
Apa yang dilakukan seharian ini? Agnia punya banyak hal hingga bingung mengerjakan apa demi menghabiskan masa cuti pernikahanya. Agnia duduk di meja makan sembari menyaksikan seseorang yang tengah memotong sayuran, tiba-tiba ingat sesuatu.
"Teh.."
"Iya?"
"Ada buah di kulkas, kan?"
"Ada."
"Kita bikin rujak yuk.. Metis.. kayaknya enak." kata Agnia, antusias.
"Hayu. Eteh mah siap."
Panas sedang terik-teriknya, hari itu digunakan Agnia mengajak para tetangganya berkumpul di teras rumah menikmati rujak petis. Mangga muda, nanas, bengkoang, hingga ubi tersuguh di piring besar bersama satu wadah besar sambal kacang.
"Tumben, Mbak.. ngajak rujak.. jangan-jangan.."
"Hey!!" yang lain menimpali hampir bersamaan. "Mana ada baru seminggu ngidam! Biarin aja Mbak, aneh dia mah."
Agnia hanya mesem membiarkan tetangganya mendebatkan hal tak penting, tak tau saja mereka jika ia dan Akmal bahkan belum.. "Ehhem. Yaudah, lanjut ya.. aku ke dalam ngambil minum dulu sebentar.."
Bukan minum yang Agnia tuju, namun ponselnya. Setelah acara ngambeknya Akmal ia jadi waspada bahkan terlalu waspada hingga berkali-kali memeriksa ponselnya.
[Aku pulang sore, mau ke rumah Bunda dulu. Mbak gak usah nunggu aku.]
Ya. Agnia menyungging senyum, tampaknya mulai hari ini ia harus kembali membiasakan diri berjibaku dengan ponselnya. Ada seseorang yang menanti kabarnya kini.
...
Kebahagiaan tak selalu bertahan lama, ada saja pengusik yang datang mengungkap demi sebuah pelajaran di dalamnya. Akmal bergegas menuju kediaman orang tua nya, lima belas menit sebelum ashar.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
"Yah.." Akmal sesaat merasa aneh dengan situasi ini, setelah menyalami ayahnya lantas duduk. Ekspresi Sidiq saat ini menyiratkan kemarahan. Akmal menoleh bundanya segera.
"Apa ini?" tunjuk Sidiq pada selembar kertas di atas meja.
Akmal terkaget, menoleh sang ayah sekilas untuk kembali ke objek di atas meja. "Itu.." lembar penarikan uang yang sempat ia sembunyikan tempo hari.
"Kamu pakai apa uang itu? Kamu apakan uang sebanyak itu?"
__ADS_1
Akmal menundukkan kepalanya, nada bicara ayahnya berbeda sekali. Ia rasa bertahun lalu pernah dimarahi begini, dan ini mungkin pertama kalinya setelah hari itu. Akmal tergagap, tak tau harus menjelaskan seperti apa. Yang jelas bagaimanapun ia sampaikan natinya, ia sudah tau semua itu pasti tetap akan membuatnya berada dalam posisi salah. Ia harus siap menerima omelan yang memang pantas baginya saat ini.
"Itu, aku berikan untuk menebus rumah ibunya.."
"Ulya?"
Akmal spontan mendongak. Detik itu juga matanya mengiyakan.
"Astaghfirullah.. entah kemana pikirkan kamu ini." Sidiq menggeleng heran. " Sekarang ayah tanya.. kamu mencintai istri kamu?"
Akmal mengangguk, tentu saja. Kenapa itu masih di pertanyakan?
"Dia tau soal ini?"
Akmal menggeleng.
"Kenapa gak kamu kasih tau?"
Akmal tak menjawab.
"Takut dia salah pahamkan? Dengar Akmal.. apa yang akan Agnia pikirkan jika tau suaminya masih peduli dengan masa lalunya? Dia menikahi seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Kamu mau Agnia berpikir begitu?"
"Maaf, yah.. tapi itu hal terakhir yang aku lakukan untuk.."
"Jangan minta maaf sama ayah!" potong Sidiq. "Pergi katakan itu sama Agnia!"
Akmal menghela panjang, memejamkan matanya sesaat untuk kemudian keluar dari mobil. Melangkah gontai dibebani perasaan tak menentunya.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." Agnia yang tengah menonton televisi bersama tetangga kesayangannya itu menoleh. Segera bangkit menghampiri Akmal.
Kecupan sayang Agnia arahkan pada punggung tangan suaminya, tersenyum penuh kehangatan kontras dengan wajah dan perasaan kalut Akmal saat ini. Agnia menoleh para tetangganya, yang memang bertambah anggota jadi dua orang. Eteh bersama cucu perempuannya. "Teh, aku ke atas dulu ya.."
Akmal mengangguk sopan, untuk kemudian melangkah bersama Agnia yang herannya menggandeng dirinya tanpa memikirkan kehadiran orang lain.
"Gimana tadi, di toko?" tanya Agnia, menatap perhatian.
Akmal tak lekas menjawab, menghela pelan sembari mendudukkan bokongnya ke atas kasur. Duduk di sebelah sang istri.
Agnia mengernyit melihat tingkah Akmal, berpikir apakah suaminya ini marah sebab kejadian tadi pagi atau justru sangat lelah? Saat pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban, Agnia menarik wajah suaminya, membuat Akmal menghadapnya. "Kenapa? Ada yang terjadi di toko?"
Akmal menggeleng pelan, tersenyum. Meraih kedua tangan Agnia dari wajahnya untuk ia genggam beberapa saat. Tingkah itu membingungkan Agnia, matanya mencoba mencari jawaban di kedua mata Akmal.
__ADS_1
"Tadi ke rumah Bunda? Ada yang terjadi disana?"
Deg.
Akmal sedikit kaget, pernyataan itu mengingatkan dirinya pada peristiwa yang terjadi tadi. Haruskah ia katakan segera?
"Kenapa? Bunda marah, ya.. kita nginep disini?"
Akmal menghela, menggeleng. "Bukan apa-apa, ada yang mengganggu di kepalaku tapi jangan khawatir.. bukan hal yang besar." terangnya sembari mengarahkan tangannya ke pipi Agnia, mengusap pelan. "Ya?"
Bukan masalah besar apanya, dari wajah Akmal saat ini saja Agnia sudah bisa menilai jika itu bukan hal biasa. Ada hal besar, hal besar yang sepertinya tak mau Akmal bagi dengannya. Agnia mengangguk samar, menyungging senyum. Apapun itu, untuk saat ini biarkan saja Akmal menyimpan sendiri bebannya. Jika merasa harus bicara maka pria itu akan bicara dengan sendirinya.
Apa yang mengganggu Akmal? Agnia tak tau. Lihatlah pria yang kini sama sekali tak berselera mengganggunya. Pria itu tidur terlentang berbantal lengan, sama sekali tak bergerak sejak lima menit ini. Agnia menghela pelan, tau jika Akmal sedang pura-pura tidur. Sialnya kepura-puraan suaminya itu turut membuat Agnia heran dan tak bisa tidur pula.
Agnia merasa aneh, seakan dirinya diabaikan begitu saja oleh Akmal. Pria itu tak seperti biasanya, tak memberinya kecupan atau mengatakan selamat malam seperti biasa.
Apa itu sebab kejadian tadi pagi? Sebab hal sederhana itu? Agnia tak paham. Dan jika tak menemukan jawabannya segera, bukan tidak mungkin ia akan terjaga sepanjang malam.
Akmal membuka matanya perlahan, merasakan pergerakan di atas ranjang. Menoleh dan mendapati Agnia yang baru saja memunggunginya. Perasaan sakit itu kembali mendera, ia hanya tak tega dengan Agnia. Takut jika istrinya itu akan kecewa atau marah, Akmal tak mau di hari-hari bahagia ini justru menggoreskan luka. Bukankah ia sudah berjanji untuk tak menyakiti istrinya?
Jadi apa salahnya berbicara di waktu yang tepat?
Akmal abai sekali untuk sadar dan paham, jika dengan terus diam dia sudah membiarkan Agnia berkubang dalam kebingungan. Lihatlah tubuh mungil yang bergerak tak nyaman itu, seakan posisi tidurnya tiba-tiba saja tak terasa nyaman. Akmal memperhatikan gerakan-gerakan kecil Agnia yang berusaha ditahan utuk tak mengganggu.
Hingga saat Agnia kembali berbalik ke arah Akmal, ia mendapati dua mata itu menatapnya. Agnia kadung sebal, jantungnya yang berdebar lebih cepat ia redam sekuat tenaga. Matanya ia pejamkan saja.
"Gak bisa tidur?" tanya Akmal lembut, tangannya terulur mengelus pipi Agnia. Membuat Agnia kembali membuka matanya, bergerak tak nyaman.
"Maaf.."
"Untuk?"
"Hari ini."
"Kamu gak jelas." ketus Agnia.
"Maaf karena belum bisa mengatakan keluhanku, hemh? Aku sayang Mbak, aku gak mau nyakitin Mbak.. dan membebani Mbak.."
Agnia tak bergeming, balas menatap mata sayu Akmal. Tak tega melihat pria itu begini, namun ia tak punya pilihan saat Akmal sendiri memilih untuk tidak membagi keluh kesahnya dan justru membebani dirinya sendiri. Demi kasih sayangnya, Agnia memilih berpura-pura tak tertarik untuk tau. Tersenyum tipis tanda mengiyakan.
Dalam satu gerakan Agnia mendekatkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di bahu Akmal. Membuat pria itu merubah posisi jadi terlentang, dengan tangan Agnia bertengger di dadanya.
"Makasih, Mbak.."
__ADS_1
Terserah saja, Agnia tak mau peduli apapun untuk saat ini. Detak jantung Akmal yang terasa oleh tangannya jadi pengalihan terbaik.
...