
Menarik adalah hal pertama yang harus dimiliki oleh guru PAUD. Sisanya hanya perlu sabar. Menjadi tuntutan bagi Agnia kala harus selalu membuat wajahnya ceria di hadapan anak-anak. Berusaha membuat anak-anak nyaman serta bahagia di waktu yang bersamaan.
Agnia meminta anak-anak berdiri. Mereka diminta berjajar mengisi barisan mana saja yang di lantainya ditempelkan stiker warna berbeda, sesuai dengan potongan karton yang mereka pilih secara acak dari dalam mangkuk kaca.
Ada warna primer juga sekunder Agnia pilih, mulai dari hitam, putih, merah, biru, hijau, kuning, ungu, jingga, juga abu. Total sepuluh barisan yang akan terbentuk.
Anak-anak sudah senang sekali, meski sebagian tak paham dan hanya ikut bahagia melihat kawannya bersemangat.
"Nanti kalian berdiri di warna mana saja yang sama dengan warna dari karton ini." Agnia menjelaskan, menunjukan karton yang sudah digulung sebelumnya. "Contohnya seperti ini.. Ibu ambil dari mangkuk ini dulu, nah.." Agnia menunjukan karton yang baru ia dapatkan. "Warna biru ternyata.. Jadi ibu pasti berdiri di..." Agnia melangkahkan kakinya pada barisan lantai yang diberi tanda biru. "Sini. Paham ya?"
Anak-anak mengangguk cepat, sudah tak sabar. Mengabaikan penjelasan, semuanya yang dijelaskan guru mereka meski tak dimengerti namun terlihat menyenangkan di mata mereka.
Agnia tersenyum, lihatlah mereka yang sudah mulai ribut itu. "Raina? Paham ya?" tanya Agnia, matanya tertuju pada anak paling kecil di kelasnya.
Anak itu mengangguk, persis yang lainnya. Matanya sudah tak fokus dengan keributan kawan-kawannya.
"Okay.. Jangan berebut! Satu-satu ngambil, tapi jangan dulu dibuka.."
Ucapan Agnia begitu saja diabaikan anak-anak, sudah heboh tak karuan berlomba memasukkan tangan mereka pada mangkok yang dipegang Agnia.
"Rea.. Jangan dulu dibuka! Tunggu temennya.." peringatan Agnia pada anak yang mencuri-curi pandang membuka gulungan kartonnya tak sabar.
Namun anak-anak mengabaikan saja, yang satu diperingatkan yang lainnya yang berulah. Beberapa anak terkompori saja saat satu orang membuka lebih dulu gulungan kartonnya dan langsung berdiri pada warnanya sambil memekik keras.
"Aku putih.." ujar anak laki-laki itu, berucap riang. Entah benar atau salah. Seperti efek domino, semua ribut ingin lebih dulu. Bahkan sebagian berdiri saja mengikuti temannya tanpa melihat warna apa yang ia dapat.
Agnia terkekeh saja melihat itu, menggeleng takjub. Demikianlah anak-anak. Berisik dan sulit diatur. Untung saja dirinya sedang dalam perasaan yang baik atau bisa saja dirinya menangis sebab pusing dan lelah menghadapi anak-anak itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Pelajaran yang melahkan bagi para pengajarnya sudah selesai. Agnia menghela napas lega, cara mengajarnya berhasil di menit menit terakhir. Terlihatlah anak mana yang sudah pandai mengenal warna, dengan demikian lebih mudah bagi dirinya menentukan cara belajar mana juga apa saja yang akan diajarkan pada anak-anak.
Mereka datang dengan keistimewaan masing-masing. Ada yang sudah pandai mengenal warna, yang pandai berhitung, yang suka sekali mewarnai, yang sudah mengenal huruf, hingga ada anak yang pemalu sekali tak mau menunjukan kemampuannya. Dari kelebihan itulah Agnia tinggal menentukan cara mengasah lagi kemampuan mereka yang berbeda itu.
Agnia lelah sekali, masih duduk di mejanya saat anak-anak sudah berlarian keluar menemui ibu mereka masing-masing. Kepalanya terasa hampir pecah dengan kebisingan yang muridnya timbulkan. Sebuah pesan masuk saat itu.
"Aku gak jemput ya hari ini. Jadi jangan nunggu aku.. Dan hati-hati saat pulang sendiri.. Banyak buaya yang menanti sepanjang jalan."
Membaca pesan dari Akmal itu membuat Agnia spontan mendengus. Tangannya segera mengetikkan balasan.
^^^"Tapi gak ada yang nunggu kamu tuh.. Jangan percaya diri!"^^^
"Oiya? Kok aku lihat Mbak masih disana.."
Agnia menjadi waspada, segera melihat sekitarnya. Bocah itu sedang mempermainkannya?
"Aku becanda.. Hari ini aku beneran gak jemput."
^^^"Baguslah.."^^^
^^^"Kualat itu kamu sama saya. Jangan ganggu saya."^^^
"Tapi nanti Mbak kualat beneran lho. Kangen Aku baru tau rasa."
Agnia bergidik ngeri, setiap balasan Akmal menyadarkannya tentang berapa menakutkannya bocah itu. Agnia memilih tak membalas, memasukkan saja ponselnya ke dalam tas. Beranjak keluar. Senyum tipis spontan tersungging di wajahnya.
"Mbak Agni.." seorang perempuan muda yang sejak tadi menunggu di luar kelas berseru senang saat yang ditunggunya muncul.
Agnia menoleh ke arah koridor, matanya lebih dulu tertuju pada Raina yang memegang tangan perempuan itu.
"Aku Giska, Mbak.."
Agnia mengernyit, masih memperhatikan perempuan yang kini mendekat itu. Sesaat kemudian tersenyum.
"Kamu disini?" tanya Agnia, balas menatap senang melihat perempuan yang tak diduga ia temui. "Apa kabar?"
__ADS_1
"Baik, Mbak.. Mbak apa kabar?"
"Alhamdulillah.."
"Mbak kaget kan ketemu aku?" tanya gadis itu, nyaman sekali sepertinya berbicara pada Agnia. Raina juga mendongak, heran kenapa gurunya bisa akrab dengan tantenya. Ya, Giska adalah adik satu-satunya Adi. Tante dari Raina.
Agnia tersenyum, mengangguk.
"Aku juga kaget, waktu Mbak Alisnya bilang.." tiba-tiba Giska diam, kalimat antusiasnya tergantung begitu saja. Merasa salah sudah menyebut nama kakak iparnya di hadapan Agnia.
"Teruskan.." Agnia tersenyum, tak keberatan.
"Iya. Mamanya Raina bilang kalo Mbak Agni ngajar disini." ucap Giska, meneruskan kalimatnya yang malah terdengar ragu-ragu. "Jadi Aku kesini.."
Agnia terkekeh, melihat bagaimana hati-hatinya Giska berucap. Tangannya spontan mengusap puncak kepala Giska, gadis itu hanya empat tahun selisih umurnya dengan dirinya. Sembilan tahun lalu saat Agnia awal berpacaran dengan Adi umur Giska masih sebelas tahun. Dan lihatlah Giska di umur dua puluh satu, sangat cantik dan tampak bijaksana.
Giska tersenyum, senang sekali kembali bertemu seseorang yang hampir jadi kakak iparnya ini. Bahkan hingga saat inipun dirinya masih sering membandingkan Agnia dan Alisnya saat bertengkar dengan kakak iparnya, spontan saja keluar dari mulutnya. Namun hatinya memang menyayangkan apa yang terjadi tiga tahun silam.
"Oiya Mbak.. Aku pernah ketemu sama Akbar. Waktu itu, kita hampir tabrakan. Belum lama ini."
"Oh.. Jadi itu kamu.."
Giska nyengir. "Iya. Memangnya Akbar gak kasih tau kalo itu aku?"
"Enggak. dia pasti gak kenal lah sama kamu. Mbak aja pangling.."
Giska mengangguk, percaya saja. Meski Agnia dalam hati curiga jika Akbar sengaja tak memberitahukannya.
Hening sejenak, Giska tak menutupi jika dirinya merasa canggung pada Agnia. Namun dirinya juga termasuk yang terpukul dengan peristiwa itu, sama sekali tak menginginkan hal seperti itu terjadi pada siapapun. Bahkan Giska juga sempat marah cukup lama pada Adi dan Alisnya, sangat kecewa.
"Mbak aku.. Minta maaf untuk hari itu.. Aku.. Setiap saat berharap bisa bilang ini sama Mbak Agni.."
"Kamu bersalah? Sudahlah.. Bahkan setelah dipikirkan gak ada yang perlu menyesal, semua berjalan sesuai takdir."
"Tetap saja.. Dan Aku lebih merasa bersalah sebab mamanya Raina di hari ini terus saja berbicara tentang memperbaiki persahabatan kalian. Jujur saja Mbak, Aku merasa malu karena dia."
__ADS_1
"Emh.." Agnia mengangguk, melirik Raina sekilas. "Untuk yang satu itu, Mbak yang merasa bersalah. Mbak gak bisa lebih berbesar hati lagi dari ini." ucap Agnia, tersenyum lembut.