
Malam tasyakuran, suguhan di piring-piring tersaji. Makanan disiapkan, tamu berdatangan. Ruang tengan rumah Hafidz yang luas dihamparkan karpet seluruhnya, sopa dan meja diungsikan ke bagian rumah lain terlebih dulu. Zain berlarian sana sini tak peduli acara apa yang tak lama lagi akan dimulai, ia hanya senang dengan keramaian.
"Jadi gak papa?" sementara keributan para tamu di luar sana, juga ribetnya suguhan diatur sedemikian rupa, Agnia tengah risau dengan keluhannya.
Puspa tersenyum, menggeleng pelan. Membalas tatapan khawatir Agnia. "Gak perlu khawatir, tapi.." Puspa menekankan kata 'tapi, menjeda sesaat. "Bukan berarti harus lega sepenuhnya, kandungan kamu itu masih lemah meski kamu gak punya keluhan. Jadi lebih baik berhati-hati! Jangan bergerak terlalu aktif dan kurangi aktivitas berat."
Agnia menghela lega, lantas mengangguk paham. "Iya, Mbak."
Dan jangan tanya soal Akmal, saat istrinya menyempatkan untuk berkonsultasi, ia sudah bergabung bersama mertua juga kakak dan adik iparnya.
Para tetangga, anak-anak yatim sekitar, juga beberapa Ustadz kenalan Fauzan diundang. Hingga seseorang tambun, dengan gamis panjang bersama pemuda yang mungkin anaknya datang. Semua sudah tentu bisa menebak, jika beliau itu seorang ustadz hanya dari dandanan dan logat salamnya. Khas sekali seorang penceramah.
Fauzan langsung menyambut, semakin jelas jika pria itu adalah kenalannya. Akbar, juga Hafidz ikut disalami dengan ramah. Hingga saat giliran menyalami Akmal, wajah pria tua itu sedikit berubah. Menoleh Fauzan. "Ini suaminya Agnia?" tanyanya, yang langsung membuat Akmal jadi sasaran pandang pemuda dengan tampilan alim di sebelahnya.
"Betul, Mas." jawab Fauzan, tampak takdim pada seseorang yang ia panggil Mas itu.
"Siapa namanya?"
"Akmal." jawab Fauzan, lantas menoleh sang menantu. "Akmal, kenalkan.. ini teman ayah di pondok dulu. Namanya Ustadz Soleh."
Akmal tersenyum, mengangguk ramah. Pantas saja ia merasa tak asing, toh Ustadz di depannya memang sudah malang melintang dan sering ia dengar namanya.
"Oh.." Ustadz Soleh mengangguk, tersenyum tipis. "Dulunya nyantri?"
Akmal menggeleng, entah kenapa berada di depan pria ini membuatnya sekaan sulit bicara. "Saya.."
"Oh.. pantas! kalo begitu jelas lah.. Wong selera anak gadis mu memang pria seperti ini." katanya pada Fauzan, tertawa kecil. Entah meledek atau apa. Yang jelas kalimat Akmal saat itu belum selesai dan dipotong begitu saja, membuatnya jadi tak enak hati.
Rasanya seperti diabaikan, Akmal jadi merasa tak nyaman berada di sana. Namun ini adalah resiko baginya sebagai menantu ustadz, jika tak bisa mengimbangi maka seperti inilah dirinya. Tak punya pengaruh sama sekali, cenderung tak berarti.
"Maafkan ayah, saya." pemuda itu mendekat, berucap sembari tersenyum tipis. Seketika membuyarkan lamunan Akmal. "Kenalkan, saya Fadil." katanya sembari mengulurkan tangan.
"Ah, salam kenal.. saya Akmal.."
"Ngomong-ngomong, saya minta maaf untuk ayah saya. Beliau memang begitu, jangan diambil hati."
Akmal mengernyit begitu pemuda bernama Fadil itu meminta maaf, jika begini jelaslah ada motif tersendiri mengapa kalimat bernada ledekan itu ia dapat. Yang jelas apa alasan masih harus ia pertanyakan.
...
Malam itu rasanya syahdu, angin berhembus lembut disertai dingin yang menyergap. Suara hewan-hewan kecil berbalasan, menambah syahdunya malam ini.
Akmal merangkul Agnia menuju mobil, acara selesai sejak pukul sembilan tadi sebenarnya. Namun mereka asik berbincang hingga di malam yang mulai ralut ini baru akan pulang.
"Agni.." Puspa mengekor, tangannya menjinjing sebuah kresek putih khas tempat obat. Membuat Agnia seketika ingat, tersenyum dan menyambut uluran tangan kakak iparnya. Melupakan Vitamin dan tablet tambah darah yang diberikan Puspa. "Makasih, Mbak."
__ADS_1
"Iya.. Oiya Agni, inget apa kata Mbak! Kelola stres, atur pola makan, dan jangan suka bergerak tiba-tiba. Ya?"
"Iya, Mbak.."
"Dan satu lagi.." Puspa tersenyum, mendekatkan kepalanya ke arah Agnia. "Awasi suamimu, jangan sampai dia minta jatah." ucapnya setengah berbisik, namun masih didengar Akmal.
Agnia tak bergeming untuk beberapa saat, tak tau harus menjawab bagaimana. Lekas menoleh Akmal singkat lantas kembali menatap Puspa yang kini tersenyum menggodanya.
Akmal tersenyum mendapat tatapan Agnia, mengeratkan rangkulannya. "Aman, Mbak. Aku gak macem-macem kalo soal si utun." timpalnya, yang bukannya membantu tapi justru membuat Agnia semakin malu. Langsung menyikut lengan Akmal pelan, menatap tak suka dengan tanggapan spontan suaminya.
"Kalian ini.." Puspa terkekeh melihat Agnia dan Akmal yang saling pandang dengan maksud masing-masing, yang satu memberi peringatan dan yang satu lagi tak kapok menggoda. "Yaudah.. kalo gak mau nginep disini, lebih baik cepet pulang. Dan hati-hati.."
Hampir pukul sebelas malam, dua orang itu terpaksa berkendara melawan dingin sebab Akmal tak mau menginap. Enak saja, Akmal tak mau ambil resiko. Tingga bersama Hafidz sudah pasti jadi mimpi buruk baginya, ia tak kan mau meski dibujuk.
Situasi dalam mobil itu hening, Agnia seperti biasa terpaku dengan pemandangan malam favoritnya. Akmal menoleh sekilas, lantas tersenyum tipis. "Mbak.."
"Hem?" Agnia bergeming tanpa mengalihkan arah pandangnya, justru menghela mengagumi suasana malam yang luar biasa menyenangkan di jam larut begini.
"Mbak tau Ustadz Soleh?"
Agnia lekas menoleh, menghentikan kegiatannya saat nama itu disebut. "Kenapa nanya itu?"
"Aku.. penasaran aja. Ini pertama kalinya aku ketemu Ustadz Soleh, tapi entah perasaanku aja.. tapi dia kayaknya gak senang sama aku, kira-kira Mbak tau alasannya?"
Agnia mengulum bibirnya sejenak, memikirkan cara terbaik untuk menjelaskan cerita panjang yang berhubungan dengan sosok yang ditanyakan suaminya.
"Hah?!"
"Maksudnya.. melamar untuk anaknya."
"Fadil?"
"Iya.."
"Terus?"
"Aku tolak." jawab Agnia singkat, menatap Akmal sembari menghela pelan. "Jadi kalo ada yang tidak menyenangkan dari mereka. Kamu harus maklum, itu karena aku."
Akmal mengangguk paham, kini jelas bagaimana ketidak ramahan itu tercipta. Balas menatap Agnia lembut. "Ini luar biasa, lho.. ternyata yang Mbak tolak itu banyak. Aku jadi tau ada yang pernah senasib sama aku."
"Gak gitu, sayang.. waktu nolak mereka aku bener-bener gak siap untuk buka hati. Itu bahkan bukan kebanggan, jangan bahas soal itu."
Akmal tersenyum, menoleh Agnia yang manyun dan tiba-tiba sebal. Padahal yang ia katakan harusnya tak menyinggung sama sekali, namun Akmal tak punya pilihan selain mengakui kekeliruan. "Iya, Maaf.." tuturnya kemudian.
Agnia segera berlari menuju dapur begitu tiba ke rumah mereka, diikuti Akmal yang gemas sendiri juga khawatir. "Hati-hati, Sayang.." ingat Akmal, menarik lengan Agnia segera. Membuat wanita itu berjalan perlahan di sampingnya.
__ADS_1
Hanya cengiran yang bisa disungging Agnia, maaf-maaf saja, ia masih sering lupa jika sedang mengandung.
"Udah minumnya?"
"Udah."
"Bagus.." Akmal mendekat, menundukkan tubuhnya untuk kemudian menggendong Agnia gaya pengantin. "Karena Mbak ceroboh, mulai sekarang jangan naik-turun tangga kecuali aku yang gendong." ujarnya tak terbantahkan.
Agnia tak membantah meski dalam hati risau jika benar-benar tak bisa naik turun tangga kecuali digendong, tak mendebat sebab saat ini bantahan atau debatan tak penting. Lagi pula diperlakukan begini rasanya menyenangkan, Agnia tak berhenti tersenyum bahkan hingga tiba di dalam kamar, dan bokongnya sudah bersatu dengan kasur. Segera bersila, menatap Akmal dengan senyum. "Makasih, Sayang.."
Akmal balas tersenyum, spontan mengecup pipi Agnia pelan. Sontak hal itu membuat Agnia teringat apa kata Puspa, hingga saat Akmal hendak l kembali melayangkan kecupannya, Agnia spontan menjauhkan wajahnya.
"Kenapa?"
Agnia menggeleng, segera bangkit dari duduknya. Keluar dari rengkuhan Akmal. Berjalan cepat menuju kamar mandi, meninggalkan Akmal yang terheran, tak paham yang baru saja terjadi.
Akmal menunggu di depan pintu dengan tak sabaran, hingga saat Agnia membuka pintu, tangannya menghadang.
"Apa?!"
Akmal mengernyit lama sembari menatap kedua mata Agnia, seakan memastikan sesuatu. Untuk tak berselang lama menarik Agnia supaya duduk di tepi ranjang sementara dirinya berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, berlagak marah.
Agnia terkekeh, tak punya ide dengan tingkah suaminya namun merasa ini lucu saja. "Kenapa si?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa, sembari mencoba menarik lengan Akmal.
"Harusnya aku yang tanya! Kenapa Mbak nolak ciuman ku tadi?"
"Astaghfirullah.." Agnia menghela, ekspresinya berubah gemas. "Serius? Soal ini?"
"Ini soal penting, jangan liat aku kayak gitu!" Akmal menunjukkan wajah serius. "Kenapa Mbak nolak ciuman aku tadi?"
Agnia mengeluh dalam hati, menanyakan pertanyaan itu berulang kali membuatnya tak nyaman. Tidakkah pembahasan lain lebih penting dari itu?
"Hem?" Akmal menagih jawaban, menarik dagu sang istri.
"Bukan nolak, tapi.. tapi kebetulan. Gak sengaja. Udah waktunya tidur, kan? Jadi kita harus cuci muka, makanya.."
Akmal mencebik, tak percaya. Segera memotong kalimat Agnia. "Kebetulan.. atau sebenarnya Mbak takut aku terkam? Hah?!"
"Ya." jawab Agnia tanpa ragu, menghela kesal. Sudah tau jawabannya masih bertanya juga, kini delikannya keluar. "Karena itu, sana.. lebih baik jauh-jauh!"
Akmal kini tersenyum lebar, tak jadi kecewa. Meraih kedua pipi Agnia, membuat wajah itu mendongak ke arahnya. "Lucunya, kenapa setakut itu? Aku bukan pemaksa, kalau pun mau. Aku gak ngelakuin, kalo tanpa persetujuan." terangnya dengan senyum menggoda, yang berhasil menghasilkan cubitan sang istri ke perutnya.
"Udah, ya.. jangan takut-takut. Aku gak setiap hari pengen kok." Akmal terkekeh lagi, suka wajah sebal istrinya setiap ia membahas hal-hal tabu. "Kecuali.." Akmal kembali menyungging senyum, tatapannya sengaja ia jatuhkan ke bibir Agnia, bermaksud mengganggu istrinya yang sudah ketar-ketir itu.
Agnia menghempas tangan Akmal dari pipinya, menatap sebal dengan bibir manyun sempurna. "Apa aku bilang? Jangan deket-deket! Sana ah! Cuci muka, aku mau tidur.."
__ADS_1
"Iya. Iya.." Akmal sekali lagi terkekeh, mengecup puncak kepala Agnia lantas beranjak menuju kamar mandi. Tak berniat membuat istrinya semakin kesal.
Agnia menghela seketika, ia tak becanda saat mengatakan takut. Bagaimana lagi, duduk berdua saja sudah menakutkan. Sebab keintiman bukan berdasar rencana melainkan kesempatan. Ah! memang, para pria tak kan paham.