Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
24 Romansa orang tua Zain


__ADS_3

Seumur hidup bukan waktu yang lama


Hingga menyayangimu masih perlu belajar


Dan memahamimu masih perlu berlatih


Namun aku selalu bersyukur


Sebab cinta ini selalu punya tempat


Juga waktu untuk semakin kuat


**


Tak sulit bagi Agnia membujuk Zain yang kesal. yang kehendak Zain pergi ke taman bermain, namun serta merta ditolak oleh Agnia.


Jujur saja Agnia belum lupa bagaimana saat itu ia kembali melihat Adi dan Alisya. Ingin hati tak peduli dan melupakan namun apa daya hatinya masih saja terasa sakit. Dari pada terulang hal yang sama, Agnia lebih memilih ngambeknya Zain.


Toh anak-anak tak akan bertahan lama dengan kemarahannya, setelah lupa mereka akan kembali tertawa seakan tidak terjadi apapun.


Begitu juga Zain saat ini, kembali lupa taman bermain dan asik menendang bola di halaman di belakang rumahnya. Diawasi Agnia yang duduk di kursi kayu sambil menyantap beberapa kudapan.


"Hati-hati.. Zain!" peringat Puspa, datang membawa laptop miliknya. Sejak Agnia datang ia justru duduk tak tenang melanjutkan pekerjaannya, bukan pa-apa melainkan ia yang merasa akan lebih menyenangkan bekerja ditemani seseorang.


Zain tak menghiraukan, berlari-lari mengejar bola.


"Kamu gak jenuh?" tanya Puspa sesaat sebelum dirinya tenggelam dalam tumpukan tugas yang menunggu diselesaikan.


Agnia menggeleng langsung, menaikan alisnya. "Jenuh gimana?"


"Seperti ini.. mengawasi anak-anak dan bukannya jalan-jalan ,shopping, menghabiskan uang.. like another normal people.."


"Maksud Mbak aku gak normal?"


"Hhm.." Puspa mengangguk, meski matanya tak lepas dari laptop yang menyala.


"Males deh Mbak.. terakhir kali aku sama Zain ke mall waktu itu.. aku malah lihat Alisya.." jawab Agnia santai.


Demi apapun saat melihat itu Puspa spontan menoleh, melongo tak percaya. Itu ternyata yang membuat Agnia murung tempo hari. "Tunggu.." Puspa masih terheran, pasalnya Agnia bisa tanpa beban menceritakan hal itu. ia jadi penasaran, mencoba mengingat sejak kapan Agnia bisa se legowo itu.


"Kok bisa?"


Kenyataannya memang baru saat itu Agnia bercerita pada kakak iparnya ini, melihat reaksi Puspa, Agnia jadi terheran sendiri.

__ADS_1


"Ya bisa lah Mbak.. dunia gak seluas daun kelor.."


Bukan itu yang Puspa maksud, tapi yasudahlah. Itu mungkin sinyal jika Agnia memang sudah siap membuka lembaran baru.


Sekali lagi Puspa menilik wajah adik suaminya itu, berusaha memastikan gurat apa yang tersirat di sana.


Agnia yang sudah kembali memusatkan perhatiannya pada Zain sejenak dibuat risih oleh tatapan Puspa.


"Apa sih, Mbak!?" tanyanya, berusaha menyadarkan kakak iparnya jika tatapan itu sangat tidak menyenangkan.


Puspa menggeleng, merasa cukup. kali ini yakin jika Agnia tidak sedang berpura-pura tenang, melainkan itu datang dari hatinya, tanpa disadari Agnia mulai tak terpengaruh dengan tokoh-tokoh di masa lalunya.


***


"Yang, aku yakin.. " Puspa menatap suaminya penuh dengan keyakinan saat ini, lebih yakin dari ucapannya barusan. "Gak ada kesedihan di wajahnya, Agnia bener-bener udah move on.."


Hafidz tak bergeming, hanya menatap wajah serius istrinya. sesaat kemudian menyungging senyum.


"Ck! Malah senyum.." keluh Puspa, sebal. "Aku serius, Sayang.." ucapnya gemas.


Hafidz tersenyum, membaringkan tubuhnya di kasur. Menarik tangan istrinya untuk berbaring pula di sebelahnya. ia pusing sebenarnya, melihat Puspa yang bercerita dengan semangat sambil melangkah hilir mudik.


"Sini!" titah Hafidz, "Kamu mau aku migren?"


Hafidz berbaring menghadap sang istri, menatap penuh atensi seseorang yang sudah lima tahun ini menemani siang malamnya.


"Coba.. ceritakan lagi.."


Puspa dibuat tidak nyaman dengan tatapan Hafidz, semangat bercerita nya jadi hilang. "Jangan liatin aku kaya gitu.."


Sudah lama sejak mereka bisa menghabiskan waktu seperti ini, Hafidz bersemangat menggoda istrinya yang kini sudah memerah karena malu. Aneh bukan? mereka bukan pasangan baru itu yang masih harus malu-malu.


Puspa yang terbiasa bersikap bak sahabat dengan Hafidz tentu canggung kala suaminya itu bersikap manis. Mengingat hubungan mereka yang sudah lama dan diawali pertengkaran-pertengkaran kecil pada mulanya.


"Istriku yang cantik.. akhir-akhir ini kamu meributkan soal bayi bukan?"


Puspa yang paham arah obrolan suaminya langsung menggeleng. "Enggak.. kapan?" di situasi seperti ini paling tepat jika ia pura-pura lupa atau jika perlu pura-pura hilang ingatan.


"Kamu kekeh mau adik buat Zain.. ingat?!" tutur Hafidz, mengangkat tubuhnya jadi merengkuh tubuh Puspa.


"Okay!" Puspa tak lagi mengelak, siapa juga yang bisa kabur di situasi seperti ini. Saat mendesak suaminya untuk memiliki anak lagi, ia gegabah sebab lupa jika prosesnya akan se memalukan ini.


"Ya! i do. Aku memang minta bayi lagi, tapi saat itu kamu yang nolak. ingat?!"

__ADS_1


"Kalo begitu aku berubah pikiran." ucap Hafidz santai. tersenyum melihat wajah panik istrinya.


Kecupan di dahi Puspa menjadi babak awal suasana hangat itu terjalin, namun saat kecupan itu baru akan turun ke bibir Puspa, sebuah ketukan berhasil menghentikan itu. Membuat keduanya spontan menoleh ke arah pintu.


"Ibu.."


"Zain.." lirih Puspa. segera mendorong pelan dada suaminya supaya menyingkir.


Hafidz pasrah saja, kecewa namun tak bisa menyalahkan kehadiran anaknya sendiri.


Puspa bangkit, beranjak membukakan pintu. Zain yang terbiasa tidur ditemani Asri mungkin hari ini mungkin ketakutan. Langkahnya berhenti sejenak, menoleh Hafidz yang tak berdaya. Membuat senyumnya tersungging begitu saja.


Melihat wajah pasrah Hafidz, membuat Puspa tak tega dan dalam hitungan detik melayangkan kecupan di bibir suaminya itu. Kecupan yang tadi tak sempat meski tinggal sedikit jaraknya.


***


Ada yang berbeda dari Akbar, kini keisengan nya kembali. Suka sekali mengganggu Agnia yang sedang berkutat dengan laptopnya di ruang tengah. mulai dari kepo dan duduk di sebelah Agnia mengintip pekerjaan yang sedang dilakukan kakaknya hingga terus mencolek Agnia supaya memperhatikannya.


"Akbar!" pelotot Agnia, kala adiknya itu membaca ketikan Agnia dengan keras.


Akbar bodo amat, tak peduli tatapan penuh peringatan itu. "Salah itu, Mbak.. kalimatnya gak tepat."


Agnia mendengus sebal, kembali berpikir apakah memang sebaiknya adiknya ini galau saja supaya hidupnya tenang? jangan-jangan sikapnya untuk menenangkan Akbar adalah salah besar?


"Mbak! itu salah kalimatnya.. masa buku buat anak-anak bahasanya gitu.."


Agnia memejamkan matanya sejenak, harus sabar memang. Gemas sekali rasanya menangani adiknya yang tak ada pekerjaan ini . Tak mau kepalanya pecah akibat ocehan Akbar, Agnia segera mengakhiri kegiatannya. Menutup laptop miliknya dan menjauhkan itu dari jangkauan Akbar.


"Kayaknya kamu harus punya pacar, deh." tutur Agnia, menatap gemas adiknya.


"Dosa. pacaran itu dosa."


"Kalo gitu nikah! Cari istri! supaya gak ngerecokin Mbak terus.."


Akbar nyengir "Mau sih, tapi Mbak juga kan masih jomblo."


Tidak salah memang, Agnia menghela. takdirnya memang takdirnya.. bukan soal ia yang masih belum menikah, melainkan Agnia meratapi takdirnya yang harus menangani tingkah Akbar yang sulit ditebak.


"Mbak!"


"Hhm?" Agnia menjawab malas.


"Dari pada sama Kak Rizwan, aku lebih setuju sama Akmal." tutur Akbar, yang sebenarnya tak serius.

__ADS_1


"What?!" Agnia heran, kenapa dia jadi tiba-tiba berubah pikiran.


__ADS_2