Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
171. Baby moon part 2


__ADS_3

Kecerobohan Agnia membawanya rugi sendiri, harusnya waktu yang dipakai untuk berlibur justru jadi tempat istirahat. Apalagi Akmal tegas sekali, tak membiarkannya kemana pun sebagai hukuman. Memang, tega dan tegas itu beda tipis.


"Istirahat!" itu jawaban Akmal untuk setiap renggekan Agnia. Siapa suruh ceroboh? Akmal tak bisa mengambil resiko, ia sudah kecolongan sebelumnya.


"Ih!" Agnia menatap kecewa, pikirannya langsung mumet membayangkan kegiatannya yang akan begini-begini saja meski sudah jauh dari hiruk pikuk kota.


"Apa? Mbak berani mendelik aku kayak gitu?" tatap Akmal tak suka, matanya membesar untuk beberapa saat. Yang lantas membuat Agnia ciut dan cemberut, menundukkan pandangannya. "Aku bosen.." cicit Agnia. "Terus ngapain kita kesini kalo harus duduk aja?" gumamnya pelan, tak ditujukan supaya didengar Akmal namun tetap terdengar.


Akmal tak bermaksud marah atau bersikap kasar, itu wujud perhatiannya. Keseleo itu bukan hal yang sederhana. Tidak diurut dengan benar di waktu yang tepat, bisa bermasalah lama. Helaan keluar dari mulutnya, tatapannya melembut. "Iya, aku tau Mbak bosen. Tapi Mbak gak boleh banyak gerak dulu, ya? tunggu mendingan dulu kakinya."


Agnia menghela, tak bisa mendebat. Hanya saja ia merasa Akmal terlalu berlebihan, terlalu protektif. Padahal keseleo bukan hal yang besar? Lagi pula ia tak akan lari-larian dengan kakinya ini, ia jamin akan berhati-hati.


Akmal tersenyum kecil melihat wajah manyun di hadapannya, beranjak duduk di bibir ranjang. Akhir-akhir ini ambekan istrinya memang cukup sering, ia mulai terbiasa dan belajar menurunkan egonya. Pria itu mengulurkan tangannya, membelai puncak kepala Agnia. Berusaha mendapat tatapan istrinya yang terus saja memalingkan wajah.


Hingga Akmal memutuskan menjatuhkan kepalanya di pangkuan sang istri, Agnia jadi tak bisa berpaling lagi saat Akmal menahan tengkuknya. Tatapannya terpaksa mengarah langsung ke mata Akmal, menatap sebal. "Sana, Ah! Aku kesel sama kamu.."


Akmal mana mau melepas tangannya dari tengkuk Agnia, balas tersenyum menggoda. "Lucunya.." ujar pria itu sembari berusaha mengecup pipi Agnia.


Heran sekali, bisa-bisanya ingin bersikap manis namun tak menuruti keinginan sederhananya. Agnia sebal sekali, mendecak. "Awas, gak? Nanti ada orang masuk lho.." ucapnya sembari menutup bibir Akmal. "Katanya aku harus istirahat, berarti kamu harus pergi dong.."


Akmal terkekeh, menggeleng singkat tanda enggan pergi. "Aku punya kejutan." katanya setelah beberapa saat diam, menikmati wajah manyun istrinya.


"Apa?" tanya Agnia malas, terdengar tak tertarik. Sudah terlanjur kesal dan menganggap ucapan Akmal hanya omong kosong atau paling mencoba membujuknya.


"Senyum dulu, dong."


"Jangan becanda!"


"Aku gak becanda, Mbak.. Yaudah.." Akmal menunjuk pipinya. "Ini dulu.."


Agnia mencebik, namun tetap memenuhi syarat dari suaminya yang entah sungguhan ataupun nantinya hanya berniat menggodanya. Setidaknya permintaan itu lebih mudah dari permintaan Akmal sebelumnya. Lebih mudah beraksi dari pada tersenyum saat tak mau.


Sesaat kecupan itu meluncur, Akmal meluruskan wajahnya. Membuat kecupan itu jatuh ke bibirnya. Singkat, Agnia melotot setelahnya. Sedangkan Akmal nyengir, bak memenangkan pertempuran. Menggigit bibirnya sendiri, gemas dengan wajah Agnia yang tetap saja terlipat meski ia goda.


"Seneng?" sarkas Agnia, mencubit pelan pipi Akmal. Langsung diangguki pria itu, terus tersenyum puas sembari memainkan tangannya di pipi Agnia yang membesar kala marah. "Aku mau ngajak Mbak nginep di villa."


"Hemh?" Agnia mengernyit, pipi bulatnya ditambah lucu dengan naiknya kedua alis hitam cantik itu. Akmal segera mengangguk. "Ya, nginep di villa. Berdua."


"Berdua?"

__ADS_1


"Iya."


Agnia berubah tersenyum, wajahnya mendadak sumringah tak bisa disembunyikan. Akmal menangkap perubahan itu dengan takjub dan heran di saat yang bersamaan.


"Sekarang terbukti, kalo senyum bisa dibeli.." ujar Akmal, diselingi kekehan. "Apa.. Mbak semua itu berduaan sama aku, hemh?"


Agnia tak menafikan, balas mengernyitkan keningnya dengan wajah datar lagu. "Kenapa? Memangnya kamu gak mau?"


.


.


.


.


Villa itu cukup dekat, yang sebenarnya rumah istirahat pribadi milik keluarga besar sang nenek. Agnia senang sekali diajak kesana, seakan bernostalgia dengan kenangan lama. Antusias sekali, kesalnya pada sang suami terlupa begitu saja.


Mobil itu sampai, Agnia menurunkan kaca mobil dan sejenak menghirup udara segar sebanyak mungkin di tempat. Tersenyum menikmati pemandangan juga udara sejuk yang mengenai wajahnya.


Akmal tersenyum melihat itu, keluar lebih dulu dan membiarkan Agnia sejenak menikmati hal yang membawa senyum di wajahnya. Sebagai ganti setelah sejak subuh tadi cemberut. Akmal berlari melingkar, membukakan pintu. "Ayo!"


Agnia menghela, tersenyum mengakhiri ketakjuban di hatinya. "Bisa jalan sendiri?" tanya Akmal, memperhatikan Agnia keluar dari mobil dengan kaki kirinya lebih dulu.


"Neng.." seorang pria paruh baya keluar dari rumah itu, segera menghampiri.


"Wa.." Agnia mengangguk ramah.


"Udah dibersihin, semuanya. Neng sama Aa bisa tinggal dengan nyaman."


"Hatur nuhun, Wa."


"Sami-sami.. uwa uih heula." pria itu menoleh Akmal. "A.. mamang pergi dulu, kalo butuh sesuatu tinggal telpon. Ya?"


Akmal mengangguk samar, tersenyum. Sibuk memikirkan siapa pria yang disebut Uwa itu, setaunya panggilan untuk Om. Namun.. apa semua orang disana adalah saudara istrinya?


"Siapa? Saudara Mbak juga?" tanya Akmal seperginya pria itu, tampak penasaran.


"Iya, saudara kita. Saudara seiman."

__ADS_1


"Ah.." Akmal segera paham, tak aneh bagaimana di kampung seperti ini persaudaraan tak sebatas hubungan darah. Tak ada bedanya dengan di perkotaan, hanya saja kedekatan berbeda terasa di lingkungan ini.


Apapun itu, Akmal enggandeng Agnia bersamanya. Melangkah menuju rumah luas dengan pemandangan luar biasa di sekelilingnya.


"Assalamualaina.. wa'ala 'ibadillahi Sholihin.." Akmal membaca salam sembari membuka pintu, salam yang biasa diucapkan kala masuk ke ruangan yang tak ada siapapun di dalamnya. Isi salam itu adalah salam kepada diri sendiri, juga pada hamba-hamba Allah yang Soleh. Bacaan ini tak asing, selalu diucapkan kala tahiyat setiap shalat.


Rumah itu luas, tak banyak sekat. Hanya ruang tamu luas, dua kamar serta dapur yang terhubung langsung ke ruang tamu itu. Ini rumah tempat berkumpul kedua mereka, hanya saja sejak nenek mereka kesulitan dengan cuaca dan tak bisa berjalan jauh, rumah ini jarang dikunjungi.


Foto-foto terpajang rapih, ada potret keluarga besar, juga potret hangat Agnia, Akbar, Hafidz, dan Yesa sewaktu kecil. Akmal tersenyum, sudah mengenali yang mana Agnia dari foto-fotonya.


"Kenapa?" Agnia bertanya, menghampiri Akmal. Ikut melihat ke arah arah yang diperhatikan suaminya. "Oh.." Agnia terkekeh. "Itu.. foto berapa taun yang lalu, ya.. Akbar sama Yesa aja masih kecil."


Akmal merangkul Agnia, menghela sembari melihat potongan foto yang penuh kenangan dan membangkitkan ingatan masa lalu nan manis tanpa beban dan kepedihan.


Helaan berat keluar dari mulut Agnia, teringat bagaimana dirinya pernah begitu terpuruk dan memilih mengakhiri diri. Andai terjadi, maka potret penuh kenangan itu akan berubah menyakitkan bagi yang melihat. Sungguh, kesekian kalinya Agnia merasa syukur sebab Hafidz membawanya di waktu yang tepat.


"Kenapa?" Akmal mengenali helaan berat itu, menoleh sang istri sembari mengelus sayang bahunya.


"Gak papa, cuman.. berandai aja.." ucapnya sembari menerawang jauh. "Kamu tau aku pernah hampir bunuh diri?" Agnia menoleh, tak menunggu jawaban Akmal untuk menjelaskan. "Melihat foto-foto ini menyenangkan, penuh kenangan. Aku pikir.. kesan seperti ini sama sekali gak akan sama andai aku.." Agnia menggantung kalimatnya. "Ah! Mau sesuatu yang hangat? Aku bawa kopi luwak kesukaan kamu."


Akmal mengangguk, melepas rangkulannya. Membiarkan penjelasan Agnia terpotong begitu saja, bagaimana pun kisah itu sudah jadi rahasia umum bagi keluarga Agnia, bahkan Akmal dan orang tuanya saja tau soal itu. Faktanya itu sama sekali bukan masalah, masa lalu bisa saja menyakitkan hingga sulit dipercaya. Namun di hari ini, saat semua hikmah dari jalan kehidupan tampak satu persatu.. manusia harus tersenyum dan mengucap syukur.


Hari itu tak begitu panas, cuaca cenderung mendung dengan udara dingin pegunungan yang ditambah dingin oleh angin pembawa hujan yang mungkin tak lama lagi mengguyur.


Masih pukul sepuluh pagi, Akmal melirik jam di dinding dan jam di tangannya bergantian. Memastikan jam disana berfungsi dengan baik, duduk di sofa empuk yang menghadap langsung ke jendela besar yang menyuguhkan pemandangan. Televisi menyala, bersuara seorang diri nyaris tak diperhatikan.


Agnia datang dengan secangkir kopi, langsung diterima oleh Akmal. "Makasih.."


Agnia mengangguk, ikut duduk di sebelah suaminya dengan kepala disimpan di sandaran sofa. Memperhatikan Akmal dengan betahnya, memang ibadah paling menyenangkan.


Akmal tersenyum, baru sadar tatapan itu. Setelah menyeruput sedikit kopi hangatnya, lantas melebarkan kaki juga tangannya. Menyuruh Agnia masuk ke dalam pelukannya.


Itu yang ditunggu, Agnia langsung beringsut tanpa dimintai dua kali. Tersenyum kecil sembari menyandarkan punggungnya di dada sang suami. "Kakinya masih sakit?" tanya Akmal, menoleh kaki Agnia yang sudah hilang bengkaknya.


Agnia menggeleng, menoleh Akmal singkat. "Udah enggak, tapi ada sedikit kayak digigit semut kalo jalan." jawabnya sembari tersenyum.


"Kalo gitu artinya masih sakit, sayang.." Akmal mencubit pelan pipi Agnia.


"Enggak." kata Agnia tak mau kalah.

__ADS_1


"Baiklah.." Akmal menyerah, tak akan mendebat. Mencium rambut Agnia singkat. Tangannya terulur meraih tangan sang istri, menautkan jarinya di sana.


Ini baru terasa seperti bulan madu, hanya berdua menikmati waktu dengan kegiatan sederhana namun berkesan. Menenangkan, genggaman ini memberi tentram dan debar menakjubkan.


__ADS_2