Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
85. Antara Agnia dan Gian


__ADS_3

Agnia dikejutkan oleh Gian yang tiba-tiba saja menyamakan langkah dengannya. Tak kaget, namun menatap penuh tanya, pasalnya yang ia lihat tadi pria itu bersama seorang gadis.


Yang semakin membuat Agnia terheran adalah, saat keduanya kini duduk satu meja. Terpisah dengan Puspa dan Zain yang duduk di meja berbeda. Agnia mengeluh tertahan, padahal suasana hatinya sedang tidak baik. Sesekali melirik Puspa dari tempatnya duduk.


"Kak Gian.. ada janji sama seseorang disini?" tanya Agnia, tak bisa terus diam satu sama lain. Dan membuat suasana semakin canggung.


"Iya." Gian mengangguk cepat.


"Terus.. kenapa malah disini?" tanya Agnia penuh hati-hati, yang malah membuat Gian tersenyum gemas


"Kenapa? Kamu terganggu?"


Agnia menggeleng cepat. "Bukan gitu, Kak. Tapi.." sesaat tatapan Agnia mengarah Puspa, untuk tak lama kemudian kembali menoleh Gian. "Aku.. cuma nanya."


"Kakak kebetulan keliatan kamu, jadi.. datang untuk menyapa. Emh.. apa kamu terganggu dengan sikap sok akrab kakak?"


Agnia menggeleng lagi. "Gak sama sekali, tapi.. aku liat Kak Gian sama perempuan tadi, jadi.. aku rasa, sedikit canggung."


"Perempuan itu sudah pulang, itu kenapa aku putuskan untuk menemui mantan adik kelasku ini."


Ketika Agnia hanya bisa tersenyum canggung, Hafidz datang dan menilik dari jauh. Langsung mendekat setelah menemukan sosok istri dan anaknya, sesaat matanya menilik mencari seseorang yang tak ada di meja itu.


Benar saja, Agnia tak terlihat bersama Zain. Justru adik perempuannya itu berada di meja yang berbeda bersama seorang pria.


Antena waspada Hafidz menyala, langsung mendekat ke meja dimana Agnia berada. Memasang wajah tak suka, dengan tangan terlipat di depan dada. "Kenapa kamu disini?" tanyanya datar. "Meja kita disana."


Agnia gelagapan, takut saat Hafidz dengan mode seperti ini. Puspa yang melihat itu hanya bisa menghela, sudah biasa dengan sikap intimidasi suaminya.


Gian mendongak mendengar suara Hafidz, spontan saja tersenyum. "Kak Hafidz!" sapanya.


Hafidz membalas tatapan pria yang menyapanya itu, menilik sebentar. "Siapa?" tanyanya, tanpa menghilangkan tatapan angkuhnya.


"Gian, Kak."


Sesaat wajah Hafidz tetap dengan ekspresi datarnya, masih menilik.


Agnia yang hampir dibuat tak bisa bernapas kini menghela lega, sempat lupa jika dua orang di hadapannya sudah saling mengenal.


Wajah garang Hafidz tak lama berganti ramah, kontras sekali. Membuat Agnia mencebik memperhatikan kakak sulungnya itu.


"Oh.. Iya, Gian.."


"Masih ingat, kak?" tanya Gian, memastikan.


"Inget lah, seseorang yang selalu jadi bahan aduan Agnia semasa SMP."


Gian terkekeh, mengangguk. Itulah dirinya. Sekilas Gian menoleh Agnia, berharap adik kelasnya itu tak bernostalgia tentang bagaimana tengilnya ia dulu.


Puspa dibuat heran sendiri melihat tingkah suaminya, menggeleng takjub saat suaminya itu bukannya menghampiri meja anak istrinya justru malah menarik kursi bergabung bersama Agnia dan pria asing itu.


"Apa kabar?" tanya Hafidz, fokus pada Gian dengan tatapan tertarik. Senang bertemu teman lama. Mengabaikan Agnia yang lantas menoleh Puspa, seakan minta tolong. Ingin sekali satu meja dengan Zain saja, sedangkan Zain fokus pada makanannya.


"Baik, Alhamdulillah.." jawab Gian. "Kak Hafidz gimana?"


"Saya baik, seperti yang kamu lihat. Bahagia dengan keluarga kecil saya. Ah! Sudah kenalan dengan istri saya?"


Gian mengangguk.


"Baguslah, tapi kenapa kita duduk terpisah? Harusnya kita duduk bersama."


Agnia mencebik tipis, takjub dengan Hafidz yang entah kenapa jadi lebih banyak bicara dari biasanya. Padahal Gian baru ditemuinya setelah bertahun lamanya, sudah merasa getaran mencurigakan dari sana.


"Ah!" Hafidz segera meralat. "Tapi lebih baik begini, kalian bisa bebas bicara. Mungkin.. mengenang masa lalu?"


Gian mengangguk, tersenyum menanggapi Hafidz.


"Oiya.. kamu, belum menikah kan?"


Gian menggeleng pelan, sedikit ragu-ragu. Tak siap dengan pertanyaan angker semacam itu. "Belum, seperti yang kak Hafidz lihat. Aku masih bebas kesana kesini sendiri."


Hafidz mengangguk. "Syukurlah.."


Demi mendengar kata syukur yang diucapkan Hafidz, mata Gian membulat sedikit. Jadi penuh tanya.


"Maksud saya.. karena belum menikah, kamu masih bisa mengembangkan karir." ralat Hafidz. "Bukan begitu?"


Gian menggeleng, untuk yang satu ini tak setuju. "Gak gitu juga Kak, toh Kak Hafidz contohnya sukses di dua hal itu dengan bersamaan. Aku, cukup iri."


Dipuji Hafidz tentu senang, namun menggeleng menafikan pujian itu. "Itu gak bener. Tapi kalo kamu pikir kayak gitu, kenapa kamu belum menikah? Padahal kamu sudah berada pada usia dan keadaan yang matang."


"Aku.. masih cari calon yang tepat, Kak. kesiapan dan kematangan saja ternyata belum cukup. Jadi, kalo Kak Hafidz punya saran.. bisa kasih tau aku."


Hafidz tertawa renyah mendengar jawaban Gian, langsung berpikir hal lain. "Kalo yang satu itu gampang, gak perlu jauh-jauh. Disini juga masih ada yang sendiri."


Pandangan dua orang itu mengarah pada Agnia, sedangkan Agnia justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Abai dengan obrolan dua orang itu.


"Ya kan? Agni?" tanya Hafidz penuh penekanan. Membuat Agnia langsung menoleh penuh pertanyaan.


"Hemh?"


Hafidz mendengus pelan, sedikit kesal sebab usahanya tak disambut baik Agnia. Padahal sulit sekali mencari celah untuk mengatakan hal semacam itu, namun Agnia benar-benar tak bisa diandalkan.


"Lupakan!"


...


Hafidz akhirnya meninggalkan Agnia dan Gian berbincang berdua, tak lagi merecoki atau bersikap sebagai pimpinan rapat. Hanya sibuk memperhatikan dari tempatnya duduk.


Puspa menghela pelan. "Makannya yang bener dong, Yang.." peringat Puspa yang langsung dibalas senyum oleh Hafidz.


"Iya.. Oiya, Sayang.. sebelum pergi, gimana kalo kita ke rumah Ayah dulu?"


"Ngapain?"


"Nitip Zain."


"Tapi udah aku titip sama Agni, jadi gak perlu kok."


"Tapi masa gak izin dulu sama Ibu."

__ADS_1


Puspa mengernyit, menoleh sang suami. Tangannya yang menyuapi Zain berhenti spontan, membuat Zain reflek membuka mulutnya mengikuti tangan sang Ibu.


Curiga saja, Puspa yakin sekali. Tak biasanya suaminya itu banyak menawar, kontras sekali dengan sifat aslinya yang sebenarnya tak suka bertele tele dan sigap sekali.


Hafidz balas tersenyum, mencubit pelan pipi istrinya itu. "Jangan liatin akau kayak gitu, ayo terusin makannya."


.


.


.


.


Hafidz menggusur istri dan anaknya ke dalam mobil, pada akhirnya. Membuat Puspa tak sempat bicara pada Agnia, dan berlalu saja pergi.


"Kenapa Si Mas?" Puspa kini bertanya, setelah berada dalam mobil.


"Kamu pura-pura gak ngerti? Aku sengaja supaya mereka bisa berduaan."


"Hah?!" Puspa mengernyit. "Maksud kamu.. kamu mau Agnia.."


"Iya." jawab Hafidz cepat. "Gitu dong, tanggep dari tadi." protesnya, sedikit susah payah tadi membujuk sang istri.


"Mas.. tapi Agni udah punya calon."


"Emangnya kenapa? Lagipula Agnia gak pernah bilang setuju dengan perjodohan itu. Dan kamu harus tau, Gian itu jauh lebih baik dari anak itu." jelas Hafidz, menekankan kata anak itu.


"Anak itu? Ya Allah.. sama calon adik ipar sendiri gitu amat." Puspa menggeleng heran. "Mas, Akmal itu gak kurang sampe Agnia harus berpaling sama orang lain."


"Ini bukan soal kurangnya Akmal, tapi lebihnya Gian."


"Jangan karena cowok itu temen kamu, kamu bilang dia lebih baik dari Akmal."


"Tapi itu faktanya. Akmal bahkan belum lulus kuliah, sedangkan Gian.."


"Itu karena umur mereka berbeda."


"Justru itu, anak itu.. maksudku, Akmal itu lebih muda dari Agnia. Apa hubungan semacam itu berhasil? Dan kenapa kamu bersikeras membela Akmal?"


Puspa menghela. "Mas, Akmal itu suka sama Agni. Sedangkan temen kamu itu belum tentu."


"Siapa bilang? Menurut kamu kenapa dia belum nikah diusia dia sekarang ini? Dan kamu gak liat tatapan dia sama Agni? Itu persis tatapan aku sama kamu. Tatapan suka."


"Dan gimana tentang tatapan Agnia? Maksud aku.. perasaan dia."


Hafidz mendengus pelan, greget dengan istrinya yang terus saja mendebat. "Kamu itu, bukannya setuju sama suami.. malah ngeyel."


Puspa dibuat tak bisa berkata apa-apa lagi,. Hanya bisa menghela kecewa. "Okay, aku minta maaf. Tapi setelah ini mari kita lihat kemana hati Agnia akan berlabuh."


Hafidz mengendikkan bahunya tak acuh, siapa takut.


....


Agnia bingung sendiri, kenapa jalan-jalan Puspa berakhir dengan ia yang terjebak bersama Gian. Dan tiga orang itu sengaja sekali meninggalkannya. Pergi tanpa jejak.


Agnia mengerjap, pertanyaan itu tepat sekali dengan keluhannya dalam hati. Seakan Gian bisa tau isi hati ya, segera menggeleng.


"Apa yang kamu pikirin? Sejak tadi kamu keliatan gak bersemangat."


"Bukan apa-apa, kak. Bukan hal yang serius." jawab Agnia, nyengir. "Tapi.. bukannya kakak kesini sama seseorang? Aku beneran sempet liat tadi, kenapa dia tiba-tiba pergi?"


"Sebenernya dia gak pergi, aku yang suruh dia pergi." jawab Gian jujur.


"Kenapa? Jangan bilang itu karena aku.." ucap Agnia, tersenyum. Becanda, tak tau saja jika itu memang faktanya.


"Enggaklah, hanya saja.. kakak gak suka sama dia, dia.. perempuan pilihan orang tua kakak."


"Kakak dijodohin?"


Gian tersenyum, menatap mata bulat Agnia yang mengarah padanya.


"Kenapa? Aneh ya? Dijaman sekarang masih ada perjodohan."


Agnia cepat menggeleng. "Enggak kok."


"Jangan bohong sedangkan tatapan kamu seperti itu."


"Bener, Kak. Soalnya aku juga gitu."


"Maksudnya?" Gian mengernyitkan dahinya, menatap lekat Agnia. "Kamu dijodohin juga? Sama siapa?"


"Emh.."


"Ah! Aku terlalu banyak bertanya." Gian segera meralat, takut jika membuat tidak nyaman gadis di hadapannya. "Tapi jawab satu hal, kamu.. menerima perjodohan itu?"


Agnia terdiam sesaat, berpikir beberapa saat. "Masih aku pikirin."


Gian mengangguk. "Kenapa emangnya? Dia gak sesuai keinginanmu atau apa?"


"Entahlah.." Agnia mengendikkan bahunya. "Cuman.. aku gak punya alasan untuk menolak." kata Agnia, menoleh Gian. "Dia baik, tidak memaksa, cara bicaranya menyenangkan. Ya, aku rasa mirip kak Gian sekarang. Sedikit."


Gian tersenyum mendengar kalimat terakhir Agnia, ia yang sedikit kecewa kini seakan mendapat harapan.


"Dan kakak? Kakak juga mempertimbangkan perjodohan itu, kan?"


Gian tersenyum. Mengendik juga. "Entah, masalahnya aku gak punya alasan untuk menerima dia."


Agnia mencebik. "Kenapa? Dia cantik, dan kelihatannya baik. Kak Gian mau cari yang gimana lagi?" tanyanya, persis omelan.


"Ya. Tapi tidak cukup cantik dibanding seseorang yang sudah ada disini." jawab Gian, menunjuk dadanya.


"Oh!" Agnia terkekeh. "Maksudnya kakak sudah punya orang lain? Kenapa berbelit." keluh Agnia. "Jadi.. apa kalian saling cinta? Maksudku, dengan seseorang dihati kakak."


"Emh.." Gian menghela pelan. "Sepertinya cinta bertepuk sebelah tangan, soalnya dia sudah memandang orang lain terlebih dulu."


"Sayang sekali, tapi itu berarti kakak harus mempertimbangkan calon dari orang tua kakak. Ya kan?"


Gian mengangguk, mengendus pelan. "Sepertinya."

__ADS_1


Hening sejenak.


"Kak Gian, dari mana tau rumah aku? Aku penasaran soal itu."


Gian tersenyum. "Aku tau banyak hal tentang kamu."


"Ah! Dari album kenangan?"


"Kamu tau.."


"Anak-anak yang bilang, katanya Kakak mengamankan satu album milik mereka hanya untuk memotret data punya ku." ujar Agnia, berucap dengan senyum.


Gian terkekeh, demikian dirinya.


"Tapi aku kecewa, Kak Gian gak pernah menghubungi aku."


"Hemh?" Gian bukan tak mendengar, hanya memastikan. Pasalnya hal seperti itu tak terpikirkan oleh Gian sama sekali, tak tau jika dirinya yang menyebalkan sempat dinanti.


"Ya, setelah itu aku pikir Kakak akan menghubungiku, menemuiku, atau sebagainya. Tapi seorang Gian, memang selalu begitu hanya mempermainkan.."


"Jadi.. kamu berharap saya hubungi saat itu?"


Agnia mengangguk.


Gian bisa merasakan hatinya bergetar, kenapa bisa seperti ini? Dulu ia pikir Agnia tak akan menunggunya. Tapi sekarang? Andai waktu itu ia tidak menjauhi Agnia, apa semuanya akan berbeda kali ini?


Agnia menoleh Gian saat pria itu tak lagi bergeming, menatap dengan kekehan. "Kenapa dengan wajah itu? Menyesal sudah mempermainkan aku?" Agnia tersenyum lebar. "Lupakan saja! Kita dihari ini sudah sangat berbeda, bukan?"


Gian tak bisa memahami dirinya yang tak pernah berhenti mengagumi Agnia, dulu ia tunjukkan dengan mengganggunya dan setelah itu menghilang. Dan kini, semua bak terbuka perlahan.


Setelah hari perpisahan, Gian hanya memperhatikan gadis itu dari jauh. Hingga akhirnya ada kabar bahwa Agnia berpacaran dengan orang lain, Gian memutuskan menghilang lebih jauh. Tak berniat kembali menemui Agnia, sama sekali.


"Tapi selama itu, kakak gak berhenti lho.. cari tau kondisi kamu."


"Oiya? Terus kenapa gak muncul?"


"Kakak kecewa karena kamu sudah punya pacar saat itu."


Agnia terkekeh, menyangka itu hanya gaya becanda Gian. "Ya, itu karena aku menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari kak Gian. Saat itu."


"Lebih baik apanya, kalo gitu dia akan ninggalin kamu dan nikah sama sahabat kamu."


Agnia spontan menoleh, kini lebih lama. Gian ternyata tau juga mengenai hal itu.


"Sudah aku bilang, kakak tau semua hal tentang kamu."


Agnia tersenyum tipis sekali, takjub bagaimana Gian tau segala hal dan memperhatikannya tanpa disadari.


"Tapi.. kenapa kakak gak pernah muncul di hadapan aku, selama ini? Maksudku.. setelah sekian lama. Bahkan kalo kita gak kebetulan ketemu kayaknya Kak Gian akan terus sembunyi dari aku. Kenapa?"


"Karena.. kakak pikir kamu benci sama kakak."


"Benci? Kenapa kak Gian mikir kayak gitu. Aku pernah lakuin kesalahan? Atau mengatakan hal semacam itu?" Agnia mengernyit. "Padahal aku udah minta maaf waktu kakak perpisahan. Oiya.. aku pernah bilang aku seneng kakak lulus dari sekolah waktu itu, jangan-jangan.. itu yang jadi sebab?"


Gian menggeleng. Ia tak selembek itu untuk tersinggung.


"Terus?"


"Lupain aja, itu gak penting sekarang."


Agnia mencebik, gak penting apanya. Padahal hak yang sama terjadi pada Akmal yang kini tiba-tiba menghilang seperti hantu. Herannya ia sama sekali tak menyadari kesalahan mana yang sudah ia lakukan.


.


.


.


.


Akmal tak punya pekerjaan lain selain bersantai, malas sekali pergi toko. Akhirnya hanya melakukan hobinya, main game di komputernya.


Retno sebagai ibu bisa melihat keresahan di wajah Akmal, tersenyum tipis memperhatikan gerak gerik anak satu-satunya itu.


"Ada apa? Ada yang mengganjal di hati kamu?" Retno bertanya, mengusap lembut rambut Akmal.


Akmal menggeleng, tersenyum. Berhenti dari hobinya itu.


"Kamu berusaha menyembunyikan sesuatu, tapi mana bisa. Bunda lebih tau kamu."


Akmal tersenyum, memang begitu. Ia tak kan bisa berbohong pada orang favoritnya ini.


"Dari pada bersedih, kenapa kamu gak ajak Agnua kesini lagi. Atau, setidaknya temui dia. Mumpung hari Minggu."


Akmal menghela, mengangguk kemudian. "Baiklah.." tak pernah bisa menolak, meski hatinya masih gundah gulana.


Satu perintah Sang Bunda, segera Akmal penuhi. Kini sudah hampir tiba, mengendarai kuda besinya itum Tak tau apa yang mau dituju, hanya berbekal bingkisan dalam kantong dari sang Bunda. Namun untuk sekarang, Akmal pergi saja dulu. Biar ia pikirkan proses selanjutnya.


Namun belum pun motornya tiba, Akmal sudah melihat Agnia turun dari sebuah mobil asing. Dari jauh mengamati, memilih berhenti.


Pemilik mobil itu keluar untuk sebentar, entah apa tujuannya Dimata Akmal. Hanya saja wajah dua orang itu tampak penuh senyum.


Itu Gian. Akmal sudah mengira, dan pemandangan itu membuatnya makin merana entah kenapa.


Akmal tak melepas helmnya, sejenak memperhatikan dua orang yang tampak akrab itu. Hingga Agnia menoleh ke arahnya.


Entah apa maksud tatapan Agnia, tapi Akmal tak peduli. Semakin lama disana semakin membuat pikirannya tak karuan. Memutuskan segera kembali.


Agnia tergagap, seakan mau membela diri di hadapan Akmal. Sesaat bocah itu pergi, Agnia kembali sadar. Kenapa juga dirinya peduli, jika ingin pergi biarkan saja. Demikian egonya berbicara.


"Ada apa?" tanya Gian, ikut menoleh ke arah yang sama dengan Agnia.


Agnia langsung menggeleng, tersenyum pada Gian. "Bukan apa-apa, Kak."


"Yasudah. Aku pergi sekarang, ya ."


Agnia mengangguk. Memperhatikan hingga Gian masuk ke mobilnya, dan sekali lagi tersenyum sebelum pergi.


Agnia mengeluh tertahan seperginya, mengendus gusar. Bingung sekali dengan tingkah Akmal, Ia merasa dipermainkan saja jika begini.

__ADS_1


__ADS_2