
"Jadi kamu yang namanya Bily? " tanya Akmal, ingat tempo hari saat mengantar Agnia nama itu beberapa kali disebutkan.
"Pulanglah.. Dan, jangan ulangi lagi. Dengarkan kakakmu.. Sesuatu bisa jadi lebih rumit saat kamu tidak mendengar saran orang lain."
Bily justru menatap bingung ke arah Akmal, tak mengenal pria itu. "Emh.. Kakak.. Siapa ya?"
"Oh!" Akmal baru ingat. "Kita belum pernah bertemu, ya.. Saya..." Akmal melirik Agnia sekilas, lalu kembali menatap Bily. "Calon kakak ipar kamu.."
.
.
.
.
Akmal dan Agnia kembali, menepati janji untuk makan bersama. Apa lagi Akbar, sudah terus menelpon Agnia. Khawatir sepertinya.
"Assalamu'alaikum.." Agnia masuk ke rumah diikuti Akmal.
"Waalaikumsalaam." Akbar langsung berjalan cepat menghampiri. Menaikkan alisnya, penasaran.
"Ada apa, Mbak?"
"Bukan apa-apa.." jawab Agnia lembut, tersenyum. Melangkah menuju kamarnya.
Giliran Akmal yang Akbar tatap, bertanya-tanya tentang hal yang sama.
"Emh?" Akmal menaikkan alisnya, berpikir apa pantas ia jawab atau lebih baik yang punya urusan saja yang bicara. "Urusan anak-anak panti." jawab Akmal akhirnya, cukup untuk membuat Akbar mengangguk.
Perihal penghuni panti memang sepenting itu untuk Agnia, tak perlu pertanyaan lain, hal seperti ini sudah biasa. Pikir Akbar.
"Yaudah, ayo.. Kita makan, nyokap gue udah nunggu.."
Akmal hendak menolak, merasa sudah terlalu lama dan tak pantas terus menerus di rumah yang ada anak gadis di dalamnya. Namun belum Akmal membuka mulut, Akbar langsung memberi tatapan penuh peringatan.
"Gak boleh nolak! Kalo nolak gue gak jamin bisa bantu lo lebih jauh untuk dapetin hati Mbak Agni.."
Akmal menghela napas pelan. Ya, kisah ini memang tentang itu. Bagaimana dia bisa meyakinkan Agnia untuk mau mengarungi hidup yang terjal juga berliku bersamanya. Dan senyum lembut Agnia, meyakinkannya jika gadis itu sudah mulai membuka hatinya. Akmal rasa, tinggal beberapa langkah lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
Alisya tak henti bimbang, sedih sekali kala Agnia menolak mentah-mentah dirinya yang berucap baik-baik. Pupus sudah niatnya untuk memperbaiki hubungan persahabatan itu. Berdiri di balkon kamarnya, menatap pemandangan jalanan komplek perumahan yang lenggang.
Saat itu, Alisya dikejutkan dengan pelukan tiba-tiba dari Adi. Langsung menoleh sekilas ke arah suaminya.
"Kenapa?" tanya Adi, meletakan wajahnya di ceruk leher Alisya.
Alisya mengusap lembut wajah Adi, helaan napas keluar dari mulutnya.
"Agnia Mas.."
Adi untuk kesekian kalinya terkejut saat nama itu disebutkan, pasalnya ia merasa tak pantas saja jika nama itu disebutkan di tengah hubungan mereka. Namun meski tak nyaman, Adi tak melepas pelukannya. Berusaha untuk membuat istrinya merasa didengarkan.
"Agnia menolak ajakan obrolanku.. Itu.. Membuatku sedih."
"Itu sebabnya aku selalu bilang... Jangan usik dia lagi. Kamu akan sia-sia berharap demikian."
Kali ini Alisya setuju, diam sesaat. Hanya menikmati pelukan hangat dari suaminya.
"Apa.. Karena dia belum bisa maafin kita ya?"
Adi kali ini melepas pelukannya, melangkah berdiri di hadapan sang istri.
"Jangan mengharapkan maaf dari orang lain.. Kesalahan kita gak perlu diiringi kesalahan lainnya dengan memaksa orang lain untuk baik-baik saja."
"Tapi hari ini dia baik-baik aja.. Malah terlihat bahagia, bahkan ada seseorang yang selalu nemenin dia."
"Mereka terlihat serasi. Dan.. Agnia terlihat bahagia." ucap Alisya yakin, seakan tahu betul hanya dari sorot mata Agnia. "Persis seperti di enam tahun kalian berpacaran.." ucap Alisya santai, membuat Adi heran akannya. "Sorot matanya persis seperti itu."
Adi tak tahu harus bereaksi seperti apa, akhirnya hanya mendengarkan saja. Entah kenapa Alisya bisa senyaman itu membicarakan mantan dari suaminya, padahal di situasi seperti ini yang Adi rasakan hanya canggung, takut salah memberi reaksi yang bisa saja memantik pertengkaran antara mereka.
.
.
.
.
Bahagia? Agnia kembali menatap wajahnya di depan cermin. Sorot bahagia memang sedikit terpancar di sana, lebih tepatnya perlahan terpancar. Apa yang hilang tiga tahun sebelum ini seakan perlahan kembali. Rasa sepi yang menggelayut di setiap detik hidupnya perlahan terlupakan, berganti kenangan baru yang Akmal hidupkan kembali.
"Ibu lihat.. Kalian semakin dekat." ucap Khopipah, menatap Agnia dan Akmal bergantian. "Jadi.. Kapan kalian menikah?"
Pertanyaan tanpa aba-aba dari Khopipah spontan membuat Akmal dan Agnia terbengong, Akmal bingung kala tatapan satu meja makan tertuju padanya. Agnia hanya diam, bingung hendak apa dikata.
"Aku.. Masih menunggu jawaban Mbak Agni.."
Persetan Akmal dengan jawabannya, Agnia mengeluh dalam hati. Ia benci pertanyaan itu. Semua beralih menatap Agnia.
__ADS_1
"Aku.." Agnia entah ingin mengatakan apa, tak pernah menyiapkan jawaban dari pertanyaan itu. Namun kala menatap mata Khopipah, Agnia dibuat tak tega menjawab belum siap. "Aku rasa.. Pertanyaan ibu terlalu buru-buru."
Akbar nyengir tanpa disadari saat melihat kegugupan kakak perempuannya, mulai berpikir apakah semua gadis seperti itu jika di hadapkan situasi ini? Lucu sekali, dirinya jadi membayangkan Asma lah di posisi Agnia dan ia di posisi Akmal.
Khopipah mendengus pelan, tahu semua tak akan mudah bagi anak perempuannya. Setelah pertimbangan cukup lama ia rasa memberi target untuk Agnia adalah yang paling tepat.
"Emh.. Gimana kalo syawal?"
Syawal? Itu berarti hanya tiga bulan tersisa. Agnia menghela napas lagi, menatap pantulan dirinya yang tampak tak tahu arah. Kini dirinya benar-benar berada pada situasi yang dinamakan perjodohan.
.
.
.
Di lain tempat, Akmal yang juga sedang memikirkan ucapan Khopipah mengubah posisi berbaringnya, ia yang tadinya tidur menghadap kiri sambil memandangi sebuah gelang dengan inisial A&U. Sesaat matanya seakan menerawang jauh seraya memerhatikan gelang lusuh itu. Kini posisinya terlentang, menatap langit kamarnya yang lenggang. Entah apa yang mengganggu pikirannya.
***
Akmal tengah duduk menunggu, di sebuah kursi yang terletak di tengah taman. Suasana cerah saat itu, semua tampak senang menghabiskan waktunya di taman itu. Sebagian duduk berduaan, lainnya membuat piknik sederhana bersama keluarga kecil mereka.
Akmal tersenyum, menatap sekitar. Di tangannya terpasang sebuah gelang. Hari ini dirinya ingin menunjukan gelang berinisial itu pada semua orang, biar semua tahu betapa berharganya seseorang yang sudah memberi gelang itu. Meski ia malu sebenarnya, gelang itu meski selalu di tangannya namun baru kali ini ia tunjukan tanpa ragu.
Senyum tak hilang dari wajah Akmal, entah mengapa hari ini terasa berbeda. Seakan dia baru saja jatuh cinta, ya. Jatuh cinta pada orang yang sama.
Tak lama sebuah langkah datang, Akmal mendongakkan kepalanya. Dengan senyum, siap menyambut seseorang yang dinantinya.
Siluet seorang wanita tampak, Akmal memicing kala sosok yang ditunggunya masih samar. Kalah oleh silau matahari. Namun Akmal sudah tahu, segera bangkit menyambut seseorang itu.
"Ulya.."
Akmal kembali menyinggung senyum, sosok itu semakin jelas baginya. Namun kala sosok itu benar-benar jelas baginya, senyum Akmal seketika hilang. Dirinya mulai mencerna, apa yang sedang terjadi.
"Mbak Agni?"
Akmal mematung, berhadapan dengan Agnia yang tersenyum manis ke arahnya. Senyum yang belum pernah Agnia tujukan padanya.
***
Akmal spontan membelalakkan matanya, napasnya memburu untuk sejenak. Segera bangkit, mendudukkan tubuhnya. Melirik jam dinding.
Helaan napas keluar dari mulut Akmal, ia mengusap wajahnya perlahan. Menyadari dirinya yang tertidur di waktu yang salah.
Jam menunjukan pukul empat, yang artinya mimpi aneh itu adalah buah dari tidurnya yang tidak tahu waktu. Akmal sejenak duduk mengumpulkan nyawanya, pikirannya menerawang pada 'kenapa mimpi semacam itu terjadi?
Ulya? Kenapa sosok itu kembali datang ingatannya.
__ADS_1