
Rasanya luar biasa, Agnia tak bisa mengungkapkan betapa senangnya kembali ke rumah. Kembali ke kamarnya, kembali mengenakan pakaian dari lemarinya.
Katakan itu hanya tiga malam yang singkat, namun sesaknya bak tinggal berminggu-minggu di ruangan itu. Agnia bahkan tidak merasakan kebebasan, tidur diawasi, makan diawasi, bahkan pergi ke kamar mandi pun tak luput dari pengawasan. Dalam hal ini Akbar yang bertanggung jawab, bocah itu membuatnya merasa tak memiliki privasi sama sekali selama di rumah sakit.
"Agni, ayo makan.." Khopipah meloloskan kepalanya dari balik pintu yang terbuka itu.
Agnia yang baru saja membersihkan diri, mengenakan baju santai dan mematut dirinya di depan cermin langsung mengangguk. "Iya, Bu."
"Oiya.." Khopipah meneruskan langkahnya masuk, teringat sesuatu. Tak jadi kembali ke dapur. "Kemarin ada yang kesini, cari kamu."
"Ah!" Agnia segera teringat Rizwan, mendesah pelan. Lupa untuk mengabari temannya itu, bahkan pesan Rizwan tak sempat ia balas kemarin. "Rizwan ya, Bu? Aku lupa.."
"Bukan, yang ini perempuan." Khopipah menggeleng, langsung ditanggapi kernyitan bingung oleh Agnia.
"Perempuan? Silmi?"
"Bukan, kalo Silmi ibu tau. Yang ini ibu baru lihat."
"Emh.." Agnia mengernyit, tak punya ide tentang siapa yang datang mencarinya. Giska? Tentu bukan. Siapa lagi?
"Apa katanya, Bu?"
"Katanya sih, kenalan kamu. Cuman gak bilang siapa-siapanya."
Agnia mengangguk, namun alisnya masih bertaut sempurna. Masih memikirkan siapa yang dimaksud ibunya, rasa penasaran itu harus setidaknya mendapatkan kesimpulan.
"Salah satu orang tua murid deh, kayaknya.." ucap Agnia, menatap Khopipah minta persetujuan setelah mengambil kesimpulan.
Khopipah mengangkat kedua bahunya pelan, tersenyum. "Mungkin."
.
.
.
.
Dalam rumah tangga yang penuh intrik ini, Alisya dihadapkan fakta bahwa hubungannya tak pernah lepas dari nama Agnia. Dan jika seperti ini, siapa yang patut disalahkan? Tak ada. Alisya juga Adi, mereka lah yang harus menelan pil pahit itu.
Pertanyaan Adi semalam berpengaruh pada mood Alisya, ibu dengan satu anak itu sejak pagi hanya berbicara seperlunya. Adi sadar akan hal itu, hanya saja entahlah.. Adi justru tak peduli, memang selalu begini setelah membahas Agnia. Hingga perang dingin seperti ini, sudah biasa baginya.
Bahkan saat mengantar anak dan istrinya ke sekolah, Adi dibuat menghela ketika Alisya tak menyambut uluran tangannya dan langsung keluar dari mobil. Entah lupa atau sengaja, namun itulah yang terjadi.
Jika bertanya perasaan Alisya, jujur saja ia tak bisa berlama-lama bersama Adi dalam situasi ini. Tak bisa terus berlagak baik-baik saja meski di Raina, anak mereka.
Raina sudah berlari saja, antusias bergabung bersama teman-temannya. Meninggalkan Alisya yang juga bergabung bersama para ibu lainnya, yang sudah setengah jalan menggosipkan banyak hal.
Salah satu wali murid yang sedang asik bicara, kini beralih pada topik baru. "Saya dengar, katanya Bu Agni kena musibah. Makanya gak masuk dua hari ini." ucapnya, setengah berbisik.
"Musibah? Yang saya denger sakit, Bu. Masak sih, kena musibah?" timpal yang lainnya.
"Kurang tau, kan katanya.." ucap wali murid itu, diringi cengiran.
"Tapi kalo sampe anak-anak kita diganti gurunya sementara, berarti bisa jadi benar.. mungkin ada sesuatu yang buat Bu Agnia gak bisa masuk dalam waktu dekat ini."
Alisya hanya mendengarkan, membahas soal Agnia membuatnya jadi ingat pertanyaan Adi semalam. Pertanyaan menyebalkan yang membuatnya enggan mengajak bicara sang suami.
...
"Oiya? Bukan karena kamu senang.. sebab aku bener-bener gak ada kesempatan buat deketin dia?"
Pertanyaan Adi membuat Alisya terdiam seketika, senyumnya pudar perlahan. Apa maksud pertanyaan itu? Demikian jika ekspresinya bisa diterjemahkan.
"Kamu.. kok ngomongnya kayak gitu?"
Adi ditanya demikian seriusnya, justru terkekeh. Lantas merubah posisi tidurnya menjadi terlentang dengan berbantal kedua lengannya.
"Mas!" tegur Alisya, tak suka diabaikan.
"Hemh?" Adi menoleh, mata mengantuknya terlihat jelas.
"Kamu kok ngomongnya kayak gitu?" ulang Alisya, dengan wajah yang masih sama seriusnya.
"Itu cuma pertanyaan biasa, jangan dipikirin! Aku cuma becanda."
"Tapi kamu nyinggung.."
"Agnia?" potong Adi. "Kan kamu yang lebih dulu."
"Tapi aku.."
"Apa? Mau bilang itu berbeda? Terus mau bilang reaksi aku berlebihan? Supaya ketika aku bilang jangan bahas soal dia, kamu bilang.. kenapa? Kamu masih punya harapan sama dia? Suka sama dia?" Adi bermonolog, mengeluarkan unek-uneknya. Kantuknya spontan hilang, berubah jadi semprotan kekesalan yang ia limpahkan pada sang istri.
Alisya menghela, entah menerima fakta jika alurnya memang selalu begitu atau tak terima dengan kemarahan yang tiba-tiba menyasar dirinya.
Malam yang tadinya mereka harap intim, kini berakhir saling punggung. Pria itu, Adi.. herannya untuk malam itu, tak seperti biasanya. Tak tau mengapa hilang rasa untuk membujuk atau minta maaf.
Membuat Alisya makin gelisah, apa yang sedang terjadi dengan suaminya?
...
__ADS_1
Adi melajukan mobilnya menuju kantor, helaan napas panjang terdengar sesaat setelah meninggalkan sekolah Raina. Helaan yang timbul dari keherannannya pada dirinya sendiri.
Semalam ia lepas kendali, tak biasanya memancing kekesalan istrinya. Dan yang paling aneh dari semuanya, Adi enggan sekali meminta maaf.
Kepalanya berat sekali tadi malam, ditambah Alisya yang tak ada angin tak ada hujan membicarakan Agnia. Membuatnya langsung teringat tanggapan Fauzan padanya, malu sekali ia rasa ketika jelas ia lihat pria yang hampir jadi mertuanya itu berusaha menghindarinya.
Namun itu tak membuatnya sakit hati, lagi pun Fauzan sudah sebaik mungkin menanggapinya kemarin malam. Hanya saja hatinya, yang punya rasa bersalah itu malu sendiri.
Dan atas apa yang ia rasakan semalam, ataupun hari ini, Adi sadar.. dirinya pantas untuk itu.
Bahkan ia layak diabaikan, sebab yang terjadi di masa lalu sudah sangat keterlaluan. Andai bisa mengulang waktu, ada keinginan Adi untuk memperbaiki semuanya.
"Astaghfirullah.." lirih istighfar keluar dari mulut Adi, disertai gelengan pelan kepalanya. Berusaha menghempaskan, bayangan Agnia dari kepalanya.
Sebesar apapun penyesalannya, tak patut ia membayangkan jika hubungan mereka bisa kembali baik-baik saja.
.
.
.
.
"Kamu menyukai orang lain?" Sila bertanya, dua orang yang dijodohkan itu masih berdiri di parkiran basemen. Gian tak peka, tak mengajak Sila pergi ke tempat yang lebih nyaman.
Hanya lima menit, demikian yang mungkin ada di pikiran pria itu.
Gian tak perlu waktu lama untuk mengangguk, mana sempat memikirkan perasaan gadis di hadapannya.
"Ya. Aku memang menyukai orang lain." jawabnya tegas.
Sila mengangguk seraya menyungging senyum tegar, jawaban Gian sedikit mencubit hatinya. Tak bisa dinafikan, ia menyukai sosok di hadapannya walaupun mereka baru beberapa kali bertemu.
Hanya cukup mendengar dari Wiryo, karakter Gian sudah memikatnya sejak saat itu.
"Apa dia lebih cantik dari aku?"
Gian menghela pelan, tak terbayang sebelumnya pertanyaan seperti itu keluar dari mulut Sila. Seorang pebisnis sukses, dengan reputasi luar biasa bersih.
"Soal cantik, semua wanita punya sisi cantiknya sendiri. Aku gak bisa membandingkan."
"Ya." Sila mengangguk setuju, sesaat mengulum senyum. Lantas menatap Gian kagum. "Kamu tau, kamu yang seperti inilah yang membuat aku jatuh hati."
Jatuh hati? Gian menatap lama gadis di hadapannya, apa ia baru saja mendapat pengakuan?
Sila terkekeh setelah itu, menyadari dirinya yang sudah terlalu jujur. "Ah! Aku baru saja membuat pengakuan." ucapnya, seakan menjawab tanya Gian dalam hati. "Jika kamu terganggu, lupakan saja."
Sila segera menggeleng mendengar maaf dar Gian, menatap Gian penuh pengertian.
"Sejak kapan kita jadi bersalah saat tidak membalas rasa suka orang lain?"
Gadis itu menghela, kini menatap kagum Gian. Perasaannya tak berubah, meski telah mendapat penolakan secara halus.
"Dengar, aku masih punya harapan besar." ucapnya lagi, yang berhasil menarik mata Gian untuk membalas tatapannya. "Jika perempuan itu.. menolak kamu, datanglah padaku. Coba lah untuk membuka hati untuk seseorang seperti aku."
...
Agnia menguap untuk ke sekian kalinya di siang menjelang sore ini, mengantuk sekali namun tak bisa menutup mata. Lagi pula sebentar lagi adzan ashar, dari pada tidur matanya lebih baik tertuju pada layar televisi.
Sesaat demikian, menonton diselingi punggung tangan menempel di mulutnya yang terbuka sebab menguap. Hingga suara bel berbunyi juga salam terdengar, Agnia segera bangkit demi memastikan suara asing siapa itu.
"Sebentar.." ujar Agnia, sambil melangkah menuju pintu.
Seorang perempuan berambut ikal dengan senyum manis tersuguh saat pintu terbuka, membuat Agnia untuk sesaat terpaku menilik perempuan di hadapannya.
...
Agnia datang dengan segelas air juga kudapan, lantas meletakkan nampan di tangannya ke atas meja sembari matanya melirik perempuan asing itu sekilas.
Siapa dia? Wanita asing itu tampak menilik seisi ruangan untuk kemudian memusatkan konsentrasinya pada Agnia yang meletakan segelas air di hadapannya.
"Terima kasih.. aku minum, ya?"
"Silahkan.." ucap Agnia sembari mendudukkan bokongnya di sopa, menghadap perempuan asing yang kini meraih gelas yang ia sajikan barusan.
Gadis dengan dandanan modis bak kalangan papan atas itu tak sungkan meneguk air dari rumah Agnia, membuat Agnia tersenyum tipis memperhatikannya.
"Emh.. saya belum memperkenalkan diri.." gadis itu mulai membuka obrolan, setelah selesai meneguk minumnya. "Nama saya Sila, emh.. kita pernah bertemu sebelumnya, jika kamu ingat."
Tentu, Agnia punya ingatan yang bagus dalam mengenali seseorang. Gadis ini, yang tempo hari bersama Gian. Agnia ingat tau persis gadis ini, bahkan sejak bersitatap di depan rumahnya tadi.
Tunggu, apa ia sedang dilabrak? Agnia sesaat mengernyit. Sepertinya tidak, gadis ini justru ramah sekali dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya. Jadi, ada apa sebenarnya?
Agnia memilih untuk menggeleng, ingin tau motif apa yang dimiliki Sila hingga menemuinya. "Maaf, saya tidak tau pasti. Saya tidak pandai mengingat seseorang." bohongnya.
Sila kembali menyungging naik bibirnya, mengangguk paham. "Begini, emh.. bagaimana saya harus memperkenalkan diri?" gumamnya pada diri sendiri, diselingi kekehan pelan. "Begini, jangan salah paham dengan kedatangan saya.. saya.. temannya Gian." jelasnya, gelagapan. Bingung bagaimana menyebut dirinya sendiri jika disangkutkan dengan Gian. Calon istri? Menantu pilihan ayahnya? Ah! Itu terlalu rumit.
"Oh! Kak Gian.." Agnia mengangguk, berusaha menunjukkan reaksi sealami mungkin. "Emh.. teman ya? Saya paham."
Sila yang tak paham, apa arti senyum dari Agnia? Perempuan inikah yang disukai Gian? Benar. Ia ingat sekali, saat Gian meninggalkannya di pusat perbelanjaan tempo hari, Sila mengukuti dan melihat gadis ini yang ditemui Gian.
__ADS_1
"Kenapa?" Agnia bertanya, bingung sebab Sila tiba-tiba saja diam sembari menilik wajahnya.
"Kamu sudah lebih baik?" tanyanya.
"Hemh?"
"Luka mu, bukannya kamu baru pulang dari rumah sakit?"
"Oh.." Agnia kembali mengulas senyum, mengangguk. "Alhamdulillah.. lebih baik. Tapi, tau dari mana tentang.. Ah! Pasti dari kak Gian"
Sila menggeleng. "Bukan, kemarin saya sempat kesini. Sebab itu saya tau.. dan, saya tidak sedekat itu dengan Gian.
Hening sejenak, Sila dilanda bingung. Semua yang ingin ia tanyakan mendadak hilang saat bertemu dengan sosok Agnia yang manis ini, bisa dipahami kenapa Gian begitu menyukainya.
Agnia sadar diperhatikan, jadi bingung sebab Sila tak lagi membuka obrolan. Bagaimana ia harus menanggapi?
"Emh.. apa ada hal yang penting?" tanya Agnia kemudian, memecah hening. "Tentang kak Gian, mungkin?"
"Iya, saya datang untuk itu. Tapi.." Sila menyungging senyum. "Maaf, saya tidak tau jika bertemu kamu akan secanggung ini. Padahal saya sudah mempersiapkan diri sebelum kesini, tapi kamu membuat saya lupa."
"Gak heran, kenapa Gian sangat menyukai kamu."
"Hemh?" Agnia spontan menaikkan alisnya, kini ia mengerti tujuan Sila ke rumahnya. Untuk memastikan hal itu, tentu saja.
Sila tersenyum, enggan mengatakan hal itu untuk kedua kalinya. Lagi pula Agnia sudah mendengar, itu hanya reaksi spontan saja.
"Itu, jangan salah paham. Saya gak punya hubungan spesial dengan kak Gian, kamu.. pasti calon istrinya kan? Kalian dijodohkan?"
"Bahkan dia memberi tau kamu soal itu? Kalian dekat sekali, sepertinya." ujar Sila.
Agnia jadi serba salah? "Ya, emh.. kita teman sejak SMP, jadi.. begitu."
Sila mengangguk, kemudian menghela napas pelan. "Melihat kamu, membuat saya lega. Dia gak mengincar perempuan yang salah, setidaknya begitu."
"Hanya saja dia bodoh, menyukai orang lain padahal perempuan hebat sudah berada di sampingnya." puji Agnia, tak mau kalah dengan siratan pujian dari Sila padanya.
"Ya, itu dia. Dia bodoh kan?" Sila lebih nyaman sekarang, mulaielempar candan.
"Jadi katakan.. kamu benar-benar tidak menyukai dia? Jangan merasa tersudut, jujur saja."
Agnia tersenyum, lantas menggeleng. "Ada proses cukup panjang untuk menyukai, dan aku tidak melalui itu untuk seorang Gian. Rasa hormat, kagum, Itu saja. lagi pula.. kak Gian, sangat menyebalkan saat sekolah. Ingatan itu lebih mendominasi dibanding kerennya dia sekarang."
Sila terkekeh, senang dengan jawaban Agnia yang terdengar sangat jujur. Lega saja dirinya, tandanya ia masih punya kempatan untuk merebut hati Gian, toh Agnia hanya cinta sepihak bagi Gian.
...
"Terima kasih sudah menyambut ku dengan baik.."
Agnia mengangguk, seraya tangannya meraih tangan Sila. Ia senang sekali, ternyata Sila sangat ramah setelah obrolan demi obrolan mereka jalani. Dan fakta menyenangkan lainnya adalah, mereka lahir di tahun yang sama. Setelah ini, mereka resmi berteman.
"Sama-sama, terima kasih sudah datang. Setelah beberapa hari yang melelahkan, kamu orang pertama yang membuat suasana hati ku lebih baik."
Sila mengangguk, membalas uluran tangan Agnia. "Lain kali aku boleh kesini lagi?"
"Tentu." Agnia mengangguk cepat. "Datang lah kapan-kapan, ajak kak Gian juga."
"Insya Allah, nanti setelah dia move on dari kamu."
Agnia mengangguk, kembali tersenyum. "Setelah dia menyukai mu, maksudnya?"
"Begitulah.. yasudah, aku pamit sekarang.. Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
Agnia menghela dalam, kini gadis itu sudah pergi. Meninggalkannya yang luar biasa lega.
"Allahu Akbar." Agnia memekik keras, saat berbalik dan mendapati Akbar tepat di belakangnya. "Astaghfirullah.."
"Mbak gak papa?" Akbar bertanya panik, pasalnya Agnia justru tampak lemas setelah itu.
Agnia menepis tangan Akbar, lantas mendelik tajam. Gak papa apanya? Akbar memberinya kejutan pertama setelah pulang dari rumah sakit.
"Kamu sengaja, Hah?!"
Akbar mendecak, jika sudah naik intonasi bicaranya maka tandanya kakaknya ini baik-baik saja. Wajah khawatir Akbar spontan hilang, berganti tatapan tengil seperti biasa.
"Siapa Mbak?" tanya Akbar, mengabaikan keluhan Agnia.
"Itu? Calon istrinya kak Gian."
"What?! Mbak dilabrak?" Akbar menoleh penasaran, pemikirannya persis seperti yang dipikirkan Agnia sebelumnya.
Agnia mengarahkan tangannya pada moncong kurang ajar Akbar. "Sembarangan kalo ngomong, gak kaya gitu ya.."
"Cakep, lho."
"Iya kan? Makanya.."
"Yang heran kok bisa Gian suka sama Mbak, cewek itu lebih cantik." ujar Akbar santai, tanpa memperhatikan sorot Agnia yang mulai mengganas.
"Apa? Emangnya kenapa kalo Gian sukanya sama Mbak? Apa masalahnya kalo lebih cantik orang lain dibanding Mbak?" cerocos Agnia kesal. "Kamu juga sukanya sama Asma, padahal cantikan Ripda." sindirnya, untuk kemudian pergi meninggalkan Akbar yang terbengong.
__ADS_1
"Tunggu, kenapa semua orang mulai membandingkan Asma sama Ripda? Kemarin Mas Hafidz, sekarang Mbak Agni.." batin Akbar, sungguh-sungguh heran.