Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
Akbar dan Akmal


__ADS_3

Seperti apa kehidupan?


jika semua bisa semau kita.


Sementara manusia hanya punya prasangka


Dan takdir-Nya terbaik,


Meski dengan memberi segala kendala.


Misalkan hidup bisa semau kita


akankah lebih baik


Atau kah hanya menambah pelik?


♡♡


Tiga puluh menit sudah Akbar duduk menemani Agnia yang berdiam diri saja di kamar masa lalunya itu, duduk begitu saja. Bergelut dengan pikirannya sendiri, sementara Akbar tak kenal bosan dduduk emnunggu tak jauh dari Agnia.


Keduanya tak tau, jika sebuah mobil masuk ke halaman rumah mereka. Ada dua orang yang turun dari mobil itu untuk bertamu.


Sebab itulah Khopipah menaiki tangga menuju lantai atas, hendak mencari anak bungsunya yang ia pikir berada di kamarnya. Namun ibu dari tiga anak itu langsung berbelok setelah melihat pintu kamar Agnia terbuka. Dahinya mengernyit, penasaran.


"Loh.. kalian disini, ternyata." ucap Khopipah, membuat kedua anaknya menoleh bersamaan.


Akbar membulatkan matanya, menghampiri ibunya dengan isyarat supaya segera pergi.


"Ngapain disini?" tanya Khopipah, berbisik. Menatap Akbar.


"Nanti aku cerita." ucap Akbar, Khopipah menaikkan alisnya bingung. tak mengerti yang terjadi. Apa yang membuat Agnia masuk ke kamar itu lagi?


Akbar menggeleng, memberi kode supaya ibunya diam. Urusan kode satu sama lain pasangan ibu dan anak bungsu itu adalah ahlinya.


"Ibu cari kalian dari tadi, ada tamu soalnya." ucap Khopipah.


Akbar mendorong Khopipah untuk keluar.


"Mbak, aku turun duluan ya." ucapnya, membawa serta sang ibu untuk keluar.


Agnia mengangguk.


***


Khopipah tak sabar, meski berdiri tidak jauh dari pintu kamar yang baru saja ia masuki, ia segera bertanya pada anaknya bahkan saat langkah mereka masih selangkah dari pintu.


"Mbakmu kenapa?" tanya Khopipah khawatir. "Kenapa kalian masuk ke kamar itu?"


"Tenang, Bu." Akbar tersenyum, menunjukan tatapan tenang."Gak papa, Bu. Gak usah khawatir." Namun kontras dengan wajahnya setelah mengucapkan kalimat itu. Hening sejenak. "Siapa yang datang, Bu?"


"Itu.. temen ibu." ucap Khopipah menggantung, menatap punggung Akbar yang semakin jauh, pergi setelah memberi anggukan. Dengan begitu semakin terlihatlah ada sesuatu yang disembunyikan kedua anaknya. Namun ia, harus bersabar untuk diam. Tak selalu orang tua bisa ikut campur dengan masalah dan perasaan anaknya.


Keresahan Agnia juga keresahan seluruh keluarga, Akbar pun dengan ini menjadi pendiam. Seperti kehilangan energi meski untuk sekedar menebar senyum.


Di ruang tengah, Fauzan sedang menyambut dua orang tamunya. Kudapan terhidang di meja.


"Nah.. ini si bungsu." ucap Fauzan, ketika Akbar datang. Menyela obrolannya.


Akbar langsung menyalami wanita yang katanya teman sang ibu itu. Tersenyum ramah. "Salam kenal tante, saya Akbar."


"Iya. Salam kenal juga Akbar." Perempuan itu tersenyum. "Baru ketemu ya, kita." ucap Retno tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Akbar. "Kamu umur berapa, sih?"


"Seumuran sama aku, Bun." potong seseorang. Yang membuat wajah Akbar langsung berubah terkejut saat menolehnya.

__ADS_1


"Akmal?!"


Itu kali pertama mereka berurusan di luar kampus. Akmal yang sudah tahu akan bertemu Akbar sama sekali tidak terkejut, tapi bagi Akbar, lebih dari itu. Ia kaget bukan kepalang ternyata Akmal temannya memang seseorang yang akan dijodohkan dengan Agnia. Firasat Akbar sebelum ini benarlah adanya.


Jawaban Akmal saat ditanya peeihal calon istri pun terasa mencurigakan di hari ini. "Gak ada, sama sekali. Kecuali kalo lo punya kenalan cewe, Bisa kenalin sama gue."


Belum lagi Akmal memintanya untuk dikenalkan pada Agnia kemarin. Satu pertanyaan di pikiran Akbar saat ini, apakah Akmal temannya ini sudah sedari jauh hari membidik Agnia?


"Akbar temen aku di kampus, Bun." ujar Akmal ketika mendapat tatapan penuh tanya dari sang bunda.


***


Hafidz baru saja pulang dari tokonya, membawa motor gede milik ke rumahnya. Langit mulai gelap, tanda akan segera hujan. Hafidz Segera berlari ke dalam rumah setelah mematikan mesin motor.


"Sayang?" panggil Hafidz, seraya berjalan menuju sopa. "Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.." Puspa muncul dari arah dapur, membawa segelas air. Menghampiri Hafidz menuju sopa, duduk di samping suaminya. "Baru beres kerjaannya ya?"


Hafidz mengangguk, terlebih dulu meraih kepala istrinya, memberikan kecupan. "Ke rumah Ayah sekarang?" tanyanya.


"Ya Allah sayang.." Puspa menggeleng heran, baru saja pulang kenapa suaminya ini sudah berpikir untuk pergi? "Istirahat dulu lah, cape kamu kan?" ucap Puspa, memberikan segelas air yang tadinya ia ambil untuk dirinya. Menggeleng heran,


Hafidz mengangguk, menyamankan posiai duduknya. Meneguk air yang diberikan istrinya. Tak perlu ditanya bagaimana lelahnya ia seharian ini, itu terlihat sangat jelas dari gurat wajahnya.


"Oiya yang, kemarin aku dapet pasien kembar loh." ucap Puspa, duduk di sebelah suaminya. Setelah membali dari dapur membawa segelas air lagi. "Lucu loh, Mas. Satu cowo satu cewe. Aku jadi pengen punya anak kembar."


Demi mendengar ucapan istrinya Hafidz hampir saja tersedak. "Tiba tiba?"


"Ih kenapa kamu? Aku baru bilang pengen loh. Bukan bener-bener mau nambah anak." ucap Puspa, tersenyum menatap suaminya.


Hafidz menggeleng takjub, menatap Puspa. Baginya urusan anak bukan soal candaan.


"Kamu gak mau punya anak lagi?" Puspa manyun, tak suka dengan reaksi Hafidz


"Ya justru itu, Mas. Zain jadi punya temen main. Aku juga bisa cuti kan."


"Tiga bulan? Dan setelah itu? Mendidik anak itu butuh waktu lebih lama dari itu."


Puspa mendecak, kesal. "Kamu mah, gak bisa diajak diskusi."


***


Cukup lama untuk Agnia memutuskan keluar dari kamar itu, dan baru keluar setelah memastikan tak ada bekas kesedihan di wajahnya.


"Ada yang mau ibu kenalkan, kamu berdandan dengan rapih ya." itu kata Khopipah tadi, untuk kemudian pergi lebih dulu. Tak mengucap kalimat lain atau mengajukan pertanyaan meski ingin. Di kesempatan itu, Khopipah rasa berpura-pura tidak menyadari apapun akan lebih baik.


Hari itu akan datang, hari dimana Agnia dihadapkan kembali pada pilihan. Agnia sadar akan itu, hingga ketika hari ini ia harus dipertemukan dengan seseorang baru dirinya tidak terkejut dan langsung mengambil sikap. Meski belum pasti tentang bagaimana kesiapannya nanti.


"Nah, Agnia. Sini sayang.." Khopipah bangkit, menyambut anak gadisnya.


Membuat semua mata menatapnya, termasuk Akmal. Sedangkan Akbar tak melepas pandangannya dari Akmal. Ia ingin tahu apakah temannya ini tertarik dengan Agnia? Sungguh. Jika Akbar ditanya maka ia akan sangat tidak setuju dengan perjodohan ini.


Agnia tersenyum, segera menyalami Retno yang sebenarnya sudah tidak asing baginya.


"Apa kabar, Agnia."


"Alhamdulillah baik, Tante." jawab Agnia, tersenyum. Tak tampak jika tadi ia justru bersedih. Beranjak duduk di sebelah sang ibu, masih tak tertarik dengan siapa yang berada di sebelah perempuan yang ia panggil tante itu.


"Agnia, kenalin. Yang di samping Tante Retno namanya Akmal." Fauzan yang berbicara. "Dan Akmal, ini namanya Agnia. Kakaknya Akbar."


Agnia hendak tersenyum tadinya, namun saat mata mereka bersitatap justru begitu saja senyum itu batal. Agnia pernah melihat pria ini, tentu saja ia belum lupa.


Akmal adalah seseorang yang tempo hari menyebut dirinya sendiri sebagai seseorang dari masa depan. Itulah pria yang ia cap sebagai pria jaman sekarang yang tidak hanya menakutkan tapi juga tidak jelas.

__ADS_1


Lihatlah bagaimana Akmal tersenyum saat ini, dan Agnia yang hanya membalas dengan anggukan sopan. Tapi Akbar, justru yang paling waspada. Saat ini berganti menatap Agnia, dalam hati berharap semoga kakaknya ini tidak tertarik pada Akmal.


Obrolan dua calon besan ini masih memanjang ke banyak topik pembicaraan, tentang masa lalu dua sahabat Khopipah dan Retno semasa di pesantren hingga kegiatan yang mereka lakukan dewasa ini. Akmal menyimak saja dengan ikhlas, mengangguk sesekali. Begitu juga dengan Agnia. Sedangkan Akbar, tak rela pergi dari tempat duduknya untuk memastikan tak ada kisah romantis curi-curi pandang antara Akmal dan Agnia.


Buruk sekali jika Akbar berpikiran salah satu dari Akmal atau Agnia akan curi-curi pandang. Karena justru Akbarlah yang over thingking, tak sadar dirinya lah satu-satunya yang curi pandang.


Agnia tak peduli dengan apa yang sedang terjadi, ia hanya berjanji untuk menemui pria itu dengan baik-baik. Selebihnya pilihan ada di tangannya nanti.


Helaan napas pelan keluar dari mulut Agnia, menyelami obrolan orang tua jelas melelahkan. Tepat saat itu Akbar adiknya memberi isyarat mengajak keluar. Agnia segera mengerti, langsung meminta izin pergi pada sang ibu.


"Boleh." bisik Khopipah.


Akbar segera mengekor saat Agnia pergi dari obrolan itu. Langsung menarik tangan kakaknya menuju halaman.


"Mbak suka sama dia?" tanya Akbar langsung.


"Apa sih?" Agnia melotot, pertanyaan macam apa itu.


"Mbak, plis ya. Mbak boleh suka sama siapa aja, tapi jangan dia." mohon Akbar.


"Subhanallah Akbar! Kapan mbak bilang suka sama dia?"


Akbar diam, tak mengerti kenapa dirinya menjadi sangat resah. "Ya pokoknya jangan sampe!"


"Ih!" Agnia gemas. "Mbak itu gak punya waktu untuk mikirin suka atau tidak, kepala mbak aja rasanya mau pecah sekarang. Emang kenapa? Kamu kenal sama dia?"


"Dia temen aku." jawab Akbar datar. Membuat Agnia langsung menaikan alisnya bingung. "Iya. Dia seumuran aku." tegas Akbar.


"Astaghfirullah.." gumam Agnia. Bagaimana bisa ibunya memilihkan jodoh yang lebih muda darinya. Adi saja yang lebih dewasa bisa meninggalkannya, lalu bagaimana ketika pria itu lebih muda?


"Itu dia."


"Ah mbak pusing, gak dibahas ya. Itu biar urusan nanti. Mbak mau masuk lewat pintu belakang. Jangan bahas!"


Akbar yang paling resah mengangguk, seumur hidup ia tidak pernah membayangkan akan memiliki kakak ipar yang usianya sama dengan dirinya. Apalagi dalam segala hal Akmal dan Akbar selalu dibandingkan. Apa jadinya jika seteru jadi adik dan kakak ipar?


Ketika Akbar masih tidak percaya dengan yang sedang terjadi, sore menjelang maghrib itu Hafidz datang membonceng Puspa.


Akbar untuk sebentar lupa permusuhan abadinya dengan Hafidz, saat ini menunjukan wajah resah.


"Assalamualaikum.." Puspa segera turun menghampiri Akbar, berjaga-jaga keributan yang bisa saja terjadi antara suami dan adik iparnya ini.


"Waalaikumsalam.. Mbak kesini juga ternyata.."


"Iya. Mumpung ada waktu." jawab Puspa. "Wajah kamu kok, gitu?"


"Itu.."


Hafidz juga bergabung, setelah lebih dulu menyimpan motor milik adik bungsunya dengan aman. Jika tidak sedang dalam situasi ini, Akbar pasti sudah marah dengan apa saja yang bisa diributkan dari cara Hafidz menggunakan motornya. "Kenapa?"


"Itu.. calonnya Mbak Agni yang ibu pilih.. dia temen aku."


Hafidz dan Puspa terkekeh bersamaan sengan jawaban Akbar.


"Terus?" Hafidz mengernyit, masih dengan sisa senyum di wajahnya.


"Dia seumuran sama gue." ulang Akbar, menatap kakak tertuanya itu.


"Udahlah, lo gak usah over thingking. Kalo ibu udah milih, itu pasti berdasarkan riset yang sempurna."


Akbar mendecak, menatap Hafidz yang di matanya tampak tengil serta Puspa yang menggeleng takjub ke arahnya. "Lu mah gak bisa diajak diskusi." ucapnya, menatap tajam Hafidz.


"Loh?!" Hafidz jadi bingung, menatap Akbar yang berjalan masuk ke rumah. kedua kalinya kalimat itu dilontarkan padanya dari dua orang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2