hafidz VS Puspa, antara Gian dan Akmal.

__ADS_1


__ADS_2