Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
95. Persoalan bubur


__ADS_3

Malam itu juga Retno segera pergi ke rumah sakit, sekelasnya iadengat berita itu dari Akmal. Sudah juga menelpon Khopipah, sahabatnya. Memberitahu betapa berita itu mengejutkanya, Retno dibuat melongo tak percaya. Tak tau peristiwa segenting itu terjadi siang ini.


Akmal ikut, tentu saja. Ia bahkan belum sempat melihat Agnia sejak tiba di rumah sakit. Tak sabar, ingin memastikan sendiri.


Malam itu Akmal bahkan harus meliburkan pelajaran mengajinya bersama Basit, membuat muridnya itu terpaksa pulang kembali dengan tanda tanya besar di kepala.


Suasana ramai namun sepi khas rumah sakit sudah tersuguh di mata pasangan ibu anak itu, Retno keluar terlebih dulu berjalan pelan sembari menunggu Akmal yang memarkirkan mobilnya dahulu.


Akmal menyusul bersama dua bingkisan buah ditangannya, dengan langkah besarnya pria tinggi itu sudah berada di sebelah Sang Bunda. Berjalan bersisian, menyusuri koridor rumah sakit yang lenggang di pukul setengah delapan malam ini.


Seramai dan seterang apapun rumah sakit, juga selengkap apapun fasilitasnya tetap tak menghilangkan kesan tak nyaman yang timbul. Ada rasa sepi dan takut yang tak bisa didefinisikan, semacam mencekam namun tak terlalu.


Langkah cepat dua orang itu hampir menyaingi langkah Khopipah yang sudah lebih dulu datang, tiba beberapa saat lebih cepat bersama satu tas besar di tangannya.


"Mbak.." seru Retno, saat jarak mereka sudah sangat dekat. Berbeda dengan Akmal yang tetap pada kecepatan langkahnya.


Khopipah menengok, lantas tersenyum. Langkahnya berhenti untuk menunggu sahabat karibnya itu.


"Maaf, Mbak.. aku baru datang." ucap Retno tulus, seraya meraih lengan sahabatnya.


Khopipah menggeleng, tersenyum tipis. "Gak papa, justru kamu seharusnya gak usah kesini." jawabnya, lantas melirik Akmal. "Apalagi ngajak Akmal, mereka sudah kerja keras hari ini."


Retno balas mengulas senyum, melirik Akmal sekilas. "Justru Akmal yang maksa aku kesini, malam ini juga. Padahal aku bilang lebih baik besok, supaya kita bisa nyiapin sesuatu. Makanya aku cuma bawa bingkisan seadanya.."


"Apalagi itu.." Khopipah menggeleng. "Gak usah repot-repot, lah. Udah ditengokin aja Agnia pasti senang.."


"Bukan buat Agnia aja, yang nunggu juga pasti butuh asupan."


Dua orang itu berbincang seperti biasa, bahkan diselingi tawa seperti selalu. Seakan tak ada kegentingan yang terjadi sebelumnya.


Tanpa sadar langkah mereka berlanjut seiring obrolan, Akmal hanya diam di belakang dua orang itu. Gemas sekali, padahal ingin segera tiba ke ruang rawat Agnia.


...


Sesaat tiba di depan ruang rawat Agnia berada, Khopipah langsung mendorong pintu ruangan itu seraya membaca salam pelan. Berjaga-jaga jika Agnia sudah tidur.


Benar saja, jangankan Agnia yang terbaring sakit, Akbar saja tergeletak pasrah di lantai beralas karpet. Tak bergerak sama sekali, sedang tangannya terlipat di atas perut.


Sedang Akmal dan Sang Bunda menengok penasaran Agnia, Khopipah membuka tas besar itu. Mengeluarkan selimut dan menaruhnya ke atas tubuh Akbar.


Retno menghela pelan, lantas melirik Akmal. Tak tega melihat wajah lebam Agnia, jadi membayangkan bagaimana pria tak waras itu melayangkan pukulannya.


Akmal hanya mengulas senyum seraya merangkul Sang Bunda, seakan mentransfer kekuatan. Toh, itu sudah berlalu dan Agnia terlihat baik-baik saja.


Semua tak berniat membangunkan, sebab Agnia yang hanya bangun saat makan dan shalat itu tampak tenang.


Tak terkira rasa lelah yang gadis itu rasa, Akmal demi melihat itu menghela pelan. Wajahnya yang bengkak dan penuh lebam itu tentu tak bisa terlalu banyak bicara, dan tidur adalah kegiatan sempurna untuk mempercepat pemulihannya.


"Mbak.. kita ngobrol diluar, ya." ucap Retno, masih ingin banyak bercerita dengan sahabatnya namun tak mau mengganggu Agnia.


Khopipah mengangguk, setuju.


Akmal tak bergeming saat dua orang itu keluar, masih melihat wajah terlelap Agnia. Sekilas menoleh Akbar yang tak terusik sama sekali, tampak sangat lelah.


Akmal mendekat ke sisi Agnia, menarik perlahan kursi kecil disana lantas mendudukkan bokongnya.


Mata Akmal tertuju pada tangan mungil Agnia, tangannya terulur untuk meraih jari lentik gadis itu. Jari lentik yang semula Akmal harap menjadi tempat cincin pemberiannya bersarang.


Hanya saja tangan itu urung bergerak, ia tak jadi meraih tangan Agnia. Tak mau mencari kesempatan dalam situasi ini, lagi pula Agnia bisa terbangun akibat ulahnya.


Demi apapun, Akmal masih terus menyesal dalam hati. Rasa takutnya siang tadi tak terperi, rasanya seakan ia akan kehilangan seseorang yang disayangi untuk kali kedua. Akmal menggeleng pelan, mengenyahkan pengandaian buruk itu.


Hanya saja Akmal, selalu mengatakan jiak ini perlu disyukuri. Agnia selamat dan tanpa kekurangan apapun, terlalu menapikan takdir Allah jika ia terus menyayangkan yang sudah terjadi.


Semua sejalan dengan takdir, dan selalu punya pelajaran berharga.


Senyum Akmal muncul tipis sekali, menyadari perdebatan dalam dirinya. Seraya menilik wajah Agnia, Akmal berucap lirih penuh sesal.


"Maaf Mbak, maaf karena gak sempet jawab panggilan itu."


.


.


.


.


Wildan tidak baik-baik saja, bukannya fisik melainkan nasibnya nanti. Wiryo menutup telinganya rapat-rapat dari membantu anak bungsunya itu, tak membela seperti biasanya.


Siapa sangka Wildan bisa setega itu, membuat Wiryo bukan saja malu tapi heran bukan kepalang. Tak tau putra yang dibesarkannya dengan penuh cinta itu, justru belajar menjadi predator kecil yang tak berperasaan.


Kabar penyekapan itu sudah tersebar luas, cepat sekali menyebar dari satu telinga ke telinga lainnya. Wiryo dan Gian bahkan kewalahan menanggapi pertanyaan keluarga besar mereka, hingga memilih tak menjawab panggilan dari siapapun.


Semua terkesan hanya ingin menambah ruwet, Wiryo tak siap mendengarnya disaat emosinya memuncak.


Salah satu pelayan rumah itu berjalan cepat, menundukkan kepalanya saat menghadap tuannya di ruang makan.


Keheningan antara Gian dan Wiryo di meja makan buyar sesaat.


"Ada apa?" tanya Gian.


"Maaf Pak, Mas Gian.. Den Wildan gak mau makan." Lapor pelayan itu, yang tentu semakin menambah amarah Wiryo malam itu.


Ia yang tengah duduk di meja makan langsung bangkit seraya menjatuhkan sendok dan garpu ke atas meja. Raut kesalnya kentara sekali, segera melangkah cepat menuju kamar Wildan.


...


Suara dorongan keras pada pintu kamarnya membuat Wildan mendongak seketika, ia yang sejak tadi tak bergeser dari tempat tidurnya sedang fokus menonton televisi saat itu.


Wiryo merebut remot tv dari tangan Wildan dengan kasar, menekan tombol off disana.

__ADS_1


"Kamu sudah bosan hidup, hah?!" bentak Wiryo, setelah suara tv tak lagi terdengar.


Wildan membeku, tak menjawab. Ia sudah sering dihukum seperti ini, hanya saja tak pernah mendapatkan kemarahan sebesar ini. Bahkan saat tak mau makan, ia akan dibujuk. Tapi sekarang? Wildan menghela.


"Harusnya kamu siksa diri kamu sendiri , dan bukannya menyiksa orang lain jika memang ingin mati!"


Wiryo menghela, memberi jeda. "Harusnya kamu introspeksi dari pada mencari perhatian, kamu santai menoton Tv sedangkan gadis tak bersalah itu terbaring di rumah sakit."


Wajah frustasi jelas sekali pada raut Wiryo, profesor yang bukan ecek-ecek itu kini tak bisa bersikap penuh wibawa seperti biasanya. Apalagi Wildan, benar-benar diam dan tak menunjukkan rasa bersalah.


"Dengar, jangan menyusahkan.. makanlah saat disuruh makan! Jangan mencari masalah lain dengan membuat ayah dan kakakmu kerepotan nantinya." ucap Wiryo lagi, penuh penekanan.


"Segera membaik, dan terimalah hukumanmu! Kali mereka enggan menjebloskan kamu ke penjara, biar ayah yang berikan kamu pelajaran."


.


.


.


.


Akmal masih anteng memperhatikan naik turun deru nafas Agnia, hingga pintu ruang inap itu terbuka. Spontan menoleh, dan mendapatkan tatapan tak nyaman dari seseorang.


Hafidz yang datang, langsung menyalakan antena waspadanya saat melihat Akmal. Untung saja dengkuran Akbar terdengar, membuat Hafidz akhirnya menghela. Tadinya ia pikir jika Akmal sedang mencari kesempatan dalam kesempitan dengan menunggui Agnia sendirian.


Tak bisa berbincang panjang lebar jika satu ruangan dengan Agnia, Hafidz kemudian memutuskan untuk mengajak Akmal ke kantin rumah sakit. Menikmati satu atau dua cangkir kopi seraya berbincang.


Keduanya sudah duduk berhadapan, saling pandang dengan permikiran masing-masing untuk sesaat.


Hafidz sudah lebih dulu meneguk kopinya selagi panas, sedang Akmal terus menaruh perhatian pada seseorang yang lebih tua darinya itu.


"Menurut kamu, apa yang akan terjadi kalo senadainya kamu sempat menerima panggilan dari Agnia?" tanya Hafidz akhirnya, setelah menyeruput kopinya untuk yang kedua kali.


Akmal spontan membalas dengan tatapan bingung, membuat Hafidz lantas menghela.


"Saya liat no kamu jadi no terakhir yang Agni hubungi." terang Hafidz.


"Kalo saja kamu menjawab panggilan itu, pasti kejadiannya gak seperti ini." tambah Hafidz sesaat kemudian, bak menjawab pertanyaannya sendiri saat Akmal hanya bisa memberi tatapan yang sulit diartikan.


.


.


.


.


Pagi itu Agnia sudah bisa banyak bicara, perih di sekitar wajahnya berangsur membaik. Bahkan sudah banyak tertawa dengan celotehan Akbar, meski untuk beberapa saat meringis tanpa suara.


"Katanya Ripda nanti siang kesini." ucap Akbar setelah sejenak membiarkan Agnia meringis setelah tersenyum lebar, bocah itu duduk tak jauh dari kakaknya, sedang mengupaskan apel dari bingkisan yang dibawa Akmal semalam.


"Emh.." Agnia mengangguk sebagai respon, matanya tak lepas memperhatikan gerakan tangan Akbar. "Kamu berkabar sama dia?"


Agnia mengangguk, untuk kemudian menghela. Ada seseorang yang belum ia lihat sejak kemarin, hatinya berharap segera menemui seseorang itu. "Emh.."


"Apa?" Akbar sigap bertanya, takut jika ada hal penting yang kakaknya butuhkan.


Agnia sesaat tampak berpikir, untuk kemudian menghela lantas menggeleng pelan. Tak mungkin mengatakan jika dirinya mencari Akmal, bisa-bisa habis ia digoda Akbar.


"Kesel aja, kamu ngupasnya lama." bohong Agnia, mengatakan apa saja yang terlintas di kepalanya.


Akbar langsung mendelik kesal, untuk mau mengupaskan saja itu sudah untung. Jika Agnia sembuh, mana mau ia diperbudak seperti ini. "Ish! Bisa sendiri enggak, ngerecokin aja.."


Agnia mengendik, terserah saja.


"Oiya.." Akbar menoleh Agnia lagi, setelah tersungut sebelumnya. "Mbak mau sarapan apa?" tanyanya lembut.


"Bubur?"


"Dih!" Akbar mencebik, bibirnya melengkuk kebawah tipis. "Kalo mau bibur, udah aja yang itu." tunjuk Akmal pada semangkuk bubur tanpa toping yang dibawakan suster tadi. Teronggok sepi diatas meja, hanya sempat disendok satu kali.


Agnia mengendus pelan. "Kalo yang itu kamu aja yang makan, Mbak ikhlas."


Mendengar ucapan itu Akbar segera menghela, mengalah. "Iya deh, aku pesenin ya.. bubur langganan Mbak." ujarnya malas.


Agnia tersenyum, tak masalah jika ikhlas atau tidak di hati Akbar. Tangannya terulur mencubit pelan pipi Akbar.


...


Agnia tak lagi membahas soal bubur, fokus menyuapkan apel ke mulutnya seraya menjamah ponsel Akbar. Akbar melihat itu hanya bisa menghela, sedikit resah takut Agnia membuka pesan pribadi di sana.


"Tenang aja, Mbak gak ngepoin chattan kamu kok. Cuma berkabar sama Ripda.." Agnia mendelik seraya berucap pelan, paham arti tatapan Akbar. "Kamu.. lanjutin aja ngupasnya, belajar. Jangan tau makan aja."


"Ya ya ya.. terserah." Kali ini Akbar yang banyak mengucapkan terserah, menurut saja. Meski dalam hati heran kenapa Agnia mendadak manja dan suka memerintah.


Sesaat lenggang, Akbar yang setia menunggu dengan sabarnya tak banyak bicara. Sibuk dengan pertanyaan di kepalanya, untuk seperdetik kemudian menatap epnuh tanya pada Agnia.


"Mbak, kenapa si gak kita laporin aja bocah itu?" tanyanya, tampak sebal mengangkat topik itu.


Agnia menghela, kunyahannya spontan melambat. "Udahlah, kasian.."


"Kasian? Disini yang harus dikasihani itu Mbak sendiri, kenapa juga inget anak itu!" prlotot Akbar, spontan berdiri saking syoknya mendengar kata itu.


"Mbak belum selesai." ucap Agnia pelan seraya menarik ujung baju sang adik, ia tengah berusaha supaya tak banyak menggerakkan lebar rahangnya.


Akbar duduk lagi, bersiap mendengarkan.


"Maksud Mbak, kasian kalian.. kamu, ayah, ibu.. menurut kamu lapor polisi itu gimana? Harus bolak balik kantor polisi, harus sidang.. Mbak gak mau lah kayak gitu, apa lagi kalo harus berurusan sama dia lagi."


Akbar mengangguk setuju, benar juga menurutnya. Hanya saja..

__ADS_1


"Tapi dia gak bisa lepas gitu aja, aku pasti kasih dia pelajaran."


Agnia hanya bisa menghela, tak bisa berkomentar pada kekesalan Akbar yang sangat beralasan.


...


Akbar jadinya sibuk mengupas dan memotongkan apel untuk Agnia, sedang Agnia mengambil alih ponsel Akbar.


Hingga saat Akmal datang bersama dua benda di tangannya, Akbar tersenyum lega.


"Wah.. buburnya datang.." pekik Akbar.


Agnia lekas menoleh ke arah pintu, dan..


Akbar merasakan pukulan pelan di kepalanya, mengundang tanya sepenuh jidatnya pada Agnia.


"Apa?" tanya Akbar gemas, sudah ponselnya diambil alih, disuruh melayani, sekarang apalagi?


"Kamu nyuruh Akmal?" tanya Agnia datar.


Akbar mengangkat bahunya pelan, tak menyahut. Dan itu cukup menjadi jawaban.


"Disuruh malah nyuruh lagi!" omel Agnia, tak suka dengan perilaku adiknya yang seperti itu.


Akmal hanya tersenyum sembari melangkah mendekat, jika sudah mengomel seperti itu tandanya Agnia sudah sangat baik-baik saja. Akmal merasa lega.


"Gak papa, Mbak." ucap Akmal. "Aku memang berniat kesini."


"Tuh kan.." tunjuk Akbar sombong, seraua bangkit dan mengambil bubur itu dari tangan Akmal. Naluri bertanggung-jawab nya hidup, seakan terbiasa di dua puluh empat jam ini.


"Udah baikan?" tanya Akmal, menghadap Agnia yang duduk bersila dibawah selimutnya.


Agnia mengangguk, tangannya tak henti menyuap apel hasil kupasan Akbar. Senyum terlihat di wajahnya, senang saja sebab sudah menunggu pria di hadapannya ini. Ponsel di tangannya segera ia simpan.


"Bunga buat apa?" tanya Agnia, sejak tadi sudah memerhatikan sebuket bunga di tangan Akmal yang satunya. Baginya, itu terlalu dramatis.


"Supaya.." Akmal berpikir sejenak, tak menyangka akan ditanya demikian. "Katanya supaya perasaan kita lebih nyaman.." ucapnya lagi, terdengar ragu.


"Buang aja, saya gak mau terlalu nyaman disini." ucap Agnia datar. Yang langsung memancing kekehan geli Akbar.


"Emh?"


"Bodoh! Bunga itu supaya perasaan kita jadi lebih baik, dan semangat untuk sembuh. Jawab gitu!" Akbar ternyata mendengarkan, menatap kasihan pada Akmal dengan mulut mengunyah.


Tatapan Agnia jatuh pada tangan Akbar, tidak salah lagi. Adiknya itu menyuap bubur yang adalah untuknya, seakan tak ikhlas.


"Heh! Kenapa buburnya kamu makan?" tanya Agnia pelan, mengabaikan ejekan Akbar kepada Akmal.


Akbar nyengir, segera mendekat pada Agnia. Membawa bubur itu seraya satu kali lagi menyuapkan ke mulutnya.


"Ish!"


"Bagi!"


"Enggak, kalo yang itu boleh buat kamu." kata Agnia, menunjuk ke arah bubur tawar khas rumah sakit.


Akbar menghela, mendengus sebal.


Agnia masih menunggu, sodoran tangan Akbar tak ia terima. Malah menatap Akbar yang manyun. "Suapin.."


"Mal.. suapin." ucap Akbar, menoleh pada Akmal.


"Akbar!"


"Becanda."


Akbar meraih lagi semangkuk bubur itu, segera menyendok dan mengarahkan pada mulut kakaknya.


Agnia menghela, tak membuka mulutnya.


"Apa lagi sekarang?"


"Aduk!"


Akbar menghela, lupa jika itu kebiasaan sang kakak. Meski mendecak, tetap menurut.


"Cantik-cantik makan buburnya diaduk!" cibir Akbar.


Agnia mengernyit, menoleh penuh tanya sambil membuka mulutnya. Lantas mengabaikan ucapan Akbar saat mulutnya sudah penuh disuapi.


"Jorok!" tegas Akbar, menatap berlagak jijik.


"Jorok?" tanya Agnia sedikit keras. Membuatnya lantas meringis pelan. "Itu bubur, bukan.." Agnia menghela, tak penting juga mendebatkan hal itu. "Terserah.."


"Jorok kan, Mal?" tanya Akbar pada Akmal, meminta persetujuan. Membuat Akmal hanya bisa membalas senyum adegan manis adik kakak itu.


"Dih! Kalo gak diaduk yaudah, makan aja bubur itu.." tunjuk Agnia lagi pada bubur hambar di atas meja. "Apa bedanya.."


"Beda, Mbak!" Akbar tak terima, entah kenapa malah ingin memperpanjang perdebatan itu.


"Ya kan, Mal? Lo juga tim bubur gak diaduk?"


Akmal tersenyum canggung, tak tau harus menjawab seperti apa saat tatapan dua orang itu seakan berharap ia ada di pihak salah satu mereka.


"Gue? Gue.. tim diaduk." jawab Akmal, membuat Akbar sebal namun Agnia senang.


Sesederhana bubur bisa membawa perdebatan, dan sesederhana itu juga bisa membawa kebahagiaan.


Akbar hanya bisa mengendus pelan, dalam hati heran kenapa sesederhana bubur bisa membuatnya tak terima kalah. Hanya saja yakin sekali, Akmal tim bubur tidak diaduk bersamanya.


Padahal bukan sekali dua kali mereka makan bersama, bahkan menyantap bubur juga. Akbar menghela, entah kenapa pikirannya terus berputar memikirkan hal sederhana itu.

__ADS_1


..


__ADS_2