
Ini rumit, Akmal tak bisa tenang setelah mendengar Agnia tiba-tiba sakit. Meski masalah di toko begitu merepotkan dan jauh dari kata selesai. Akmal berbohong pada Agnia soal masalahnya bersama Bagus, ia katakan semua baik-baik saja meski sebenarnya tidak.
Bagus tak gentar, yang semula sempat meminta maaf kini memperumit semuanya dengan ancaman akan melayangkan gugatan. Awalnya Akmal terkekeh mendengar itu, lucu sekali sebab tak menemukan alasan apapun hingga dirinya bisa digugat. Namun itu ternyata Govin, yang dengan uangnya siap melakukan apapun. Jadilah Akmal kini bingung, baru saja akan bertemu dengan pengacaranya, kondisi Agnia justru memburuk.
Akmal menghela panjang, menoleh Agnia di sampingnya sesaat. Setelah sulit tidur akhirnya istrinya itu bisa terlelap dengan elusan lembut Akmal di punggung yang katanya semakin pegal. Kecupan selamat tidur diberikan, Akmal menyelimuti Agnia sebelum kemudian duduk termenung dalam temaramnya lampu. Menghela berat, ia lelah juga bingung di waktu yang bersamaan.
Langkah apa yang harus ia ambil? Faktanya dirinya kini tak bisa memutuskan apapun dengan pikiran yang hanya tertuju pada kesehatan istri juga anak di dalam kandungan istrinya.
Apa sebaiknya ia fokus pada kehamilan Agnia dulu? Apa lebih baik menyerahkan seluruh tanggung jawab ini pada Dimas?
Ponsel di atas nakas berbunyi nyaring, Akmal menoleh Agnia berharap dering itu tak mengganggu tidurnya. Segera menjawab panggilan yang tak disangka datang dari Dimas.
"Halo, gimana Mas?"
"Hem? Di depan? Sekarang?"
Hal menakjubkan terjadi, saat Akmal hendak mempercayakan dan menyerahkan semua tanggung jawab pada Dimas, pria itu justru datang dengan berita baik yang mengejutkan di saat bersamaan. Membingungkan bagaimana Bagus tiba-tiba menarik lagi ancaman tuntutannya setelah sebelumnya berkoar dengan percaya diri. Akmal tak habis pikir, apa mereka bercanda dengan hal serumit ini? Meski harusnya berbahagia, tapi Akmal hanya penasaran apa alasan Govin untuk ini. Bukannya ia ingin menggertak? Tapi bahkan gertakannya belum ia tanggapi sama sekali dan sudah berubah pikiran? Jadi apa yang direncanakan pemuda itu?
"Mas, maaf ya.. aku nitip toko untuk lebih lama lagi."
Dimas menggeleng, tak menerima permintaan maaf Akmal. Ia sudah sejak lama mengabdi pada ayahnya Akmal, direpotkan sedikit demi membimbing Akmal yang masih belajar rasanya tak masalah. Bangkit dari duduknya, menepuk bahu pria yang sudah ia anggap adik itu. "Jangan khawatir! Fokus dulu sama istrimu, itu lebih penting."
Memang tak perlu risau mempercayai Dimas, hanya saja Akmal tak enak jika begitu saja lepas tanggung jawab sedang ia dijadikan pemimpin. Ia tentu harus tau diri dan perlu belajar banyak.
...
Kamar utama di rumah itu sudah kembali terang, Akmal menghela pelan sebelum masuk ke kamarnya. Tampaknya istrinya memang tak bisa ditinggal sendiri saat ini.
"Ada siapa?" tanya Agnia, menyambut Akmal dengan tangan terbuka.
Akmal memberi pelukan, mengecup puncak kepala Agnia sebelum duduk di bibir ranjang. "Itu.. Mas Dimas."
"Tumben?"
"Ya.. soalnya tadi aku pulang buru-buru kan?."
"Emh.." Agnia mengangguk. "Apa ada hal penting?"
__ADS_1
Akmal menghela, tersenyum. Meraih kedua pipi Agnia. "Iya. Ada urusan darurat, tapi gak usah khawatir.. Ini urusan laki-laki dewasa."
Agnia tertawa kecil. "Laki-laki dewasa?"
"Hem.." Akmal mengangguk dengan bangga. "Mau pelukan dari laki-laki dewasa?"
.
.
.
.
Akmal terbangun sebab Agnia bergerak gelisah dalam tidurnya, segera menyalakan lampu. Terkejut bukan main begitu mendapati Agnia berkeringat hebat. Tangannya terulur mengusap keringat sebesar bulir beras di kening sang istri. "Sayang.."
Agnia membuka matanya singkat, meringis tanpa suara. Tangannya bergetar menggenggam tangan Akmal erat, bak menumpahkan sakit yang dirasanya.
Mobil itu melaju cepat, meski Agnia sudah lebih tenang dan tengah menutup mata. Ia tak bisa menutupi kekhawatirannya. Setelah menelpon Puspa dan mengikuti arahannya, ia bergegas membawa Agnia ke rumah sakit.
Kini Akmal duduk termenung di koridor rumah sakit, mengusap wajahnya kasar. Pikirannya tertuju pada satu kemungkinan buruk, jika kandungan istrinya mungkin bermasalah dan tak bisa diselamatkan.
"Mal!" Akbar datang bersama sang ibu, langsung duduk di sebelah Akmal. "Gimana?" tanyanya santai, tak panik seperti saat diberi tahu lewat telpon. Demi Akmal yang terlihat kacau, ia berusaha tenang.
Akmal menggeleng. "Belum tau, Mbak Puspa belum kasih tau."
Khopipah menghela, paham betul resahnya Akmal saat ini.. "Kalian lebih baik pergi sarapan dulu, biar ibu tunggu Agni disini."
Akbar mengangguk cepat, menepuk bahu Kakak iparnya."Ayo.."
...
"Maaf, Bu.." Agnia yang membaringkan tubuhnya sementara tangannya diinfus, menoleh sekilas. Memaksakan untuk tersenyum, tak bisa apapun meski tak enak sudah merepotkan.
Khopipah menghela, heran di situasi seperti ini kenapa Agnia sempat-sempatnya minta maaf. "Gak papa, sayang.." Khopipah berucap lembut, mengusap kening Agnia singkat sembari meneruskan elusan tangannya di punggung putri satu-satunya.
Agnia tak tau rasanya melahirkan, namun sakit ini rasanya sudah mewakilan rasa itu. Agnia sudah pasrah, pikirannya juga sudah menyimpulkan kemungkinan terburuk. Pun dirinya sudah mempersiapkan diri jika harus mendengar kemungkinan buruk itu.
__ADS_1
Akmal kembali tak lama, entah pergi sarapan entah tidak. Yang jelas wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Langsung mendekati Istrinya yang tampak kesakitan, hingga ia tak tega dan merasa bersalah tanpa alasan. Bodohnya, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya membelai puncak kepala sang istri, juga menguatkan lewat genggaman.
"Akbar mana?" tanya Khopipah.
"Langsung ke kampus, Bu."
"Emh.." Khopipah mengangguk. "Kamu gak ke kampus?"
"Kelasku siang, Bu."
...
Retno melangkah terburu-buru, meninggalkan suaminya yang terlebih memarkirkan mobil. Begitu menemukan kamar inap yang diberitahukan Akmal, ia segera masuk dan disuguhkan kehadiran Puspa dengan seragam dokternya.
Hatinya sudah berdebar resah sepanjang jalan, ketakutan atas kisah masa lalunya terbayang di depan mata. Hingga wajah semua di ruangan itu juga menjawab tanpa perlu ditanya. Akmal bahkan tak mengangkat tatapannya dari Agnia, mengeratkan genggaman sembari mengelus lembut membagi dukungan.
Retno mencari jawaban, meyentuh lengan Khopipah. Bertanya dengan matanya. Khopipah menghela, kali ini lebih berat dari helaan-helaan sebelumnya. Lantas menggeleng pelan.
Luruh sudah semuanya, tangan Retno bergetar. Ingatannya kembali ke bertahun lalu saat ia juga pernah dinyatakan keguguran, meski kisah dan keadaannya berbeda, Ia tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Menoleh Akmal dan Agnia bergantian.
"Tidak perlu khawatir, semuanya akan pulih dengan cepat." Puspa tersenyum lembut, menoleh Agnia. Siapa sangka kebahagiaan mereka hamil di saat bersamaan harus dihadapkan pada jalan yang tak terduga.
Manusia berencana, berharap dan menjalani. Namun takdir yang berkuasa, ia berjalan sesuatu kehendak Yang Maha Kuasa.
"Tapi.." Retno menarik semua pandangan ke arahnya. "Apa Agnia bisa kembali hamil?"
Sebenarnya pertanyaan yang sederhana, namun semua sadar itu tidak di waktu yang tepat. Apa lagi soal kehamilan bukan hal pertama yang layak ditanyakan saat kehamilan Agnia saja baru dinyatakan keguguran. Demi itu Akmal menoleh sang Bunda. "Bun.."
Semua terdiam, berpikir hal yang sama. Bahkan Puspa tak sempat menjawab sebab bingung dengan pertanyaan itu, ia merasa mertua Agnia sedikit menyebalkan bertanya begitu. "Masih bisa? Kan?" tanya Retno lagi, mendesak Puspa dengan tatapannya.
"Bun.." Akmal mendekat, menarik lengan Retno. Ia tak habis pikir kenapa bundanya bertanya soal itu. Siapa yang tak terkejut dengan berita ini? Tapi dengan begini Bundanya ini seakan tidak peduli dengan keselamatan Agnia. Keselamatan menantunya sendiri.
"Gak ada hal serius yang terjadi, Kan?"
"Bunda!" Akmal menegur setengah berteriak, membuat Retno kini menoleh anaknya.
"Udah, ya?" tanya Akmal, kini melembut. Yang terjadi salah, Akmal tak seharusnya membentak. Namun bukankah dirinya yang paling khawatir? diatas semua ini pertanyaan bundanya jelas tak ramah di telinganya.
__ADS_1
Retno menghela, menatap sendu. Hal ini, sunggung mengguncangnya.