Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
61. Fiki si pembawa gosip


__ADS_3

"Heh.. Ada air dingin gak?" tanya Fiki, melangkah menuju Akbar. "Es.."


Akbar mendongak, menaikkan alisnya. Heran dalam keributan ini tiba-tiba saja Fiki menanyakan es. "Ada. Kenapa?"


"Haus."


"Gila kali, malem-malem pengen es." Akbar mengabaikan Fiki, kembali melanjutkan obrolannya bersama yang lain.


"Ish!" Fiki menarik bahu Akbar. Membuat Akbar kini berbalik ke arahnya. "Gue tamu, ambilin ke.."


"Ada ternyata tamu yang nyusahin.." sindir Akbar. "Ambil sendiri! Biasanya juga lo berasa di rumah sendiri."


"Bener ya, gak papa?"


"Iya. Sok izin lo! Sana. Beser baru tau rasa, lo!"


Fiki beranjak saja bersenandung kecil, mengabaikan Akbar yang mengutuknya. Asal tahu saja mereka bak kucing dan anjing dimanapun berada.


"Emh.." Langkah Fiki terhenti saat Agnia keluar dari dapur, lega. Tak berpapasan, atau ia tak jadi mengambil apa yang diinginkannya. Namun yang membuat senyumnya tersungging adalah kala Akmal juga keluar dari arah yang sama, tak lama setelah Agnia melangkah dari sana.


Pemandangan itu membuat Fiki mulai berpikiran hal aneh saja. "Ck.. Ck.. Ck.. Ternyata Akmal lebih tanggap dari yang gue kira."


Akmal makin dekat ke arah Fiki, tersenyum menatap Fiki diam saja di tempat sambil menyeringai menatapnya.


"Ada apa?"


Fiki tersenyum, salah tingkah sendiri. "Bukan apa-apa.."


Akmal mengangguk, tersenyum canggung. Bingung dengan tingkah Fiki. "Lo mau ke kamar mandi lagi?"


"Iya." jawab Fiki. "Mau liat hal menarik apa yang ada disana, sehingga lo terlihat lebih cerah."


"Hah?! Gimana.."


Fiki tersenyum lebar, membuat Akmal semakin bingung saja dibuatnya. "Lupain aja!" singkat Fiki, menepuk bahu Akmal pelan. Lantas melanjutkan langkahnya.


Akmal menautksn alisnya, sekali lagi menoleh Fiki yang tampak ruang seiring langkahnya. Tak mengerti yang sedang terjadi pada pikiran temannya satu itu.


.


.


.

__ADS_1


.


Hasil dari kegiatan semalam, adalah Akbar yang bangun terlambat dari jadwal biasanya. Tentu saja, tak sanggup membuka matanya sebab tidur menjelang pagi. Tak pergi berjamaah subuh, shalat di kamarnya sebab sudah tertinggal. Baru bangun kala iqamat selesai dikumandangkan.


"Assalamu'alaikum warahmatullah.."


Akbar merubah posisi duduknya setelah mengakhiri shalatnya, bersila, masih menghadap kiblat. Melafalkan beberapa do'a.


Setelah do'a dipanjatkan, Akbar segera bangun dan melepas sarungnya. Meninggalkan benda itu di atas sajadah begitu saja. Bergerak untuk menarik gorden.


"Allahu Akbar.." Lelah sekali tampaknya, Akbar kini merentangkan tubuhnya dengan nyaman setelah jendela terbuka menampakan pemandangan perumahan dengan langit masih gelap.


Alih-alih merapihkan kasurnya, Akmal justru melemparkan lagi tubuhnya menuju ranjang berantakan itu. Mulutnya terbuka lebar, menguap tanpa ditutup. Citra tampannya seketika hilang karena itu.


Terlentang nyaman dengan ponsel di tangan, matanya terpaku pada layar ponsel. Demikian posisi Akbar untuk beberapa saat. Hingga..


"Innalillahi.." Akbar teringat sesuatu, langsung bangkit dari tidurnya. "Celaka.. Celaka.." gumamnya seraya berlari keluar kamarnya.


Dapur yang Akbar tuju, lupa jika sebelumnya berniat bangun sebelum subuh untuk mencuci tumpukkan piring kotor bekas semalam. Sialnua, semua teman-temannya sengaja untuk membuatnya mengerjakan semua ini seorang diri.


"Oow!" Langkah Akbar berhenti tepat diambang pintu dapur. Mengeluh tertahan. Terlambat, Agnia sudah disana. Sedang menggantikannya bertanggung jawab mencuci piring kotor yang harusnya menjadi tugasnya. Akbar memutuskan mengendap mundur saja, hendak kembali. Tak siap dengan omelan sepagi buta ini.


"Kamu sudah bekerja keras.." ucap Agnia datar, tanpa menoleh Akbar. Ekor matanya sudah menangkap kehadiran Akbar sejak awal.


Akbar nyengir, urung berbalik. Kini meneruskan langkahnya. Bersandar pada meja kompor, menghadap kakak perempuannya yang jangankan senyum, menoleh saja tidak.


"Tapi semuanya udah beres.. Jadi pergilah.." Agnia menatap Akbar dengan senyuman terpaksanya, yang bagi Akbar itu penuh peringatan. "Dan lain kali ajak mereka kesini lagi."


Mendengar ucapan datar Agnia membuat Akbar hanya bisa tersenyum lebar, memang salahnya. "Sebenernya Mbak kita udah buat perjanjian, tapi mereka bohong."


"Perjanjian apa?"


"Perjanjian kalo semua keributan ini kita bereskan sama-sama. Tapi.. Mereka memang bang**t."


"Memang. Kalian semua sama! Dan.." Agnia menatap Akbar kali ini, mematikan terlebih dulu kran airnya. "Apa kalian seperti ini juga di rumah yang lain? Membiarkan pemilik rumah membereskan kekecauan kalian.."


Akbar mengangguk cepat. Tersenyum. "Adil kan?"


"Astaghfirullah.." Agnia menggeleng heran. "Dan kamu bangga hah?!" tanya Agnia setengah berteriak. Membuat Akbar mengerjap, berpikir apa yang salah dari ucapannya.


"Kalian bangga setelah membuat ibu kalian membereskan semua ini? Wah.." Agnia dibuat geram dan tak habis pikir secara bersamaan. "Dan gimana kalo salah satu ibu kalian itu sudah tua? Kalian tega membuat mereka bekerja seperti ini? Bergelut dengan dingin, gimana kalo salah satu mereka punya rematik?"


Akbar menghela napas pelan, mendengarkan saja segala curahan hati Agnia.

__ADS_1


"Mbak jamin mereka seperti kamu, bangun terlambat dan terkejut 'wah.. Semua sudah beres' tanpa peduli apapun."


"Tapi Mbak.. Kita gak seburuk itu, bahkan semua orang tua kita dengan ikhlas menyediakan semuanya, termasuk.." Akbar menelan salivanya, kalah lagi dengan tatapan Agnia. "Membereskan semua kekacauan seperti ini." tandasnya terdengat tak yakin, kembali menekankan suaranya.


"Jangan percaya dengan senyum ibu kalian! Paling gak jauh dari Mbak, semalam Mbak senyum tapi sekarang Mbak ngomelin kamu."


Akbar seakan merasakan tubuhnya semakin kecil dan kecil saja di hadapan Agnia, heran bisa saja mengomelinya hingga tak bisa menjawab.


Agnia tak tersentuh melihat wajah murung Akbar, untuk terakhir kalinya mendelik. "Bahkan karena kegiatan semalam kamu gak pergi ke mesjid."


.


.


.


.


"Haaaaah.." Akbar menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya di kursi.


Fiki, Ardi, dan Akmal saling lempar tatap. Heran sekali dengan wajah kacau Akbar sepagi ini. Ternyata omelan Agnia berhasil mengganggu suasana hatinya sepagi ini.


"Kepala lo sakit? Atau mulai gila?" tanya Fiki, seperti biasa tengil.


"Jangan bahas soal semalam, gue gak sanggup."


"Ada yang terjadi?" tanya Fiki lagi.


Akbar menatap tiga temannya dengan malas, terakhir menatap Akmal. "Gue kasih lo nasihat.. Sebelum terlambat, pergi sejauh mungkin. Mbak Agni.. Gak seramah dan selembut yang lo pikir."


"Oh!" Ardi nyengir, langsung paham. "Ente diomelin Mbak Agni?"


Akbar tak menjawab, diam dengan pikirannya sendiri. Namun sudah jelas itu sebuah pengakuan.


"Ngomongin soal semalem, gue inget sesuatu.." Fiki langsung memulai aksinya, menyeringai ke arah Akmal. "Gue liat pemandangan luar biasa.."


Akbar mendelik. "Jangan bilang.. Lo gak jelalatan kan waktu gue bilang Mbak Agni tidur di sopa?"


"Enggak!" Fiki melotot, tak terima. Dianggap laki-laki macam apa dirinya. "Lebih menakjubkan dari itu."


Terserah, Akbar tak peduli. Kembali menyandarkan punggungnya. Apapun asal jangan mengenai kakak perempuannya.


Fiki menatap Akmal. "Gue.. Liat lo sama Mbak Agni datang dari arah yang sama." ucap Fiki yang langsung membuat tatapan dua temannya terkunci padanya. Terkejut, kecuali Akmal yang tak merasa itu hal besar.

__ADS_1


"Gue tau terjadi sesuatu, tapi jangan liat gue! Tanya sama orangnya.."


"Emh.. Bisa gue jelasin." ucap Akmal, tersenyum canggung. Sadar itu bisa jadi fitnah kala Akbar dan Ardi menatapnya minta penjelasan.


__ADS_2